Festival untuk Mengangkat Batik
BATIK dari Pekalongan sebenarnya menguasai bagian terbesar dari pasar batik di dalam negeri. Namun, hanya sedikit batik dari daerah ini yang mampu menembus “kelas atas” walaupun kualitasnya memadai dengan tetap mempertahankan label Pekalongan. Karya itu sudah dikemas dengan label ternama atau diakui sebagai produk rumah mode tertentu.
“Sejumlah desainer sebenarnya mengandalkan batik dari Pekalongan. Batik yang mereka tawarkan dibuat di Pekalongan, tetapi saat ditawarkan sudah diberi label rumah mode atau desainer tertentu,” ujar perancang busana asal Pekalongan, Afif Syakur, kepada Kompas di Semarang, Senin (19/4) malam.
Afif menyebut sejumlah nama desainer yang mengandalkan batik dari Pekalongan untuk karyanya. Di sisi lain, perajin batik masih berkutat dengan produksi, terbatas pada kreativitas industri dan belum mengembangkan diri, sampai mempromosikan karyanya dengan brand lokal. Padahal, perajin dan pengusaha batik di Pekalongan punya potensi untuk berkembang.
Saat ini memang sudah ada sejumlah label lokal Pekalongan yang ditawarkan kepada konsumen. Akan tetapi, merek tersebut belum bisa menembus pasaran luas, setidak- tidaknya dikenal dan dicari masyarakat. Label itu masih sekadar merek “lokal”.
Sebenarnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah bersama dengan Paguyuban Batik Pekalongan (PBP), Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan (PPIP), Yayasan Batik Indonesia (YBI), serta Pemerintah Kota Pekalongan dan Pemerintah Kabupaten Pekalongan pada akhir bulan Oktober 2003 menggelar Festival Batik Pekalongan. Acara yang diprakarsai perajin, pengusaha, dan peminat batik dari Pekalongan itu tidak hanya menampilkan sekitar 200 koleksi desain batik kuno dari Pekalongan, tetapi juga memperkenalkan lebih banyak lagi produk, label, dan desain baru batik. Setelah itu tidak pernah lagi ada gaung acara seperti itu di Pekalongan.
Padahal, saat membuka festival itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz menegaskan, “Gelar Festival Batik ini seyogianya menjadi kebangkitan bagi kejayaan produk batik,” Namun, jangankan menembus pasar global, menembus pasar nasional dengan label Pekalongan pun bagi batik pekalongan sangatlah sulit.
Afif Syakur mengakui, festival dan kegiatan fashion show sebenarnya bisa menjadi ajang untuk mengangkat batik pekalongan, khususnya yang berlabel setempat. Akan tetapi, diakui kegiatan itu termasuk jarang dilakukan di Pekalongan. “Sekarang ini sebenarnya sudah mulai ada promosi, termasuk kegiatan fashion show di Pekalongan dan di luar kota, untuk semakin memperkenalkan batik pekalongan. Tetapi memang intensitasnya masih sangat kurang,” ujar mantan Ketua Panitia Festival Batik Pekalongan 2003 itu.
Melalui festival atau fashion show, lanjut Afif, bukan hanya label lokal, desain baru, dan produk baru yang diperkenalkan kepada publik, tetapi kegiatan itu pun bisa “menaikkan” kelas batik pekalongan. Itu bukan berarti menjadikan batik berkualitas rendah menjadi mahal harganya, melainkan batik yang memang berkualitas dihargai sepadan dengan kualitasnya.
Afif Syakur mengakui, sebenarnya Pemprov Jawa Tengah kini sudah memberikan dukungan yang memadai untuk pengembangan batik, termasuk dari Pekalongan. Misalnya, dalam mengikuti pameran Ina Craft pada bulan Mei mendatang di Jakarta, Pemprov Jawa Tengah memberikan subsidi Rp 2 juta untuk setiap perajin yang menyewa stan untuk pameran. “Sewa stan sebenarnya Rp 9 juta. Tetapi, perajin dari Jawa Tengah cukup membayar Rp 7 juta karena diberi subsidi,” paparnya lagi.
Walaupun demikian, peluang itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. Padahal, Ali Mufiz pernah menjanjikan Pemprov Jawa Tengah akan memberikan fasilitas promosi sistematis di dalam dan luar negeri.
Akan tetapi, jika peluang ini belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan, mungkin pemerintah masih perlu mendorong perajin dan pengusaha batik di Pekalongan memanfaatkan setiap peluang dan fasilitas untuk menaikkan kelas produknya.
Sumber : (P Tri Agung Kristanto) Kompas Cetak