Haji Eddyawan : Itu Latah…

HAJI Eddywan mengisap rokoknya dalam-dalam. Dalam perbincangannya dengan Kompas, pekan lalu, ia sempat beberapa kali menyayangkan ketiadaan keseragaman harga batik di Pekalongan.

Eddywan yang dikenal sukses menjalankan usaha batiknya itu mengungkapkan, ketidakseragaman harga terjadi akibat cara pikir pengusaha batik yang berbeda-beda.

Menurut Eddywan yang ditemui di rumahnya di Pesindon, Pekalongan, pengusaha bermodal kecil sering kali membanting harga jika dagangan yang mereka bawa ke luar Kota Pekalongan tidak laku.

Mereka lebih memilih menjual dengan harga murah ketimbang membawa pulang dagangan. Hal itu disebutnya membuat harga batik di pasaran rusak.

Ayah tiga anak itu bercerita lebih jauh, konsumen yang pernah membeli batik dengan harga tertentu tidak bersedia membeli batik serupa yang dijual dengan harga lebih mahal.

Sebenarnya, jelas Eddywan, dulu pernah dibentuk Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan (PPIP), yang menampung dan memasarkan batik perajin dengan harga standar. Namun, setelah bubarnya PPIP, tidak pernah ada lagi lembaga serupa yang mengatur masalah standardisasi harga.

Selain masalah ketidakseragaman harga, Eddywan yang lahir di keluarga pengusaha batik itu juga banyak menyoroti tentang motif batik pekalongan. Ia menyebut desain batik pekalongan latah.

“Desain batik pekalongan itu latah. Kalau ada yang baru, semua orang langsung meniru,” ungkap Eddywan.

Meski demikian, Eddywan mengakui, dirinya juga tidak bisa lepas sama sekali dari tren yang sedang berjalan. Meniru suatu motif atau model pakaian yang sedang tren, menurut dia, memang paling mudah dilakukan karena konsumen pasti menyambut positif. Selain itu, pengusaha juga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, waktu, dan tenaga untuk menciptakan motif baru.

Dia pun menyiasati dengan cara rutin membuat motif baru agar tidak sama dengan produk orang lain. Dalam memodifikasi motif batiknya, Eddywan sering kali melihat berbagai buku kuno dan majalah dalam negeri, terkadang terbitan luar negeri, sebagai referensi.

MESKI demikian, ungkap pria lulusan Universitas Diponegoro Semarang itu, batik pekalongan saat ini sebenarnya tidak lagi memperlihatkan ciri khas.

Perbedaan hanya terlihat dari pewarnaan yang berani. “Batik pekalongan banyak diberi warna-warna cerah, merah, kuning, hijau, dan semacamnya,” ujar Eddywan.

Namun, tambah Eddywan, yang sedang tren saat ini adalah warna-warna alam, seperti coklat. Ia menggunakan daun-daun tertentu sebagai bahan pewarna alami. “Tetapi, daunnya apa, tidak bisa saya ungkapkan. Rahasia,” elaknya, saat ditanya tentang jenis daun yang digunakannya untuk mewarnai batik tulis.

Pria yang berencana mengikuti pameran kerajinan internasional di Jakarta Mei mendatang itu bercerita, salah satu pegawainya memang ia tugasi mengurus proses kreatif membatik, termasuk membuat bahan pewarna, khususnya untuk batik tulis.

Seperti halnya model pakaian, tutur pengusaha batik berlabel Larissa itu, motif batik juga mempunyai siklus tersendiri. Suatu saat, motif yang pernah disukai akan kembali disukai di lain waktu dengan sedikit modifikasi.

Saat ini, gambar bunga dan burung sedang mendominasi batik produk Pekalongan.

Sumber : (H20) Kompas Cetak

Leave a Reply