Batik ‘Ready to Wear’
BAGI wanita Indonesia, April merupakan bulan istimewa. Pada 21 April lahir pelopor gerakan emansipasi wanita RA Kartini. Untuk memperingati jasanya, banyak orang sibuk menyelenggarakan acara, termasuk para wanita di dunia fesyen. Di antaranya adalah Butik House of Yani yang menggelar sebuah pergelaran busana bertajuk Fashion@Four di Mangkok Putih Restauran, Kebayoran Baru, 21 April 2004.
Berbeda dengan koleksi sebelumnya, si pemilik butik Yani Soemali, memilih untuk menampilkan batik Yogyakarta sebagai dominasi dalam 24 busana koleksi terbarunya. ”Hari Kartini adalah hari besar bagi wanita Indonesia. Karena itu, saya memutuskan untuk mengangkat keindahan kain Tanah Air, kali ini lebih fokus pada batik Yogyakarta,” paparnya.
Keputusan Yani untuk mengangkat kain Indonesia didasarkan pada keinginannya untuk mengubah pendapat masyarakat yang menganggap kain tradisional seperti batik merupakan busana yang tabu untuk dikenakan sehari-hari. ”Saya ingin memperkenalkan kepada para wanita bahwa batik itu bisa dikenakan sebagai busana kasual, bukan hanya untuk acara formal saja,” ujarnya.
Usaha Yani untuk mengubah batik menjadi busana ready-to-wear ditampilkannya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memadukan kebaya modern dan celana jeans. Kebaya dirancang dengan gaya modern seperti model kebaya dengan panjang selutut.
Selain itu, keindahan kain batik Yogyakarta juga diolah Yani ke dalam bentuk celana, kemudian dipadukan dengan atasan simple seperti kaus hitam buntung dengan aksen payet atau kemeja brokat tanpa lengan.
Namun, bukan berarti Yani tidak menampilkan kain batik sebagai bawahan tradisional. Dia tetap mengolah batik menjadi kain, namun bukan dengan gaya lilit melainkan dibuat seperti sarung sehingga mudah untuk dikenakan.
Selain batik, Yani juga menampilkan beberapa busana dari bahan lurik dan tenun Bali. Semua dihiasi dengan aksen brokat atau lace, sehingga menambah kesan istimewa. Bordiran bunga masih digunakan untuk mempercantik beberapa busana. Tentunya, tanpa menghilangkan keindahan kain aslinya. ”Pokoknya semua busana yang ditampilkan sangat Indonesia, hanya dibuat lebih praktis untuk dikenakan sehari-hari.”
Sebagai pelengkap, Yani menampilkan aksesori berupa tas model clutch dalam berbagai warna yang dihiasi payet.
Dilihat dari keantusiasan pengunjung yang langsung memesan busana yang dipamerkan, sepertinya keinginan Yani untuk memopulerkan kain tradisional Indonesia terbilang sukses. Bahkan, beberapa kebaya yang ia sempat tampilkan lewat sebuah stasiun televisi swasta langsung dipesan oleh penyanyi kondang bersuara seksi, Reza.
Peragawati ternama, Nonny Chirilda yang ikut menyaksikan pergelaran juga mengaku puas dengan koleksi yang dilihatnya. ”Saya melihat ada perubahan dari koleksi Yani kali ini. Rancangannya tampak lebih muda. Ide yang ditawarkan juga unik, yaitu mengubah kain tradisional menjadi busana kasual yang sangat wearable,” ungkap Nonny.
Reaksi seperti itu tentu saja membuat Yani senang. Dia bertekad terus mengembangkan kain tradisional. Kita tunggu saja kiprah Yani selanjutnya.
Sumber : (MI/M-2) Media Indonesia
December 5th, 2005 at 12:51 pm
sdr Yani Soemali memakai batik sutra halus g?kalo emang pake,saya ada kain batik sutra halus kelas atas