Archive for March, 2004

Untuk Menggairahkan Batik Banyumasan ; 60 Perajin Terima Bantuan APBN Rp 250 Juta

Saturday, March 27th, 2004

Me-lalui APBN tahun 2004, sedikitnya 60 perajin batik Banyuma-san yang berpusat di Sokaraja dan Banyumas mendapatkan pinjaman lunak senilai Rp 250 juta. Dana pinjaman tersebut akan diberikan pada mereka dengan sistem bergilir untuk tambahan modal usaha mereka. Selama ini usaha batik Ba-nyumasan terkesan kurang mampu bersaing dengan batik daerah lain seperti Yogyakarta, Solo atau Pekalongan. Oleh karena itu, melalui dana tersebut, paling tidak usaha perbatikan Banyumas makin ber-gairah lagi, dengan jenis produksi yang disesuaikan keingin-an pasar.

Kasubdin Koperasi dan UKM Dinas Perindustrian-Perdagangan-Koperasi (Dispe-rindakop) Kabupaten Banyu-mas, T Budi Santoso, kepada KR di ruang kerjanya, Kamis (25/3), mengatakan, selama ini para pembatik yang masuk dalam wadah Persatuan Pem-batik Banyumas dan dikelompokkan menjadi beberapa Usaha Kecil Menengah (UKM) banyak yang hanya berkutat dengan produksi jarit (kain kostum adat Jawa) saja. Akibat-nya, pemasaran untuk jenis produk batik seperti itu sulit untuk berkembang. (more…)

Museum Batik Imogiri-Bantul

Thursday, March 18th, 2004

Museum batik ini didirikan untuk melestarikan budaya daerah, khususnya Batik dan mengangkat pengrajin Batik di Imogiri pada khususnya dan Bantul pada umumnya. Sejalan dengan itu, Bupati Bantul, Idham Samawi, mengajak para pemuda untuk mempelajari batik yang merupakan warisan budaya nenek moyang yang adi luhung.

Gubernur dalam kesempatan meresmikan Museum Lingkungan Batik Imogiri-Bantul18 Maret 2004 mengajak untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada pemuda agar termotivasi mempelajari budaya daerah dan bangsa, termasuk belajar membatik. Pemakaian busana batik tidaklah cukup untuk melestarikan batik, karena batik dan coraknya harus menjadi bahan penelitian, baik hal-hal yang menyangkut perkembangan batik maupun generasi. Batik merupakan hasil seni, sehingga sering menjadi wahana penuangan isi hati nurani pembatiknya, baik yang tertuang dalam desain maupun warnanya. Disamping itu, perkembangan batik juga dapat untuk merunut perkembangan suatu daerah. Di Bantul permulaan batik diyakini berasal dari Bambang Lipuro, dimana dimasa awal pertumbuhan Kerajaan Mataram, daerah ini menjadi basis pertahanan dalam usaha menyelesaikan permasalahan dengan tanah perdikan, sehingga para pembatik yang dahulu pegawai keraton melakukan kegiatan membatik didaerah ini. Lebih lanjut Hamengku Buwono X mengharapkan museum lingkungan batik di Imogiri mampu mendongkrak kehidupan pengrajin, sekaligus memberikan motivasi pemuda untuk belajar membatik.

Sumber : (heri) Pemda DIY

Menaikkan Pamor Batik

Sunday, March 7th, 2004

SIAPA tidak kenal batik? Keindahan kain tradisional Indonesia ini sudah populer di dunia internasional. Bahkan kerap menghiasai halaman mode majalah fesyen dunia seperti Vogue dan Harper’s Bazaar. Bukan hanya itu, tidak sedikit figur publik dunia seperti mantan presiden Afrika Selatan Nelson Mandella tampil mengenakan kemeja yang terbuat dari kain batik.

Naiknya pamor batik Indonesia di mata dunia ternyata tidak lantas melegakan hati maestro batik Indonesia Nusjirwan Tirtaamidjaja yang lebih dikenal dengan nama Iwan Tirta. Iwan menilai meningkatnya permintaan konsumen tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas. Ia melihat saat ini terdapat kecenderungan orang memperlakukan batik sebagai barang pabrikan, sehingga menghilangkan estetika kain batik dan menjadikannya barang murahan.

Sebagai pencinta batik, dia merasa terpanggil untuk mengembalikan pamor batik sebagai hasil budaya tinggi. Itulah yang menjadi latar belakang Iwan mengadakan pameran koleksi batik-batik klasik dan benda-benda kuno bergaya Surakarta koleksi pribadinya.

Pameran bertajuk Classical Batik Exhibition & Collection Iwan Tirta ini digelar Iwan di Pakubuwono Residence, Jakarta Selatan, akhir Februari. Suasana khas Surakarta berhasil dipindahkan ke ruang pameran. Jejeran batik klasik, baik yang berasal dari Keraton Kasunanan atau Pura Mangkunegaran dengan bermacam motif tua digelar dengan elegan. Ada pula demo batik tulis yang dilakukan oleh Sri Manah yang sudah berpengalaman 20 tahun. Para pengunjung pun terkesima. ”Saya tahu batik itu indah. Tetapi, saya tidak menyangka bahwa batik tulis bisa seindah ini,” ujar Ayu yang mengaku sebagai penggemar batik.

Yang paling istimewa, kali ini Iwan tidak menggunakan peragaan busana untuk memamerkan rancangannya. Ia memilih menampilkan tarian Keraton Surakarta, Bedhaya Pangkur di malam pembukaan. Keahlian Iwan menciptakan kain batik terlihat dari replika sempurna kostum tari Bedhaya Pangkur yang aslinya telah terbakar beberapa waktu lalu. Sembilan penari dibungkus keindahan batik motif parang baris dan ageman kutangan yang dibuat dengan kualitas tinggi. Dilengkapi dengan perhiasan dari logam mulia, Iwan berhasil menarik para pengunjung ke dalam nuansa Keraton Surakarta. Agaknya dia benar-benar ingin menunjukkan keindahan dan meningkatkan pamor batik.

Sumber : (MI/M-3) Media Indonesia

Cerita Kain di Museum Tekstil

Saturday, March 6th, 2004

Pembuatan Kain Tradisional di Museum TekstilKawasan Tanabang, Jakarta Pusat, memang dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar. Berbagai pelaku bisnis tekstil dari berbagai daerah maupun sejumlah negara berkumpul di sini. Tapi, tak banyak orang mengetahui jika kawasan tersebut juga sebagai salah satu obyek wisata di Jakarta. Hal itu disebabkan adanya Museum Tekstil. Tempat yang menyimpan berbagai alat pembuat maupun hasil tekstil dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Terletak di tengah kota tepatnya di Jalan K.S. Tubun Nomor 4, Jakarta Pusat, museum ini mudah dijangkau. Para wisatawan dengan mudah dapat memilih berbagai jenis angkutan transportasi dalam kota yang menuju museum tersebut. Tapi, layaknya di kota besar, waktu yang ditempuh untuk bisa sampai di museum tersebut lumayan lama. Pasalnya, kemacetan kerap mewarnai perjalanan menuju museum tersebut. Di sisi lain, museum yang memiliki tiket masuk paling mahal sekitar Rp 2.000 per orang ini buka untuk umum sejak Selasa hingga Ahad.

Terlepas dari waktu tempuh, museum ini mengoleksi kain tradisional seperti kain batik, ikat pelangi, peralatan batik, dan tenun dari berbagai daerah. Mengenai kain tradisional, museum ini mengoleksi sekitar 1.500 kain tradisonal. Setiap tiga bulan sekali, kain-kain yang ditampilkan selalu berubah. Selain aneka ragam jenis bahan, museum ini juga mengoleksi teknik pengolahan, warna, motif dan komposisi yang menjadi ciri tersendiri dari tekstil Indonesia. Koleksi tekstil modern karya perancang busana terkemuka juga ditampilkan museum ini. Sejatinya, keberadaan museum ini membuktikan jika Indonesia adalah salah satu negara penghasil tekstil tradisional terbesar di dunia.

Pada dasarnya Museum Tekstil adalah sebuah cagar budaya yang khusus menangani tugas-tugas pengumpulan, pengawetan, dan pameran karya seni yang erat dengan pertekstilan di Tanah Air. Tak heran, jika pengunjung dapat melihat cara pembuatan produk tekstil dari berbagai daerah, termasuk kain batik. Bahkan, para pengunjung juga dapat mengikuti pelatihan pembuatan kain batik tulis selama empat hari dengan uang kursus sekitar Rp 150 ribu per orang. Sedangkan untuk pembuatan jumputan tiap peserta dikenakan uang pelatihan sebesar Rp 100 ribu per hari. Selain itu, para pengunjung juga dapat berbelanja hasil tekstil di sebuah art shop di museum tersebut.

Asal tahu saja, museum yang menempati gedung megah yang dibangun pada abad ke-19 ini resmi berdiri sejak 28 Juni 1976. Gedung ini mulanya adalah rumah pribadi seorang warga negara Prancis, yang kemudian dijual pada seorang konsul Turki. Pada 1942, gedung ini kembali dijual pada Karel Cristian Cruq. Tapi, pada masa perebutan kemerdekaan. Gedung ini sempat dijadikan Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Usai pertempuran fisik, gedung ini dihuni Lie Sion Phin 1947 yang kemudian dikuasai Departemen Sosial.

Sumber : (ORS/Inka Prawirasasra dan Effendi Kassah) Liputan6.com, Jakarta