Belajar Membatik di Museum Tekstil
Saturday, November 29th, 2003TIGA orang perempuan terlihat asyik menulis di atas sehelai kain yang telah memiliki pola. Sesekali mereka meniup alat tulis yang berbentuk seperti mangkuk berujung lancip. Setelah menyelesaikan tulisan, alat tulis itu lantas dimasukkan ke dalam sebuah bejana berisi malam/lilin berwarna kecokelatan.
Bejana itu diletakkan di atas pemanas/kompor, sehingga lilinnya tetap cair dan berfungsi seperti tinta. Di hadapan mereka, tiga orang laki-laki muda juga sedang asyik melakukan hal serupa. Beda dengan kelompok gadis, pemuda itu tampak lebih ceria dan sesekali diiringi dengan canda, meskipun tangan-tangan mereka tetap memegang alat tulis dan menuliskan tinta itu di atas kain putih di hadapannya.
“Tadi pagi orang yang belajar di sini banyak Mas, sekarang sudah pada pulang,” kata salah seorang pemuda, yang diketahui bernama Nasir.
Selama bulan Ramadan lalu, Museum Tekstil sedang melakukan pendidikan dan latihan (diklat) menulis batik bagi masyarakat umum. Diklat intensif ini sudah dimulai sejak 4 November dan berakhir 20 November 2003. Paket pelajaran membatik yang diajarkan adalah membuat sejadah mungil, membuat serat jumputan, mencipta motif dengan payet untuk baju Lebaran.
“Tahun lalu kita juga menyelenggarakan acara seperti ini,” kata Mis Ari, Staf Edukasi dan Pameran, Museum Tekstil, Jakarta.
Tujuannya selain mengisi waktu luang selama menunggu berbuka dengan kegiatan yang berguna, juga dalam upaya melestarikan budaya bangsa melalui pengenalan terhadap seni batik. Tujuan lainnya tentu terkait dengan pendidikan kebudayaan nasional, yakni upaya menarik masyarakat untuk mengunjungi museum.
Kegiatan seperti ini tentu saja tidak hanya menjelang Lebaran atau saat Ramadan, tetapi juga event-event lainnya seperti perayaan Hari Kartini, Sumpah Pemuda, libur sekolah, atau HUT Jakarta. Kegiatan serupa juga digelar bersamaan dengan pameran tekstil Asia Pasifik belum lama ini, dan pameran tekstil Meksiko yang rencananya akan dilakukan pada Desember mendatang.
Menarik masyarakat terhadap kebudayaan Indonesia ini, menurut Mis Ari, tentu saja tidak mudah. Kegiatan diklat ini, katanya, mengalami pasang surut. Namun, sejak diselenggarakan secara serius mulai 1999, jumlah peserta mulai menggembirakan.
Bila awalnya hanya 50-an orang dalam setahun, kini jumlahnya telah mencapai 350 orang. Bukan itu saja, acara yang sebelumnya didominasi oleh orang asing itu, kini orang lokal pun telah mulai menggemari dan tertarik pada kegiatan tersebut.
Motivasi orang lokal ini pun bermacam-macam, dari hanya sekadar mengisi waktu luang, untuk menambah keterampilan, ataupun dalam rangka mendalami pengetahuan untuk bekal berbisnis di bidang tekstil untuk mata pencaharian.
Sedangkan bagi museum sendiri, kondisi seperti ini tentu saja amat menyenangkan. Sebab, sebelum melakukan kegiatan diklat membatik, mereka juga diharuskan melihat terlebih dahulu koleksi tekstil yang ada di museum serta perkembangan tekstil di Indonesia serta proses budaya yang terkait dengannya. “Saat ini koleksi kita sedah lebih dari 1.500,” kata Mis Ari.
Koleksinya bukan hanya dari daerah-daerah yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia, melainkan juga dari negara lain seperti Malaysia, Jepang, Mesir, India, dan Sri Lanka. Selain itu, Museum Tekstil mengoleksi alat-alat tradisional untuk membuat kain ataupun pakaian dari kulit kayu. “Kita memiliki alat tenun dan alat-alat yang dipakai oleh suku bangsa di pedalaman Indonesia untuk mengolah kulit kayu menjadi sebuah pakaian,” kata Mis Ari seraya menyebutkan koleksi kain yang paling tua adalah kain umbul-umbul dari Cirebon yang dibuat tahun 1778.
Koleksi kain terdiri atas kain tenun dengan kain songket tradisional. “Tetapi sebagain besar berupa kain tenun batik,” kata dia.
Namun, ada juga kain modern yang pola dan desainnya terbaru. Kini upaya untuk mengenalkan dan melestarikan budaya lewat tekstil ini terus diupayakan, sejak beberapa waktu terakhir ini. Museum Tekstil juga mengajarkan tentang pewarnaan tradisional yang bersumber pada bahan alami, seperti warna kuning dari batang kayu nangka, warna merah dari kulit akar mengkudu, dan masih banyak lagi.
“Kita menanam 33 jenis tumbuhan yang sering dipakai untuk pewarnaan alami itu, namun tanaman itu hanya untuk display, sedangkan bahan aslinya kita beli dari Yogyakarta,” kata dia.
Namun kepada para pengunjung dan peserta diklat, pihak museum menunjukkan cara mengolah bahan hingga siap dijadikan bahan pewarna.
Sumber : (Heru Prihmantoro/B-2) Media Indonesia