Dra Hj Fauziyah Mudofar: Hidupnya dengan Batik Pekalongan

SEJAK awal tahun 2004 sebuah toko batik muncul di antara deretan toko-toko mebel antik maupun reproduksi di kawasan Ciputat, Tangerang. Di toko yang berbentuk ruko itulah Dra Hj Fauziyah Mudofar menerima pelanggan lama maupun barunya.

NAMUN tak seperti umumnya toko, di mana hubungan antara penjual dan pembeli semata urusan bisnis, maka di toko batik Rima yang dikelola Fauziyah Mudofar para tamu bisa menjadikannya sebagai tempat pertemuan. Tak jarang sebagian tamu di toko ini membawa makanan, lalu menyantapnya bersama tamu lain yang kebetulan berada di toko tersebut.

“Saya memulai usaha menjual batik sejak dari rumah, jadi meskipun sudah ada toko tetapi saya ingin suasananya tetap seperti rumah,” ujar Ujiek, nama panggilan Fauziyah Mudofar, sambil menyendok kolak pisang yang Kamis (13/5) siang itu disantapnya bersama empat ibu-ibu lainnya.

Sesekali Ujiek meninggalkan mangkok kolaknya dan melayani pembeli yang membutuhkan bantuannya. Dia mengambil beberapa setel bahan untuk kain, kebaya, dan selendang di lemari, lalu menggelarnya di atas karpet untuk sang tamu. Ujiek tampaknya santai saja mengelola tokonya, padahal omzetnya tiap bulan biasanya lebih dari Rp 30 juta.

Itu pun baru omzet dari tokonya saja, sebab dia pun memasukkan batik dari pabrik milik keluarganya di Pekalongan ke Pasaraya, Jakarta. Di sini omzetnya berkisar antara Rp 35 juta-Rp 50 juta sebulan. “Sekarang sudah agak lumayan, dulu sewaktu krismon (krisis moneter) omzet kami turun sampai 60 persen,” kata Mudofar, suami Ujiek, yang bertugas mengurusi batik-batik pesanan.

Sebelum krismon, omzet usaha batiknya di rumah rata-rata Rp 50 juta sebulan dan di Pasaraya bisa mencapai Rp 70 juta. “Ketika krismon, bukan hanya pembeli batik di toko saja yang berkurang, tetapi pesanan untuk seragam batik sekolah-sekolah juga sangat berkurang,” ujar Ujiek, perempuan kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 14 November 1959 ini.

BATIK bagi Ujiek seakan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Dia lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang memiliki usaha batik di Pekalongan. Sejak kecil pun Ujiek suka ikut membatik dan bergaul dengan para pembatik di pabrik milik keluarganya.

Bau batik tak hilang dari hidungnya meski Ujiek pindah ke Jakarta saat meneruskan pendidikannya di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah (sekarang bernama UIN Jakarta) pada tahun 1981. Meski tak lagi membatik, anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini tetap hidup dengan batik.

“Bagaimana tidak, lha untuk membayar kuliah dan hidup sehari-hari saya cuma dikirimi batik sama Ibu. Kalau teman-teman sepondokan lainnya dapat uang wesel, saya dapat kiriman rok, daster, dan bahan batik. Ibu bilang, saya mesti cari uang sendiri dari modal batik yang diberikannya,” kata ibu dua anak, Rima (16) dan Luthfi (13), ini.

Mau tak mau Ujiek pun belajar berdagang batik. Awalnya dia mencoba menjual kepada teman-teman kuliahnya atau membawa dagangan ke asrama putri. “Batik-batik itu saya buntal pakai kain biar gampang untuk dibawa-bawa maupun disimpan. Kalau saya bawa buntalan, teman-teman sudah tahu itu artinya saya lagi jualan,” Ujiek mengenang.

Ternyata hasil penjualan batik bisa digunakannya untuk membayar kuliah dan kebutuhan hidup sehari-hari. Ketika menikah pada tahun 1985, kegiatan Ujiek berdagang batik sempat terhenti sebab dia ingin menjadi pegawai negeri. “Namun dasar nasib kali ya. Biar berkali-kali ikut tes masuk pegawai negeri, tetap saja enggak diterima. Jadi, ya kembali dagang batik,” tuturnya.

Bedanya, kini Ujiek memajang batik dagangannya di rumah saja. Kebetulan letak rumahnya di tepi jalan di mana orang kerap lalu lalang dan juga dekat dengan sebuah taman kanak-kanak (TK). “Awalnya teman-teman sesama orangtua murid TK dan guru yang jadi konsumennya. Ketika mereka mau membuat seragam batik, juga pesan ke saya,” ucap Ujiek yang juga aktif dalam ormas Aisyiyah ini.

Tawaran yang datang pada tahun 1987 itu tak ditampiknya, bahkan Ujiek melihatnya sebagai “pasar” yang bisa digarap. Lalu, bersama dengan suaminya, Mudofar, ia mulai memperkenalkan kemungkinan mereka menggarap peluang batik seragam sekolah ini. “Kami tidak menawarkan diri ke berbagai sekolah, tetapi karena ada teman yang menjadi anggota tim seragam sekolah, kami tawarkan kepadanya contoh kain, motif, dan warnanya,” Mudofar menambahkan.

Kini mereka memasok seragam batik untuk lebih dari 10 sekolah di kawasan Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi). Semua pesanan seragam dibuat di Pekalongan hingga berupa kemeja karena biaya produksinya lebih murah. “Kami melakukan pendekatan kekeluargaan ke sekolah-sekolah. Kedekatan hubungan itu membuat kami sangat menjaga kualitas pesanan. Kalau batik kami tak sesuai kesepakatan, bisa-bisa hubungan pribadi pun terancam. Jangan sampailah,” kata Ujiek yang juga bekas caleg PAN ini.

Harga kemeja seragam sekolah bervariasi antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per potong. Selama ini pemesanan seragam bervariasi dari 200 potong sampai 1.000 potong. “Setelah sekolah, kami melihat seragam batik untuk kelompok haji juga bisa menjadi peluang pemasaran,” ucap Ujiek.

KALAU awalnya Ujiek mulai berdagang batik untuk biaya sekolah, dan jenisnya pun terbatas, maka sekarang jenis batik usahanya amat beragam. Mulai dari baju, daster, kemeja, seprei, taplak, sampai bantalan kursi dan tas. Harganya juga sangat bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah sampai jutaan rupiah.

Toko batik Rima menjadi pemasar produk pabrik keluarganya di Jabotabek. Sementara bagian produksi di Pekalongan dikelola oleh dua saudaranya. “Memang jualan di rumah lebih enak, kita bisa tetap mengurus rumah sambil berdagang. Tetapi, ketika ada yang menawarkan tempat bagus, kenapa tidak dicoba?” ujar Ujiek memberi alasan mengapa dia pindah dari rumah ke ruko yang disewanya itu.

Selain itu, kawasan ruko pun sudah dikenal sebagai salah satu pusat mebel antik yang banyak dikunjungi orang asing. Keberadaan toko batik di kawasan itu setidaknya diharapkan bisa membuat pengunjung toko mebel antik pun melirik.

Meski sudah ada toko dan secara rutin memasok Pasaraya, bagi Ujiek pemasaran lewat mulut ke mulut masih tetap efektif. Dia antara lain memanfaatkan arisan dan jaringan dalam ormas yang diikutinya untuk memperluas pemasaran batiknya.

Ujiek tetap mempercayakan batiknya dibawa oleh beberapa temannya untuk dijual ke orang lain. Dia juga tak keberatan kalau ada orang yang membayar dua-tiga kali karena kemampuan mereka terbatas. Ujiek pun tak mensyaratkan uang muka, alasannya dia lebih mementingkan kepercayaan.

“Untuk berjualan batik itu feeling kita juga harus main. Kalau feeling kita salah, ya anggap saja risiko” katanya enteng. Dia lalu bercerita, meski sudah percaya pun, toh beberapa kali batiknya yang dibawa orang tidak kembali uang maupun barangnya. Namun, Ujiek memilih merelakannya. “Hitung-hitung dari 10 orang yang bawa barang saya hanya satu-dua yang begitu, dan masih lebih banyak yang jujur,” tambahnya.

Puluhan tahun berjualan batik juga dilalui Ujiek dengan cerita dukanya. Selain ada pembawa batik yang tidak mengembalikan uang atau barangnya, dia juga pernah mengalami musibah. “Sekitar tahun 1989-1990 terjadi kebakaran di sebuah pasar swalayan di Pamulang. Padahal, saya menitipkan batik saya di situ. Memang sih, batik saya tidak terbakar, tetapi bau asap dan debunya harus dibersihkan sampai 1,5 bulan,” katanya.

Setelah bersih pun dia kesulitan menjual batik tersebut. Kebetulan waktu itu ada tamu dari Kendari yang memerlukan batik dalam jumlah banyak, meski uangnya terbatas. “Daripada tidak terjual, kami berikan juga biar pun merugi,” Mudofar menambahkan.

Sumber : (CP) KCM, Jakarta

Leave a Reply