Archive for May, 2004

Seni Batik Handuk Tri Asayani

Monday, May 3rd, 2004

TRADISI membatik bagi umumnya warga Jawa Barat tidaklah sepopuler di kalangan masyarakat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski sempat disebut-sebut adanya batik Cirebonan juga batik Garut, secara umum seni membatik tidaklah banyak ditekuni oleh warga Jawa Barat.

BILA Jawa Barat (Jabar) kurang dikenal sebagai daerah produsen batik, bukan berarti inovasi tidak bisa lahir di sana. Salah satu inovasi yang muncul adalah apa yang ditawarkan Tri Asayani, lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Jurusan Kria Tekstil, Institut Teknologi Bandung tahun 2003, yang membuat batik di atas bahan handuk dengan menggunakan teknik batik tulis dan batik cap.

Mengapa kain handuk? Yani, panggilan akrab Tri Asayani, menguraikan bahwa kain tenun handuk yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) mampu menghasilkan tekstur bulu yang ketinggiannya bisa diatur, begitu juga kerenggangannya, sehingga batik yang dihasilkan pun mempunyai nilai tambah, yaitu gradasi tekstur yang polanya bisa disusun sesuai dengan kreativitas pembuat.

Kain-kain handuk itu, oleh Yani, di beberapa tempat bulunya ada yang ditarik ke kiri, ada yang ditarik ke kanan, dan uniknya, masing-masing arah ternyata menghasilkan efek untaian bulu yang berbeda. Hasilnya, tentu saja sebuah karya seni batik yang lain dari yang ada selama ini.

Tekstur motif geometris pada kain handuk ini menjadi semakin menonjol dengan komposisi motif geometris yang dihasilkan oleh cap pada proses membatik maupun melalui teknik batik tulis.

“Penggunaan bahan handuk ini jelas membutuhkan lebih banyak kesabaran dan ketelitian. Proses membatik seperti pemalaman, pewarnaan, pelorotan, bisa dilakukan sampai berulang-ulang untuk satu kain. Saya mempelajari bahan handuk ini lebih dari setahun, termasuk eksperimen serat pada pewarnaannya,” papar Yani sambil menambahkan bahwa handuk- handuk yang menjadi bahan batiknya itu banyak yang didesain sendiri dan kemudian ditenun dengan ATBM di Pekalongan.

Untuk membuat satu karya batik handuk untuk wall hanging berukuran 96 x 220 sentimeter, Yani membutuhkan waktu paling tidak tiga bulan. “Sebenarnya digunakan untuk keperluan fashion pun bisa, tetapi mungkin agak panas karena bahan handuk ini lebih tebal,” papar Yani yang mengaku semakin mantap menjadi seniman batik.

TRI Asayani sebenarnya bukan orang baru dalam dunia batik. Dia lahir dari keluarga Hasanudin yang terkenal dengan Hasan Batik-nya, dan merupakan salah satu keluarga pembatik yang sejak akhir tahun 1970-an memperkenalkan batik kepada masyarakat Bandung pada khususnya, dan Jabar pada umumnya.

Sebagai lulusan dari perguruan tinggi di bidang seni dan bermodalkan latar belakang keluarga seniman batik, Yani memperlihatkan bahwa seni membatik sesungguhnya sangat terbuka untuk dikembangkan lebih jauh, baik dari sisi bahan, ragam hias, maupun pemanfaatan.

Motif-motif yang dia tawarkan pun bukan motif-motif batik yang umumnya sudah dikenal, tetapi dia mengembangkan motif baru dari bentuk dasar motif batik yang terdiri dari garis dan titik. Yani mengolah garis dan titik itu ke dalam pola geometris, dengan membentuk garis, lingkaran, lengkungan, maupun bulatan dan titik.

“Mayoritas orang melihat batik dari hasilnya, jarang dilihat prosesnya. Saya kebalikannya, proses membatik itulah yang saya olah sehingga menjadi proses yang menarik dan mengasyikkan. Dengan spontanitas ternyata hasilnya bagus juga, meski hasil akhir bagi saya tidak terlalu menjadi patokan,” ungkap pembatik kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, tanggal 20 April 1980 itu.

Oleh karena itulah Yani kemudian menggunakan media kain handuk sebagai kain dasar untuk membatik. Hasilnya jelas jauh berbeda dari batik umumnya yang memanfaatkan kain katun atau sutra.

Sumber : (oki) KCM, Jakarta