Warna-Warna Berani Batik Aceh
INDAH dan glamor. Itulah kesan pertama yang tertangkap saat menyaksikan peragaan busana batik Aceh. Provinsi yang dilanda konflik itu ternyata mempunyai potensi yang tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Balutan batik dan selendang di tubuh peragawati yang melenggok di atas catwalk di Jakarta Hilton Convention Centre beberapa waktu lalu sungguh memesona.
Motif batik Aceh jelas berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Rata-rata menampilkan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani, merah, hijau, kuning, merah muda, dan sebagainya. Keberanian memainkan warna itulah yang memberikan kesan glamor.
Marlinda Abdullah, istri Gubernur Aceh yang giat membina para perajin di daerahnya mengatakan, motif dan permainan warna yang berani memang menjadi ciri khas batik Aceh.
Motif yang tertera di atas kain menurut Linda melambangkan falsafah hidup masyarakatnya. Motif pintu misalnya, menunjukkan ukuran tinggi pintu yang rendah. Pada kenyataannya, rumah adat Aceh memang berpintu rendah, namun di dalamnya memiliki ruangan yang lapang.
”Ciri khas itu menandakan bahwa rakyat Aceh memiliki tabiat dan adat-istiadat yang tidak mudah terbuka dengan orang asing, tetapi akan menjadi sangat baik bahkan bagaikan saudara kandung bila sudah saling mengenal. Mereka memiliki watak yang baik dan mudah bersahabat,” papar Linda.
Motif tolak angin menjadi perlambang banyaknya ventilasi udara di setiap rumah adat. Motif itu mengandung arti bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan. Sedangkan motif bunga jeumpa — bunga kantil — diambil karena banyak terdapat di Aceh dan bentuknya sangat indah. Kuatnya pengaruh Islam juga turut mewarnai motif-motif batik. Di antaranya ragam hias berbentuk sulur, melingkar, dan garis.
Terlepas dari motif, penerapan padu padan batik dalam busana perempuan Aceh diwarnai dengan model celana panjang longgar. Hal itu menurut Linda menunjukkan persamaan derajat antara pria dan wanita.
Pergelaran batik Aceh yang ditampilkan dalam pameran batik nasional itu juga menampilkan baju pengantin dari daerah Gayo. Busana pengantin pria dan wanitanya dipenuhi sulaman berbentuk garis lengkung, melingkar, dan sulur.
Khusus untuk busana wanitanya, terdiri dari atasan berlengan panjang dengan kerah tegak yang menutupi leher. Pakaian bagian atas dibalut sarung songket atau sarung tenun dan diikat dengan ikat pinggang. Bagian bawahnya celana panjang longgar, dilengkapi selendang yang disangkutkan di sanggul.
Sebagai pelengkap sekaligus menunjukkan kemakmuran, busana pengantin juga menampilkan berbagai perhiasan emas. Misalnya kalung bertumpuk, bros, tusuk konde, serta gelang tangan dan kaki. Perhiasan emas itu tampak berkilau karena bertatahkan intan. Desain perhiasan khas aceh menampilkan motif-motif hampir senada dengan batik, misalnya bunga jeumpa, daun kelapa, dan sebagainya.
Sumber : (CR-33/M-3) Media Indonesia