Cerita Kain di Museum Tekstil

Pembuatan Kain Tradisional di Museum TekstilKawasan Tanabang, Jakarta Pusat, memang dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar. Berbagai pelaku bisnis tekstil dari berbagai daerah maupun sejumlah negara berkumpul di sini. Tapi, tak banyak orang mengetahui jika kawasan tersebut juga sebagai salah satu obyek wisata di Jakarta. Hal itu disebabkan adanya Museum Tekstil. Tempat yang menyimpan berbagai alat pembuat maupun hasil tekstil dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Terletak di tengah kota tepatnya di Jalan K.S. Tubun Nomor 4, Jakarta Pusat, museum ini mudah dijangkau. Para wisatawan dengan mudah dapat memilih berbagai jenis angkutan transportasi dalam kota yang menuju museum tersebut. Tapi, layaknya di kota besar, waktu yang ditempuh untuk bisa sampai di museum tersebut lumayan lama. Pasalnya, kemacetan kerap mewarnai perjalanan menuju museum tersebut. Di sisi lain, museum yang memiliki tiket masuk paling mahal sekitar Rp 2.000 per orang ini buka untuk umum sejak Selasa hingga Ahad.

Terlepas dari waktu tempuh, museum ini mengoleksi kain tradisional seperti kain batik, ikat pelangi, peralatan batik, dan tenun dari berbagai daerah. Mengenai kain tradisional, museum ini mengoleksi sekitar 1.500 kain tradisonal. Setiap tiga bulan sekali, kain-kain yang ditampilkan selalu berubah. Selain aneka ragam jenis bahan, museum ini juga mengoleksi teknik pengolahan, warna, motif dan komposisi yang menjadi ciri tersendiri dari tekstil Indonesia. Koleksi tekstil modern karya perancang busana terkemuka juga ditampilkan museum ini. Sejatinya, keberadaan museum ini membuktikan jika Indonesia adalah salah satu negara penghasil tekstil tradisional terbesar di dunia.

Pada dasarnya Museum Tekstil adalah sebuah cagar budaya yang khusus menangani tugas-tugas pengumpulan, pengawetan, dan pameran karya seni yang erat dengan pertekstilan di Tanah Air. Tak heran, jika pengunjung dapat melihat cara pembuatan produk tekstil dari berbagai daerah, termasuk kain batik. Bahkan, para pengunjung juga dapat mengikuti pelatihan pembuatan kain batik tulis selama empat hari dengan uang kursus sekitar Rp 150 ribu per orang. Sedangkan untuk pembuatan jumputan tiap peserta dikenakan uang pelatihan sebesar Rp 100 ribu per hari. Selain itu, para pengunjung juga dapat berbelanja hasil tekstil di sebuah art shop di museum tersebut.

Asal tahu saja, museum yang menempati gedung megah yang dibangun pada abad ke-19 ini resmi berdiri sejak 28 Juni 1976. Gedung ini mulanya adalah rumah pribadi seorang warga negara Prancis, yang kemudian dijual pada seorang konsul Turki. Pada 1942, gedung ini kembali dijual pada Karel Cristian Cruq. Tapi, pada masa perebutan kemerdekaan. Gedung ini sempat dijadikan Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Usai pertempuran fisik, gedung ini dihuni Lie Sion Phin 1947 yang kemudian dikuasai Departemen Sosial.

Sumber : (ORS/Inka Prawirasasra dan Effendi Kassah) Liputan6.com, Jakarta

Leave a Reply