Perajin Tradisionil Agar Bisa Bersaing Harus Mengikuti Selera Pasar
Era kejayaan batik Tulis Imogiri Bantul Yogyakarta saat ini mengalami kemunduran bila dibandingkan era 20 tahun yang lalu. Hal ini dapat dilihat dari lesunya penjualan yang juga mengalami penurunan drastis. Apalagi sekarang telah banyak diciptakannya batik printing yangharganya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan batik tulis ini. Hal tersebut dijelaskan camat Imogiri,Bantul Misbakhul Munir ketika menerima Kunjungan Kerja Ketua Dekransda Propinsi DIY GKR Hemas dalam safari kunjungan kerjanya di kabupaten Bantul (Kamis,12 Februari 2004) yeng bertempat di Kelompok Pengrajin Batik Tulis Suka maju,Dusun Cengkehan,Desa Wukirsari,kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.
Menurut Camat Imogiri bahwa pengrajin batik di Wilayah ini mencapai 900 pengrajin batik tulis yang digeluti baik orangtua maupun generasi muda yang tergabung dalam kelompok-kelompok perajin dari 4500 pengrajin yang ada di kecamatan Imogiri. Sisanya adalah perajin bambu,perajin kayu,perajin kulit serta perajin lainnya. Sedangkan dalam kesempatan dialog dengan GKR Hemas Ketua Dekranasda Propinsi DIY Zulinah salah satu Perajin batik di Imogiri mengungkapkan bahwa permasalahan yang dihadapi para perajin sekarang ini disamping lesunya pemasaran juga sulitnya regenerasi proses batik dari generasi tua ke generasi muda. Hal ini sangat terasa ketika memprosesing batik ini tidak semua orang bisa.
Menanggapi berbagai permasalahan yang dihadapi Perajin Batik Tulis tradisional di Wuklirsari,imogiri Bantul tersebut GKR Hemas mengatakan bahwa untuk meraih kembali kejayaan batik tradisional Imogiri dari lesunya permintaan pasar para perajin juga harus mengubah image sebagi pembatik tradisional serta harus membuat trik pasar. Yaitu dengan sedikit demi sedikit melihat selera pasar saat ini serta menghilangkan bahwa Batik tradisional yang hanya untuk ageman saja menjadi berbagai bentuk asesoris-asesoris rumah tangga atau hotel-hotel. Dengan demikian juga harus mengikuti selera dan harga pasar. Karena kalau kita tetap bertahan pada batik tradisional kita akan ketinggalan. Lanjut GKR Hemas untuk mengembangkan dan meninmgkatkan pasaran batik ini kita dalam menawarkan produk harus mempunyai trick dengan melihat selera pasar. Selain itu juga untuk meningkatkan dan mengangkat kembali batik tradisional Imogiri kita harus merubah image dahulu dari batik tradisional,daerah ini dirubah menjadi desa wisata karena daerah ini dukung berbagai obyek wisata ziarah maupun wisata pegunungan serta untuk menuju ke arah sana kita harus meningkatkan kebersihan lingkungan.
Sementara itu sebel;um dialog dengan para perajin Batik Tradisional Wukirsari Imogiri GKR Hemas Ketua Dekranasda Propinsi DIY yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi DIY tersebut terlebih dahulu mengadakan dialog dengan para perajin Kayu,bambu,Kulit di balai Desa Mangunan Imogiri yang pimpin M.Ekhsan Pujiyono Lurah mangunan,Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul. Muhammad Ekhsan Pujiyono kepada GKR Hemas melaporkan bahwa penduduk Desa Mangunan yang berjumal 1062 jiwa dari 818 KK, 279 orang diantaranya adalah sebagai perajin.Selain itu kekayaan yang dimiliki Desa mangunan tanah seluas 66 hektar,36 diantaranya disewakan kepada penduduk mangunan selebihnya digarap oleh penduduk setempat. Dari kas desa inilah Desa mangunan mempeoleh PAD sebesar Rp.500 ribu setahun sehingga Desa ini sangat kesulitan untuk mengembangkan sarana dan prasarana desa yang ada sedangkan wilayah mangunan daerahnya perbukitan. Dari kondisi seperti ini para perajin di mangunan masih mengharapkan pembinaan maupun peningkatan sarana dan prasana yang menunjang majunya para perajin di wilayahnya termasuk masih minimnya peralatan yang digunakan para perajin di Mangunan ,Kecamatan Dlingo ini.
Berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi di Desa Mangunan khususnya PAD nya yang sangat kecil GKR Hemas sangat prihatin dan mengenai sangat minimnya peralatan yang digunakan untuk meningkatkan produksi perajin GKR Hemas akan beruasaha untuk mencarikan pemecahannya agar peralatan yang minim itu dapat ditingkatkan yang lebih maju. Namun demikian GKR Hemas mengajak kepada para perajin untuk tidak patah semangat karena Dekranasda Propinsi DIY akan berkoordinasi dengan Dekranasda kabupaten untuk segera mencarikan solusi terbaik untuk mengangkat nasib para perajin. GKR Hemas yang didampingi LSM selain Dialog dengan para perajin di Balai Desa Mangunan dan di Kelompok batik tradisional Suka Maju Cengkehan ,Wukirsari, Imogiri serta melihat secara langsung produk-produk yang dihasilkan para perajin juga mengadakan silaturhami dengan Tokoh Perajin Bambu daerah itu yang telah berumur 98 tahun tetapi masih prodktif membuat kranjang sehari mampu menghasilkan 2 biji serta GKR Hemas melakukan pemantauan hasil kerajinan dari Dlingo dan dari Imogiri yang dijual di Pasar Imogiri yang mendapatkan sambutan hangat para penjual dan pembeli dipasar Imogiri.
Sumber : (Kasubbid Penerangan BID DIY Peliput Drs.Biwara Yuswantana.Msi Karna–Dadang) Pemda DIY
November 11th, 2007 at 8:43 am
Pak, saya mau buat tour ke Jateng dan salah satu tujuan adalah melihat pembuatan batik.
Apakah ada pengrajin yang mau kerjasama ?
setelah melihat, pembuatan, mereka mungkin bisa langsung beli.
Thanks,
Aries