Sri Wiedarti: Setia Menjual Batik
MENJADI seorang istri tentara tidak hanya mengurus keluarga dan aktif dalam organisasi istri tentara. Dia bisa melakukan hal lain yang bisa menambah penghasilan keluarga. Seperti yang dilakukan Sri Wiedarti (59), warga Kompleks TNI AL Pangkalan Jati, Pondok Labu, Jakarta Selatan.
SEJAK menikah dengan L Handoko, dia langsung aktif dalam organisasi istri TNI AL. Selain itu, Wied, nama panggilannya, juga tetap mengurus rumah tangga dengan tiga anak, dan berjualan batik.
“Sebenarnya waktu itu suami tidak menuntut saya berjualan batik. Dia lebih senang saya mengurus ketiga anak kami dan yang penting saya harus ikut semua kegiatan di angkatan. Hanya saja, mungkin karena sudah terbiasa berdagang batik sejak muda, hal itu saya lakukan juga,” kata Wied yang berasal dari keluarga pembatik dan pedagang batik di Solo, Jawa Tengah.
Dorongan berjualan batik tak terelakkan, mungkin karena dia sudah terbiasa membantu ibunya berjualan batik di rumah. Neneknya-lah yang membatik, lalu hasilnya dijual oleh ibu Wied. Sementara untuk Wied sendiri, kesempatan berjualan muncul ketika dia melihat istri-istri TNI harus sering tampil dengan busana resmi daerah.
Wied pun mencoba menawarkan secara lisan kepada teman-temannya sesama istri TNI. Jika ada yang tertarik, baru dia bawakan barangnya. “Saya tidak pernah membawa ke sana kemari batik-batik itu, rasanya tidak cocok dengan acara yang saya kunjungi. Setelah ada yang mau, baru saya bawakan. Atau, mereka saya undang ke rumah untuk melihat dan memilih,” Wied menjelaskan.
Dari teman-teman itu pula kenalan Wied semakin banyak. Ada yang membawa teman, keluarga, kemudian teman mereka lagi, demikian seterusnya, sehingga lama-kelamaan pelanggan Wied semakin banyak. Menurut dia, pelanggan merasa senang berkunjung ke rumahnya karena merasa seperti di rumah sendiri.
“Saya senang ngobrol, jadi kalau sudah ada orang berkumpul di sini, bisa lama sekali. Bahkan, ada yang memindahkan tempat arisannya di sini,” Wied menambahkan.
PELUANG pasar semakin besar ketika muncul kebutuhan kain batik bagi keluarga dan pengiring pengantin adat Jawa. “Waktu itu, sekitar tahun 1970-an awal, belum ada bisnis persewaan baju kebaya dan kain batik sehingga banyak yang datang ke sini untuk membeli kain batik. Pertimbangan mereka, daripada harus ke Solo atau ke Yogyakarta, lebih baik membeli pada saya. Harganya pun jauh di bawah harga toko,” cerita Wied.
Dia mencontohkan, sepotong kain batik sutra di sebuah toko terkenal bisa dijual dengan harga Rp 1,8 juta, sementara dirinya hanya menjual sekitar Rp 1,2 juta. Selain menerima pesanan dan menjual kain batik, Wied juga memberikan fasilitas mewiru kain sampai memakaikan kain dan kebaya. Hasilnya, semua orang yang membeli kain di tempatnya merasa puas.
“Sekarang, permintaan untuk pengiring pengantin tidak begitu ramai seperti dulu. Masih tetap ada permintaan, tetapi tidak gencar lagi. Mungkin karena sekarang sudah ada bisnis persewaan baju dan kain yang secara ekonomi lebih murah dan efisien ya,” ujar Wied.
Walau bisnis untuk acara pernikahan tidak seramai dulu, bisnis penjualan kain Wied tetap berjalan baik. Apalagi ketika krisis moneter berlangsung. Ketika banyak orang mengeluh tidak punya uang, penjualan kain Wied justru meningkat.
“Waktu itu harga kain sutra sudah di atas Rp 1 juta, bahkan ada yang sampai Rp 3 juta. Tetapi herannya banyak sekali orang yang beli dan tidak tampak sulit mengeluarkan uang sebesar itu. Barang yang dikirim dari Solo langsung habis diborong,” kenangnya.
Diakui Wied, tidak semua orang yang datang membeli kain untuk dipakai sendiri. Ada juga yang mengambil kain untuk dijual kembali. “Saya tidak keberatan dengan hal itu. Saya pikir dengan ini saya bisa membantu dia mencari tambahan uang belanja. Sepanjang dia lancar pembayarannya dan tidak menjual kain di atas harga toko, ya saya tidak apa-apa,” ujarnya.
Selain memperbolehkan kainnya dibawa oleh orang lain, Wied juga menitipkan kainnya ke beberapa butik. “Sebelum saya memercayakan barang-barang saya ke orang lain, saya harus benar-benar percaya kepada orang tersebut. Sudah begitu pun saya pernah dikecewakan juga,” ujarnya.
Ceritanya, ada seorang teman yang akan membuka toko di bilangan Jakarta Timur dan ingin mengisi tokonya dengan kain-kain batik dari Wied. Pada awalnya, dia membayar semua kain yang dikirim dengan lancar. Namun, setelah banyak kain yang terjual, pembayarannya justru mulai tersendat-sendat. Tentu saja Wied merasa kesulitan karena dia harus menyetor uang hasil penjualan kain tersebut ke Solo. Akhirnya Wied mencari jalan tengah, pembayaran dengan cara dicicil.
Pengalamannya yang lain, kain-kain batik Wied pernah dicuri dari sebuah butik di wilayah Jakarta Selatan. “Ada pembeli yang mengambil kain saya lalu dimasukkan ke tas atau ke baju. Namun, butik itu bertanggung jawab dengan membayar kerugian tersebut, walaupun dengan mencicil dan diturunkan harganya,” cerita Wied yang sekarang melakukan seleksi ketat untuk membiarkan orang lain membawa kainnya.
WALAU banyak kainnya dititipkan di toko atau butik orang lain, Wied mengaku tidak tertarik untuk membuka butik sendiri. Alasannya, selain ongkos sewa dan gaji pegawai yang mahal, Wied tetap mempunyai kewajiban sebagai ibu rumah tangga dan istri anggota TNI yang banyak beraktivitas dalam organisasi.
“Paling-paling saya hanya ikut pameran atau bazar yang diselenggarakan Jalasenastri atau Yayasan Angkatan Laut. Di kesempatan itu saya juga menyebarkan kartu nama. Ini cukup mendatangkan pelanggan baru buat saya,” kata Wied yang hanya membuka butik di rumahnya.
Penyebaran kartu nama itu dirasakan Wied cukup membantu, terlebih saat ini, di mana banyak sekali orang berjualan batik di Jakarta. “Saingan saya sekarang banyak sekali. Tetapi saya tidak khawatir karena setiap orang sudah punya pasarnya masing-masing,” ucapnya.
Wied tak terlalu khawatir karena masih banyak pelanggan lama yang loyal belanja padanya. “Bahkan, ada pelanggan yang tetap membeli kain dari saya sejak pertama kali saya memulai usaha ini. Jadi, sudah lebih dari 30 tahun,” ujar nenek dari lima cucu ini.
Selain batik, belakangan ini Wied juga mulai menerima titipan dagangan dari orang lain, seperti seprai, tas dan sepatu dari Korea, busana muslim, dan baju dari Thailand.
Alasannya, biar sudah memiliki pelanggan yang cukup banyak dan setia, Wied mengaku kadang-kadang merasa jenuh dan lelah berbisnis kain. Tetapi, setiap kali dia merasa jenuh, pesanan yang datang malah semakin banyak.
“Mungkin Tuhan mau saya tetap menekuni bisnis batik ini. Biar bagaimanapun, usaha ini telah membantu keluarga saya dan banyak perajin batik di Solo,” kata Wied seakan mengingatkan dirinya sendiri.
Sumber : (ARN) Kompas Cetak