Archive for May, 2004

Menghargai Kain Nusantara

Monday, May 31st, 2004

Ketika menyebut kain nusantara, barangkali yang terlintas adalah kain seperti batik, songket, atau tenun ikat. Seiring perubahan waktu, kini kain nusantara bisa menjadi busana kerja bahkan busana santai.

Dengan mengetahui rumitnya proses pembuatan dan nilai budaya di dalam sehelai kain, setidaknya kita akan bisa menghargai sehelai kain nusantara. Seperti yang dilakukan Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI ketika memberikan penghargaan kepada masyarakat Tenganan Pagerinsingan, Karangasem, Bali, rumah kain Bin House, dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas pada Malam Anugerah Pengembangan dan Pelestarian Kain Nasional, Jumat (28/5) malam di Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC).

Masyarakat Tenganan mendapat Anugerah Pelestarian Kain Nasional karena kain tenun ikat ganda mereka yang disebut gerinsing, yang artinya tidak sakit. Dari lahir hingga akhir hayatnya, orang Tenganan tak pernah lepas dari kain yang dipercaya mampu menjadi penangkal kemalangan, penyembuh penyakit, dan penjaga kesucian ini. Tak ada ritual agama atau adat yang tidak menggunakan kain ini. Karena itu, kain gerinsing bagi masyarakat Tenganan adalah hidup itu sendiri sehingga sampai kapan pun mereka akan terus membuat kain itu.

Teknik tenun ikat ganda yang pernah ada di India dan Jepang, dan kini masih terus dibuat di Tenganan, ini melibatkan teknik pembuatan dengan kesulitan tinggi. Motif dibentuk dengan mewarnai benang pakan dan lungsi bersama-sama dengan cara diikat untuk menahan warna pada bagian yang diikat. Sedangkan tenun ikat lain hanya diwarnai benang lungsi atau benang pakannya saja. Dengan demikian, memadukan benang pakan dan lungsi untuk membentuk motif itu memerlukan kecermatan dan ketelitian tinggi. Itulah local genius yang masih bertahan.

Motif yang umum adalah Bintang, Bulan, Matahari, wayang, tumbuh-tumbuhan, dan binatang. Pada teknik yang benar-benar masih tradisional, pewarnaan menggunakan minyak kemiri, abu dapur, daun nila, bubuk kapur, akar kayu sunti, dan kulit kayu kepundung menghasilkan warna gelap.

GKR Hemas mendapat penghargaan kategori Anugerah Pengembangan Kain Nasional karena dinilai telah menciptakan jenis kain baru dari ulat sutra liar yang kemudian disebut dengan royal silk.

Pada tahun 1997, Pusat Studi Jepang (PSJ) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Fakultas Biologi UGM mengembangkan tiga jenis ulat sutra liar di Yogyakarta, yakni Aattacus atlas, Ccricula trifenestrata, dan Antheraea yang juga terdapat di Jepang.

Ulat itu menghasilkan kokon berwarna emas yang jarang ditemui. Di Jepang biasanya digunakan untuk membuat kimono dan dasi. Oleh GKR Hemas, ulat sutra liar ini kemudian dikembangbiakkan dengan diberi makan tanaman kedondong, alpokat, dan sirsak.

Keseriusan GKR Hemas dalam mengelola inovasinya ini juga dilakukan rumah kain Bin House dalam bentuk berbeda. Anugerah Teknik Pengembangan Kain Nasional diberikan kepada Bin House karena selama 18 tahun telah melakukan terobosan dalam teknik pembuatan kain tanpa memakai mesin. Bin House mencari motif dan ragam tenun baru yang terbentuk melalui pemilihan warna dengan riset panjang. Dari kain itu pula Bin House bisa menampilkannya menjadi busana sehari-hari bergaya modern, tetapi tetap mengandung unsur Indonesia.

SELAIN Anugerah Pengembangan dan Pelestarian Kain Nasional, Depperindag juga mengadakan lomba desain busana dari kain nasional yang diikuti 95 peserta. Terpilih lima pemenang yang dinilai berhasil berkreasi dengan kain nusantara, yaitu Fuji Tjandra (Juara I) dengan tema rancangan Progressive Evolution, Abdul Rahman Arief (Juara II) dengan Modem Origin, Budi Sradha (Juara III) dengan Indonesian Tropical Island, Patricia (Juara Harapan I) dengan Romantika Bunaken, dan Carolina Rika Winata (Juara Favorit) dengan Lipat, Ikat, Celup.

Kelima pemenang ini, menurut perancang busana Carmanita yang menjadi salah satu juri dari lomba itu, dinilai kreatif dalam memanfaatkan kain nusantara sehingga tercipta busana modern yang nyaman dipakai, praktis, orisinal, dan rapi dalam penjahitan.

Sayangnya, lanjut Carmanita, banyak peserta belum tahu cara memperlakukan kain. Ini terlihat dari sketsa rancangan yang belum matang, cara memotong, dan menyambung bahan. Padahal, untuk bisa berkreasi dengan kain harus memahami sifat kain.

“Pengetahuan ini penting untuk menentukan motif, ragam, menggunting, dan menyambung bahan,” kata Carmanita, yang juga banyak menggunakan teknik batik dalam karyanya.

Akibat konsep yang kurang matang, hasil rancangan juga akan menjadi out fashioned karena si perancang hanya menjiplak karya orang lain atau gaya yang tengah menjadi mode saat ini. “Jika perancang saja tidak bisa kreatif, bagaimana bisa bekerja sama dengan pengrajin atau penenun kain,” kata Carmanita.

Padahal, menurut Rifana Erni, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Depperindag selaku Ketua Pengarah Penyelenggaraan Pameran Produk Indonesia 2004, pengrajin atau penenun kain diharapkan bisa bekerja sama dengan perancang untuk memanfaatkan semaksimal mungkin penggunaan kain nusantara menjadi busana sehari-hari yang dibutuhkan masyarakat saat ini.

“Selama kita mengerjakan sesuatu yang sifatnya kerajinan, saya yakin selalu ada masa depan. Semua tergantung pada cara kita mengemas produk, apakah menarik atau tidak,” kata Carmanita.

Sumber : (LUK) KCM, Jakarta

Pemkab Pernah Mempatenkan Batik Banyumasan

Monday, May 31st, 2004

Agar tidak terjadi pemalsuan batik Banyumasan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) pernah mencoba mempatenkan produk tersebut. Namun pihak Direktorat Jenderal Hak Paten Kanwil Depkeh dan HAM Jateng di Semarang menolak dengan alasan segala macam produk yang menjadi budaya bangsa tidak bisa dipatenkan.

“Kita pernah melakukan upaya paten beberapa tahun lalu. Namun dari Haki menolak dengan alasan batik telah menjadi budaya bangsa,” kata Kepala Sub Dinas Bina Industri Disperindagkop, Indrawati kepada wartawan, Sabtu lalu.

Indrawati sejak awal sudah memperkirakan bila batik Banyumasan akan diproduksi oleh daerah lain sebagaimana produk batik dari Solo, Yogyakarta dan sebagainya. Apalagi setelah munculnya surat edaran (SE) Bupati HM Aris Setiono yang mewajibkan 8.000 Pegawai Negeri Sipil (PNS) mengenakan pakaian batik pada hari Sabtu, berpotensi menimbulkan pemalsuan.

Sekalipun batik Banyumasan telah dipalsukan, namun Indrawati yakin produk masyarakat perajin di kota Banyumas masih jauh lebih bagus. Baik dari motif batik sampai kualitasnya tetap unggul. Menurutnya, batik Banyumasan umumnya dibuat melalui cap dan tulis. Karena menggunakan tenaga tangan, maka harganya jauh lebih mahal. Ia mencontohkan untuk kain batik cap harganya bervariasi antara Rp 50-100 ribu sedang yang tulis diatas Rp 400 ribu.

Sedang kain batik Banyumasan buatan Pekalongan, Indrawati yakin bukan terbuat dari cap atau tulis tapi mesin printing. Karena menggunakan mesin printing maka pembuatannya bisa cepat dan ongkosnya jauh lebih murah. Tetapi kelemahan dari kain batik ini, tidak tahan lama. “Beberapa kali dipakai warna batiknya sudah pudar. Coba saja bandingkan dengan batik Banyumasan yang asli lebih tahan lama,” tegasnya.

Sebagamana diberitakan harian ini (Republika 29/5), seruan Bupati HM Aris Setiono agar semua PNS Banyumas memakai kain batik Banyumasan tiap hari Sabtu ternyata telah memunculkan tindak pemalsuan. Sejumlah motif batik Banyumasan kini dapat ditiru oleh para perajin dari daerah Pekalongan.

Produk batik dari pantai utara, sepintas sama dengan produk aslinya. Bahkan untuk harganya jauh lebih murah. Kain batik versi Pekalongan ini hanya dijual antara Rp 30-35 ribu/potong. Sedang kain batik yang aslinya harganya diatas Rp 50 ribu.

Padahal seruan bupati yang tertuang dalam surat edaran (SE) itu dimaksudkan untuk mengairahkan produk batik Banyumasan yang semakin hari makin suram. SE bupati merujuk pada surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara tanggal 30 Juli 2003 Nomor 233/M.PAN/07/2003. Dalam surat menteri itu dikatakan, perlunya meningkatkan produksi dalam negeri terutama produk daerah. Sementara dalam surat edaran Bupati dinyatakan bahwa penggunaan pakaian batik sebagai pakaian kerja merupakan salah satu upaya melestarikan dan mengembangkan budaya Banyumasan.

Salah seorang pedagang batik Pekalongan bernama Ny Ningsih mengungkapkan, batik Banyumasan buatan perajin di Pekalongan dari segi harga cukup murah. Selain itu, secara sepintas produk keduanya tidak ada bedanya. Bahkan agar tidak adanya bedanya, hasil akhir pembuatan batik tersebut diberi malam guna mempertahankan kualitas warnanya. “Kalau orang awam akan sulit membedakan mana yang Pekalongan dan Banyumas,” tuturnya.

Namun dalam pandangan, Ny Enggar salah satu perajin batik Banyumasan, kualitas batik Pekalongan yang beredar di daerah ini kurang bagus. Karena menggunakan mesin printing maka hasil cetakan motifnya hanya pada muka saja. Berbeda dengan kain batik Banyumasan yang dicap bolak-balik. Diungkapkan, meski telah menjadi seragam kerja para PNS, namun lonjakan penjualan hanya mencapai 30 persen saja.

Mengomentari beredarnya batik Banyumasan buatan daerah lain, Bupati HM Aris Setiono mengaku tidak terlalu risau. Ia tetap berharap seluruh PNS membeli kain batik buatan masyarakat Banyumasan dan tidak tergiur membeli produk yang sama tetapi buatan daerah lain.

“Saya minta semua PNS menggunakan pakaian batik buatan lokal Banyumas, jangan tergiur harga yang murah. Kita perlu menolong para perajin agar budaya ini tidak hilang,” ujar Aris saat berpidato di Kantor Kelurahan Sumampir, Purwokerto, Sabtu lalu (29/5).
red,

Sumber : RoL, Purwokerto via info H@KI

Elita dan Proses Penciptaan Batik Kerinci

Sunday, May 23rd, 2004

JAMBI kurang dikenal sebagai produsen batik, tetapi tidak berarti daerah ini tidak menghasilkan batik. Daerah paling barat Provinsi Jambi yang dikelilingi Pegunungan Bukit Barisan itu kini memiliki batik dengan motif khas daerah setempat kurang dari 10 tahun lalu.

SALAH satu motif khas batik kerinci adalah aksara Kerinci, aksara daerah itu, yang dipadukan dengan berbagai jenis motif bunga dan dedaunan sehingga membentuk karakter Kerinci.

Dalam proses penciptaan batik khas Kerinci, salah seorang yang turut berperan menciptakan, memproduksi, dan memasyarakatkannya adalah Elita (32). Ibu dari empat anak tersebut, sejak awal ikut serta dalam proses kelahiran batik kerinci.

“Batik kerinci mulai dibuat dan dikenal sejak tahun 1995. Sebelumnya batik kerinci tidak ada,” ucap Elita yang lahir di Kota Jambi saat ditemui di rumahnya di Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, akhir April 2004 lalu. Rumah itu dijadikan pula sebagai sanggar pembuatan batik dengan nama Karang Setio.

Tentang lahirnya batik kerinci yang baru beberapa tahun, dikemukakan pula oleh Iskandar Zakaria, pemilik sanggar kesenian Ilok Rupo, Sungai Penuh. Iskandar yang pensiunan Kepala Seksi Kebudayaan Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kerinci itu menyatakan, batik kerinci memang baru diciptakan sejak tahun 1995 itulah.

Keterlibatan Elita dalam proses kelahiran batik yang memiliki motif khas daerah tersebut dimulai ketika pada tahun 1995 dia ikut dalam proyek pelatihan pembuatan batik yang diprakarsai istri Bupati Kerinci saat itu, Ny Nurul Bambang. “Tujuh sanggar ikut dalam pelatihan membuat batik kerinci saat itu,” ucap Elita. Akan tetapi, yang bisa bertahan tinggal tiga sanggar, yaitu Ilik Rupo, Karang Setio, dan Sanggar Batik Batara, juga di Sungai Penuh.

Tidak cukup hanya belajar saat pelatihan di Kerinci, Elita pernah berguru ke salah satu industri batik di Yogyakarta pada tahun 2000. Pengetahuannya itu makin menambah ilmu membatik yang sudah dia kenal sejak masih belum berkeluarga dan tinggal di Jambi tahun 1993.

MENGENALKAN dan memasarkan batik yang belum lama lahir, tentu bukan pekerjaan mudah. Di dalam sanggar yang sekaligus rumahnya di sebuah gang itu, dia mencoba menciptakan dan memasarkan batik kerinci.

Bersama sejumlah pekerja di sanggarnya, dia menciptakan batik kerinci dengan berbagai corak. Motif yang dikembangkan Elita tidak jauh-jauh dari alam, khususnya bunga-bungaan dan dedaunan yang hidup di Kerinci.

Akan tetapi, motif bunga, dedaunan, dan tumbuhan sudah lumrah dalam dunia perbatikan. Satu ciri khas pun harus dihidupkan dan terus disajikan dalam karya batik kerinci. Pilihan itu jatuh pada aksara asli Kerinci.

Huruf khas itu diselipkan dalam setiap lembar batik yang dia ciptakan. Meskipun tidak mengandung makna apa-apa, aksara kerinci tersebut menjadi bagian karya kreatif Elita. “Saya menyalinnya dari buku. Huruf itu bunyinya ’ca’. Saya hanya menuliskan haruf-huruf itu,” kata Elita sambil menunjukkan satu aksara kerinci di selembar kain batik karyanya. Aksara itu menyerupai huruf Arab.

Huruf “ca” yang ditulis Elita di salah satu lembar kain batiknya adalah huruf ketiga dalam aksara kerinci. Aksara ini dikenal pula di berbagai daerah di Sumatera, seperti Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Jambi.

Dalam karyanya, Elita tidak menyusun huruf kuno itu menjadi satu rangkaian dan menjadi kata bermakna. “Saya sendiri tidak tahu soal aksara Kerinci. Saya hanya menyalinnya dari buku dan menuangkan ke dalam kain batik supaya menjadi ciri khas batik kerinci ini,” ucap Elita.

Ia menorehkan sendiri ragam hias dalam setiap lembar kain. Pekerjaan selanjutnya dilakukan beberapa pekerjanya, baik di rumah mereka masing-masing maupun di sanggar Elita.

Karya batik kerinci di tangan Elita pada akhirnya memang juga menjadi home industry. Sejumlah tenaga kerja direkrut dari kalangan perempuan di sekitar rumahnya dan mereka bisa mengerjakannya di sela-sela kesibukan rutin lain di rumah.

“Meskipun merupakan campuran antara batik tulis dan cap, prosesnya tetap menggunakan tangan,” kata Elita tentang teknik merintang warna yang dia terapkan.

Dua jenis kain digunakan Elita untuk membatik, yakni katun dan sutra. Hasil karyanya dari dua jenis kain itu dijual dengan harga Rp 60.000 dan Rp 170.000 per lembar, dengan ukuran panjang masing-masing dua meter. Setiap bulan paling sedikit 90 lembar kain batik katun maupun sutra terjual. Pembeli tidak hanya datang dari warga Kerinci, tetapi juga dari para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, kerap membeli batik kerinci di sanggarnya untuk oleh- oleh.

Elita merasa batik kerinci optimis akan berkembang lebih maju. Beberapa kali pameran di dalam negeri pernah dia ikuti. Terlebih lagi setelah batik kerinci kini menjadi pakaian seragam pegawai Pemerintah Kabupaten Kerinci seminggu sekali. Pemakaian seragam batik kerinci itu merupakan upaya Bupati Kerinci Fauzi Siin memajukan kerajinan rakyat khas daerahnya.

Pegawai di Kerinci sendiri jarang yang menggunakan batik tulis karya Elita. Kebanyakan mereka membeli kain batik dari sanggar lain yang menyediakan batik cetakan dengan harga lebih murah.

“Saya tetap hanya akan memproduksi batik tulis agar mutunya tetap terjaga meskipun harganya lebih mahal. Motif khas Kerinci pun akan lebih terlihat kuat pada batik tulis,” ucap istri dari Jaya Putra ini.

Ia berjanji akan terus mengembangkan batik kerinci hingga sejajar dengan batik daerah lain yang jauh lebih tua. Dengan terus menggeluti kerajinan itu, Elita juga berharap agar batik kerinci lebih dikenal ke banyak daerah lain di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.

Sumber : (Agus Mulyadi) Kompas Cetak

Dra Hj Fauziyah Mudofar: Hidupnya dengan Batik Pekalongan

Monday, May 17th, 2004

SEJAK awal tahun 2004 sebuah toko batik muncul di antara deretan toko-toko mebel antik maupun reproduksi di kawasan Ciputat, Tangerang. Di toko yang berbentuk ruko itulah Dra Hj Fauziyah Mudofar menerima pelanggan lama maupun barunya.

NAMUN tak seperti umumnya toko, di mana hubungan antara penjual dan pembeli semata urusan bisnis, maka di toko batik Rima yang dikelola Fauziyah Mudofar para tamu bisa menjadikannya sebagai tempat pertemuan. Tak jarang sebagian tamu di toko ini membawa makanan, lalu menyantapnya bersama tamu lain yang kebetulan berada di toko tersebut.

“Saya memulai usaha menjual batik sejak dari rumah, jadi meskipun sudah ada toko tetapi saya ingin suasananya tetap seperti rumah,” ujar Ujiek, nama panggilan Fauziyah Mudofar, sambil menyendok kolak pisang yang Kamis (13/5) siang itu disantapnya bersama empat ibu-ibu lainnya.

Sesekali Ujiek meninggalkan mangkok kolaknya dan melayani pembeli yang membutuhkan bantuannya. Dia mengambil beberapa setel bahan untuk kain, kebaya, dan selendang di lemari, lalu menggelarnya di atas karpet untuk sang tamu. Ujiek tampaknya santai saja mengelola tokonya, padahal omzetnya tiap bulan biasanya lebih dari Rp 30 juta.

Itu pun baru omzet dari tokonya saja, sebab dia pun memasukkan batik dari pabrik milik keluarganya di Pekalongan ke Pasaraya, Jakarta. Di sini omzetnya berkisar antara Rp 35 juta-Rp 50 juta sebulan. “Sekarang sudah agak lumayan, dulu sewaktu krismon (krisis moneter) omzet kami turun sampai 60 persen,” kata Mudofar, suami Ujiek, yang bertugas mengurusi batik-batik pesanan.

Sebelum krismon, omzet usaha batiknya di rumah rata-rata Rp 50 juta sebulan dan di Pasaraya bisa mencapai Rp 70 juta. “Ketika krismon, bukan hanya pembeli batik di toko saja yang berkurang, tetapi pesanan untuk seragam batik sekolah-sekolah juga sangat berkurang,” ujar Ujiek, perempuan kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 14 November 1959 ini.

BATIK bagi Ujiek seakan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Dia lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang memiliki usaha batik di Pekalongan. Sejak kecil pun Ujiek suka ikut membatik dan bergaul dengan para pembatik di pabrik milik keluarganya.

Bau batik tak hilang dari hidungnya meski Ujiek pindah ke Jakarta saat meneruskan pendidikannya di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah (sekarang bernama UIN Jakarta) pada tahun 1981. Meski tak lagi membatik, anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini tetap hidup dengan batik.

“Bagaimana tidak, lha untuk membayar kuliah dan hidup sehari-hari saya cuma dikirimi batik sama Ibu. Kalau teman-teman sepondokan lainnya dapat uang wesel, saya dapat kiriman rok, daster, dan bahan batik. Ibu bilang, saya mesti cari uang sendiri dari modal batik yang diberikannya,” kata ibu dua anak, Rima (16) dan Luthfi (13), ini.

Mau tak mau Ujiek pun belajar berdagang batik. Awalnya dia mencoba menjual kepada teman-teman kuliahnya atau membawa dagangan ke asrama putri. “Batik-batik itu saya buntal pakai kain biar gampang untuk dibawa-bawa maupun disimpan. Kalau saya bawa buntalan, teman-teman sudah tahu itu artinya saya lagi jualan,” Ujiek mengenang.

Ternyata hasil penjualan batik bisa digunakannya untuk membayar kuliah dan kebutuhan hidup sehari-hari. Ketika menikah pada tahun 1985, kegiatan Ujiek berdagang batik sempat terhenti sebab dia ingin menjadi pegawai negeri. “Namun dasar nasib kali ya. Biar berkali-kali ikut tes masuk pegawai negeri, tetap saja enggak diterima. Jadi, ya kembali dagang batik,” tuturnya.

Bedanya, kini Ujiek memajang batik dagangannya di rumah saja. Kebetulan letak rumahnya di tepi jalan di mana orang kerap lalu lalang dan juga dekat dengan sebuah taman kanak-kanak (TK). “Awalnya teman-teman sesama orangtua murid TK dan guru yang jadi konsumennya. Ketika mereka mau membuat seragam batik, juga pesan ke saya,” ucap Ujiek yang juga aktif dalam ormas Aisyiyah ini.

Tawaran yang datang pada tahun 1987 itu tak ditampiknya, bahkan Ujiek melihatnya sebagai “pasar” yang bisa digarap. Lalu, bersama dengan suaminya, Mudofar, ia mulai memperkenalkan kemungkinan mereka menggarap peluang batik seragam sekolah ini. “Kami tidak menawarkan diri ke berbagai sekolah, tetapi karena ada teman yang menjadi anggota tim seragam sekolah, kami tawarkan kepadanya contoh kain, motif, dan warnanya,” Mudofar menambahkan.

Kini mereka memasok seragam batik untuk lebih dari 10 sekolah di kawasan Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi). Semua pesanan seragam dibuat di Pekalongan hingga berupa kemeja karena biaya produksinya lebih murah. “Kami melakukan pendekatan kekeluargaan ke sekolah-sekolah. Kedekatan hubungan itu membuat kami sangat menjaga kualitas pesanan. Kalau batik kami tak sesuai kesepakatan, bisa-bisa hubungan pribadi pun terancam. Jangan sampailah,” kata Ujiek yang juga bekas caleg PAN ini.

Harga kemeja seragam sekolah bervariasi antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per potong. Selama ini pemesanan seragam bervariasi dari 200 potong sampai 1.000 potong. “Setelah sekolah, kami melihat seragam batik untuk kelompok haji juga bisa menjadi peluang pemasaran,” ucap Ujiek.

KALAU awalnya Ujiek mulai berdagang batik untuk biaya sekolah, dan jenisnya pun terbatas, maka sekarang jenis batik usahanya amat beragam. Mulai dari baju, daster, kemeja, seprei, taplak, sampai bantalan kursi dan tas. Harganya juga sangat bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah sampai jutaan rupiah.

Toko batik Rima menjadi pemasar produk pabrik keluarganya di Jabotabek. Sementara bagian produksi di Pekalongan dikelola oleh dua saudaranya. “Memang jualan di rumah lebih enak, kita bisa tetap mengurus rumah sambil berdagang. Tetapi, ketika ada yang menawarkan tempat bagus, kenapa tidak dicoba?” ujar Ujiek memberi alasan mengapa dia pindah dari rumah ke ruko yang disewanya itu.

Selain itu, kawasan ruko pun sudah dikenal sebagai salah satu pusat mebel antik yang banyak dikunjungi orang asing. Keberadaan toko batik di kawasan itu setidaknya diharapkan bisa membuat pengunjung toko mebel antik pun melirik.

Meski sudah ada toko dan secara rutin memasok Pasaraya, bagi Ujiek pemasaran lewat mulut ke mulut masih tetap efektif. Dia antara lain memanfaatkan arisan dan jaringan dalam ormas yang diikutinya untuk memperluas pemasaran batiknya.

Ujiek tetap mempercayakan batiknya dibawa oleh beberapa temannya untuk dijual ke orang lain. Dia juga tak keberatan kalau ada orang yang membayar dua-tiga kali karena kemampuan mereka terbatas. Ujiek pun tak mensyaratkan uang muka, alasannya dia lebih mementingkan kepercayaan.

“Untuk berjualan batik itu feeling kita juga harus main. Kalau feeling kita salah, ya anggap saja risiko” katanya enteng. Dia lalu bercerita, meski sudah percaya pun, toh beberapa kali batiknya yang dibawa orang tidak kembali uang maupun barangnya. Namun, Ujiek memilih merelakannya. “Hitung-hitung dari 10 orang yang bawa barang saya hanya satu-dua yang begitu, dan masih lebih banyak yang jujur,” tambahnya.

Puluhan tahun berjualan batik juga dilalui Ujiek dengan cerita dukanya. Selain ada pembawa batik yang tidak mengembalikan uang atau barangnya, dia juga pernah mengalami musibah. “Sekitar tahun 1989-1990 terjadi kebakaran di sebuah pasar swalayan di Pamulang. Padahal, saya menitipkan batik saya di situ. Memang sih, batik saya tidak terbakar, tetapi bau asap dan debunya harus dibersihkan sampai 1,5 bulan,” katanya.

Setelah bersih pun dia kesulitan menjual batik tersebut. Kebetulan waktu itu ada tamu dari Kendari yang memerlukan batik dalam jumlah banyak, meski uangnya terbatas. “Daripada tidak terjual, kami berikan juga biar pun merugi,” Mudofar menambahkan.

Sumber : (CP) KCM, Jakarta

Dewan Perniagaan Malaysia Tinjau Kerajinan Batik di Yogyakarta

Thursday, May 13th, 2004

34 (tiga puluh empat) orang anggota Dewan Perniagaan Malaysia Negeri Selangor (Kamis, 13/5) yang didampingi oleh penasehat Kedutaan Besar RI di Malaysia Ibu Normaningsih, mengunjungi DIY dalam rangka untuk meninjau dan melihat secara langsung tentang perkembangan Batik di Yogyakarta dan diterima oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang pada kesempatan tersebut didampingi Asisten Ekonomi Fasilitasi dan Investasi, Ir. Sunyoto dan Kepala Dinas Perindag., Ir. Syahbenol Hasibuan di G. Pracimosono, Kepatihan Yogyakarta.

Datuk H. Mohammad Said, Ketua Rombongan Dewan Perniagaan Malaysia Negeri Selangor menyampaikan bahwa tujuan Dewan Perniagaan Malaysia Negeri Selangor ke Yogyakarta untuk melihat secara dekat industri Batik yang ada di daerah ini karena menurut Mohammad Said, kerajinan Batik Indonesia khususnya Yogyakarta sangat baik perkembangannya. Untuk itu, Negara Malaysia merasa perlu untuk berguru dan belajar akan kerajinan Batik baik itu desain maupun motifnya sehingga industri Batik yang ada di Malaysia akan lebih berkembang lagi. Selain itu, kunjungan yang diikuti oleh pengusaha-pengusaha di bidang tekstil, desain dan tehnologi ini dapat dijadikan sarana untuk interaksi bagi pengusaha DIY dengan Malaysia dan mendapatkan informasi tentang tehnologi dalam penggunaan warna, motif dan corak pada Batik. Datuk Mohammad Said juga mengusulkan apabila memungkinkan diadakan pelatihan bersama antara pengusaha Batik Malaysia dan Yogyakarta serta terjalinnya suatu kerja sama. Atensi pengusaha Malaysia terlihat pada kunjungan setiap setahun sekali para ahli perniagaan Malaysia ke Indonesia untuk melihat resource dan craft, dan pada bulan April 2004 yang lalu, antara Kantor Perdagangan Malaysia dan KADIN DIY pun telah menjalin kerja sama di bidang perdagangan.

Sementara Gubernur DIY menjelaskan bahwa untuk menunjang perkembangan Batik, saat ini Batik Yogyakarta diberikan suatu tehnologi agar pasar/market Batik lebih bagus dan meluas, terlebih lagi dengan adanya direct flight DIY – Kuala Lumpur, Malaysia tentu akan lebih memperlancar pemasaran, meskipun dapat merubah corak Batik sebelumnya untuk mengejar pasar.

Menurut Gubernur, Batik yang ada di Yogyakarta, Solo dan Pekalongan terdapat perbedaannya. Batik Yogyakarta dan Solo berorientasi pada vertikal atau ke-Tuhan-an karena lebih sering digunakan untuk seremonial, sementara Batik Pekalongan cenderung berorientasi pada pasar karena corak/motifnya lebih berwarna-warni karena terpengaruh akan corak masyarakat China.

Sementara dalam dialog yang berlangsung dan menanggapi pertanyaan langkah apa yang dilakukan untuk melestarikan Batik di Yogyakarta, Gubernur menjelaskan bahwa setiap setahun sekali Yogyakarta mengadakan Festival Batik yang menyelenggarakan lomba corak/motif Batik dan mengundang juri dari luar negeri. Selain itu Universitas Islam Indonesia pun ikut melestarikannya dengan dicantumkannya Batik di salah satu fakultasnya

Mengenai nilai ekspor Batik ke luar negeri dan negara mana saja yang mengimpor Batik, Drs. Robby Kusumaharta, Ketua BPJKY (Badan Pengembangan Jasa Keuangan Yogyakarta) mengatakan bahwa penjualan Batik terkait dengan tourism, dari 40 juta US Dollar pendapatan DIY setiap tahunnya sekitar 20 % merupakan hasil dari Batik. Mayoritas negara yang membeli Batik Yogyakarta yaitu Jepang, Malaysia dan Singapore.

Sumber : (Subbid. Pemberitaan BID) Pemda DIY

Lasem Dijajagi Jadi Cagar Budaya

Tuesday, May 11th, 2004

Lasem, kota kecil di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang memiliki sejumlah peninggalan budaya perpaduan Cina dan Jawa pesisirian, saat ini sedang dijajagi sebagai kawasan cagar budaya.

Kepala Dinas Pariwisata Jawa Tengah Drs Agus Suryono MM di Lasem, Selasa mengatakan, sejumlah peninggalan fisik berupa bangunan dan budaya termasuk batiktulis khas Lasem yang punya ciri khas yang bisa dijadikan aset wisata.

“Kita masih menginventarisasi peninggalan-peninggalan budaya di Lasem, untuk kemudian kita kaji apakah penting untuk dijadikan cagar budaya,” katanya di Lasem.

Menurut Agus, bangunan dan budaya di Lasem menunjukkan adanya harmonisasi budaya Cina dan masyarakat setempat yang diwarnai budaya pesisiran Jawa.

Berbagai peninggalan tersebut, katanya, juga menunjukkan bahwa pembaruan masyarakat dan budaya sebenarnya sudah lama berlangsung di Lasem.

Bahkan menurut sejarah, katanya, pada saat itu ada dua tokoh pergerakan melawan penjajahan Belanda, yang satu orang asli Lasem dan satunya etnis Tionghoa.

Sejumlah kelenteng dengan warna dominan merah sampai sekarang masih terawat dan digunakan untuk peribadatan.

Pemeliharaan benda dan budaya bersejarah ini penting untuk memberi gambaran kepada generasi muda, di samping bisa dimanfaatkan sebagai aset wisata.

Ia menjelaskan, batik tulis Lasem yang di zaman dulu pernah begitu terkenal, namun belakangan surut pamornya karena tersaingi batik cap, sejak tiga tahun lalu mulai bergeliat kembali.

Disainer atau perancang busana nasional, kata Agus, melihat bahwa corak dan disain batik Lasem bisa diangkat serta diterima masyarakat.

“Batik Lasem kini mulai bangkit kembali. Ini menjadi aset daerah dan nasional,” katanya.

Sumber : (Ant/jy) KCM, Semarang

Pengakuan Anak Jalanan: “Kami Ingin Mandiri, Sukses, Kaya, dan Mati Masuk Surga”

Friday, May 7th, 2004

Pelatihan Batik untuk Anak Jalanan

MESKI hidupnya tidak menentu, bukan berarti mereka tidak ingin maju. Mereka pun memiliki cita-cita agar dapat sukses hidup di dunia dan mati masuk surga. “Kami ingin hidup enak, mandiri, sukses, kaya, dan mati masuk surga,” kata Zuhri, anak jalanan dari Kelurahan Sokorejo.

Hal itu diungkapkan dalam kegiatan peningkatan kesejahteraan anak jalanan yang dilakukan Kantor Pelayanan Kesejahteraan Sosial (Yankesos) Kota Pekalongan di aula Gedung Politeknik Pusmanu.

Ucapan Zuhri itu disampaikan kepada tutor, Agustin SPsi yang sehari-hari mengajar di SDLB Buaran. Dalam wawancara itu, satu per satu anak dimintai tanggapan tentang dorongan mereka mengikuti pelatihan tersebut. Hampir semua menyatakan ingin kaya dan sukses dalam hidup.

Karena itu, mereka mengaku tertarik mengikuti pendidikan keterampilan yang dilakukan selama sebulan. Adapun jenis keterampilannya menurut Dra Nur Chasanah, Kasi Kesejahateraan Anak dan Keluarga, Yankesos, dibagi menjadi dua jenis, yakni keterampilan mengelas dan membatik.

Ke-30 peserta dibagi dua, 15 anak mengikuti pelatihan membatik agar mereka bisa mandiri dengan membuka usaha batik. Ini upaya yang memungkinkan karena Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Pelatihan membatik tersebut akan dilakukan di Politeknik Pusmanu yang sehari-hari memang mendidik orang membatik. Sementara itu 15 anak lainnya mengikuti keterampilan mengelas yang akan dilakukan di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Bendan Jaya.

Untuk menjadikan mereka bisa mandiri, setelah mengikuti keterampilan selama sebulan, mereka akan diupayakan magang pada suatu perusahaan baik batik maupun las. Dengan demikian, mereka bisa hidup mandiri dan tidak hanya menjadi tukang becak atau peminta-minta seperti selama ini.

Kelompok Rentan

Nur Chasanah mengakui anak jalanan di wilayahnya sebagian besar menempati beberapa lokasi di bawah jembatan, seperti Jembatan Kali Loji, Jembatan Gambaran, Jembatan Kali Banger, dan jembatan Grogolan. Jumlah anak jalanan dan gelandangan di Kota Batik tercatat 458 anak.

Untuk mengentaskan mereka, dari sejumlah itu dalam tahun ini dibina 30 anak. Adapun 150 anak akan dibina Yayasan Azzahari yang mendapat anggaran dari APBN. Dengan demikian, dalam setahun Pemkot membina 180 anak.

Apakah anak-anak yang mendapat pembinaan itu kemudian bisa mandiri? Menurut dia, hanya sebagian kecil mereka yang berhasil. Banyak faktor yang menyebabkan mereka belum sukses. Di antaranya karena lingkungan keluarga mereka yang sebagian besar juga gelandangan sehingga tidak mendorong anaknya bekerja dengan baik.

Di antara anak jalanan itu, menurut dia, dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, mereka yang 100% hidupnya di jalanan untuk mencari nafkah. Kedua, mereka yang di jalanan hanya sejenak saat mencari nafkah, sedangkan ketiga yakni kelompok rentan (bukan semata-mata mencari nafkah).

Soal mental, Nur Mengakui memang baik. Mereka tidak minder sedikit pun. Namun diakui, mereka juga sulit diatur sehingga pelatih harus benar-benar sabar. Sebab kalau pelatihnya mudah emosi dan marah, pelatihan tidak akan berhasil. Karena itu, di dalam pembelajaran dan pelatihan, psikolog diperlukan sehingga mereka bisa mengikuti sampai akhir.

Dulu ketika dilakukan pelatihan, kata Nur Chasanah, pesertanya menjadi tinggal sedikit saat masa penutupan. Karena itu kini pelatihan dilakukan secara ketat. “Agar mereka mengikuti hingga akhir, uang transportasi Rp 5.000 sehari baru diberikan setelah pendidikan berakhir. Ini ternyata berhasil mencegah anak jalanan keluar dari pelatihan.”

Kepala Kantor Yankesos Drs Mulyadi mengatakan, pelatihan itu diberikan sebagai upaya pemerintah untuk memberi perlindungan terhadap anak sebagaimana diatur dalam UU 22 Tahun 2000 tentang Perlindungan Anak.

Mereka, kata Mulyadi, memiliki hak kelangsungan hidup, berpartisipasi dalam pembangunan, perlindungan, serta hak kesejahteraan. “Kami berupaya mengentaskan mereka dari hidup di jalanan. Namun semua itu juga tergantung pada mereka. Kalau mau berusaha keras, mereka pun bisa hidup sukses seperti yang mereka inginkan,” katanya.

Sumber : (Trias Purwadi-20i) Suara Merdeka

Kebakaran di Kawasan Malioboro - Dua Toko Batik Musnah

Tuesday, May 4th, 2004

Kebakaran besar terjadi di Kawasan Wisata Malioboro, Minggu (2/5) malam, pada saat pengunjung masih memenuhi kawasan itu. Akibat musibah itu, toko batik dan kerajinan terkenal, Mirota Batik, habis terbakar. Api juga melalap Toko Jaya Dewi dan menyambar atap Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Marga Mulya. Kerugian akibat kebakaran itu ditaksir lebih dari Rp 10 miliar.

Sejumlah saksi mata mengatakan, api membubung tinggi secara tiba-tiba sekitar pukul 21.15 di lantai dua Mirota Batik dan kemudian menyambar Toko Jaya Dewi yang berada di sebelahnya. Api juga sempat menyambar atap GPIB Jemaat Marga Mulya. Namun, sebelum api membakar atap gereja tua itu, petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkannya.

Kebakaran tersebut segera diketahui karena pengunjung yang masih memadati kawasan Malioboro malam itu segera menghubungi pemadam kebakaran. Selang beberapa menit, satuan pemadam kebakaran dari Kota Yogyakarta yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi kebakaran tiba. Namun, berbagai bahan yang mudah terbakar seperti kain dan kerajinan dari kayu yang ada di kedua toko itu membuat api sulit dikendalikan.

Petugas pemadam kebakaran yang berjuang memadamkan api sejak sekitar pukul 22.00 berusaha melokalisasi kebakaran agar tidak menjalar ke bangunan lain, sedangkan kedua toko yang sudah terbakar itu tidak bisa diselamatkan.

Kebakaran itu sempat membuat panik pedagang dan pengunjung yang masih hilir mudik di kawasan tersebut. Para pedagang kaki lima (PKL) berusaha menyelamatkan barang dagangan mereka. Namun, situasi kacau itu justru dimanfaatkan sejumlah orang untuk menjarah barang dagangan milik PKL. Untuk menghindari kekacauan, polisi langsung menutup kawasan Malioboro.

Sekitar pukul 23.30, api dapat dilokalisasi para petugas pemadam kebakaran yang mengerahkan 11 mobil pemadam.

Kerugian Rp 10 miliar
Mirota Batik yang selalu dipenuhi wisatawan lokal dan mancanegara musnah tak bersisa. Seluruh barang dagangan berupa batik, barang kerajinan, dan gulungan bahan ludes terbakar. Adjie, Supervisor Mirota Batik, mengatakan, kebakaran itu mengakibatkan kerugian sekitar Rp 10 miliar. Toko Jaya Dewi juga luluh lantak. Namun, pemilik Jaya Dewi belum mau berkomentar soal kerugian yang mereka derita.

Adjie mengatakan, manajemen Mirota Batik belum bisa memastikan bagaimana nasib 150 karyawan di toko tersebut.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Kota Besar Yogyakarta Komisaris Endi Sutendi mengatakan, polisi belum dapat memastikan penyebab musibah itu.

Sumber : (K10/J14/J17/BSW/NTS/ANA) Kompas Cetak

Batik untuk Perempuan Aktif

Monday, May 3rd, 2004

Batik merupakan kain yang sudah lebih dari seabad berkembang di Indonesia, tetapi semakin terbatas penggunaannya kini. House of Yani yang dimiliki Yani Soemali menampilkan kain batik dan tenun dalam rancangan untuk kalangan ibu-ibu muda yang banyak melakukan aktivitas di luar rumah.

“Mereka aktif dan tetap ingin tampil cantik, luwes, penuh semangat. Kemudian, ciri khas Indonesia adalah kain dan batik. Lalu saya berpikir, bagaimana mengawinkan antara ciri khas tersebut dan perempuan yang aktif,” kata Yani di Jakarta, Rabu (21/4).

Yani menyiapkan rancangan itu selama dua minggu. “Tiba-tiba ada dorongan melakukan sesuatu di Hari Kartini. Idenya adalah mewujudkan karakter yang melekat di Kartini, yakni berpikiran luas, pandai, tetapi tetap tampak seperti perempuan Indonesia yang akrab dengan kain,” ujarnya.

Selain itu, Yani mengaku, selama kampanye pemilu, dia sering menerima pesanan dari calon anggota legislatif yang harus berkampanye di daerah. Mereka ingin memakai busana resmi Indonesia, tetapi tidak mau dibatasi ruang geraknya karena memakai busana tersebut.

“Saya lihat selama ini orang tidak mau memakai kain karena merasa tidak bebas bergerak dan repot memakainya. Akibatnya, semakin sedikit orang yang memakai kain batik. Jika kain batik bisa dimodifikasi, tentu orang-orang muda bersedia memakainya tanpa harus repot dan tampak kuno,” kata Yani yang juga menampilkan kain tenun bali pada kesempatan itu.

Kain batik yang sebagian besar dibeli dari Pasar Beringharjo, Yogyakarta, itu diolah menjadi atasan, sarung, atau pareo.

Atasan bermodel kimono, kebaya kartini, kebaya kurung, tank top, dan baju bergaya cheongsam. Aplikasi renda ditambahkan pada busana itu untuk memberi kesan cantik, meskipun teknik ini bukan baru.

Warna yang banyak dipakai adalah warna sogan untuk batik dan warna-warna pastel untuk kain tenun bali. Beberapa baju diperagakan dengan memakai jins sehingga tampak sekali segmen yang dituju adalah anak muda.

Pengolahan terhadap kain batik dan tenun telah dilakukan, namun tidak terlalu istimewa karena sudah banyak perancang lain melakukan hal sama.

Sumber : (ARN) KCM, Jakarta