Dewan Perniagaan Malaysia Tinjau Kerajinan Batik di Yogyakarta

34 (tiga puluh empat) orang anggota Dewan Perniagaan Malaysia Negeri Selangor (Kamis, 13/5) yang didampingi oleh penasehat Kedutaan Besar RI di Malaysia Ibu Normaningsih, mengunjungi DIY dalam rangka untuk meninjau dan melihat secara langsung tentang perkembangan Batik di Yogyakarta dan diterima oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang pada kesempatan tersebut didampingi Asisten Ekonomi Fasilitasi dan Investasi, Ir. Sunyoto dan Kepala Dinas Perindag., Ir. Syahbenol Hasibuan di G. Pracimosono, Kepatihan Yogyakarta.

Datuk H. Mohammad Said, Ketua Rombongan Dewan Perniagaan Malaysia Negeri Selangor menyampaikan bahwa tujuan Dewan Perniagaan Malaysia Negeri Selangor ke Yogyakarta untuk melihat secara dekat industri Batik yang ada di daerah ini karena menurut Mohammad Said, kerajinan Batik Indonesia khususnya Yogyakarta sangat baik perkembangannya. Untuk itu, Negara Malaysia merasa perlu untuk berguru dan belajar akan kerajinan Batik baik itu desain maupun motifnya sehingga industri Batik yang ada di Malaysia akan lebih berkembang lagi. Selain itu, kunjungan yang diikuti oleh pengusaha-pengusaha di bidang tekstil, desain dan tehnologi ini dapat dijadikan sarana untuk interaksi bagi pengusaha DIY dengan Malaysia dan mendapatkan informasi tentang tehnologi dalam penggunaan warna, motif dan corak pada Batik. Datuk Mohammad Said juga mengusulkan apabila memungkinkan diadakan pelatihan bersama antara pengusaha Batik Malaysia dan Yogyakarta serta terjalinnya suatu kerja sama. Atensi pengusaha Malaysia terlihat pada kunjungan setiap setahun sekali para ahli perniagaan Malaysia ke Indonesia untuk melihat resource dan craft, dan pada bulan April 2004 yang lalu, antara Kantor Perdagangan Malaysia dan KADIN DIY pun telah menjalin kerja sama di bidang perdagangan.

Sementara Gubernur DIY menjelaskan bahwa untuk menunjang perkembangan Batik, saat ini Batik Yogyakarta diberikan suatu tehnologi agar pasar/market Batik lebih bagus dan meluas, terlebih lagi dengan adanya direct flight DIY – Kuala Lumpur, Malaysia tentu akan lebih memperlancar pemasaran, meskipun dapat merubah corak Batik sebelumnya untuk mengejar pasar.

Menurut Gubernur, Batik yang ada di Yogyakarta, Solo dan Pekalongan terdapat perbedaannya. Batik Yogyakarta dan Solo berorientasi pada vertikal atau ke-Tuhan-an karena lebih sering digunakan untuk seremonial, sementara Batik Pekalongan cenderung berorientasi pada pasar karena corak/motifnya lebih berwarna-warni karena terpengaruh akan corak masyarakat China.

Sementara dalam dialog yang berlangsung dan menanggapi pertanyaan langkah apa yang dilakukan untuk melestarikan Batik di Yogyakarta, Gubernur menjelaskan bahwa setiap setahun sekali Yogyakarta mengadakan Festival Batik yang menyelenggarakan lomba corak/motif Batik dan mengundang juri dari luar negeri. Selain itu Universitas Islam Indonesia pun ikut melestarikannya dengan dicantumkannya Batik di salah satu fakultasnya

Mengenai nilai ekspor Batik ke luar negeri dan negara mana saja yang mengimpor Batik, Drs. Robby Kusumaharta, Ketua BPJKY (Badan Pengembangan Jasa Keuangan Yogyakarta) mengatakan bahwa penjualan Batik terkait dengan tourism, dari 40 juta US Dollar pendapatan DIY setiap tahunnya sekitar 20 % merupakan hasil dari Batik. Mayoritas negara yang membeli Batik Yogyakarta yaitu Jepang, Malaysia dan Singapore.

Sumber : (Subbid. Pemberitaan BID) Pemda DIY

Leave a Reply