Archive for April, 2004

Kajian Desain Ragam Hias Batik Indramayu

Monday, April 26th, 2004

By: Nita Trismaya
Desain FSRD ITB
Created: 2004-04-26 , with 1 file(s).

Keywords: Ragam hias, batik
Subject: Desain Tekstil
Heading: Desain
Call Number: 746.6

ABSTRAK
Indramayu merupakan daerah pesisir dengan pengaruh berbagai budaya mulai dari Hindu, Islam dan Cina, berlatar budaya nelayan dan petani. Di masa dahulu merupakan kota pelabuhan yang menjualbelikan barang-barang dari berbagai tempat. Kedatangan bangsa Cina terkait dengan sejarah nusantara yang terletak dalam lalu lintas perdagangan India-Cina. Lewat kontak budaya dan politik dengan berbagai bangsa, masyarakat Indonesia memiliki seni tradisi yang kaya salah satunya adalah batik pesisir. Ragam bias batik Indramayu termasuk batik pesisir kategori batik rakyat dan berbeda dengan batik Cirebon yang berlatar budaya kraton dan banyak memiliki perlambangan. Cirebon sebagai daerah terdekat ikut menyumbang dalam pembentukan budaya pesisir Indramayu, lewat hubungan dagang dan politik. Budaya Cirebon itu sendiri terbentuk lewat akulturasi budaya lokal, Hindu, Islam dan Cina dengan latar seni istana serta memiliki komunitas masyarakat peranakan Cina. Pengaruh budaya Cina yang datang langsung ke Indramayu lewat perdagangan maupun lewat jalur Cirebon dapat dilihat dari penggunaan motif-motif simbolis Cina seperti funiks, kilin, banji, meander, dimana dalam prosesnya motif Cina tidak ditiru begitu saja tapi diolah ke dalam nilai-nilai lokal konvensi masyarakat Indramayu sehingga menghasilkan berbagai perubahan bentuk_ Kedatangan barang-barang keramik dan kain sutera Cina ke pelabuhan Cimanuk Indramayu diperkirakan bersamaan juga dengan kain batik indigo Cina dimana terdapat kesamaan ragam hias dan warna dengan batik Indramayu.

Dalam penelitian ini, digunakan tinjauan historis dan komparatif secara deskriptif analisis untuk mendapat identitas batik Indramayu dan sampai sejauh mana perkembangan seni hias

For more information, contact:
DL Name: Departemen Seni Murni ITB
PublisherID: JBPTITBART
Organization: Institut Teknologi Bandung
Contact: admin
Address: libadmin@art.itb.ac.id
City: Bandung
Region: Jawa Barat
Country: Indonesia

Sumber : Dept Seni Murni ITB

Sri Wiedarti: Setia Menjual Batik

Sunday, April 25th, 2004

MENJADI seorang istri tentara tidak hanya mengurus keluarga dan aktif dalam organisasi istri tentara. Dia bisa melakukan hal lain yang bisa menambah penghasilan keluarga. Seperti yang dilakukan Sri Wiedarti (59), warga Kompleks TNI AL Pangkalan Jati, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

SEJAK menikah dengan L Handoko, dia langsung aktif dalam organisasi istri TNI AL. Selain itu, Wied, nama panggilannya, juga tetap mengurus rumah tangga dengan tiga anak, dan berjualan batik.

“Sebenarnya waktu itu suami tidak menuntut saya berjualan batik. Dia lebih senang saya mengurus ketiga anak kami dan yang penting saya harus ikut semua kegiatan di angkatan. Hanya saja, mungkin karena sudah terbiasa berdagang batik sejak muda, hal itu saya lakukan juga,” kata Wied yang berasal dari keluarga pembatik dan pedagang batik di Solo, Jawa Tengah.

Dorongan berjualan batik tak terelakkan, mungkin karena dia sudah terbiasa membantu ibunya berjualan batik di rumah. Neneknya-lah yang membatik, lalu hasilnya dijual oleh ibu Wied. Sementara untuk Wied sendiri, kesempatan berjualan muncul ketika dia melihat istri-istri TNI harus sering tampil dengan busana resmi daerah.

Wied pun mencoba menawarkan secara lisan kepada teman-temannya sesama istri TNI. Jika ada yang tertarik, baru dia bawakan barangnya. “Saya tidak pernah membawa ke sana kemari batik-batik itu, rasanya tidak cocok dengan acara yang saya kunjungi. Setelah ada yang mau, baru saya bawakan. Atau, mereka saya undang ke rumah untuk melihat dan memilih,” Wied menjelaskan.

Dari teman-teman itu pula kenalan Wied semakin banyak. Ada yang membawa teman, keluarga, kemudian teman mereka lagi, demikian seterusnya, sehingga lama-kelamaan pelanggan Wied semakin banyak. Menurut dia, pelanggan merasa senang berkunjung ke rumahnya karena merasa seperti di rumah sendiri.

“Saya senang ngobrol, jadi kalau sudah ada orang berkumpul di sini, bisa lama sekali. Bahkan, ada yang memindahkan tempat arisannya di sini,” Wied menambahkan.

PELUANG pasar semakin besar ketika muncul kebutuhan kain batik bagi keluarga dan pengiring pengantin adat Jawa. “Waktu itu, sekitar tahun 1970-an awal, belum ada bisnis persewaan baju kebaya dan kain batik sehingga banyak yang datang ke sini untuk membeli kain batik. Pertimbangan mereka, daripada harus ke Solo atau ke Yogyakarta, lebih baik membeli pada saya. Harganya pun jauh di bawah harga toko,” cerita Wied.

Dia mencontohkan, sepotong kain batik sutra di sebuah toko terkenal bisa dijual dengan harga Rp 1,8 juta, sementara dirinya hanya menjual sekitar Rp 1,2 juta. Selain menerima pesanan dan menjual kain batik, Wied juga memberikan fasilitas mewiru kain sampai memakaikan kain dan kebaya. Hasilnya, semua orang yang membeli kain di tempatnya merasa puas.

“Sekarang, permintaan untuk pengiring pengantin tidak begitu ramai seperti dulu. Masih tetap ada permintaan, tetapi tidak gencar lagi. Mungkin karena sekarang sudah ada bisnis persewaan baju dan kain yang secara ekonomi lebih murah dan efisien ya,” ujar Wied.

Walau bisnis untuk acara pernikahan tidak seramai dulu, bisnis penjualan kain Wied tetap berjalan baik. Apalagi ketika krisis moneter berlangsung. Ketika banyak orang mengeluh tidak punya uang, penjualan kain Wied justru meningkat.

“Waktu itu harga kain sutra sudah di atas Rp 1 juta, bahkan ada yang sampai Rp 3 juta. Tetapi herannya banyak sekali orang yang beli dan tidak tampak sulit mengeluarkan uang sebesar itu. Barang yang dikirim dari Solo langsung habis diborong,” kenangnya.

Diakui Wied, tidak semua orang yang datang membeli kain untuk dipakai sendiri. Ada juga yang mengambil kain untuk dijual kembali. “Saya tidak keberatan dengan hal itu. Saya pikir dengan ini saya bisa membantu dia mencari tambahan uang belanja. Sepanjang dia lancar pembayarannya dan tidak menjual kain di atas harga toko, ya saya tidak apa-apa,” ujarnya.

Selain memperbolehkan kainnya dibawa oleh orang lain, Wied juga menitipkan kainnya ke beberapa butik. “Sebelum saya memercayakan barang-barang saya ke orang lain, saya harus benar-benar percaya kepada orang tersebut. Sudah begitu pun saya pernah dikecewakan juga,” ujarnya.

Ceritanya, ada seorang teman yang akan membuka toko di bilangan Jakarta Timur dan ingin mengisi tokonya dengan kain-kain batik dari Wied. Pada awalnya, dia membayar semua kain yang dikirim dengan lancar. Namun, setelah banyak kain yang terjual, pembayarannya justru mulai tersendat-sendat. Tentu saja Wied merasa kesulitan karena dia harus menyetor uang hasil penjualan kain tersebut ke Solo. Akhirnya Wied mencari jalan tengah, pembayaran dengan cara dicicil.

Pengalamannya yang lain, kain-kain batik Wied pernah dicuri dari sebuah butik di wilayah Jakarta Selatan. “Ada pembeli yang mengambil kain saya lalu dimasukkan ke tas atau ke baju. Namun, butik itu bertanggung jawab dengan membayar kerugian tersebut, walaupun dengan mencicil dan diturunkan harganya,” cerita Wied yang sekarang melakukan seleksi ketat untuk membiarkan orang lain membawa kainnya.

WALAU banyak kainnya dititipkan di toko atau butik orang lain, Wied mengaku tidak tertarik untuk membuka butik sendiri. Alasannya, selain ongkos sewa dan gaji pegawai yang mahal, Wied tetap mempunyai kewajiban sebagai ibu rumah tangga dan istri anggota TNI yang banyak beraktivitas dalam organisasi.

“Paling-paling saya hanya ikut pameran atau bazar yang diselenggarakan Jalasenastri atau Yayasan Angkatan Laut. Di kesempatan itu saya juga menyebarkan kartu nama. Ini cukup mendatangkan pelanggan baru buat saya,” kata Wied yang hanya membuka butik di rumahnya.

Penyebaran kartu nama itu dirasakan Wied cukup membantu, terlebih saat ini, di mana banyak sekali orang berjualan batik di Jakarta. “Saingan saya sekarang banyak sekali. Tetapi saya tidak khawatir karena setiap orang sudah punya pasarnya masing-masing,” ucapnya.

Wied tak terlalu khawatir karena masih banyak pelanggan lama yang loyal belanja padanya. “Bahkan, ada pelanggan yang tetap membeli kain dari saya sejak pertama kali saya memulai usaha ini. Jadi, sudah lebih dari 30 tahun,” ujar nenek dari lima cucu ini.

Selain batik, belakangan ini Wied juga mulai menerima titipan dagangan dari orang lain, seperti seprai, tas dan sepatu dari Korea, busana muslim, dan baju dari Thailand.

Alasannya, biar sudah memiliki pelanggan yang cukup banyak dan setia, Wied mengaku kadang-kadang merasa jenuh dan lelah berbisnis kain. Tetapi, setiap kali dia merasa jenuh, pesanan yang datang malah semakin banyak.

“Mungkin Tuhan mau saya tetap menekuni bisnis batik ini. Biar bagaimanapun, usaha ini telah membantu keluarga saya dan banyak perajin batik di Solo,” kata Wied seakan mengingatkan dirinya sendiri.

Sumber : (ARN) Kompas Cetak

Batik ‘Ready to Wear’

Sunday, April 25th, 2004

BAGI wanita Indonesia, April merupakan bulan istimewa. Pada 21 April lahir pelopor gerakan emansipasi wanita RA Kartini. Untuk memperingati jasanya, banyak orang sibuk menyelenggarakan acara, termasuk para wanita di dunia fesyen. Di antaranya adalah Butik House of Yani yang menggelar sebuah pergelaran busana bertajuk Fashion@Four di Mangkok Putih Restauran, Kebayoran Baru, 21 April 2004.

Berbeda dengan koleksi sebelumnya, si pemilik butik Yani Soemali, memilih untuk menampilkan batik Yogyakarta sebagai dominasi dalam 24 busana koleksi terbarunya. ”Hari Kartini adalah hari besar bagi wanita Indonesia. Karena itu, saya memutuskan untuk mengangkat keindahan kain Tanah Air, kali ini lebih fokus pada batik Yogyakarta,” paparnya.

Keputusan Yani untuk mengangkat kain Indonesia didasarkan pada keinginannya untuk mengubah pendapat masyarakat yang menganggap kain tradisional seperti batik merupakan busana yang tabu untuk dikenakan sehari-hari. ”Saya ingin memperkenalkan kepada para wanita bahwa batik itu bisa dikenakan sebagai busana kasual, bukan hanya untuk acara formal saja,” ujarnya.

Usaha Yani untuk mengubah batik menjadi busana ready-to-wear ditampilkannya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memadukan kebaya modern dan celana jeans. Kebaya dirancang dengan gaya modern seperti model kebaya dengan panjang selutut.

Selain itu, keindahan kain batik Yogyakarta juga diolah Yani ke dalam bentuk celana, kemudian dipadukan dengan atasan simple seperti kaus hitam buntung dengan aksen payet atau kemeja brokat tanpa lengan.

Namun, bukan berarti Yani tidak menampilkan kain batik sebagai bawahan tradisional. Dia tetap mengolah batik menjadi kain, namun bukan dengan gaya lilit melainkan dibuat seperti sarung sehingga mudah untuk dikenakan.

Selain batik, Yani juga menampilkan beberapa busana dari bahan lurik dan tenun Bali. Semua dihiasi dengan aksen brokat atau lace, sehingga menambah kesan istimewa. Bordiran bunga masih digunakan untuk mempercantik beberapa busana. Tentunya, tanpa menghilangkan keindahan kain aslinya. ”Pokoknya semua busana yang ditampilkan sangat Indonesia, hanya dibuat lebih praktis untuk dikenakan sehari-hari.”

Sebagai pelengkap, Yani menampilkan aksesori berupa tas model clutch dalam berbagai warna yang dihiasi payet.

Dilihat dari keantusiasan pengunjung yang langsung memesan busana yang dipamerkan, sepertinya keinginan Yani untuk memopulerkan kain tradisional Indonesia terbilang sukses. Bahkan, beberapa kebaya yang ia sempat tampilkan lewat sebuah stasiun televisi swasta langsung dipesan oleh penyanyi kondang bersuara seksi, Reza.

Peragawati ternama, Nonny Chirilda yang ikut menyaksikan pergelaran juga mengaku puas dengan koleksi yang dilihatnya. ”Saya melihat ada perubahan dari koleksi Yani kali ini. Rancangannya tampak lebih muda. Ide yang ditawarkan juga unik, yaitu mengubah kain tradisional menjadi busana kasual yang sangat wearable,” ungkap Nonny.

Reaksi seperti itu tentu saja membuat Yani senang. Dia bertekad terus mengembangkan kain tradisional. Kita tunggu saja kiprah Yani selanjutnya.

Sumber : (MI/M-2) Media Indonesia

Batik dan Perpaduan Budaya

Sunday, April 25th, 2004

BATIK memang tidak hanya ada di Indonesia. Banyak negara yang memiliki batik dengan ciri khasnya sendiri. Namun, keadaan itu tidak mematahkan semangat desainer Indonesia. Keragaman batik justru menantang mereka untuk menampilkan ciri khas Indonesia, meski kemudian jalannya melalui perpaduan budaya.

Di antaranya adalah desainer Chama Sjahrir. Di hadapan ribuan penduduk Bangkok, Chama mempertontonkan sederetan koleksi batik olahannya dalam fashion show yang digelar di Public Ground Bangkok, Thailand, 8 April.

Di acara yang merupakan bagian peringatan ulang tahun Rattanakosin (kota tua Bangkok) ke-222 ini, Chama memilih tema The Real Art of Fashion. Tema itu dipilih karena Chama merasa busana karyanya bukan hanya sesuatu yang dikenakan seorang wanita atau pria untuk menutupi tubuh saja, melainkan juga sebuah karya seni. ”Busana saya bukan sebatas fesyen, melainkan masing-masing memiliki nilai seni,” ujar perancang yang ikut mendesain pakaian batik untuk Presiden Megawati dan suami.

Pernyataannya tidak berlebihan, mengingat setiap kain yang dikenakan para peragawati di pagelaran itu dilukis tangan Chama sendiri. Tidak ada satu pun motif batik Chama yang identik satu dengan yang lain. Soal bahan yang digunakan, kali ini Chama memilih Silk Thailand.

Sejak 1987 perancang ini memang sudah banyak menggeluti dan menuangkan motif batik di atas kain silk. Pendiri butik Tres Belle-House of Fashion ini mulai membuat batik sendiri sejak 2002. Di Bangkok, Chama memperlihatkan kepiawaiannya memainkan kuas di atas bahan sutra lewat 56 busana rancangan terbarunya. Semua itu ditampilkan oleh enam model Indonesia dan lima model Bangkok.

Berbeda dengan pergelaran sebelumnya, kali ini Chama memilih untuk mengolah batik di atas Thai silk. Selain karena mutunya, dia tertarik mencoba membaurkan dua kebudayaan dari negara berbeda dalam suatu karya yang indah.

Meski bahan sutra khas Thailand memiliki kualitas lebih bagus dari sutra biasa, bukan berarti mengolahnya lebih mudah. Bahkan, menurut Chama sebaliknya. Karena silk Thailand menyerap warna lebih banyak, maka pembuatannya menjadi lebih sulit, membutuhkan waktu dan ketelitian lebih besar.

Semua hasil kerja keras itu tampak jelas dalam rentetan busana bergaya modern yang disajikannya. Memasang target pasar wanita dewasa, Chama menawarkan busana dengan konsep rancangan kasual, semi formal dan formal.

Untuk pakaian kasual, Chama menampilkan atasan berupa kebaya modern seperti kerah tinggi dengan selendang yang dipasangkan dengan bawahan dinamis, celana 7/8 dan rok pendek berwarna serasi. Selain bentuk kebaya, Chama juga menawarkan atasan blazer dengan aksen batik yang juga dipadukan dengan celana.

Sedangkan untuk acara semi formal dan formal, ditampilkan baju terusan dan baju kurung dengan model kerah cina yang modern juga busana yang dibuat dari bahan batik yang tidak diolah melainkan ditampilkan menggunakan tehnik ikat.

Bukan hanya untuk wanita, Chama juga menampilkan beberapa kemeja pria, mulai dari lengan panjang hingga pendek. Semua tampil dengan batik yang ringan, sehingga bisa dikenakan untuk menghadiri acara semi formal.

Hampir seluruh busana batik yang ditawarkan didominasi dengan motif kupu-kupu dan bunga yang sudah menjadi andalannya. Selain itu, yang membuat koleksi Chama semakin unik adalah batik berwarna cerah seperti merah muda, ungu, biru dan lainnya. Ini semua dilakukan Chama sebagai upaya untuk membangun image baru dari batik yang kerap kali diasosiasikan dengan warna cokelat.

Selain batik, di sesi kedua Chama menyisipkan koleksinya yang menggunakan sutera Bugis. Kekreatifannya mengolah bahan ini dihadirkan lewat busana-busana modern seperti rok tube mini model kemben dari sutra bugis warna biru cerah. Selain itu, keindahan bahan ini juga tampak dalam sarung yang dipadukan dengan kebaya modern dengan bentuk kerah victorian dan model bertumpuk.

Sepertinya, usaha Chama memperkenalkan keindahan kain Indonesia dalam bentuk perpaduan budaya ini cukup berhasil. Gubernur Bangkok, Samak Sundaravej yang ikut menyaksikan pergelaran memberikan respons positif dan tidak habisnya memuji kemeja pemberian sang perancang. ”Ini merupakan revolusi baru dalam dunia batik. Saya sangat kagum dengan kemampuan Chama mengolah Thai Silk menjadi sebuah kreasi yang indah. Saya juga bangga seorang desainer dari Indonesia mau memberdayakan bahan khas Thailand dengan kebudayaan mereka,” ujarnya.

Bukan hanya gubernur, warga Bangkok yang turut menyaksikan pergelaran ikut memuji. Seorang pengamat fesyen, Nattapol Jurang Kool mengaku sangat kagum dengan serentetan busana yang disaksikannya. ”Bajunya sangat cantik. Sebelumnya saya tidak pernah tahu kalau Indonesia memiliki keindahan seperti ini,” ujarnya.

Koleksi Chama juga mendapat sambutan baik dari Erna Gunawan, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok. Erna mengaku terkesan dan kagum akan semangat Chama mengenalkan kekayaan Tanah Air ke seluruh penjuru dunia. ”Jarang ada desainer Indonesia yang melakukan hal seperti ini, menggabungkan pakaian tradisional Tanah Air seperti batik dengan bahan tradisional negara tetangga seperti Thai Silk. Saya melihat Chama sebagai duta kebudayaan.”

Bagaimana dengan Chama sendiri? Walaupun puas akan hasil kerja kerasnya, Chama mengaku tidak akan berhenti berkarya. Sesudah pemilihan presiden, dia akan kembali menggelar show, kali ini di Bali dan Jakarta. ”Saya sudah beberapa kali menggelar show di luar negeri dan ternyata batik saya dapat diterima. Sekarang ini, saya akan berkonsentrasi untuk pasar dalam negeri dulu,” ujar perancang yang memiliki gerai di Pasaraya Grande Lantai empat dan Jl Gudang Peluru, Tebet ini.

Yang pasti, Chama dengan Tres Belle menawarkan cara pandang baru akan batik sebagai pakaian sehari-hari untuk segala acara. Di tangannya, batik bukan sekadar busana tradisional, namun merupakan busana yang bisa dipakai ke mana dan oleh siapa saja.

Sumber : (MI/M-2) Media Indonesia

Festival untuk Mengangkat Batik

Friday, April 23rd, 2004

BATIK dari Pekalongan sebenarnya menguasai bagian terbesar dari pasar batik di dalam negeri. Namun, hanya sedikit batik dari daerah ini yang mampu menembus “kelas atas” walaupun kualitasnya memadai dengan tetap mempertahankan label Pekalongan. Karya itu sudah dikemas dengan label ternama atau diakui sebagai produk rumah mode tertentu.

“Sejumlah desainer sebenarnya mengandalkan batik dari Pekalongan. Batik yang mereka tawarkan dibuat di Pekalongan, tetapi saat ditawarkan sudah diberi label rumah mode atau desainer tertentu,” ujar perancang busana asal Pekalongan, Afif Syakur, kepada Kompas di Semarang, Senin (19/4) malam.

Afif menyebut sejumlah nama desainer yang mengandalkan batik dari Pekalongan untuk karyanya. Di sisi lain, perajin batik masih berkutat dengan produksi, terbatas pada kreativitas industri dan belum mengembangkan diri, sampai mempromosikan karyanya dengan brand lokal. Padahal, perajin dan pengusaha batik di Pekalongan punya potensi untuk berkembang.

Saat ini memang sudah ada sejumlah label lokal Pekalongan yang ditawarkan kepada konsumen. Akan tetapi, merek tersebut belum bisa menembus pasaran luas, setidak- tidaknya dikenal dan dicari masyarakat. Label itu masih sekadar merek “lokal”.

Sebenarnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah bersama dengan Paguyuban Batik Pekalongan (PBP), Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan (PPIP), Yayasan Batik Indonesia (YBI), serta Pemerintah Kota Pekalongan dan Pemerintah Kabupaten Pekalongan pada akhir bulan Oktober 2003 menggelar Festival Batik Pekalongan. Acara yang diprakarsai perajin, pengusaha, dan peminat batik dari Pekalongan itu tidak hanya menampilkan sekitar 200 koleksi desain batik kuno dari Pekalongan, tetapi juga memperkenalkan lebih banyak lagi produk, label, dan desain baru batik. Setelah itu tidak pernah lagi ada gaung acara seperti itu di Pekalongan.

Padahal, saat membuka festival itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz menegaskan, “Gelar Festival Batik ini seyogianya menjadi kebangkitan bagi kejayaan produk batik,” Namun, jangankan menembus pasar global, menembus pasar nasional dengan label Pekalongan pun bagi batik pekalongan sangatlah sulit.

Afif Syakur mengakui, festival dan kegiatan fashion show sebenarnya bisa menjadi ajang untuk mengangkat batik pekalongan, khususnya yang berlabel setempat. Akan tetapi, diakui kegiatan itu termasuk jarang dilakukan di Pekalongan. “Sekarang ini sebenarnya sudah mulai ada promosi, termasuk kegiatan fashion show di Pekalongan dan di luar kota, untuk semakin memperkenalkan batik pekalongan. Tetapi memang intensitasnya masih sangat kurang,” ujar mantan Ketua Panitia Festival Batik Pekalongan 2003 itu.

Melalui festival atau fashion show, lanjut Afif, bukan hanya label lokal, desain baru, dan produk baru yang diperkenalkan kepada publik, tetapi kegiatan itu pun bisa “menaikkan” kelas batik pekalongan. Itu bukan berarti menjadikan batik berkualitas rendah menjadi mahal harganya, melainkan batik yang memang berkualitas dihargai sepadan dengan kualitasnya.

Afif Syakur mengakui, sebenarnya Pemprov Jawa Tengah kini sudah memberikan dukungan yang memadai untuk pengembangan batik, termasuk dari Pekalongan. Misalnya, dalam mengikuti pameran Ina Craft pada bulan Mei mendatang di Jakarta, Pemprov Jawa Tengah memberikan subsidi Rp 2 juta untuk setiap perajin yang menyewa stan untuk pameran. “Sewa stan sebenarnya Rp 9 juta. Tetapi, perajin dari Jawa Tengah cukup membayar Rp 7 juta karena diberi subsidi,” paparnya lagi.

Walaupun demikian, peluang itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. Padahal, Ali Mufiz pernah menjanjikan Pemprov Jawa Tengah akan memberikan fasilitas promosi sistematis di dalam dan luar negeri.

Akan tetapi, jika peluang ini belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan, mungkin pemerintah masih perlu mendorong perajin dan pengusaha batik di Pekalongan memanfaatkan setiap peluang dan fasilitas untuk menaikkan kelas produknya.

Sumber : (P Tri Agung Kristanto) Kompas Cetak

Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini

Friday, April 23rd, 2004

BATIK pekalongan bukan hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga terkenal di mancanegara. Batik pekalongan sejak lama diekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. Sedemikian terkenalnya batik dari Pekalongan, Jawa Tengah sehingga jenis batik ini tidak berhenti hanya menjadi hasil kegiatan ekonomi, tetapi juga telah menjadi ikon wisata.

BATIK pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.

Akibatnya, batik pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik pekalongan adalah napas kehidupan sehari-sehari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.

Meskipun demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha batik pekalongan kini tengah menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang industri batik pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang lebih modern.

Gagal melewati masa transisi ini, batik pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi mendatang lewat buku sejarah.

FATHIYAH A Kadir, seorang pengusaha batik di Kota Pekalongan, mengatakan, pada awal tahun 1970-an hampir seluruh pekerja di unit usaha batik pekalongan adalah petani. “Jadi, mereka tukang batik sekaligus petani,” ujarnya.

Ketika itu, pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, di antara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya sebagai tukang batik.

“Suasana kerja sangat diwarnai semangat keguyuban, semangat kekeluargaan,” ungkap perempuan pengusaha itu.

Sebagaimana halnya motif batik pekalongan yang secara kontinu berubah seiring perjalanan waktu, suasana keguyuban atau kekeluargaan juga dirasakan telah berubah. “Terutama setelah keluarnya Undang-Undang tentang Tenaga Kerja,” ungkap Fathiyah.

Lewat UU tersebut, pengusaha yang memiliki pekerja dalam jumlah tertentu harus mengikutkan pekerjanya dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Selain itu, UU yang sama juga memberi kesempatan bagi pekerja untuk mendirikan serikat pekerja sebagai alat perjuangan kepentingan mereka.

Aturan ini dinilai sebagai bentuk intervensi pemerintah yang merugikan pengusaha batik. Alasannya, pengusaha terpaksa membayar iuran Jamsostek dan mengizinkan pekerja untuk mendirikan serikat pekerja.

Pandangan semacam itu, menurut Ketua III Paguyuban Batik Pekalongan Totok Parwoto, masih banyak ditemui di kalangan pengusaha batik pekalongan. “Mereka melihat iuran Jamsostek sebagai beban. Padahal, justru dengan ikut serta dalam program Jamsostek, pengusaha menjadi terbantu. Jika terjadi sesuatu pada diri pekerja, tunjangan bisa diambilkan dari Jamsostek,” katanya.

Totok mengungkapkan, masih banyak pengusaha batik pekalongan yang mengeksploitasi pekerja. Produk batik yang dihasilkan mencapai harga jutaan rupiah, namun kesejahteraan pekerja jauh di bawah batas kewajaran.

“Suatu waktu saya akan mengajak Anda ke suatu tempat usaha batik di Kelurahan Buaran, Kota Pekalongan. Pemilik tempat itu sangat memforsir pekerja. Batiknya laku sampai jutaan rupiah, tetapi pekerjanya hanya makan nasi bungkus, yang menurut saya, kurang layak untuk disajikan,” ujar Totok.

ZAMAN telah berubah. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah. Hidup mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik.

Tuntutan pekerja terhadap kesejahteraan yang lebih terjamin dipandang pengusaha sebagai bentuk perubahan zaman yang merugikan mereka. Suasana kekeluargaan sudah tidak ada lagi, suasana keguyuban sudah pupus.

Pengusaha semakin merasa tersudutkan karena pemerintah ternyata melindungi pekerja untuk membuat serikat pekerja dan mengharuskan pengusaha untuk ikut program Jamsostek.

“Kondisi ini semakin susah karena penjualan batik pekalongan anjlok setelah ada serangan bom di New York pada bulan September 2001, bom di Bali pada bulan Oktober 2002, dan terakhir terbakarnya Pasar Tanah Abang,” ujar seorang pengusaha yang keberatan dengan UU Tenaga Kerja yang terbaru.

Belum lagi batik pekalongan kini menghadapi persaingan berat di dunia internasional. “Produk tekstil dari Vietnam dan Banglades terus mendesak pangsa pasar batik pekalongan. Padahal, produk yang mereka hasilkan bukan batik. Ini dikarenakan orang luar negeri sesungguhnya tidak peduli apakah jenis tekstil yang mereka beli itu batik atau bukan,” ujarnya.

Apa yang dihadapi industri batik pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis pada pengusaha kecil dan menengah.

Persoalan itu, antara lain, berupa menurunnya daya saing yang ditunjukkan dengan harga jual produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasikan negara pesaing lebih baik dibanding produk pengusaha Indonesia.

Penyebab persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.

Kompetisi yang kian ketat mengondisikan usaha kecil menengah untuk memperbaiki kinerja, sekaligus memperbaiki kualitas produk yang mereka hasilkan. Paradigma lama kerap menuding tuntutan perbaikan kesejahteraan pekerja sebagai kambing hitam terjadinya pembengkakan produksi.

Paradigma ini mengabaikan kualitas pekerjaan yang baik atau kreativitas untuk menghasilkan inovasi produk keluar dari pekerja yang sejahtera dan pekerja yang melaksanakan tugasnya dengan tenang.

Untuk bertahan di tengah kompetisi yang semakin ketat, pengusaha batik pekalongan sudah seharusnya mengadopsi paradigma baru dalam mengelola usaha mereka. Sebagaimana tersirat pada pandangan yang disampaikan Totok.

“Kualitas produk sangat ditentukan oleh pekerja. Program yang menguntungkan pekerja, seperti Jamsostek, sangat membantu pemberdayaan pekerja,” ujarnya.

Hanya bersandarkan pada keunggulan upah pekerja yang murah sudah harus ditinggalkan pengusaha Indonesia, termasuk pengusaha batik pekalongan. Bersandarkan pada keunggulan berupa keunikan produk tampaknya juga sudah harus ditinggalkan.

“Pesaing kita semakin berat. Bayangkan, saat saya berkunjung ke Bangkok, saya melihat ternyata Thailand kini juga mampu membuat batik yang jauh lebih bagus daripada yang kita hasilkan,” ungkap Totok.

BAGI pengusaha batik pekalongan, memasuki tahun 2004 adalah memasuki masa yang penuh kesulitan. Permintaan batik pekalongan dari segala penjuru di Indonesia anjlok drastis. Berkodi-kodi batik menumpuk di tempat pengerjaan karena lesunya permintaan.

“Ketika krisis moneter tahun 1997, batik pekalongan terpukul akibat kenaikan harga kain mori. Namun, dampak kenaikan harga kain mori cukup bisa diimbangi dengan penjualan ekspor batik pekalongan yang menguntungkan karena anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kondisi ini berbeda dengan sekarang. Nilai tukar rupiah sudah relatif stabil, tetapi permintaan sangat lesu,” kata Direktur Pasar Grosir Setono, Kota Pekalongan, Hasanuddin.

Sejumlah pedagang batik di pasar grosir menuding penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 sebagai penyebab menurunnya omzet penjualan batik pekalongan hingga 50 persen. Argumennya, orang menunda perjalanan ke pekalongan karena menunggu hingga rampungnya kampanye Pemilu 2004.

Akan tetapi, bagi Hasanuddin, lesunya penjualan batik pekalongan terkait erat dengan penurunan daya beli masyarakat. Alasannya, jika penjualan batik pekalongan lesu hanya dikarenakan Pemilu 2004, tentu pesanan batik dari luar Pekalongan, seperti Makassar dan Surabaya, relatif tidak mengalami kelesuan karena orang tidak perlu melakukan perjalanan ke Pekalongan.

“Pengusaha batik yang dulu berorientasi menjual produknya ke luar kota sekarang beramai-ramai berjualan di Pekalongan. Ini ditandai dengan melonjaknya permintaan kios di pasar grosir,” ujar Hasanuddin.

Akan tetapi, usaha itu tampaknya tetap tidak membantu. Bertumpuk-tumpuk batik tetap saja tak terjual di tempat produksi. Karena itu, dari sekitar 100 usaha batik di daerah Kelurahan Buaran, misalnya, sekitar 25 persen di antaranya sudah meliburkan pekerja. “Penjualan macet. Bagaimana mereka bisa melanjutkan produksi?” ungkap Hasanuddin.

Redupnya usaha batik pekalongan, menurut Hasanuddin, juga ditandai dengan kian banyaknya penyewa kios di Pasar Grosir Setono yang membayar ongkos sewa dengan cek kosong. Ini nyaris tidak pernah ditemui pada masa sebelumnya.

“Padahal, penyewa kios itu tergolong pengusaha besar dan nilai sewa yang harus dibayarkan cukup kecil, hanya Rp 1 juta-Rp 2 juta. Saya kira, dalam kondisi normal, tidak mungkin pengusaha yang tergolong cukup mapan melakukan hal tersebut,” kata Hasanuddin lagi.

Akan tetapi, peka terhadap tuntutan pasar dan meresponsnya dalam bentuk inovasi dibuktikan pengusaha batik pekalongan, Rusdiyanto, yang berhasil menyelamatkan usahanya dari terpaan krisis. “Kalau saja saya tidak memulai memproduksi batik serat nanas tiga tahun lalu, usaha batik saya mungkin juga sudah meliburkan pekerja sekarang,” kata pria yang tempat usahanya berada di Kelurahan Setono, Kota Pekalongan, tersebut.

Batik serat nanas yang diproduksi Rusdiyanto memang tidak terpengaruh oleh terpaan krisis. Harga kain batik pekalongan berserat nanas dengan ukuran panjang 2,56 meter dan lebar 1,15 meter bisa mencapai Rp 1,5 juta-Rp 3 juta. Karena itu, orang yang membeli jenis batik ini tentunya mereka dengan kondisi keuangan yang nyaris tidak terjamah gempuran krisis.

Bahkan, Rusdiyanto mengaku saat ini kesulitan untuk memenuhi order. “Batik serat nanas yang saya produksi tidak pernah menumpuk. Baru jadi, langsung dibawa pembeli ke Jakarta atau Singapura,” ungkapnya.

Menurut Totok Parwoto, harga batik serat nanas di Jakarta naik berkali-kali lipat dibandingkan saat harganya masih di Pekalongan. “Kain batik serat nanas yang harganya di Pekalongan Rp 3 juta bisa mencapai Rp 7 juta di Jakarta,” ungkapnya.

Batik serat nanas memiliki harga yang mahal karena suplai kain serat nanas masih sangat sedikit. Saat ini pengusaha batik serat nanas di Pekalongan hanya bergantung pada dua penyuplai kain serat nanas, yakni dari Kabupaten Pemalang dan dari Pabrik Radika di Pekalongan.

Sedikitnya produsen kain serat nanas disebabkan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam proses pemintalan serat nanas menjadi benang, yang selanjutnya ditenun menjadi kain. Padahal, di Pemalang, terutama di Kecamatan Belik, tanaman nanas melimpah ruah.

Selain itu, harga kain batik serat nanas sangat mahal karena jenis batik ini dipadukan dengan serat sutra. Padahal, batik sutra sendiri sudah tergolong sebagai batik yang mahal. “Belum lagi pembuatan batik serat nanas dilakukan dengan tangan atau termasuk batik tulis. Satu bulan, satu pekerja saya hanya menghasilkan satu kain batik serat nanas,” kata Rusdiyanto.

Inovasi yang dilakukan Rusdiyanto bukan hanya terbatas pada penggunaan serat nanas. Pengusaha batik ini juga melakukan inovasi pada motif batik. “Saya menggunakan motif batik pekalongan kuno,” ujarnya.

Motif batik pekalongan kuno adalah motif yang dipakai saat pertama kali batik pekalongan muncul. Motif ini biasanya berbentuk tentara Belanda atau orang Belanda dengan segala atributnya. Bahkan, tidak jarang motif itu juga menggambarkan tank.

Warna yang digunakan Rusdiyanto juga warna saat batik pekalongan pertama kali muncul, yakni warna yang natural, seperti coklat atau merah bata. Berbeda dengan warna batik pekalongan sekarang, yang disebut orang dengan warna ngejreng. “Kain batik serat nanas dengan motif kuno dan warna alam ternyata sangat disukai pembeli dari luar negeri,” katanya.

Inovasi terbukti selalu memberikan jalan keluar.

Sumber : (A Tomy Trinugroho) Kompas Cetak

Haji Eddyawan : Itu Latah…

Friday, April 23rd, 2004

HAJI Eddywan mengisap rokoknya dalam-dalam. Dalam perbincangannya dengan Kompas, pekan lalu, ia sempat beberapa kali menyayangkan ketiadaan keseragaman harga batik di Pekalongan.

Eddywan yang dikenal sukses menjalankan usaha batiknya itu mengungkapkan, ketidakseragaman harga terjadi akibat cara pikir pengusaha batik yang berbeda-beda.

Menurut Eddywan yang ditemui di rumahnya di Pesindon, Pekalongan, pengusaha bermodal kecil sering kali membanting harga jika dagangan yang mereka bawa ke luar Kota Pekalongan tidak laku.

Mereka lebih memilih menjual dengan harga murah ketimbang membawa pulang dagangan. Hal itu disebutnya membuat harga batik di pasaran rusak.

Ayah tiga anak itu bercerita lebih jauh, konsumen yang pernah membeli batik dengan harga tertentu tidak bersedia membeli batik serupa yang dijual dengan harga lebih mahal.

Sebenarnya, jelas Eddywan, dulu pernah dibentuk Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan (PPIP), yang menampung dan memasarkan batik perajin dengan harga standar. Namun, setelah bubarnya PPIP, tidak pernah ada lagi lembaga serupa yang mengatur masalah standardisasi harga.

Selain masalah ketidakseragaman harga, Eddywan yang lahir di keluarga pengusaha batik itu juga banyak menyoroti tentang motif batik pekalongan. Ia menyebut desain batik pekalongan latah.

“Desain batik pekalongan itu latah. Kalau ada yang baru, semua orang langsung meniru,” ungkap Eddywan.

Meski demikian, Eddywan mengakui, dirinya juga tidak bisa lepas sama sekali dari tren yang sedang berjalan. Meniru suatu motif atau model pakaian yang sedang tren, menurut dia, memang paling mudah dilakukan karena konsumen pasti menyambut positif. Selain itu, pengusaha juga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, waktu, dan tenaga untuk menciptakan motif baru.

Dia pun menyiasati dengan cara rutin membuat motif baru agar tidak sama dengan produk orang lain. Dalam memodifikasi motif batiknya, Eddywan sering kali melihat berbagai buku kuno dan majalah dalam negeri, terkadang terbitan luar negeri, sebagai referensi.

MESKI demikian, ungkap pria lulusan Universitas Diponegoro Semarang itu, batik pekalongan saat ini sebenarnya tidak lagi memperlihatkan ciri khas.

Perbedaan hanya terlihat dari pewarnaan yang berani. “Batik pekalongan banyak diberi warna-warna cerah, merah, kuning, hijau, dan semacamnya,” ujar Eddywan.

Namun, tambah Eddywan, yang sedang tren saat ini adalah warna-warna alam, seperti coklat. Ia menggunakan daun-daun tertentu sebagai bahan pewarna alami. “Tetapi, daunnya apa, tidak bisa saya ungkapkan. Rahasia,” elaknya, saat ditanya tentang jenis daun yang digunakannya untuk mewarnai batik tulis.

Pria yang berencana mengikuti pameran kerajinan internasional di Jakarta Mei mendatang itu bercerita, salah satu pegawainya memang ia tugasi mengurus proses kreatif membatik, termasuk membuat bahan pewarna, khususnya untuk batik tulis.

Seperti halnya model pakaian, tutur pengusaha batik berlabel Larissa itu, motif batik juga mempunyai siklus tersendiri. Suatu saat, motif yang pernah disukai akan kembali disukai di lain waktu dengan sedikit modifikasi.

Saat ini, gambar bunga dan burung sedang mendominasi batik produk Pekalongan.

Sumber : (H20) Kompas Cetak

Pasar Grosir, Pilar Sebuah Wisata Belanja

Friday, April 23rd, 2004

SLOGAN Kota Pekalongan sebagai kota batik ternyata memang tidak semu. Setidaknya sampai saat ini Pekalongan tercatat sebagai salah satu kota yang memproduksi kain dan pakaian batik terbesar di Indonesia.

Koperasi Pengusaha Batik Pekalongan mencatat, saat ini terdapat sekitar 12.000 pengusaha batik dan konfeksi di Pekalongan. “Itu pengusaha saja. Belum lagi pabrik konfeksi yang ada di Pekalongan, ada sekitar 30 buah,” ungkap Nadirin Khasany, seorang pengurus Koperasi Batik Setono Pekalongan ketika ditemui di kantornya, pekan lalu.

Berangkat dari potensi yang ada, warga Pekalongan, Soni Hikmalul dan Hasanudin, berinisiatif untuk mendirikan sebuah sentra perdagangan batik di Pekalongan. Sentra itu dibangun dengan tujuan untuk menjadikan Pekalongan sebagai kota wisata belanja, khususnya untuk produksi pakaian batiknya.

Nadirin menjelaskan, selain menjadikan Pekalongan sebagai kota wisata belanja, tujuan lainnya adalah untuk menampung pengusaha kecil dan menengah dalam berdagang.

“Sejak dulu Pekalongan selalu terkenal dengan produksi batiknya. Tetapi Anda bisa melihat mayoritas produksi mereka itu malah dijual di luar kota, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Solo. Ini kan kontras, Mas. Hasil produksinya sendiri malah dijual di tempat lain,” ungkapnya.

Selain itu, Nadirin menambahkan, pengusaha kecil dan menengah batik itu sering terlambat dalam menerima pembayaran dari pedagang luar kota. “Melihat hal itu, saya kira tepat bila Pekalongan memiliki sentra atau pasar khusus. Akhirnya pasar khusus tersebut direalisasikan dengan nama Pasar Grosir Batik. Ke depannya, saya melihat keberadaan pasar batik ini akan menjadi pilar bagi Pekalongan untuk menuju kawasan wisata belanja batik,” tuturnya.

Pasar batik yang dibangun pertama kali di Pekalongan adalah Pasar Batik Setono pada bulan Juli 2000. Pasar ini dibangun atas kerja sama antara Perhimpunan Koperasi Pengusaha Batik Setono (KPBS) dengan Yayasan Nagari Pekalongan, yang terletak di Jalan Raya Pekalongan-Batang.

“Konsepnya, untuk mewadahi pengusaha batik kecil dan menengah dalam memasarkan produknya sendiri. Jadi, mereka akan lebih memperoleh keuntungan karena pemasarannya sangat mudah. Kedua, dalam jangka panjang nanti untuk mewujudkan Pekalongan sebagai kota wisata belanja batik,” ujar Nadirin.

“Di bagian barat dan selatan terminal, rencananya seorang pengusaha kaya akan membangun dua pasar batik lagi. Kesemuanya murni merupakan usaha swasta dan koperasi, bukan dari pemerintah,” ujar Ira Sughrowarda (26), pegawai di Pasar Batik Setono.

Ketika disinggung mengenai keterlibatan dan partisipasi Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, Ira mengaku bahwa kontribusi dan perhatian pemerintah cukup baik.

“Misalnya, pemkot membantu kami dalam merenovasi pagar depan pasar, memasang paving block di halaman pasar, dan juga pedagang belum dikenai pajak penghasilan. Tetapi untuk pajak ini, suatu saat pasti dikenai, hanya menunggu perkembangan dari pasar ini,” ujarnya.

Keberadaan pasar grosir itu memang semakin menguatkan posisi Pekalongan sebagai kota batik. Apalagi jika nanti pasar grosir bisa semakin berkembang. Hampir bisa dipastikan bahwa di setiap sudut kota akan ada baliho dan spanduk bernuansa iklan rumah batik.

Pasar grosir batik semakin berkembang, namun memang jumlah pengunjungnya sempat mengalami penurunan, terutama menjelang pelaksanaan pemilu lalu. Namun, menurut Amin (38), seorang pedagang batik di Pasar Grosir Batik Setono Pekalongan, pekan lalu, kondisi saat ini jauh lebih baik. Entah kalau nanti menjelang pemilihan presiden pada bulan Juli mendatang.

“Waktu sebelum pemilu (untuk memilih calon anggota legislatif) berlangsung, pengunjung sepi, Mas. Tetapi, setelah pemilu ini, pengunjung mulai berdatangan lagi,” ujarnya.

Amin yang memiliki kios dengan nama Eka Batik itu mengaku, setelah pemilu usai, dirinya bisa menjual sampai 10 kodi kain batik dalam sehari atau setara dengan 200 potong pakaian.

Dia menambahkan, ada kemungkinan kesibukan dan konsentrasi masyarakat pada pemilu mulai mereda. Hal itu menjadi salah satu sebab peningkatan jumlah pengunjung di sejumlah pasar grosir batik di Kota Pekalongan.

Ira menambahkan, setelah perhelatan pemilu usai, jumlah pengunjung yang datang ke Pasar Batik Setono meningkat sekitar 11 persen. “Setelah pemilu usai, mungkin kesibukan masyarakat menjadi berkurang dan mereka memiliki waktu untuk melakukan hal lain,” ujarnya.

Sumber : (H22) Kompas Cetak

Ina Craft di Jakarta Tidak Sesuai Target

Thursday, April 22nd, 2004

Pameran Ina CraftDepartemen Perdagangan dan Perindustrian kembali menggelar pameran Ina Craft di Jakarta Convention Center, Rabu (21/4). Sekitar 750 perusahaan dari seluruh penjuru Tanah Air terlibat dalam pameran kerajinan bertaraf internasional ke-VI ini. Sementara calon pembeli yang diundang berasal dari 37 negara, antara lain Malaysia dan Timur Tengah.

Sejak awal digelar, pameran Ina Craft bertujuan untuk meningkatkan kontrak pembelian tingkat lokal dan luar negeri dan tidak sekadar menambah omzet. Namun beberapa peserta pameran yang telah beberapa kali terlibat Ina Craft justru mengaku jumlah kontrak kerja sama dengan pihak luar negeri masih belum meningkat signifikan. Pembeli yang datang rata-rata cuma belanja eceran tanpa menjalin kontrak kerja sama.

Menurut Yukumoko, salah seorang peserta pameran, pameran kali ini tidak seperti awal pameran setahun silam. Situasi ekonomi Indonesia yang masih belum stabil dinilai sebagai penyebab. Lain lagi dengan pandangan Pinkan, peserta lainnya. Menurut Pinkan, Ina Craft kali ini tak beda dengan bazar yang hanya melayani pembelian eceran. Padahal, tujuan awalnya mempertemukan produsen dengan pembeli luar negeri dengan sistem kontrak atau dikenal dengan B to B. “Namun animonya orang kayak pergi ke bazar,” jelas Pinkan.

Dengan produk dan harga yang sangat beragam, Ina Craft sebetulnya mampu menarik perhatian pembeli dari seluruh segmen masyarakat. Batik dalam berbagai jenis, misalnya, ditawarkan mulai dari harga puluhan ribu hingga belasan juta rupiah. Demikian pula dengan berbagai produk kerajinan dari kayu, yang harganya hampir serupa. Beberapa produk bahkan telah menembus pasar ekspor.

Sumber : (DEN/Olivia Rosalia dan Taufik Maru) Liputan6.com, Jakarta