Elita dan Proses Penciptaan Batik Kerinci
JAMBI kurang dikenal sebagai produsen batik, tetapi tidak berarti daerah ini tidak menghasilkan batik. Daerah paling barat Provinsi Jambi yang dikelilingi Pegunungan Bukit Barisan itu kini memiliki batik dengan motif khas daerah setempat kurang dari 10 tahun lalu.
SALAH satu motif khas batik kerinci adalah aksara Kerinci, aksara daerah itu, yang dipadukan dengan berbagai jenis motif bunga dan dedaunan sehingga membentuk karakter Kerinci.
Dalam proses penciptaan batik khas Kerinci, salah seorang yang turut berperan menciptakan, memproduksi, dan memasyarakatkannya adalah Elita (32). Ibu dari empat anak tersebut, sejak awal ikut serta dalam proses kelahiran batik kerinci.
“Batik kerinci mulai dibuat dan dikenal sejak tahun 1995. Sebelumnya batik kerinci tidak ada,” ucap Elita yang lahir di Kota Jambi saat ditemui di rumahnya di Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, akhir April 2004 lalu. Rumah itu dijadikan pula sebagai sanggar pembuatan batik dengan nama Karang Setio.
Tentang lahirnya batik kerinci yang baru beberapa tahun, dikemukakan pula oleh Iskandar Zakaria, pemilik sanggar kesenian Ilok Rupo, Sungai Penuh. Iskandar yang pensiunan Kepala Seksi Kebudayaan Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kerinci itu menyatakan, batik kerinci memang baru diciptakan sejak tahun 1995 itulah.
Keterlibatan Elita dalam proses kelahiran batik yang memiliki motif khas daerah tersebut dimulai ketika pada tahun 1995 dia ikut dalam proyek pelatihan pembuatan batik yang diprakarsai istri Bupati Kerinci saat itu, Ny Nurul Bambang. “Tujuh sanggar ikut dalam pelatihan membuat batik kerinci saat itu,” ucap Elita. Akan tetapi, yang bisa bertahan tinggal tiga sanggar, yaitu Ilik Rupo, Karang Setio, dan Sanggar Batik Batara, juga di Sungai Penuh.
Tidak cukup hanya belajar saat pelatihan di Kerinci, Elita pernah berguru ke salah satu industri batik di Yogyakarta pada tahun 2000. Pengetahuannya itu makin menambah ilmu membatik yang sudah dia kenal sejak masih belum berkeluarga dan tinggal di Jambi tahun 1993.
MENGENALKAN dan memasarkan batik yang belum lama lahir, tentu bukan pekerjaan mudah. Di dalam sanggar yang sekaligus rumahnya di sebuah gang itu, dia mencoba menciptakan dan memasarkan batik kerinci.
Bersama sejumlah pekerja di sanggarnya, dia menciptakan batik kerinci dengan berbagai corak. Motif yang dikembangkan Elita tidak jauh-jauh dari alam, khususnya bunga-bungaan dan dedaunan yang hidup di Kerinci.
Akan tetapi, motif bunga, dedaunan, dan tumbuhan sudah lumrah dalam dunia perbatikan. Satu ciri khas pun harus dihidupkan dan terus disajikan dalam karya batik kerinci. Pilihan itu jatuh pada aksara asli Kerinci.
Huruf khas itu diselipkan dalam setiap lembar batik yang dia ciptakan. Meskipun tidak mengandung makna apa-apa, aksara kerinci tersebut menjadi bagian karya kreatif Elita. “Saya menyalinnya dari buku. Huruf itu bunyinya ’ca’. Saya hanya menuliskan haruf-huruf itu,” kata Elita sambil menunjukkan satu aksara kerinci di selembar kain batik karyanya. Aksara itu menyerupai huruf Arab.
Huruf “ca” yang ditulis Elita di salah satu lembar kain batiknya adalah huruf ketiga dalam aksara kerinci. Aksara ini dikenal pula di berbagai daerah di Sumatera, seperti Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Jambi.
Dalam karyanya, Elita tidak menyusun huruf kuno itu menjadi satu rangkaian dan menjadi kata bermakna. “Saya sendiri tidak tahu soal aksara Kerinci. Saya hanya menyalinnya dari buku dan menuangkan ke dalam kain batik supaya menjadi ciri khas batik kerinci ini,” ucap Elita.
Ia menorehkan sendiri ragam hias dalam setiap lembar kain. Pekerjaan selanjutnya dilakukan beberapa pekerjanya, baik di rumah mereka masing-masing maupun di sanggar Elita.
Karya batik kerinci di tangan Elita pada akhirnya memang juga menjadi home industry. Sejumlah tenaga kerja direkrut dari kalangan perempuan di sekitar rumahnya dan mereka bisa mengerjakannya di sela-sela kesibukan rutin lain di rumah.
“Meskipun merupakan campuran antara batik tulis dan cap, prosesnya tetap menggunakan tangan,” kata Elita tentang teknik merintang warna yang dia terapkan.
Dua jenis kain digunakan Elita untuk membatik, yakni katun dan sutra. Hasil karyanya dari dua jenis kain itu dijual dengan harga Rp 60.000 dan Rp 170.000 per lembar, dengan ukuran panjang masing-masing dua meter. Setiap bulan paling sedikit 90 lembar kain batik katun maupun sutra terjual. Pembeli tidak hanya datang dari warga Kerinci, tetapi juga dari para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, kerap membeli batik kerinci di sanggarnya untuk oleh- oleh.
Elita merasa batik kerinci optimis akan berkembang lebih maju. Beberapa kali pameran di dalam negeri pernah dia ikuti. Terlebih lagi setelah batik kerinci kini menjadi pakaian seragam pegawai Pemerintah Kabupaten Kerinci seminggu sekali. Pemakaian seragam batik kerinci itu merupakan upaya Bupati Kerinci Fauzi Siin memajukan kerajinan rakyat khas daerahnya.
Pegawai di Kerinci sendiri jarang yang menggunakan batik tulis karya Elita. Kebanyakan mereka membeli kain batik dari sanggar lain yang menyediakan batik cetakan dengan harga lebih murah.
“Saya tetap hanya akan memproduksi batik tulis agar mutunya tetap terjaga meskipun harganya lebih mahal. Motif khas Kerinci pun akan lebih terlihat kuat pada batik tulis,” ucap istri dari Jaya Putra ini.
Ia berjanji akan terus mengembangkan batik kerinci hingga sejajar dengan batik daerah lain yang jauh lebih tua. Dengan terus menggeluti kerajinan itu, Elita juga berharap agar batik kerinci lebih dikenal ke banyak daerah lain di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.
Sumber : (Agus Mulyadi) Kompas Cetak
January 10th, 2006 at 8:47 am
saya hal seperti ini sangat bagus dalam pengembangan khasanah budaya kerinci.dan amat rugi sekali kalau seandainya tidak ada perhatian pemerintah kab.kerinci terhadap usaha seperti ini.ini merupakan salah satu sumber penghasil devisa untuk daerah.saya sebagai warga kerinci mengucapkan terima kasih kepada pemerintah kab.kerinci supaya dapat memperhatikan dan ikut mengembangkan usaha rumah tangga. dan untuk uni Elita supaya dapat mempertahankan kerajinan ini. terima Kasih
January 14th, 2006 at 7:40 am
bagus dan informatif,dan sayang jarang menampilkan karya2 batik…foto2 yg mana bisa manarik pembaca…thanks
January 25th, 2006 at 9:41 am
assalamualaikum.saya seorang pelajar dari malaysia ingin mengetahui jenis-jenis serta cara penghasilan batik di indonesia.di harap pihak anda dapat membantu saya.sekian terima kasih.