Pengakuan Anak Jalanan: “Kami Ingin Mandiri, Sukses, Kaya, dan Mati Masuk Surga”

Pelatihan Batik untuk Anak Jalanan

MESKI hidupnya tidak menentu, bukan berarti mereka tidak ingin maju. Mereka pun memiliki cita-cita agar dapat sukses hidup di dunia dan mati masuk surga. “Kami ingin hidup enak, mandiri, sukses, kaya, dan mati masuk surga,” kata Zuhri, anak jalanan dari Kelurahan Sokorejo.

Hal itu diungkapkan dalam kegiatan peningkatan kesejahteraan anak jalanan yang dilakukan Kantor Pelayanan Kesejahteraan Sosial (Yankesos) Kota Pekalongan di aula Gedung Politeknik Pusmanu.

Ucapan Zuhri itu disampaikan kepada tutor, Agustin SPsi yang sehari-hari mengajar di SDLB Buaran. Dalam wawancara itu, satu per satu anak dimintai tanggapan tentang dorongan mereka mengikuti pelatihan tersebut. Hampir semua menyatakan ingin kaya dan sukses dalam hidup.

Karena itu, mereka mengaku tertarik mengikuti pendidikan keterampilan yang dilakukan selama sebulan. Adapun jenis keterampilannya menurut Dra Nur Chasanah, Kasi Kesejahateraan Anak dan Keluarga, Yankesos, dibagi menjadi dua jenis, yakni keterampilan mengelas dan membatik.

Ke-30 peserta dibagi dua, 15 anak mengikuti pelatihan membatik agar mereka bisa mandiri dengan membuka usaha batik. Ini upaya yang memungkinkan karena Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Pelatihan membatik tersebut akan dilakukan di Politeknik Pusmanu yang sehari-hari memang mendidik orang membatik. Sementara itu 15 anak lainnya mengikuti keterampilan mengelas yang akan dilakukan di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Bendan Jaya.

Untuk menjadikan mereka bisa mandiri, setelah mengikuti keterampilan selama sebulan, mereka akan diupayakan magang pada suatu perusahaan baik batik maupun las. Dengan demikian, mereka bisa hidup mandiri dan tidak hanya menjadi tukang becak atau peminta-minta seperti selama ini.

Kelompok Rentan

Nur Chasanah mengakui anak jalanan di wilayahnya sebagian besar menempati beberapa lokasi di bawah jembatan, seperti Jembatan Kali Loji, Jembatan Gambaran, Jembatan Kali Banger, dan jembatan Grogolan. Jumlah anak jalanan dan gelandangan di Kota Batik tercatat 458 anak.

Untuk mengentaskan mereka, dari sejumlah itu dalam tahun ini dibina 30 anak. Adapun 150 anak akan dibina Yayasan Azzahari yang mendapat anggaran dari APBN. Dengan demikian, dalam setahun Pemkot membina 180 anak.

Apakah anak-anak yang mendapat pembinaan itu kemudian bisa mandiri? Menurut dia, hanya sebagian kecil mereka yang berhasil. Banyak faktor yang menyebabkan mereka belum sukses. Di antaranya karena lingkungan keluarga mereka yang sebagian besar juga gelandangan sehingga tidak mendorong anaknya bekerja dengan baik.

Di antara anak jalanan itu, menurut dia, dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, mereka yang 100% hidupnya di jalanan untuk mencari nafkah. Kedua, mereka yang di jalanan hanya sejenak saat mencari nafkah, sedangkan ketiga yakni kelompok rentan (bukan semata-mata mencari nafkah).

Soal mental, Nur Mengakui memang baik. Mereka tidak minder sedikit pun. Namun diakui, mereka juga sulit diatur sehingga pelatih harus benar-benar sabar. Sebab kalau pelatihnya mudah emosi dan marah, pelatihan tidak akan berhasil. Karena itu, di dalam pembelajaran dan pelatihan, psikolog diperlukan sehingga mereka bisa mengikuti sampai akhir.

Dulu ketika dilakukan pelatihan, kata Nur Chasanah, pesertanya menjadi tinggal sedikit saat masa penutupan. Karena itu kini pelatihan dilakukan secara ketat. “Agar mereka mengikuti hingga akhir, uang transportasi Rp 5.000 sehari baru diberikan setelah pendidikan berakhir. Ini ternyata berhasil mencegah anak jalanan keluar dari pelatihan.”

Kepala Kantor Yankesos Drs Mulyadi mengatakan, pelatihan itu diberikan sebagai upaya pemerintah untuk memberi perlindungan terhadap anak sebagaimana diatur dalam UU 22 Tahun 2000 tentang Perlindungan Anak.

Mereka, kata Mulyadi, memiliki hak kelangsungan hidup, berpartisipasi dalam pembangunan, perlindungan, serta hak kesejahteraan. “Kami berupaya mengentaskan mereka dari hidup di jalanan. Namun semua itu juga tergantung pada mereka. Kalau mau berusaha keras, mereka pun bisa hidup sukses seperti yang mereka inginkan,” katanya.

Sumber : (Trias Purwadi-20i) Suara Merdeka

Leave a Reply