Archive for November, 2003

Belajar Membatik di Museum Tekstil

Saturday, November 29th, 2003

TIGA orang perempuan terlihat asyik menulis di atas sehelai kain yang telah memiliki pola. Sesekali mereka meniup alat tulis yang berbentuk seperti mangkuk berujung lancip. Setelah menyelesaikan tulisan, alat tulis itu lantas dimasukkan ke dalam sebuah bejana berisi malam/lilin berwarna kecokelatan.

Bejana itu diletakkan di atas pemanas/kompor, sehingga lilinnya tetap cair dan berfungsi seperti tinta. Di hadapan mereka, tiga orang laki-laki muda juga sedang asyik melakukan hal serupa. Beda dengan kelompok gadis, pemuda itu tampak lebih ceria dan sesekali diiringi dengan canda, meskipun tangan-tangan mereka tetap memegang alat tulis dan menuliskan tinta itu di atas kain putih di hadapannya.

“Tadi pagi orang yang belajar di sini banyak Mas, sekarang sudah pada pulang,” kata salah seorang pemuda, yang diketahui bernama Nasir.

Selama bulan Ramadan lalu, Museum Tekstil sedang melakukan pendidikan dan latihan (diklat) menulis batik bagi masyarakat umum. Diklat intensif ini sudah dimulai sejak 4 November dan berakhir 20 November 2003. Paket pelajaran membatik yang diajarkan adalah membuat sejadah mungil, membuat serat jumputan, mencipta motif dengan payet untuk baju Lebaran.

“Tahun lalu kita juga menyelenggarakan acara seperti ini,” kata Mis Ari, Staf Edukasi dan Pameran, Museum Tekstil, Jakarta.

Tujuannya selain mengisi waktu luang selama menunggu berbuka dengan kegiatan yang berguna, juga dalam upaya melestarikan budaya bangsa melalui pengenalan terhadap seni batik. Tujuan lainnya tentu terkait dengan pendidikan kebudayaan nasional, yakni upaya menarik masyarakat untuk mengunjungi museum.

Kegiatan seperti ini tentu saja tidak hanya menjelang Lebaran atau saat Ramadan, tetapi juga event-event lainnya seperti perayaan Hari Kartini, Sumpah Pemuda, libur sekolah, atau HUT Jakarta. Kegiatan serupa juga digelar bersamaan dengan pameran tekstil Asia Pasifik belum lama ini, dan pameran tekstil Meksiko yang rencananya akan dilakukan pada Desember mendatang.

Menarik masyarakat terhadap kebudayaan Indonesia ini, menurut Mis Ari, tentu saja tidak mudah. Kegiatan diklat ini, katanya, mengalami pasang surut. Namun, sejak diselenggarakan secara serius mulai 1999, jumlah peserta mulai menggembirakan.

Bila awalnya hanya 50-an orang dalam setahun, kini jumlahnya telah mencapai 350 orang. Bukan itu saja, acara yang sebelumnya didominasi oleh orang asing itu, kini orang lokal pun telah mulai menggemari dan tertarik pada kegiatan tersebut.

Motivasi orang lokal ini pun bermacam-macam, dari hanya sekadar mengisi waktu luang, untuk menambah keterampilan, ataupun dalam rangka mendalami pengetahuan untuk bekal berbisnis di bidang tekstil untuk mata pencaharian.

Sedangkan bagi museum sendiri, kondisi seperti ini tentu saja amat menyenangkan. Sebab, sebelum melakukan kegiatan diklat membatik, mereka juga diharuskan melihat terlebih dahulu koleksi tekstil yang ada di museum serta perkembangan tekstil di Indonesia serta proses budaya yang terkait dengannya. “Saat ini koleksi kita sedah lebih dari 1.500,” kata Mis Ari.

Koleksinya bukan hanya dari daerah-daerah yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia, melainkan juga dari negara lain seperti Malaysia, Jepang, Mesir, India, dan Sri Lanka. Selain itu, Museum Tekstil mengoleksi alat-alat tradisional untuk membuat kain ataupun pakaian dari kulit kayu. “Kita memiliki alat tenun dan alat-alat yang dipakai oleh suku bangsa di pedalaman Indonesia untuk mengolah kulit kayu menjadi sebuah pakaian,” kata Mis Ari seraya menyebutkan koleksi kain yang paling tua adalah kain umbul-umbul dari Cirebon yang dibuat tahun 1778.

Koleksi kain terdiri atas kain tenun dengan kain songket tradisional. “Tetapi sebagain besar berupa kain tenun batik,” kata dia.

Namun, ada juga kain modern yang pola dan desainnya terbaru. Kini upaya untuk mengenalkan dan melestarikan budaya lewat tekstil ini terus diupayakan, sejak beberapa waktu terakhir ini. Museum Tekstil juga mengajarkan tentang pewarnaan tradisional yang bersumber pada bahan alami, seperti warna kuning dari batang kayu nangka, warna merah dari kulit akar mengkudu, dan masih banyak lagi.

“Kita menanam 33 jenis tumbuhan yang sering dipakai untuk pewarnaan alami itu, namun tanaman itu hanya untuk display, sedangkan bahan aslinya kita beli dari Yogyakarta,” kata dia.

Namun kepada para pengunjung dan peserta diklat, pihak museum menunjukkan cara mengolah bahan hingga siap dijadikan bahan pewarna.

Sumber : (Heru Prihmantoro/B-2) Media Indonesia

Batik yang Terus Beradaptasi

Sunday, November 23rd, 2003

KAIN batik yang diidentikkan sebagai kain Nusantara kini berkembang menjadi industri modern. Konsekuensi dari masuknya batik ke dalam industri modern, batik dituntut mengikuti perkembangan zaman, sesuai perkembangan mode dan dengan tuntutan pasar. Perkembangan batik yang mengikuti perkembangan zaman dari tahun ke tahun akhirnya menunjukkan dinamika beragam.

Contohnya adalah seperti yang dilakukan perancang busana Carmanita, Mariana dari Parang Kencana, Ghea S Panggabean, dan rumah batik Danar Hadi dalam rangka memperingati ulang tahun kesembilan Yayasan Batik Indonesia yang bertema Gelar Batik Nusantara akhir bulan Oktober lalu di Jakarta.

Danar Hadi mengawali pergelaran dengan koleksi blus sutra berlengan tiga perempat bergaya cheongsam. Di pinggir blus diberi motif batik. Warnanya terang seperti oranye dan kuning, membuat busana itu cocok untuk orang muda. Koleksi batik Danar Hadi yang dipadukan dengan kebaya dan selendang dengan warna senada ini bercorak geometris dengan gambar tanaman atau tumbuhan dan naga berwarna gelap.

Nuansa Asia Timur juga digunakan Ghea S Panggabean dalam kebaya transparan berhias bunga-bunga warna lembut yang memiliki lengan yang melebar di ujungnya. Ghea juga membuat blus yang di bagian luarnya diberi semacam ikat pinggang lebar yang mengingatkan pada obi yang dipadankan dengan celana. Kain batik yang berwarna cerah seperti hijau muda dan biru muda juga digunakan Ghea sebagai sarung yang dilipat separuh dan dililitkan ke pinggang.

Batik Oriental Treasure. Begitu judul tema yang diambil Carmanita untuk rancangannya. Kain sutra dengan motif bordir yang digunakannya memberi kesan Asia Timur. Apalagi kerah blusnya mengambil gaya baju cheongsam. Ragam hias batik ditempatkan sepotong-sepotong di bagian kerah, lengan, pinggiran kain, dan bagian punggung.

Mariana dari Parang Kencana yang mengambil tema Integrated Culture memadukan gaya Cina, Jepang, dan Indonesia dalam rancangan berbahan sutra, sifon, dan organdi. Celana dan blus panjang diberi kain transparan di bagian pinggang hingga tampak seperti rok mini. Blus tak berlengan seperti rompi panjang tipis tanpa kancing juga memberi kesan feminin.

Sumber : (LUK) KCM, Jakarta

Kain Nusantara dan Kekinian

Sunday, November 23rd, 2003

SALAH satu tantangan dalam membuat kain-kain yang berasal dari tradisi tenun Indonesia tidak sekadar menjadi kain untuk upacara adat atau hanya dikenakan untuk ritual kebudayaan adalah membuat kain-kain tersebut cocok dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Apalagi ketika kain-kain tersebut ingin diposisikan sebagai produk mode, unsur kekinian semakin menjadi penting.

KAIN-kain Nusantara sendiri bukan sesuatu yang bersifat statis. Apa pun, kain tetap merupakan produk budaya masyarakatnya. Karena itu, ketika industri tekstil juga menyentuh pulau-pulau di bagian timur Indonesia, pewarna tekstil hasil industri menjadi pengganti pewarna alam dari nila atau mengkudu, sementara benang pintalan pabrik menggantikan benang kapas pintalan sendiri.

Begitu juga ketika pengaruh berbagai kebudayaan asing masuk ke Indonesia, batik dan berbagai kain tenun Nusantara pun mengadopsi ragam hias yang dibawa kebudayaan tersebut, mulai dari motif burung hong, buket bunga, kembang anyelir, hingga singa yang berdiri di atas dua kaki meskipun singa bukan hewan asli Indonesia.

Dalam perkembangannya, upaya membuat kain Nusantara bisa memenuhi kebutuhan masa kini mengambil beragam bentuk. Bukan hanya ragam hias yang disesuaikan kebutuhan saat ini atau benang kapas diganti sutra untuk mendapatkan kain yang lebih ringan dan lebih mudah disesuaikan untuk berbagai keperluan, melainkan juga cara kain tersebut digunakan, terutama ketika kain tersebut ditujukan untuk busana.

MEMADUKAN kain tradisi ke dalam busana masa kini telah dilakukan dari waktu ke waktu dengan tantangan yang tidak berubah, yaitu bagaimana menerjemahkan produk kriya yang berangkat dari tradisi itu menjadi sesuatu yang bisa memenuhi tuntutan kekinian mode.

Ketika perkumpulan pencinta kain Himpunan Wastraprema mengadakan gelar kain bertajuk Permata Cita di Musem Nasional pada awal bulan Oktober lalu, selain pameran kain Ibu Negara dan kain koleksi sejumlah individu, juga dipergelarkan upaya sejumlah perancang nasional membawa kain-kain Nusantara ke dalam konteks mode untuk konsumsi masa kini.

Iwan Tirta adalah seorang seniman batik nasional dan dengan kecintaannya pada ragam hias batik yang dibuat dalam ukuran besar, Iwan selalu menampilkan batik dalam sebuah bingkai gaun yang anggun, klasik, dan mewah. Penggunaan prada pada batik, yang menjadikan Iwan sebagai pelopor pembaruan batik, sudah memberi kesan mewah. Kali ini, selain menampilkan gaya busana gaun sarung pedang, antara lain pada gaun panjang bermotif bunga anyelir yang merupakan modifikasi motif batik jawa hokokai, Iwan juga menawarkan rok panjang bertumpuk yang dipadukan dengan blus bergaya jaket dalam motif batik.

Samuel Wattimena mengolah kain-kain tenun dari bagian timur Indonesia ke dalam gaun bergaya kemben dan busana laki-laki, sementara Denny Wirawan memakai kain-kain Sumba sebagai aksen pada baju-baju bergaya feminin. Rok pendek berbahan tenun dibuat mengembang dengan menggunakan tulle di bagian dalam. Ikat pinggang dari pita membuat gaun ini menjadi lebih feminin. Denny juga menggunakan bahan denim dengan kain tenun sebagai penghias bagian tepi gaun.

Ramli menawarkan padu padan kain panjang batik pesisiran dengan kebaya, sedangkan Poppy Dharsono dengan tema Return to Solo mengambil inspirasi dari baju beskap yang dimodifikasi sebagai blus perempuan dan dipadankan dengan rok panjang batik. Tema ini sebetulnya pernah digarap Iwan Tirta sekitar lima tahun lalu, tetapi beskap tampaknya masih terus menjadi magnet bagi perancang untuk mengolah lebih lanjut, seperti juga ketika Yves Saint Laurent menggarap jas bergaya tuxedo sebagai gaun perempuan.

Harry Darsono mengeluarkan koleksinya yang terinspirasi motif pesisir Jawa Timur dan motif-motif bergaya Cina. Kain tenun Bali dipadukan dengan atasan berbahan renda serta jaket pendek yang memberi kesan mewah yang menjadi ciri rancangan Harry. Perancang lain yang berpartisipasi adalah Ghea Panggabean, Carmanita, Oscar Lawalata, dan Thomas Sigar.

Melihat berbagai peluang kain Nusantara untuk diartikulasikan ke dalam berbagai baju yang mengikuti perkembangan mode, rasanya tidak berlebihan untuk berharap bahwa kain yang tumbuh dan berkembang bersama tradisi masyarakat Indonesia akan bertahan untuk waktu yang panjang pada masa depan. Persoalan yang mungkin akan muncul selanjutnya adalah perebutan antara aspek komersial serta nilai-nilai kesakralan yang selama ini melekat pada sehelai kain dan membuat kain tradisi memiliki posisi yang khusus.

Sumber : (NMP) KCM, Jakarta

Warna-Warna Berani Batik Aceh

Sunday, November 23rd, 2003

INDAH dan glamor. Itulah kesan pertama yang tertangkap saat menyaksikan peragaan busana batik Aceh. Provinsi yang dilanda konflik itu ternyata mempunyai potensi yang tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Balutan batik dan selendang di tubuh peragawati yang melenggok di atas catwalk di Jakarta Hilton Convention Centre beberapa waktu lalu sungguh memesona.

Motif batik Aceh jelas berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Rata-rata menampilkan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani, merah, hijau, kuning, merah muda, dan sebagainya. Keberanian memainkan warna itulah yang memberikan kesan glamor.

Marlinda Abdullah, istri Gubernur Aceh yang giat membina para perajin di daerahnya mengatakan, motif dan permainan warna yang berani memang menjadi ciri khas batik Aceh.

Motif yang tertera di atas kain menurut Linda melambangkan falsafah hidup masyarakatnya. Motif pintu misalnya, menunjukkan ukuran tinggi pintu yang rendah. Pada kenyataannya, rumah adat Aceh memang berpintu rendah, namun di dalamnya memiliki ruangan yang lapang.

”Ciri khas itu menandakan bahwa rakyat Aceh memiliki tabiat dan adat-istiadat yang tidak mudah terbuka dengan orang asing, tetapi akan menjadi sangat baik bahkan bagaikan saudara kandung bila sudah saling mengenal. Mereka memiliki watak yang baik dan mudah bersahabat,” papar Linda.

Motif tolak angin menjadi perlambang banyaknya ventilasi udara di setiap rumah adat. Motif itu mengandung arti bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan. Sedangkan motif bunga jeumpa — bunga kantil — diambil karena banyak terdapat di Aceh dan bentuknya sangat indah. Kuatnya pengaruh Islam juga turut mewarnai motif-motif batik. Di antaranya ragam hias berbentuk sulur, melingkar, dan garis.

Terlepas dari motif, penerapan padu padan batik dalam busana perempuan Aceh diwarnai dengan model celana panjang longgar. Hal itu menurut Linda menunjukkan persamaan derajat antara pria dan wanita.

Pergelaran batik Aceh yang ditampilkan dalam pameran batik nasional itu juga menampilkan baju pengantin dari daerah Gayo. Busana pengantin pria dan wanitanya dipenuhi sulaman berbentuk garis lengkung, melingkar, dan sulur.

Khusus untuk busana wanitanya, terdiri dari atasan berlengan panjang dengan kerah tegak yang menutupi leher. Pakaian bagian atas dibalut sarung songket atau sarung tenun dan diikat dengan ikat pinggang. Bagian bawahnya celana panjang longgar, dilengkapi selendang yang disangkutkan di sanggul.

Sebagai pelengkap sekaligus menunjukkan kemakmuran, busana pengantin juga menampilkan berbagai perhiasan emas. Misalnya kalung bertumpuk, bros, tusuk konde, serta gelang tangan dan kaki. Perhiasan emas itu tampak berkilau karena bertatahkan intan. Desain perhiasan khas aceh menampilkan motif-motif hampir senada dengan batik, misalnya bunga jeumpa, daun kelapa, dan sebagainya.

Sumber : (CR-33/M-3) Media Indonesia

Batik Trusmi, Busana Lebaran Alternatif

Monday, November 17th, 2003

Kain batik sudah menjadi pakaian nasional masyarakat Indonesia. Bahkan, baju lengan panjang menjadi pakaian resmi pria yang disejajarkan dengan setelan jas di acara-acara formal. Kain batik juga sudah digunakan para perancang mode kelas internasional untuk busana kaum perempuan.

Pada puncak hari raya Idul Fitri, banyak orang memilih batik sebagai busana resmi untuk mengunjungi sanak saudaranya, bersilaturahmi dan saling memaafkan. Pendeknya, batik sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dan merupakan busana kebanggaan nasional.

Namun, selama ini, begitu mendengar kata batik, pikiran banyak orang akan langsung membayangkan Yogyakarta atau Solo di Jawa Tengah yang berwarna dan bermotif khas, yaitu berwarna gelap, biasanya coklat tua atau hitam. Masih belum banyak orang yang tahu jika ada motif batik khas lainnya yang berwarna lebih cerah dan ceria.

Salah satunya adalah motif batik khas Cirebonan atau lebih dikenal sebagai motif batik Trusmi. Nama Trusmi diambil dari nama tempat sentra industri rumahan batik tradisional di Desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Menurut Katura (51), seorang seniman batik senior di Trusmi Kulon, motif batik Cirebonan berbeda dengan motif batik tradisional gaya Yogyakarta dan Solo. Sesuai letak geografis Cirebon yang ada di kawasan pantai, motif batik Cirebon disebut motif Pesisiran.

Katura menjelaskan, letak perbedaan utamanya adalah pada warna-warni kain batik Cirebon yang lebih cerah dan berani dibandingkan dengan gaya Yogyakarta atau Solo. Warna-warna cerah seperti merah, merah muda, biru langit, hijau pupus, dapat dijumpai dalam kain batik Trusmi. Selain itu, gambar motifnya juga lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat.

Salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif Mega Mendung, yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama. Menurut Katura, motif Mega Mendung tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon.

Katura mengakui, selama ini motif batik Cirebonan memang kurang dikenal masyarakat dibandingkan dengan batik Yogyakarta dan Solo. Bahkan, lanjut dia, masyarakat Cirebon sendiri jarang memakai baju batik bermotif Cirebonan pada acara-acara resmi. “Soalnya lebih banyak baju batik di Cirebon didatangkan dari tempat lain,” ujarnya.

Akan tetapi, beberapa tahun terakhir, batik Trusmi mulai dilirik sebagai bahan busana alternatif untuk acara-acara resmi, termasuk untuk bersilaturahmi pada saat Lebaran. Menurut Katura, mendekati Lebaran, seperti sekarang ini, pesanan kain batik Cirebonan di Trusmi meningkat sekitar 20 persen dibanding pada hari-hari biasa.

Hal itu juga diakui H Komarudin Kudiya, pengusaha muda batik Trusmi yang sudah buka cabang hingga ke Kota Bandung. Menurut Komarudin, menjelang Lebaran, pesanan di Rumah Batik Komar miliknya meningkat 150 persen dibanding pada bulan-bulan biasanya.

Bahkan, untuk mengejar tenggat waktu pesanan, proses penyelesaian kain batik di Rumah Batik Komar dipersingkat, dari proses biasanya 2 minggu menjadi hanya 1 minggu. Kiat yang ditempuh Komar adalah dengan mengubah desain motif batik secara keseluruhan sehingga seluruh proses pembuatannya dapat diselesaikan lebih cepat. “Proses pewarnaannya juga menjadi lebih sederhana tanpa mengurangi kualitas akhir,” ujar pemegang gelar master seni dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Kain batik karya Komar yang berbahan dasar kain sutra tenun asli tersebut kebanyakan dipasarkan di Jakarta dan Bandung. Mendekati masa-masa Lebaran, pesanan kain batik di rumah batiknya mencapai 2.000 potong batik cap sebulan, atau naik dua kali lipat dibandingkan dengan pesanan pada bulan-bulan normal yang hanya 1.000 potong per bulan.

Sementara untuk kain batik tulis yang proses pengerjaannya lebih rumit, sejak 3 bulan sebelum Lebaran, pesanan sudah melonjak menjadi 200 potong per bulan dari pesanan normal sebesar 100 potong per bulan. Komar yang melayani segmen pembeli menengah ke atas itu menjual kain batiknya dalam bentuk bahan untuk sarung dengan ukuran per potong 2,4 meter x 1,1 meter dan kain bahan untuk kemeja dengan ukuran 2,7 m x 1,1 m.

Harga jual batik Komar bervariasi, mulai dari Rp 750.000 hingga Rp 3 juta per potong, tergantung kualitasnya. Sebagian pemesannya adalah para pejabat di Jakarta. Dengan jumlah pesanan sebesar itu, wajar jika menjelang Lebaran omzet Rumah Batik Komar mencapai Rp 400 juta per bulan.

Sumber : (Dahono Fitrianto) KCM, Jakarta

Budpar Susun Perlindungan HaKI Teknologi Tradisional

Sunday, November 16th, 2003

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan menyusun kebijakan perlindungan kepemilikan Hak kekayaan Intelektual (HaKI) pengetahuan teknologi tradisional yang masih banyak dimiliki oleh suku bangsa di Indonesia.

“Di era globalisasi kita terus berupaya melestarikan nilai budaya antara lain kekayaan intelektual pengetahuan teknologi tradisional. Namun di sisi lain kita menghadapi tantangan berupa pelanggaran terhadap kepemilikan kekayaan intelektual oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Asisten Deputi Bidang Seni dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Sri Hastanto, di Jakarta kemarin.

Ia mengatakan, perlindungan yang diberikan melalui peraturan
perundang-undangan di bidang HaKI yang saat ini berlaku dirasakan
sangat bersifat individual. Belum dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepemilikan kekayaan intelektual pengetahuan teknologi tradisional yang umumnya dimiliki oleh kelompok dalam masyarakat.

Pada tahun 2002, sebagai pilot project kegiatan tersebut dilakukan inventarisasi karya pengetahuan tradisional yang kemudian menghasilkan dua naskah bahan penyusunan kebijakan perlindungan HaKI.

Pertama, pendiskripsian teknologi tradisional memanjangkan tanduk kerbau untuk pembuatan gapit wayang kulit di Desa Kuwel, Kabupaten Klaten Jateng. “Teknologi tradisional memanjangkan tanduk kerbau untuk pembuatan gapit wayang mewakili jenis teknologi tradisional satu-satunya di Indonesia,” ungkapnya.

Kedua, lanjut Sri Hastanto, pendiskripsian teknologi tradisional penyambungan bambu untuk pembuatan mebel bambu di Desa Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat mewakili jenis teknologi tradisional yang banyak berkembang di berbagai daerah di Indonesia.

“Pada tahun 2003 juga dilakukan inventarisasi dan dokumentasi data
pengetahuan teknologi tradisional proses pembuatan pamor sebilah
keris di Desa Bibis Kulon, Gilingan Surakarta yang menjadi salah satu naskah bahan kebijakan perlindungan HaKI,” paparnya.

Di samping itu, untuk memperkuat komitmen yang ada, pada tahun 2003 diterbitkan surat edaran Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang intinya meminta kepada daerah untuk melakukan inventarisasi teknologi tradisional yang ada di masing-masing daerah.

“Data yang diperoleh melalui deskripsi-deskripsi tersebut nantinya secara bertahap akan dimasukkan ke dalam data base untuk memudahkan kepemilikan suatu karya dan produk pengetahuan teknologi tradisional masuk dalam perlindungan HaKI,” jelasnya.

Menurutnya, beberapa waktu lalu sebuah perusahaan mode terkenal Prancis pernah berupaya menjadikan salah satu motif batik tradisional dari Jawa Tengah sebagai salah satu desain untuk produk-produknya.

“Meski tidak sama persis namun motif yang akan digunakan oleh perusahaan tersebut sangat mirip dengan motif batik jenis ’parang’. Karena kita mampu membuktikan hak kepemilikan atas motif batik itu, maka perusahaan itu batal menjadikan sebagai desain produknya,” tambahnya.

Sumber : (Ant/ima) KCM, Jakarta

Batik untuk Idul Fitri

Sunday, November 16th, 2003

BATIK kian dikenal masyarakat Indonesia dan luar negeri. Busana motif batik ini antara lain dipopulerkan oleh perancang busana Iwan Tirta, Carmanita, dan Asmoro Damais. Penggunaannya bisa dalam beragam acara, mulai formal, kasual, bahkan supersantai sekalipun.

Berkaitan dengan perayaan Idul Fitri, Rumah Mode Tres Belle milik Chama Sjahrir beberapa waktu lalu menampilkan koleksi batik kontemporer yang dikemas dalam tajuk Kupu-Kupu Batik II. Berbagai bentuk kebaya klasik, modern, baju kurung, hingga selendang dan kain yang kaya corak dan warna dapat dijadikan pilihan untuk merayakan Lebaran.

Kesakralan dan keceriaan Lebaran diproyeksikan dalam pilihan warna-warna cerah. Di antaranya biru, merah muda, ungu, hijau telur asin, dan pastel. Pada kesempatan itu, Rumah Mode Tress Belle yang berada di wilayah Tebet, Jakarta, menampilkan koleksi busana-busana formal, kerja, cocktail hingga untuk kegiatan sehari-hari. Rancangannya difokuskan untuk kaum ibu, terutama segmen pasar Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Keseluruhan peragaan itu menggunakan kain yang terbuat dari bahan sutra, sutra super, dan thai silk. Kelembutan kain-kain itu memberikan sentuhan bernuansa mewah. Warna-warnanya yang memesona dituangkan dalam aneka motif. Tress Belle yang didirikan pada 1987 oleh Chama Sjahrir itu menawarkan pilihan cukup beragam dengan potongan rapi yang jatuhnya berkesan lembut dan mewah saat membungkus tubuh.

Berbicara soal desain, apa yang ditawarkan Tress Belle tergolong konservatif. Untuk motif ada yang menggunakan motid tradisional, ada pula yang memadukan antara tradisional dan modern.

Peragaan yang cukup ramai pengunjung itu juga menampilkan busana sehari-hari yang bersifat kasual. Umumnya berupa setelan, bahkan ada yang merupakan adaptasi kebaya modern berlengan pendek, setelannya adalah celana panjang.

Sumber : (Tkh/M-3) Media Indonesia