Tri Asayani, Pemberontakan Lewat Karya Batik
Thursday, April 22nd, 2004Bandung kembali melahirkan seorang pembatik. Tri Asayani (24), seorang pembatik muda asal Pekalongan yang tinggal di Kota Bandung ini menggelar karya- karyanya untuk pertama kali di Cafe Jerami, Babakan Siliwangi, Bandung, yang pembukaannya diselenggarakan pada hari Selasa (20/4) malam.
Asayani menghadirkan “pemberontakan” terhadap aliran batik tradisional yang diungkapkan lewat karya-karya batik kontemporer yang ditampilkannya. Motif-motif batik yang geometris serta pengaturan komposisi yang beragam dan tidak sesuai dengan pola-pola batik pada umumnya, menjadi ciri khas dari karya-karya Asyani. Media kain yang digunakan pun bukan lagi sebatas kain tetoron atau sutra, tetapi justru kain untuk handuk.
DENGAN menampilkan beragam kreasi karyanya, Asayani yang merupakan penerus dari seniman batik Hasanudin, mencoba mengekspresikan pemberontakannya terhadap kelaziman motif-motif batik pada umumnya.
Menurut Yani, begitu ia biasa disapa, yang menjadi inspirasi dari setiap karya-karyanya adalah elemen-elemen yang terdapat dalam batik itu sendiri. Peralatan membatik, seperti canting, malam (lilin yang dibakar untuk membatik-Red) juga dijadikan motif karya- karyanya.
Alasannya, menurut Yani, inspirasi dari batik tradisional hanya menjadi “jiwanya” dalam berkarya, sebab motif-motif tradisional sudah banyak ditampilkan.
“Yani ingin menampilkan karya Yani seperti ini. Lebih modern dan tidak seperti batik pada umumnya. Tetapi, Yani tetap menjalankan proses-proses yang harus dilalui dalam membatik, seperti pewarnaan, penggunaan lilin, pengasapan, dan sebagainya,” ujar alumnus FSRD ITB jurusan Kriya Tekstil tahun 2003 ini dengan bersemangat.
JIWA pemberontaknya itu betul-betul ia tampilkan lewat acara peragaan busana yang menggelar sebagian busana dan selendang rancangannya. Dengan diiringi musik yang iramanya menghentak-hentak, lebih dari sepuluh gadis muda yang mengenakan busana karya Yani, berlenggak-lenggok di atas panggung. Tata cahaya yang diatur sedemikian rupa membuat ruangan kafe yang terbuka itu mirip diskotek. Semuanya seperti menguatkan nuansa modern yang ingin ditampilkan Yani.
Mengenai langkahnya untuk lebih jauh berkarya dan eksis di dunia batik, Yani berujar, “Untuk saat ini, Yani ingin mempublikasikan karya-karya ini agar masyarakat Bandung mengenal bahwa Bandung pun punya batik.”
Upaya Yani ini, diakuinya, juga sebagai upaya untuk merintis jalan mematenkan karya-karyanya. Ketika ditanya apakah dia membuat paten dari karyanya ini, Yani mengaku bahwa di Indonesia masih sulit mengurus hak paten. “Prosesnya terlalu rumit dan biayanya pun enggak sedikit,” ujarnya.
Dalam pameran yang diberi tajuk “20042004″ ini, Yani menggelar tak kurang dari 55 buah karyanya yang berupa sarung, selendang, dan busana bergaya “muda” dan modern, di antaranya yang memadukan atasan backless dan sarung batik rancangannya. Sedangkan harga yang dipatok oleh Yani untuk rancangannya, yang dipamerkan, adalah berkisar antara Rp 1 juta sampai Rp 3 juta, yang target pasarnya adalah kaum ibu rumah tangga dan para remaja putri.
Acara yang digelar tanggal 20 hingga 24 April ini juga disertai workshop membatik dengan berbagai teknik, di antaranya batik canting, batik celup ikat, dan batik kuas.
Sumber : (*/oki) Kompas Cetak
Sejak tiga bulan terakhir, ratusan perajin batik di Pekalongan, Jawa Tengah, bangkrut akibat kesulitan memasarkan produksinya. Untuk bisa bertahan, baru-baru ini, seorang pengrajin setempat bernama Rusdianto memilih mengembangkan batik jenis natural. Walau begitu, ia mengaku harus mengeluarkan dana lebih untuk mengkombinasikan serat tumbuhan dan sutra. Jenis batik ini banyak disukai oleh kalangan menengah ke atas. Maklum, harga per kain berkisar antara empat hingga enam juta rupiah.