Hadjir Digdodarmodjo - 73 Tahun Mengajar Batik untuk Wisatawan Asing

Sebuah titik adalah awal dari segalanya. Pelajaran inilah paling tidak yang bisa kita ambil dari seni batik yang dibuat sejak masa lampau hingga kini, ketika seniman-seniman batik menuangkan ide kreatif mereka pada seni batik.
Pelajaran ini pulalah yang ingin disampaikan oleh Hadjir Digdodarmodjo, pengajar kursus batik ”Intensive” di kawasan Taman Sari Yogyakarta. ”Saya bisa mengajar turis asing yang sama sekali belum pernah mengenal batik, jadi meeka memahami proses membatik dan mempraktikkannya hanya dalam 3 hari,” ujar Digdodarmodjo saat SH bertandang ke rumah yang sekaligus tempat kursusnya di Taman KT I/314 Taman Sari Yogyakarta, bulan lalu.
”Ini hari kedua dan mereka sudah lebih mahir,” ucap Digdodarmodjo. Pembicaraan pun terhenti ketika muridnya sudah selesai melapisi lilin pada batikan mereka. Digdodarmodjo pun lalu membantu keduanya untuk mencelup batik tersebut dalam larutan kimia untuk memberi pewarnaan.
”Tidak perlu pakai sarung tangan ya Pak,” ujar seorang muridnya yang disapa dengan panggilan Cik. ”Kalau saya tidak perlu lagi, tetapi untuk yang baru mulai sangat perlu karena bisa merusak tangan,” jawabnya.
Kedua muridnya tampak tergesa menanyakan berapa menit lagi batikan tersebut bisa mereka bawa pulang, karena mereka harus segera terbang ke Surabaya. Tidak sampai tiga menit, Digdodarmodjo mengajak kami semua untuk melihat proses pelepasan lilin dan mencuci batik tersebut. Setelah itu, karya amatiran yang masih basah tersebut siap dibawa pulang
”Sebetulnya dua hari terlalu tergesa-gesa untuk belajar membatik. Tetapi kita turuti saja kemauan wisatawan karena mereka yang memiliki waktu,” ujar Digdodarmodjo.
Baru pada akhir tahun 1990 an ini, tempat kursusnya banyak diminati oleh wisatawan lokal. Sejak tahun 70-an, ketika pertama kali ia membuka kursus tersebut, muridnya merupakan wisatawan dari Amerika, Kanada, Australia, Jepang dan negara Eropa lainnya. Dalam sehari di era 70-80 ia bisa mengajar 20-70 murid. Barangkali saat itulah bisa dikatakan masa kejayaannya.
Pemilu 1999 dan tragedi bom Bali sangat mempengaruhi bisnisnya ini. Murid-murid yang belajar padanya turun drastis. Bahkan sejak 1999 hingga 2002, merupakan masa pacekliknya. Muridnya hanya 2-3 orang atau bahkan tidak ada sama sekali. ”Baru akhir-akhir ini kembali orang-orang berdatangan untuk belajar,” ujar Hadjir.

Bermula dari Terpaksa
Bermula dari impitan ekonomi ia berniat untuk menambah penghasilan keluarga. Mengandalkan gaji sebagai guru SD saja, tidak akan cukup untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. Empat buah hatinya yang memerlukan biaya cukup banyak untuk pendidikan yaitu Ir Iswan, Haris Syafruddin, Ir Hendasti dan Riza Kuswara.
Niat itu diteguhkan pula ketika di suatu sore di tahun 70-an di depan rumahnya, ia mendengar sepasang turis, Mrs Smand Snid dan Jefrry Wilton yang menyayangkan tidak adanya tempat kursus batik di Yogyakarta. Ia tergugah untuk membantu mereka.
Kebetulan, pendidikannya di jurusan seni rupa di IKIP Karang Malang pun cukup memadai untuk menularkan ketrampilan tersebut. ”Mendengar itu saya menawarkan diri untuk mengajar. Keesokan harinya mereka pun mulai belajar membatik. Dan ketika kembali ke penginapannya, mereka bercerita dengan teman-teman turis yang lain, ujar Digdodarmodjo.
Dari sekadar gethok tular atau informasi mulut ke mulut, usaha kursus batiknya mulai berkembang. Bahkan kini tempat kursusnya sudah tercantum di beberapa buku panduan wisata internasional seperti Tony Wheeler :South East Asia on Shoestring, Rober Treichler: Suedostring Selbst Entdecken, Le Guide du Routard, Asie du Sud-est, Petro Tarallo: Indonesia, Bill Dalton; Indonesia Handbook dan masih banyak lagi.
Cukup dengan waktu tiga hari, ia mengajarkan sekilas tentang sejarah batik, peralatan yang digunakan dan proses membatik itu sendiri. Kendala bahasa sempat membuatnya putus asa. Di tahun-tahun awal, ia seringkali tidak bisa menjawab pertanyaan muridnya hanya karena tidak memahami maksudnya.
Kini 32 tahun sudah Digdodarmodjo mengajar batik pada turis yang menikmati kawasan Taman Sari. Perjalanan waktu ia nikmati hingga masa tuanya. Hanya satu kekhawatiran yang masih mengelayutinya. Di usia 73 tahun, tidak ada satupun keturunannya yang mau meneruskan usahanya.
Ia khawatir, tanap generasi penerus, titik awal yang sudah ia torehkan akan menjadi titik akhir dari usahanya mengenalkan seni tradisi Jawa ini pada wisatawan asing.

Sumber : (SH/emmy kuswandari/yuyuk s) Sinar Harapan, Yogyakarta

3 Responses to “Hadjir Digdodarmodjo - 73 Tahun Mengajar Batik untuk Wisatawan Asing”

  1. rahmat Says:

    Mas sekarang ikip karang malang sudah berganti nama menjadi UNY(universitas negeri Yogyakarta) tolong untuk sosialisasi lebih lanjut memakai nama itu. Rahmat SRF(Senirupa dan Fotografi)

  2. Batik Indo Admin Says:

    Trims atas infonya Rahmat :)

  3. any Says:

    Untuk saya yang bukan wisata asing, apa bisa mengikuti kursus batik juga? Bagaimana syarat dan prosedurnya kalau bisa?

Leave a Reply