Archive for December, 2003

Pergelaran Busana Ramli untuk Amal

Saturday, December 13th, 2003

Peragaan Busana ramli di JakartaPerancang busana papan atas Ramli menampilkan rancangan terbarunya dalam sebuah pergelaran di Jakarta, Jumat (12/12) malam. Pergelaran busana itu juga sekaligus untuk menggalang dana amal bagi penderita kanker payudara.

Peragaan busana yang mengusung tema East Meets West ini menampilkan perpaduan yang unik. Misalnya saja Ramli memadukan batik sebagai ciri khas Indonesia dengan atribut Barat seperti jaket kulit, celana kulit, dan sepatu bot. Selain batik, Ramli juga memadukan bahan shantung dan brokat.

Meskipun dipadupadankan dengan atribut yang terkesan bertolak belakang koleksi busana rancangan Ramli tetap dapat menampilkan kesan yang elegan. Busana santai hingga busana muslim dan gaun-gaun malam sangat memukau pengunjung peragaan.

Sumber : (YYT/Rike Amru dan Agung Nugroho) Liputan6.com, Jakarta

Seragam Batik dan Pariwisata

Saturday, December 13th, 2003

SEBUAH gebrakan dibuat Pemerintah Kabupaten Banyumas, yakni mewajibkan seluruh pegawainya mengenakan seragam batik pada hari Sabtu. Tujuannya adalah untuk melestarikan kerajinan batik dan motif batik Banyumasan yang di ambang punah. Peristiwa ini mengingatkan kita pada pertengahan tahun 1980 saat Gubernur Jawa Tengah HM Ismail mewajibkan seluruh pegawai negeri mengenakan seragam lurik pada hari tertentu. Tujuannya, agar kerajinan lurik tetap hidup.

Akan tetapi, kebijakan HM Ismail ini memudar seiring ia lengser dari kursi gubernur. Akibatnya, perajin lurik kembali merana hingga saat ini.

Keputusan Pemkab Banyumas pantas disambut gembira, sebab bisa sebagai langkah pertama menuju restorasi kekayaan khazanah budaya Banyumasan. Sebenarnya kain batik di Jawa tidak hanya berkembang di Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan, tetapi juga di beberapa daerah, termasuk Banyumas. Karena itu, keberadaannya memang layak dipertahankan agar tidak semakin tergusur kain modern.

Langkah Pemkab Banyumas seharusnya juga diikuti daerah lain yang memiliki sentra kerajinan batik. Malahan akan lebih baik, kalau kewajiban berbusana batik itu tidak hanya untuk pegawai, tetapi juga bagi pelajar. Hanya jenis kainnya yang diganti.

Yang terpenting dari pemakaian seragam batik ini, adalah dilandasi misi untuk menghidupkan perajin batik Banyumasan. Dengan adanya kebijakan ini, kehidupan perajin batik tradisional akan tertolong, karena mendapat order. Ini jelas berdampak terhadap pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ada di pedesaan. Jangan sampai order pembuatan batik justru diberikan kepada industri batik besar, apalagi berasal dari luar daerah, karena tidak akan memberi nilai tambah.

Kalau dilihat dari sisi konservasi budaya, kebijakan seragam batik akan menjadi media untuk merestorasi. Dengan demikian, sekaligus melestarikan motif batik daerah. Kalau konservasi tercapai, tindakan berikutnya adalah mengembalikan fungsi batik, selain untuk pakaian sehari-hari. Misalnya, penggunaan batik dengan motif khusus untuk pakaian adat pada upacara tertentu.

Dengan demikian, bukan tak mungkin akan tercipta suatu atmosfer batik di Banyumas. Penciptaan atmosfer batik sangat penting bagi penciptaan suasana yang kondusif bagi daerah wisata. Lebih baik lagi, kalau pegawai berbagai institusi penunjang pariwisata, seperti perhotelan, pengelola obyek wisata, dan awak transportasi-sopir taksi, tukang ojek, pengemudi becak, dan kusir andong–diberikan pakaian batik. Batik dengan demikian menjadi penguat daya tarik wisata.

Cenderamata yang disukai wisatawan biasanya yang memiliki karakter ringan, tidak mudah pecah, mudah dibawa, dan bernilai seni. Batik memiliki persyaratan itu.

Pengembangan pariwisata yang bersumber pada aset budaya, seperti batik dapat berhasil apabila tidak semata-mata memberi keuntungan ekonomis, tetapi juga kultural. Maksudnya, keuntungan yang diperoleh dari industri pariwisata jangan menggusur warisan budaya yang ada. Kedua, warisan budaya itu –misalnya batik–harus makin berkembang seiring dengan pesatnya pariwisata. Ketiga, generasi mendatang harus mendapatkan akses terhadap keragaman warisan sejarah dan budaya itu, sehingga mereka pun memiliki kewajiban moral untuk melestarikannya.

Sebagaimana diketahui, banyak motif batik Indonesia yang dipatenkan orang asing. Ini terjadi lantaran kelengahan kita, sekaligus rendahnya komitmen dan rasa memiliki terhadap batik sebagai warisan budaya. Karena itu, silakan daerah batik lain pun “menyusul” Banyumas.

Sumber : Nur Sahid, Dosen Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta dan Peneliti pada Lembaga Penelitian-Pengembangan Seni dan Pariwisata Indonesia (LP2SPI) Kompas Cetak

Lomba Membatik Se-Provinsi DIY

Monday, December 8th, 2003

Sebanyak 100 orang dari 286 peserta Lomba Mencanting Batik dari lima kabupaten/kota se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (6/12), di Pendopo Parasamya Pemerintah Kabupaten Bantul, mendemonstrasikan kemahiran mereka membatik pada sepotong kain berbentuk selendang. Seratus finalis lomba ini menciptakan sedikitnya 30 desain/motif batik baru, meskipun sebagian desain merupakan turunan atau desain batik yang ada.

Pencapaian kreativitas seperti itu sesuai dengan maksud lomba, yakni untuk melestarikan dan mengembangkan kekayaan seni batik di Yogyakarta. Kabupaten Bantul memiliki paling tidak tiga desa pusat batik, yaitu Desa Wijirejo di Kecamatan Pandak, Wukirsari di Kecamatan Imogiri, dan Desa Murtigading di Kecamatan Sanden.

“Batik ini merupakan karya seni adiluhung peninggalan nenek moyang kita. Untuk melestarikan seni dan budaya adiluhung itu dapat kita lakukan lewat lomba. Seni dan budaya itu bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi kita juga perlu terlibat di dalamnya,” kata Bupati Bantul Idham Samawi ketika membuka lomba tersebut.

Kegiatan itu merupakan usaha Pemkab Bantul bekerja sama dengan Paguyuban Pencinta Batik Sekarjagad dan lima Dewan Kerajinan Nasional Kabupaten/Kota se-DIY.

Lomba dimulai sejak Agustus hingga Oktober 2003, dan sebanyak 286 peserta menyerahkan selendang-sebagai tanda keikutsertaan lomba-hasil batiknya kepada panitia.

Bersamaan dengan suasana meriah di pendopo kabupaten, dilaksanakan pula peragaan busana dari tiga desainer dan perancang batik Yogyakarta, yakni Ardiyanto Pranata, Yoyong Genji, dan Afif Syakur.

Panitia menetapkan pemenang pertama Ny Walbiah dari Banyusumurup, Kecamatan Imogiri, dengan desain campur-campur. Juara kedua Ny Siti Wahadah (Wukirsari, Imogiri) dengan desain wiratan, dan Juara III Ny Narsinah (Girirejo, Imogiri) dengan desain campursari. Panitia juga menetapkan sejumlah juara harapan, favorit setiap daerah, dan favorit umum.

Sumber : (HRD) Kompas Cetak, Bantul

Batik dan Eksotisme Oriental

Sunday, December 7th, 2003

EKSOTISME oriental banyak memberi inspirasi desainer Indonesia. Gaya busana oriental yang seksi, feminin, dan kasual dengan bahan dasar batik menjadi inspirasi terciptanya busana-busana oriental bermodel kebaya. Contohnya adalah kreasi Mariana Sutandi yang diperagakan dalam pagelaran busana koleksi terbaru dari Rumah Butik Parang Kencana, beberapa waktu lalu.

Seluruh kreasi Mariana ditampilkan dalam aneka tema yang dibagi dalam beberapa sesi. Antara lain casual oriental, ethnic oriental, cotton textured, blue and white, tie dye (jumputan), hingga mix oriental, kebaya modifikasi dengan detail payet dan bordir.

Tanpa meninggalkan jejaknya pada budaya asli Indonesia, Mariana mengawinkan busana tradisional Indonesia–kain batik–dengan gaya oriental. Imajinasinya menciptakan kebaya yang elegan, berkesan modern dan kosmopolit tanpa meninggalkan kesan alami dan eksotik yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Mariana memilih tema oriental pada busana rancangannya dengan alasan gaya tersebut paling mudah melekat di hati banyak orang. Kali ini kesan oriental yang dipilih lebih condong pada ‘Negeri Tirai Bambu’, China. Meski demikian, ada juga sentuhan khas Jepang.

Busana rancangannya kebanyakan berwarna lembut. Misalnya warna moka, perpaduan ungu dan cokelat, hijau, hitam, biru, dan sebagainya. Warna pilihannya memang agak bertentangan dengan busana oriental China yang didominasi warna mencolok semisal merah, merah jambu, kuning, dan oranye.

Warna lembut dipilih karena, menurut Mariana, sebagian besar orang Indonesia tidak menyukai warna-warna mencolok. Meski demikian, sebagian hasil rancangannya juga memadukan warna lembut dan mencolok. Pilihan warna terang antara lain jatuh pada kuning dan oranye.

Pada sesi pertama, Maria mengusung tema Casual oriental. Dirangkum demikian karena busana-busana sesi ini khusus dirancang untuk kawula muda. Baju-baju sesi ini didominasi warna ungu dan hijau dengan model kerah ala China. Motif kain batiknya antara lain menggambarkan burung, menggunakan bahan organdi dan sutra. Secara keseluruhan, meski rancangan sesi ini kental dengan nuansa China, tidak kehilangan keindonesiaannya.

Untuk motif rancangan yang bertema Ethnic oriental, warna-warna yang ditonjolkan hampir senada, tapi banyak menampilkan lambaian kain yang pada akhirnya memberi kesan romantis. Sesi busana bertema Tye dye didominasi warna hijau merah, oranye, dan hitam. Kerahnya masih banyak mengambil kekhasan dari China, dengan penggunaan bahan organdi, thai silk, dan sutra. Bahan-bahan itu memberi sentuhan elegan.

Motif rancangan bertema Mix oriental didominasi warna hitam dan hijau dengan belahan dada yang rendah dan bagian bawah baju yang lebar, panjang melambai-lambai. Busana ini divariasikan dengan aksen kupu-kupu di bagian dada, dan motif burung yang juga dipadu dengan detail payet dan bordir. Kesannya menawan dan sensual.

Sumber : (CR-33/M-3) Media Indonesia

100 Karya Lomba Batik Dinilai

Friday, December 5th, 2003

Sedikitnya 100 karya peserta Lomba Batik Se-Yogyakarta, Sabtu besok (6/12) akan dinilai di Pendapa Parasamya Kabupaten Bantul. Acara akan dimeriahkan pentas seni campursari, fashion show pakaian batik, serta pameran kerajinan dari Pemkab Bantul, Sleman, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Pemkot Yogyakarta.

Menurut Ketua Umum Panitia Ny Hj Ida Idham Samawi, 100 finalis dari berbagai profesi tersebut berasal dari Bantul 40 orang, Kota Yogyakarta 17 orang, Kulonprogo 22 orang, Gunungkidul 18 orang, dan Sleman 2 orang. Sebelumnya mereka mengirimkan karyanya untuk dinilai dewan juri yang diketuai Ny Ir Suliantoro Sulaiman.

Sumber : (sgt-42c) Suara Merdeka, Bantul

Batik Eksotik dari Desa Trusmi

Monday, December 1st, 2003

Bagi kolektor batik, nama desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon, Kecamatan Weru, Cirebon tak dapat dipinggirkan. Desa yang terletak sekitar lima kilometer dari pusat kota ini sejak puluhan tahun lalu telah menjadi sentra bisnis batik. Sayang, mereka harus kedodoran mencari para pembatik lokal.
Kisah membatik desa Trusmi berawal dari peranan Ki Gede Trusmi. Salah seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati ini mengajarkan seni membatik sembari menyebarkan Islam. Sampai sekarang, makam Ki Gede masih terawat baik, malahan setiap tahun dilakukan upacara cukup khidmat, upacara Ganti Welit (atap rumput) dan Ganti Sirap setiap empat tahun.
Kelihaian membatik itu ternyata memberi berkah di kemudian hari. Batik Trusmi berhasil menjadi ikon batik dalam koleksi kain nasional. Seolah kain batik dari desa ini tak masuk dalam keluarga batik Cirebon. Batik Cirebon sendiri termasuk golongan Batik Pesisir.
Usaha yang bermula dari skala rumahan lama kelamaan menjadi industri kerajinan yang berorientasi bisnis. Produk batik Trusmi bukan sekadar memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sebagian perajin mengekspor ke Jepang, Amerika, dan Belanda.
Masa keemasan kerajinan batik di daerah ini terjadi pada kurun waktu 1950-1968. Tak heran bila sebuah koperasi di tingkat lokal, Koperasi Batik Budi Tresna yang menaungi perajin batik, sanggup membangun gedung koperasi yang sangat megah. Tak ketinggalan, sejumlah sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP hingga SLTA.
Di masa kini, peran alm. H. Masina tak bisa dilepaskan. Tokoh ini dikenal sebagai pengembang bisnis batik di Trusmi. Itu sebabnya ia pun didaulat untuk memimpin Koperasi Batik Budi Tresna.
Beberapa tahun lalu, alm H. Masina sempat mengeluhkan makin sulitnya mencari orang lokal yang mau berprofesi sebagai pembatik yang terampil.
Penduduk sekitar lebih suka kerja ”kantoran” yang tak butuh ketrampilan tangan. Alhasil para pemilik industri batik mencari tenaga pembatik dari daerah lain, seperti Yogyakarta, Solo, atau Pekalongan.
Bila dibanding dengan batik Yogyakarta, Solo atau Pekalongan, batik Trusmi punya ciri yang berbeda dan khas. Perbedaan yang paling kentara adalah dari segi warna dan motif. Batik Trusmi tampil dengan warna yang cerah dan ceria. Batik Yogyakarta atau Solo didominasi dengan warna gelap, biasanya coklat tua atau hitam.
Secara umum, batik asal Cirebon muncul dengan warna-warna kain yang lebih cerah dan berani. Warna-warna cerah seperti merah, merah muda, biru langit, hijau pupus, dan tentu saja ini bisa kita lihat dalam kain batik Trusmi. Selain itu, gambar motifnya juga lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat.
Begitu pula dengan motif yang menghiasi kain. Motif batik Trusmi berbeda dengan motif batik tradisional gaya Yogyakarta dan Solo. Pengaruh ini diakibatkan dengan letak geografis Cirebon yang ada di kawasan pantai, sehingga motif batik asal kota udang ini disebut motif Pesisiran. Dalam kain batik ini kita bisa jumpai gambar motifnya yang lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat.
Salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif Mega Mendung, yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama. Motif Mega Mendung tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon.

Sumber : (*) Sinar harapan, Cirebon