BANYAK pameran kain diselenggarakan, tetapi pameran kain Nusantara di Bentara Budaya Jakarta di Jalan Palmerah Selatan 17 patut untuk dinikmati. Bukan hanya pemilik kain-kain ini unik, yaitu pasangan anak dan ibu, Didy Indriani Hariono dan almarhumah Hj Toety Aziz (pendiri Surabaya Post bersama almarhum A Aziz), tetapi koleksi yang ditampilkan selain sangat beragam juga menampilkan sejumlah kain yang jarang muncul dalam pameran kain. Pameran kain Nusantara yang juga menampilkan wayang menak ini akan berlangsung hingga Jumat (16/1/4).
Salah satunya kain tenun Gujarat, India, motif cinde/cindai yang secara fisik tampak terawat baik dengan warna tetap cerah, padahal menurut Didy telah berusia 150 tahun. Kain langka lain dari India adalah tenun ikat ganda motif patola dari Patan yang juga tampak terawat baik. Sayangnya pameran ini tidak menampilkan tenun ikat ganda-teknik tenun tersulit karena pembentukan motif dilakukan pada benang ikat dan pakan sekaligus-yang dihasilkan masyarakat Tenganan, Bali Timur.
Koleksi menarik lain adalah batik tulis asal Pekalongan dengan ragam hias menyerupai kisah rakyat dari Barat mengenai gadis si runjung merah ketika berhadapan dengan serigala yang menelan neneknya. Motif kain yang dipamerkan di BBJ mengalami “penyesuaian” dengan keadaan setempat.
“Yang bermantel biru adalah Gubernur Jenderal Belanda dan binatang yang di dekatnya bukan serigala, melainkan liong yang mirip singa. Ini menunjukkan pengaruh Belanda dan Cina yang kuat,” tutur Didy yang mulai jatuh cinta dan mengoleksi kain ketika kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada awal tahun 1970-an, Kamis (8/1/4) petang di BBJ.
Batik langka lainnya adalah batik tulis motif parang klitik milik Sultan Hamengku Buwono VII. “Saya mendapat pinjaman dari Gusti Prabu, putra HB VII, yang meminjamkan kain itu ketika mendengar saya akan membuat pameran kain,” tutur Didy yang penggemar berat sepak bola ini. Motif parang pernah menjadi motif terlarang untuk dipakai di luar keluarga kerajaan. Namun, seiring dengan surutnya pengaruh raja-raja Jawa, surut pula larangan itu sehingga motif parang kini dikenakan oleh siapa saja.
Koleksi juga menampilkan batik tulis motif klasik dari Surakarta, Cirebon, dan Pekalongan, serta batik basurek dari Bengkulu dan Jambi yang menggunakan ragam hias mirip kaligrafi. Buat yang tidak terbiasa dengan kecepatan artisan batik dalam mengadopsi perubahan zaman, bisa menyimak batik kompeni yang dalam pameran ini berupa ragam hias kereta api yang diperkenalkan ke Indonesia oleh Kompeni.
YANG tak kalah menarik adalah kain dari Sumatera. Aceh ternyata punya teknik tenun ikat yang digabungkan dengan teknik songket, sementara Tanah Datar, Sumatera Barat, memiliki tenun songket katun yang tidak semeriah tenun songket Sumatera lain yang umumnya kaya benang warna emas dan perak.
Dari bagian timur Indonesia juga ada kain yang tidak umum muncul di pameran, antara lain kain dari Desa Toriamas, Amanatun Utara, Timor, yang menggunakan teknik tenun lompatan. Latar belakang kain yang hitam dihiasi kelompok-kelompok ragam hias geometris. Kain unik lainnya bermotif ular cincin dan sarang lebah dari Maluku, serta kain serat doyo (sejenis rumput) yang dibuat suku Dayak Benuaq dan kain serat katun buatan Dayak Iban.
Dari berbagai kain Nusantara ini bisa dilihat bahwa batik sebagai teknik membuat ragam hias memberi keleluasaan dan kecepatan lebih besar untuk mengadopsi berbagai perubahan di sekitar dibandingkan dengan teknik ikat. Tak heran bila sampai sekarang batik terus mengalami perkayaan motif dan warna baru karena kreativitas para artisan batik menangkap semangat zaman, sesuatu yang membuat batik identik dengan Indonesia.
Sumber : (Ninuk MP) Kompas Cetak