Menghargai Kain Nusantara

Ketika menyebut kain nusantara, barangkali yang terlintas adalah kain seperti batik, songket, atau tenun ikat. Seiring perubahan waktu, kini kain nusantara bisa menjadi busana kerja bahkan busana santai.

Dengan mengetahui rumitnya proses pembuatan dan nilai budaya di dalam sehelai kain, setidaknya kita akan bisa menghargai sehelai kain nusantara. Seperti yang dilakukan Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI ketika memberikan penghargaan kepada masyarakat Tenganan Pagerinsingan, Karangasem, Bali, rumah kain Bin House, dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas pada Malam Anugerah Pengembangan dan Pelestarian Kain Nasional, Jumat (28/5) malam di Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC).

Masyarakat Tenganan mendapat Anugerah Pelestarian Kain Nasional karena kain tenun ikat ganda mereka yang disebut gerinsing, yang artinya tidak sakit. Dari lahir hingga akhir hayatnya, orang Tenganan tak pernah lepas dari kain yang dipercaya mampu menjadi penangkal kemalangan, penyembuh penyakit, dan penjaga kesucian ini. Tak ada ritual agama atau adat yang tidak menggunakan kain ini. Karena itu, kain gerinsing bagi masyarakat Tenganan adalah hidup itu sendiri sehingga sampai kapan pun mereka akan terus membuat kain itu.

Teknik tenun ikat ganda yang pernah ada di India dan Jepang, dan kini masih terus dibuat di Tenganan, ini melibatkan teknik pembuatan dengan kesulitan tinggi. Motif dibentuk dengan mewarnai benang pakan dan lungsi bersama-sama dengan cara diikat untuk menahan warna pada bagian yang diikat. Sedangkan tenun ikat lain hanya diwarnai benang lungsi atau benang pakannya saja. Dengan demikian, memadukan benang pakan dan lungsi untuk membentuk motif itu memerlukan kecermatan dan ketelitian tinggi. Itulah local genius yang masih bertahan.

Motif yang umum adalah Bintang, Bulan, Matahari, wayang, tumbuh-tumbuhan, dan binatang. Pada teknik yang benar-benar masih tradisional, pewarnaan menggunakan minyak kemiri, abu dapur, daun nila, bubuk kapur, akar kayu sunti, dan kulit kayu kepundung menghasilkan warna gelap.

GKR Hemas mendapat penghargaan kategori Anugerah Pengembangan Kain Nasional karena dinilai telah menciptakan jenis kain baru dari ulat sutra liar yang kemudian disebut dengan royal silk.

Pada tahun 1997, Pusat Studi Jepang (PSJ) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Fakultas Biologi UGM mengembangkan tiga jenis ulat sutra liar di Yogyakarta, yakni Aattacus atlas, Ccricula trifenestrata, dan Antheraea yang juga terdapat di Jepang.

Ulat itu menghasilkan kokon berwarna emas yang jarang ditemui. Di Jepang biasanya digunakan untuk membuat kimono dan dasi. Oleh GKR Hemas, ulat sutra liar ini kemudian dikembangbiakkan dengan diberi makan tanaman kedondong, alpokat, dan sirsak.

Keseriusan GKR Hemas dalam mengelola inovasinya ini juga dilakukan rumah kain Bin House dalam bentuk berbeda. Anugerah Teknik Pengembangan Kain Nasional diberikan kepada Bin House karena selama 18 tahun telah melakukan terobosan dalam teknik pembuatan kain tanpa memakai mesin. Bin House mencari motif dan ragam tenun baru yang terbentuk melalui pemilihan warna dengan riset panjang. Dari kain itu pula Bin House bisa menampilkannya menjadi busana sehari-hari bergaya modern, tetapi tetap mengandung unsur Indonesia.

SELAIN Anugerah Pengembangan dan Pelestarian Kain Nasional, Depperindag juga mengadakan lomba desain busana dari kain nasional yang diikuti 95 peserta. Terpilih lima pemenang yang dinilai berhasil berkreasi dengan kain nusantara, yaitu Fuji Tjandra (Juara I) dengan tema rancangan Progressive Evolution, Abdul Rahman Arief (Juara II) dengan Modem Origin, Budi Sradha (Juara III) dengan Indonesian Tropical Island, Patricia (Juara Harapan I) dengan Romantika Bunaken, dan Carolina Rika Winata (Juara Favorit) dengan Lipat, Ikat, Celup.

Kelima pemenang ini, menurut perancang busana Carmanita yang menjadi salah satu juri dari lomba itu, dinilai kreatif dalam memanfaatkan kain nusantara sehingga tercipta busana modern yang nyaman dipakai, praktis, orisinal, dan rapi dalam penjahitan.

Sayangnya, lanjut Carmanita, banyak peserta belum tahu cara memperlakukan kain. Ini terlihat dari sketsa rancangan yang belum matang, cara memotong, dan menyambung bahan. Padahal, untuk bisa berkreasi dengan kain harus memahami sifat kain.

“Pengetahuan ini penting untuk menentukan motif, ragam, menggunting, dan menyambung bahan,” kata Carmanita, yang juga banyak menggunakan teknik batik dalam karyanya.

Akibat konsep yang kurang matang, hasil rancangan juga akan menjadi out fashioned karena si perancang hanya menjiplak karya orang lain atau gaya yang tengah menjadi mode saat ini. “Jika perancang saja tidak bisa kreatif, bagaimana bisa bekerja sama dengan pengrajin atau penenun kain,” kata Carmanita.

Padahal, menurut Rifana Erni, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Depperindag selaku Ketua Pengarah Penyelenggaraan Pameran Produk Indonesia 2004, pengrajin atau penenun kain diharapkan bisa bekerja sama dengan perancang untuk memanfaatkan semaksimal mungkin penggunaan kain nusantara menjadi busana sehari-hari yang dibutuhkan masyarakat saat ini.

“Selama kita mengerjakan sesuatu yang sifatnya kerajinan, saya yakin selalu ada masa depan. Semua tergantung pada cara kita mengemas produk, apakah menarik atau tidak,” kata Carmanita.

Sumber : (LUK) KCM, Jakarta

One Response to “Menghargai Kain Nusantara”

  1. andy Says:

    saya mempunyai kepompong sutra liar berwarna gold / emas, tolong di bantu yg bisa menerima kepompong. terima kasih.

Leave a Reply