Archive for February, 2004

Batik Belanda, Penggalan Sejarah Kolonial di Indonesia

Sunday, February 29th, 2004

MESKIPUN pameran kain batik telah berulang kali diadakan, setiap kali memandang kain batik selalu terasa ada pesona yang memancar. Bukan sekadar keindahan perpaduan dan komposisi ragam hias serta permainan warna yang menarik diamati, tetapi juga semangat zaman yang dipancarkan kain tersebut.

Begitu juga yang terasa ketika menyaksikan pameran kain batik Belanda koleksi pribadi Ny Eiko Adnan, Ny Nian Djoemena, dan Ny Asmoro Damais di Galeri Hadiprana, Kemang Raya, Jakarta Selatan (24 Februari-6 Maret 2004). Kain batik milik ketiga pencinta kain itu umumnya merupakan batik tulis dan banyak berasal dari bengkel pengusaha batik di Pekalongan.

Pekalongan memang tempat produksi utama batik Belanda. Seperti dicatat Rens Heringa dalam Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java (1996), setelah tahun 1860, Pekalongan menjadi sentra produksi batik Indo-Eropa atau dikenal sebagai batik Belanda.

Terutama di Pekalongan-lah ragam hias dan komposisi batik mengalami proses eropanisasi, terutama dalam inspirasi dan pengerjaan. Hal ini karena ada kebutuhan dari pembeli orang-orang Indo-Eropa, laki-laki dan perempuan. Batik yang berasal dari bengkel batik milik pengusaha seperti AJF Jans, Lien Metzelaar, Tina van Zuylen, dan terutama Eliza van Zuylen menjadi keharusan untuk dimiliki sebagai penunjuk keterhubungan dengan komunitas Belanda.

Pengusaha batik berdarah Indo-Eropa itu, menurut Heringa, memberi sumbangan dalam perkembangan batik melalui kebiasaan membubuhkan tanda tangan pada setiap lembar batik mereka untuk menunjukkan tiap lembar dibuat khusus dengan kesempurnaan pengerjaan. Para pengusaha Indo-Eropa itu juga memperkenalkan warna baru selain merah dan biru yang klasik. Melalui teknik pewarnaan yang rumit, mereka menghasilkan gradasi warna yang sempurna dari setiap warna.

Sumbangan lain pengusaha itu adalah pada gaya ragam hias dan komposisi yang menciptakan gaya khas Pekalongan. Gaya pertama dicirikan oleh garis-garis sederhana dan motif geometris yang rapi. Gaya kedua adalah penggunaan motif buket bunga atau lebih dikenal sebagai buketan yang kemudian dipandang sebagai esensi batik Pesisir. Buket berukuran besar ini diletakkan di bagian badan maupun kepala kain.

Para perempuan Indo-Eropa memilih motif bunga yang khas Eropa pada setiap musim untuk mewakili setiap tahap kehidupan mereka. Warna bunga pun menentukan siapa pemakainya. Warna putih untuk pengantin, biru untuk perempuan yang belum menikah, merah menggambarkan cinta sehingga dipakai untuk perempuan yang menikah, sedangkan ungu dianggap mewakili kesederhanaan sehingga diperuntukkan bagi janda.

BATIK Belanda menjadi penanda kelas sosial pada masyarakat kolonial yang dibeda-bedakan berdasarkan ras dan status sosial. Tahun 1754 Gubernur Jenderal Jacob Mossel mengeluarkan aturan berpakaian untuk setiap suku bangsa, termasuk jumlah budak yang boleh dibawa ketika berada di tempat umum. Berpakaian menurut kebiasaan penduduk setempat diizinkan bagi pegawai Eropa dan para istri mereka, tetapi ketika berada di tempat umum di Batavia harus mengenakan pakaian Barat.

Batik yang dikenakan sebagai kain panjang atau sarung dan kebaya atau atasan longgar bergaya tunik menjadi pakaian favorit orang Indo-Eropa karena sesuai dengan iklim tropis. Heringa juga menyebutkan, padanan sarung dan baju panjang katun longgar ini merupakan favorit Gubernur Jenderal Daendels, yang mengenakan pakaian ini untuk acara informal dan juga ke kantor.

Pada tahun 1872 pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan aturan yang memaksa setiap orang di Hindia Belanda mengenakan pakaian asal suku bangsanya ketika tampil di muka umum. Batik Belanda dan kebaya semakin surut sebagai pakaian di muka umum pada awal abad ke-20 ketika gaya hidup bergaya Eropa semakin mendominasi. Mereka yang mengenakan kain batik di muka umum adalah kalangan Indo-Eropa dari kelas sosial bawah, bahkan para pengusaha batik Indo-Eropa pun, menurut Heringa, tidak mau mengenakan kain batik dan menganggap membuat batik sebagai bisnis belaka.

Batik-batik koleksi Ny Eiko Adnan, Ny Nian Djoemena, dan Ny Asmoro Damais bukan hanya indah, tetapi juga memberi pemahaman tentang sebuah penggalan sejarah Indonesia. Salah satu kain batik koleksi Ny Djoemena, buatan Pekalongan, menggambarkan motif dongeng Eropa tentang gadis berukuran sangat mini. Pada kain itu juga muncul motif bunga. “Bunga buket dan burung gereja adalah salah satu ciri utama batik Belanda,” tutur Ny Djoemena.

Kain koleksi Ny Eiko Adnan antara lain adalah kain yang menggambarkan pergi haji ke Mekkah dengan naik kapal, berbahan katun, cap kayu, untuk perempuan dan laki-laki. Selain gambar kapal, pada bagian badan juga ada teratai, cumi-cumi, unta, dan bidadari; sedangkan bagian kepala bermotif bunga keladi, angsa, burung, dan kupu-kupu. Kain ini ditandatangani oleh Haji Ambari. Kain yang lain adalah kain Kompeni yang menggambarkan serdadu, kapal laut, kapal terbang, meriam dengan galaran (garis-garis halus) sebagai latar belakang. Koleksi kain Ny Adnan juga ada yang dibuat di Palmerah, Jakarta, tahun 1880, bermotif burung, bunga, kupu-kupu di bagian kepala, sementara di bagian badan menggambarkan burung merak, bunga, dan latar belakang galaran.

Sedangkan koleksi Ny Asmoro Damais antara lain berupa batik buatan Eliza van Zuylen tahun 1925 dengan garis miring berukuran besar, bunga, dan bagian badan dihiasi lambang kemakmuran yang disebut Horn of Abundance.

Meskipun ada yang melihat motif-motif batik Belanda sekadar hiasan tanpa makna, bila dipandang dari sudut penguasa kolonial, motif-motif dari Eropa tersebut menunjukkan “pemaksaan” dari posisi penguasa terhadap yang lebih lemah, termasuk juga pengaruh nilai budaya Barat. Inilah gambaran penggalan sejarah kolonial di Indonesia.

Sumber : (NMP) KCM, Jakarta

Hadjir Digdodarmodjo - 73 Tahun Mengajar Batik untuk Wisatawan Asing

Friday, February 13th, 2004

Sebuah titik adalah awal dari segalanya. Pelajaran inilah paling tidak yang bisa kita ambil dari seni batik yang dibuat sejak masa lampau hingga kini, ketika seniman-seniman batik menuangkan ide kreatif mereka pada seni batik.
Pelajaran ini pulalah yang ingin disampaikan oleh Hadjir Digdodarmodjo, pengajar kursus batik ”Intensive” di kawasan Taman Sari Yogyakarta. ”Saya bisa mengajar turis asing yang sama sekali belum pernah mengenal batik, jadi meeka memahami proses membatik dan mempraktikkannya hanya dalam 3 hari,” ujar Digdodarmodjo saat SH bertandang ke rumah yang sekaligus tempat kursusnya di Taman KT I/314 Taman Sari Yogyakarta, bulan lalu.
”Ini hari kedua dan mereka sudah lebih mahir,” ucap Digdodarmodjo. Pembicaraan pun terhenti ketika muridnya sudah selesai melapisi lilin pada batikan mereka. Digdodarmodjo pun lalu membantu keduanya untuk mencelup batik tersebut dalam larutan kimia untuk memberi pewarnaan.
”Tidak perlu pakai sarung tangan ya Pak,” ujar seorang muridnya yang disapa dengan panggilan Cik. ”Kalau saya tidak perlu lagi, tetapi untuk yang baru mulai sangat perlu karena bisa merusak tangan,” jawabnya.
Kedua muridnya tampak tergesa menanyakan berapa menit lagi batikan tersebut bisa mereka bawa pulang, karena mereka harus segera terbang ke Surabaya. Tidak sampai tiga menit, Digdodarmodjo mengajak kami semua untuk melihat proses pelepasan lilin dan mencuci batik tersebut. Setelah itu, karya amatiran yang masih basah tersebut siap dibawa pulang
”Sebetulnya dua hari terlalu tergesa-gesa untuk belajar membatik. Tetapi kita turuti saja kemauan wisatawan karena mereka yang memiliki waktu,” ujar Digdodarmodjo.
Baru pada akhir tahun 1990 an ini, tempat kursusnya banyak diminati oleh wisatawan lokal. Sejak tahun 70-an, ketika pertama kali ia membuka kursus tersebut, muridnya merupakan wisatawan dari Amerika, Kanada, Australia, Jepang dan negara Eropa lainnya. Dalam sehari di era 70-80 ia bisa mengajar 20-70 murid. Barangkali saat itulah bisa dikatakan masa kejayaannya.
Pemilu 1999 dan tragedi bom Bali sangat mempengaruhi bisnisnya ini. Murid-murid yang belajar padanya turun drastis. Bahkan sejak 1999 hingga 2002, merupakan masa pacekliknya. Muridnya hanya 2-3 orang atau bahkan tidak ada sama sekali. ”Baru akhir-akhir ini kembali orang-orang berdatangan untuk belajar,” ujar Hadjir.

Bermula dari Terpaksa
Bermula dari impitan ekonomi ia berniat untuk menambah penghasilan keluarga. Mengandalkan gaji sebagai guru SD saja, tidak akan cukup untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. Empat buah hatinya yang memerlukan biaya cukup banyak untuk pendidikan yaitu Ir Iswan, Haris Syafruddin, Ir Hendasti dan Riza Kuswara.
Niat itu diteguhkan pula ketika di suatu sore di tahun 70-an di depan rumahnya, ia mendengar sepasang turis, Mrs Smand Snid dan Jefrry Wilton yang menyayangkan tidak adanya tempat kursus batik di Yogyakarta. Ia tergugah untuk membantu mereka.
Kebetulan, pendidikannya di jurusan seni rupa di IKIP Karang Malang pun cukup memadai untuk menularkan ketrampilan tersebut. ”Mendengar itu saya menawarkan diri untuk mengajar. Keesokan harinya mereka pun mulai belajar membatik. Dan ketika kembali ke penginapannya, mereka bercerita dengan teman-teman turis yang lain, ujar Digdodarmodjo.
Dari sekadar gethok tular atau informasi mulut ke mulut, usaha kursus batiknya mulai berkembang. Bahkan kini tempat kursusnya sudah tercantum di beberapa buku panduan wisata internasional seperti Tony Wheeler :South East Asia on Shoestring, Rober Treichler: Suedostring Selbst Entdecken, Le Guide du Routard, Asie du Sud-est, Petro Tarallo: Indonesia, Bill Dalton; Indonesia Handbook dan masih banyak lagi.
Cukup dengan waktu tiga hari, ia mengajarkan sekilas tentang sejarah batik, peralatan yang digunakan dan proses membatik itu sendiri. Kendala bahasa sempat membuatnya putus asa. Di tahun-tahun awal, ia seringkali tidak bisa menjawab pertanyaan muridnya hanya karena tidak memahami maksudnya.
Kini 32 tahun sudah Digdodarmodjo mengajar batik pada turis yang menikmati kawasan Taman Sari. Perjalanan waktu ia nikmati hingga masa tuanya. Hanya satu kekhawatiran yang masih mengelayutinya. Di usia 73 tahun, tidak ada satupun keturunannya yang mau meneruskan usahanya.
Ia khawatir, tanap generasi penerus, titik awal yang sudah ia torehkan akan menjadi titik akhir dari usahanya mengenalkan seni tradisi Jawa ini pada wisatawan asing.

Sumber : (SH/emmy kuswandari/yuyuk s) Sinar Harapan, Yogyakarta

Perajin Tradisionil Agar Bisa Bersaing Harus Mengikuti Selera Pasar

Thursday, February 12th, 2004

Era kejayaan batik Tulis Imogiri Bantul Yogyakarta saat ini mengalami kemunduran bila dibandingkan era 20 tahun yang lalu. Hal ini dapat dilihat dari lesunya penjualan yang juga mengalami penurunan drastis. Apalagi sekarang telah banyak diciptakannya batik printing yangharganya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan batik tulis ini. Hal tersebut dijelaskan camat Imogiri,Bantul Misbakhul Munir ketika menerima Kunjungan Kerja Ketua Dekransda Propinsi DIY GKR Hemas dalam safari kunjungan kerjanya di kabupaten Bantul (Kamis,12 Februari 2004) yeng bertempat di Kelompok Pengrajin Batik Tulis Suka maju,Dusun Cengkehan,Desa Wukirsari,kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Menurut Camat Imogiri bahwa pengrajin batik di Wilayah ini mencapai 900 pengrajin batik tulis yang digeluti baik orangtua maupun generasi muda yang tergabung dalam kelompok-kelompok perajin dari 4500 pengrajin yang ada di kecamatan Imogiri. Sisanya adalah perajin bambu,perajin kayu,perajin kulit serta perajin lainnya. Sedangkan dalam kesempatan dialog dengan GKR Hemas Ketua Dekranasda Propinsi DIY Zulinah salah satu Perajin batik di Imogiri mengungkapkan bahwa permasalahan yang dihadapi para perajin sekarang ini disamping lesunya pemasaran juga sulitnya regenerasi proses batik dari generasi tua ke generasi muda. Hal ini sangat terasa ketika memprosesing batik ini tidak semua orang bisa.

Menanggapi berbagai permasalahan yang dihadapi Perajin Batik Tulis tradisional di Wuklirsari,imogiri Bantul tersebut GKR Hemas mengatakan bahwa untuk meraih kembali kejayaan batik tradisional Imogiri dari lesunya permintaan pasar para perajin juga harus mengubah image sebagi pembatik tradisional serta harus membuat trik pasar. Yaitu dengan sedikit demi sedikit melihat selera pasar saat ini serta menghilangkan bahwa Batik tradisional yang hanya untuk ageman saja menjadi berbagai bentuk asesoris-asesoris rumah tangga atau hotel-hotel. Dengan demikian juga harus mengikuti selera dan harga pasar. Karena kalau kita tetap bertahan pada batik tradisional kita akan ketinggalan. Lanjut GKR Hemas untuk mengembangkan dan meninmgkatkan pasaran batik ini kita dalam menawarkan produk harus mempunyai trick dengan melihat selera pasar. Selain itu juga untuk meningkatkan dan mengangkat kembali batik tradisional Imogiri kita harus merubah image dahulu dari batik tradisional,daerah ini dirubah menjadi desa wisata karena daerah ini dukung berbagai obyek wisata ziarah maupun wisata pegunungan serta untuk menuju ke arah sana kita harus meningkatkan kebersihan lingkungan.

Sementara itu sebel;um dialog dengan para perajin Batik Tradisional Wukirsari Imogiri GKR Hemas Ketua Dekranasda Propinsi DIY yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi DIY tersebut terlebih dahulu mengadakan dialog dengan para perajin Kayu,bambu,Kulit di balai Desa Mangunan Imogiri yang pimpin M.Ekhsan Pujiyono Lurah mangunan,Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul. Muhammad Ekhsan Pujiyono kepada GKR Hemas melaporkan bahwa penduduk Desa Mangunan yang berjumal 1062 jiwa dari 818 KK, 279 orang diantaranya adalah sebagai perajin.Selain itu kekayaan yang dimiliki Desa mangunan tanah seluas 66 hektar,36 diantaranya disewakan kepada penduduk mangunan selebihnya digarap oleh penduduk setempat. Dari kas desa inilah Desa mangunan mempeoleh PAD sebesar Rp.500 ribu setahun sehingga Desa ini sangat kesulitan untuk mengembangkan sarana dan prasarana desa yang ada sedangkan wilayah mangunan daerahnya perbukitan. Dari kondisi seperti ini para perajin di mangunan masih mengharapkan pembinaan maupun peningkatan sarana dan prasana yang menunjang majunya para perajin di wilayahnya termasuk masih minimnya peralatan yang digunakan para perajin di Mangunan ,Kecamatan Dlingo ini.

Berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi di Desa Mangunan khususnya PAD nya yang sangat kecil GKR Hemas sangat prihatin dan mengenai sangat minimnya peralatan yang digunakan untuk meningkatkan produksi perajin GKR Hemas akan beruasaha untuk mencarikan pemecahannya agar peralatan yang minim itu dapat ditingkatkan yang lebih maju. Namun demikian GKR Hemas mengajak kepada para perajin untuk tidak patah semangat karena Dekranasda Propinsi DIY akan berkoordinasi dengan Dekranasda kabupaten untuk segera mencarikan solusi terbaik untuk mengangkat nasib para perajin. GKR Hemas yang didampingi LSM selain Dialog dengan para perajin di Balai Desa Mangunan dan di Kelompok batik tradisional Suka Maju Cengkehan ,Wukirsari, Imogiri serta melihat secara langsung produk-produk yang dihasilkan para perajin juga mengadakan silaturhami dengan Tokoh Perajin Bambu daerah itu yang telah berumur 98 tahun tetapi masih prodktif membuat kranjang sehari mampu menghasilkan 2 biji serta GKR Hemas melakukan pemantauan hasil kerajinan dari Dlingo dan dari Imogiri yang dijual di Pasar Imogiri yang mendapatkan sambutan hangat para penjual dan pembeli dipasar Imogiri.

Sumber : (Kasubbid Penerangan BID DIY Peliput Drs.Biwara Yuswantana.Msi Karna–Dadang) Pemda DIY

Peluang Ekspor Bahan Baku Batik Yogyakarta ke Malaysia

Monday, February 9th, 2004

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Paku Alam IX, didampingi Asisten Kesra DR. Bambang Prunomo dan Kepala Dinas Peridustrian dan Perdagangan Ir. Syahbenol Hasibuan, pagi tadi menerima kunjungan Delegasi Kementrian Pembangunan Wanita dan Keluarga Malaysia, di Pracimosono Kepatihan.

Adapun maksud dan tujuan dari kunjungan tersebut sebagaimana disampaikan pimpinan rombongan Ibu Datuk Zakiah binti Hashim, Sekretaris Menteri Kementrian Pembangunan Usahawan, adalah dalam rangka lawatan sekaligus bekerja, atas dasar kerjasama dengan Kantor Menteri Pemberdyaan Perempuan Indonesia, sekaligus untuk mewujudkan kerjasama di tingkat pimpinan, maupun antara organisasi, koperasi, pengusaha dan pengrajin di Indonesia, dan Yogyakarta pada khususnya. Disamping itu, rombongan juga diikuti perwakilan dari Kementrian Tanah dan Pembangunan Koperasi, Perbadanan Kemajuan Craft Tangan Malaysia kementrian serta para pengusaha wanita, yang bergerak di bidang usaha batik dan ukiran. Delegasi Malaysia ini juga berharap dapat menimba ilmu pengetahuan tentang industri kerajinan, terutama batik. Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur menyampaikan terima kasih dan menyambut gembira atas kunjungan kali ini, sekaligus berharap setelah kegiatan ini akan diikuti dengan pertemuan lanjutan dalam rangka mewujudkan kerjasama jaringan pengusaha di Malaysia dan di Yogyakarta. Dalam dialog disampaikan bahwa pemerintah Malaysia, melalui Kementrian Pembangunan Usahawan berusaha untuk meningkatkan usaha dari kelompok usaha kecil dan usahawan baru yang mencapi 90 % dari usahawan yang ada, antara lain dengan memberikan bantuan fasilitas ruang perniagaan bagi para usahawan baru, setelah mereka sukses atau mandiri, fasilitas tersebut diminta kembali untuk dipakai usahawan baru lainnya. Juga bantuan modal yang harus dikembalikan dengan cara diangsur. Di Malaysia juga dikembangkan program satu daerah atau satu wilayah untuk satu industri. Pada kesempatan itu, seorang pengusaha batik Malaysia, menyatakan kekagumannya atas kehalusan dan keindahan batik Indonesia, khususnya Yogyakarta, serta menginformasikan bahwa di Malaysia bahan baku batik masih harus impor dari negeri Cina, terutama untuk jenis kain sutra. Menanggapi hal itu, wakil IWAPI DIY, Ny. Latifah Iskandar menyatakan, bahwa memang untuk jenis sutra tertentu disinipun masih dipegang oleh Cina, namun untuk jenis lainnya di Yogyakarta cukup tersedia. Untuk itu, peluang yang ada di Malaysia tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha di Yogyakarta, apalagi dengan adanya penerbangan langsung dari Malaysia ke Yogyakarta, diharapkan dapat mendukung terjalinnya hubungan kerjasama yang lebih erat antara pengusaha Yogyakarta dengan pengusaha Malaysia.

Sumber : (Subbid. Penerangan BID) Pemda DIY