Menaikkan Pamor Batik

SIAPA tidak kenal batik? Keindahan kain tradisional Indonesia ini sudah populer di dunia internasional. Bahkan kerap menghiasai halaman mode majalah fesyen dunia seperti Vogue dan Harper’s Bazaar. Bukan hanya itu, tidak sedikit figur publik dunia seperti mantan presiden Afrika Selatan Nelson Mandella tampil mengenakan kemeja yang terbuat dari kain batik.

Naiknya pamor batik Indonesia di mata dunia ternyata tidak lantas melegakan hati maestro batik Indonesia Nusjirwan Tirtaamidjaja yang lebih dikenal dengan nama Iwan Tirta. Iwan menilai meningkatnya permintaan konsumen tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas. Ia melihat saat ini terdapat kecenderungan orang memperlakukan batik sebagai barang pabrikan, sehingga menghilangkan estetika kain batik dan menjadikannya barang murahan.

Sebagai pencinta batik, dia merasa terpanggil untuk mengembalikan pamor batik sebagai hasil budaya tinggi. Itulah yang menjadi latar belakang Iwan mengadakan pameran koleksi batik-batik klasik dan benda-benda kuno bergaya Surakarta koleksi pribadinya.

Pameran bertajuk Classical Batik Exhibition & Collection Iwan Tirta ini digelar Iwan di Pakubuwono Residence, Jakarta Selatan, akhir Februari. Suasana khas Surakarta berhasil dipindahkan ke ruang pameran. Jejeran batik klasik, baik yang berasal dari Keraton Kasunanan atau Pura Mangkunegaran dengan bermacam motif tua digelar dengan elegan. Ada pula demo batik tulis yang dilakukan oleh Sri Manah yang sudah berpengalaman 20 tahun. Para pengunjung pun terkesima. ”Saya tahu batik itu indah. Tetapi, saya tidak menyangka bahwa batik tulis bisa seindah ini,” ujar Ayu yang mengaku sebagai penggemar batik.

Yang paling istimewa, kali ini Iwan tidak menggunakan peragaan busana untuk memamerkan rancangannya. Ia memilih menampilkan tarian Keraton Surakarta, Bedhaya Pangkur di malam pembukaan. Keahlian Iwan menciptakan kain batik terlihat dari replika sempurna kostum tari Bedhaya Pangkur yang aslinya telah terbakar beberapa waktu lalu. Sembilan penari dibungkus keindahan batik motif parang baris dan ageman kutangan yang dibuat dengan kualitas tinggi. Dilengkapi dengan perhiasan dari logam mulia, Iwan berhasil menarik para pengunjung ke dalam nuansa Keraton Surakarta. Agaknya dia benar-benar ingin menunjukkan keindahan dan meningkatkan pamor batik.

Sumber : (MI/M-3) Media Indonesia

Leave a Reply