Lomba Membatik Se-Provinsi DIY
Sebanyak 100 orang dari 286 peserta Lomba Mencanting Batik dari lima kabupaten/kota se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (6/12), di Pendopo Parasamya Pemerintah Kabupaten Bantul, mendemonstrasikan kemahiran mereka membatik pada sepotong kain berbentuk selendang. Seratus finalis lomba ini menciptakan sedikitnya 30 desain/motif batik baru, meskipun sebagian desain merupakan turunan atau desain batik yang ada.
Pencapaian kreativitas seperti itu sesuai dengan maksud lomba, yakni untuk melestarikan dan mengembangkan kekayaan seni batik di Yogyakarta. Kabupaten Bantul memiliki paling tidak tiga desa pusat batik, yaitu Desa Wijirejo di Kecamatan Pandak, Wukirsari di Kecamatan Imogiri, dan Desa Murtigading di Kecamatan Sanden.
“Batik ini merupakan karya seni adiluhung peninggalan nenek moyang kita. Untuk melestarikan seni dan budaya adiluhung itu dapat kita lakukan lewat lomba. Seni dan budaya itu bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi kita juga perlu terlibat di dalamnya,” kata Bupati Bantul Idham Samawi ketika membuka lomba tersebut.
Kegiatan itu merupakan usaha Pemkab Bantul bekerja sama dengan Paguyuban Pencinta Batik Sekarjagad dan lima Dewan Kerajinan Nasional Kabupaten/Kota se-DIY.
Lomba dimulai sejak Agustus hingga Oktober 2003, dan sebanyak 286 peserta menyerahkan selendang-sebagai tanda keikutsertaan lomba-hasil batiknya kepada panitia.
Bersamaan dengan suasana meriah di pendopo kabupaten, dilaksanakan pula peragaan busana dari tiga desainer dan perancang batik Yogyakarta, yakni Ardiyanto Pranata, Yoyong Genji, dan Afif Syakur.
Panitia menetapkan pemenang pertama Ny Walbiah dari Banyusumurup, Kecamatan Imogiri, dengan desain campur-campur. Juara kedua Ny Siti Wahadah (Wukirsari, Imogiri) dengan desain wiratan, dan Juara III Ny Narsinah (Girirejo, Imogiri) dengan desain campursari. Panitia juga menetapkan sejumlah juara harapan, favorit setiap daerah, dan favorit umum.
Sumber : (HRD) Kompas Cetak, Bantul