Maimuna: Ingin Memajukan Pembatik Tanjungbumi
SEMULA bisnis Maimuna (30) adalah membuat tas tangan di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. Setiap hari toko tasnya dipenuhi pembeli, baik dari Surabaya dan sekitarnya maupun dari kota-kota lain. Namun, sampai pada suatu “titik”, perempuan yang sering disapa Mai ini, merasa dirinya harus meneruskan usaha batik milik orangtuanya.
USAHA batik orangtua saya tidak maju- maju. Padahal, batiknya bagus. Saya sedih karena selama ini tidak pernah tertarik mengurus usaha batik keluarga itu,” kata Mai yang kemudian menyerahkan usaha tas dan dompet itu kepada adiknya.
Selain itu, pada saat bersamaan Mai juga diangkat sebagai guru dan harus mengajar di sebuah SMP di Tanjungbumi, Bangkalan, Madura. Bagi Mai, kepindahannya dari Sidoarjo ke Bangkalan juga merupakan babak baru dalam hidupnya karena dia tidak punya pengetahuan soal batik sama sekali.
“Dulu, jika ibu saya menyuruh saya belajar membatik, saya selalu pergi. Saya pun memilih kuliah di IKIP Surabaya, biar tidak perlu belajar membatik,” kenang Mai yang pindah ke Tanjungbumi sekitar lima tahun yang lalu.
Begitu sampai di kota kecamatan yang letaknya sekitar 40 kilometer dari Bangkalan, Mai melihat banyak pembatik yang sebenarnya mempunyai potensi besar, tetapi tidak bisa berkembang karena tak tahu cara memasarkannya.
Para pembatik itu hanya tahu memasarkan produknya ke pasar sekitarnya atau ke Surabaya. Itu pun tidak dipasarkan sendiri, tetapi melalui pedagang yang mengambil dari para pembatik. Mereka menjual kepada pedagang dengan harga murah, tetapi pedagang menjual lagi kepada konsumen dengan harga yang sudah berlipat-lipat.
“Pembatik di sana umumnya perempuan-perempuan yang tidak banyak mengenal dunia luar. Melihat kondisi itu, saya bertekad untuk memajukan batik dari Tanjungbumi,” kata Mai.
TANJUNGBUMI terletak di pantai utara Madura, dekat perbatasan Bangkalan-Sampang. Tanjungbumi memang menjadi sentra batik dari Madura. Berkembangnya batik di Tanjungbumi, menurut Mai, karena perempuan ingin mengisi waktu luang sambil menunggu suami pulang melaut.
“Biasanya, para suami melaut hingga berbulan-bulan. Sementara istri-istri ditinggal di rumah tanpa mempunyai kegiatan. Akhirnya, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mereka membatik. Nenek buyut saya termasuk perempuan yang membatik karena menunggu suami pulang melaut,” Mai menjelaskan.
Awalnya, sebagian besar batik-batik buatan perempuan di Tanjungbumi itu mereka gunakan sendiri, hanya sedikit yang dijual. Ketika batik tersebut dijual ke pasar, dan tampak hasilnya, para pembatik itu baru menyadari manfaat ekonomi dari membatik.
“Mereka jadi bersemangat membuat batik dan menjualnya ke pasar. Permintaan bertambah banyak dan produksi batik berubah menjadi massal. Untuk mengejar jumlah produksi dan mendapatkan warna yang bervariasi, mereka lalu memakai pewarna buatan pabrik. Akibatnya, produksi yang sekarang berbeda dengan produksi zaman nenek buyut saya. Keuntungannya, batik-batik buatan nenek saya menjadi batik kuno yang antik. Harganya pun meningkat berlipat-lipat,” ujar Mai.
Dia lalu melihat potensi batik kuno tersebut. Apalagi ketika ke Jakarta, ia melihat banyak pecinta batik yang mau mengeluarkan uang banyak untuk membeli batik kuno. “Langsung saja saya kumpulkan batik-batik koleksi keluarga saya. Mereka tidak keberatan batiknya diambil karena bagi mereka, itu adalah barang lama,” kata Mai yang kemudian memproduksi ulang kain-kain kuno itu.
Apalagi, menurut Mai, pasar batik, terutama batik madura saat ini amat terbuka, sebab ada kecenderungan semakin banyak orang yang gemar memakai pakaian tradisional. Mai lalu menceritakan pengalamannya dengan seorang pembeli kain madura yang berasal dari Madura pada Pameran Kain Koleksi Ibu Negara “Permata Cita” di Museum Nasional, Jakarta, Minggu (5/10).
“Saya orang Madura, tetapi tidak punya kain madura. Kebetulan saya sering harus menghadiri acara resmi sehingga butuh banyak kain,” kata Mai menirukan ucapan pembeli tersebut.
TERJUN ke bisnis yang belum pernah ditekuni, walaupun bidang itu sudah menjadi bisnis keluarga, tidaklah mudah. Mai harus belajar dari awal, ikut membatik, ikut menangani pasar, dan mengerti masalah pegawai.
“Pegawai saya ada 40 orang, di luar keluarga saya. Semua mempunyai masalah pribadi yang kadang-kadang mengganggu proses produksi,” ujar Mai yang menganggap persoalan pekerja adalah hal yang paling menyulitkan.
Salah satu contohnya, pada saat datangnya musim tanam tembakau di Madura. “Kalau musim tanam tembakau tiba, tidak ada seorang pun dari mereka yang mau membatik. Mereka tidak peduli kalau pada saat itu saya sedang banyak pesanan.” Selain dikenal sebagai penghasil garam, Madura juga banyak menghasilkan tembakau.
Pernah suatu ketika, Mai nyaris tidak bisa memenuhi pesanan batik sebanyak 2.000 lembar dari Australia karena masalah tembakau ini. Akhirnya, Mai mengerahkan seluruh anggota keluarganya untuk membatik dan memundurkan jadwal penyerahan barang. Batik pesanan dari Australia itu merupakan batik kasar untuk keperluan pemakaian sehari-hari.
Para pekerja Mai juga menolak untuk membatik pada sore hari. Katanya, takut arang- arang. Arang-arang adalah makhluk halus yang dipercaya masyarakat setempat bisa membuat batik menjadi jelek. “Mereka masih percaya takhayul. Kalau secara logika, membatik pada sore hari memang tidak baik karena sudah tidak ada sinar matahari. Kalau nekat membatik, malah bisa salah. Ini kan bukan karena arang- arang,” Mai menegaskan.
Soal motif dan warna kain yang sesuai pesanan juga bisa menjadi masalah antara Mai dan pekerjanya. “Mungkin karena membatik sudah menjadi bagian dari hidup mereka, agak sulit mengubah kebiasaan itu. Misalnya, saya ingin warna birunya berbeda dengan yang biasa mereka gunakan, mereka tetap saja membuat biru yang sama. Pokoknya nyelento (melenceng) kanan kiri,” ujar Mai yang memilih tidak memproduksi batik dari sutra.
Menghadapi perilaku para pekerjanya yang sering tidak sejalan dengan kebutuhan produksi, Mai hanya bisa bersabar. Kalau dia bisa memperbaiki, Mai akan memperbaiki sendiri. Akan tetapi, kalau tidak bisa, Mai menerima saja sambil perlahan-lahan berusaha mengubah kebiasaan para pekerjanya.
“Saya katakan pada mereka, kalau mereka tidak mau berubah, kami tidak akan mendapat pasar. Akhirnya, mereka bisa menerima juga. Namun, kalau soal tembakau, itu benar- benar tidak bisa diganggu. Pernah saya menawarkan jumlah bayaran lebih agar mereka mau membatik, tetapi mereka tetap menolak. Saya harus benar-benar mengalah kalau dengan tembakau,” ujar Mai.
Sekarang Mai memproduksi dua macam batik, yakni batik kasar dan batik halus. Untuk batik kasar biasanya Mai menjual di Kuta, Bali. Adapun batik halus dijual ke Jakarta. Batik kasar yang dijual di Bali harganya sekitar Rp 50.000-Rp 150.000. Alasannya, karena orang Bali biasa memakai kain. Sementara konsumen batik halus dengan harga tiga juta rupiah atau lebih, dijual pada acara pameran-pameran di Jakarta.
“Orang Jakarta senang pada barang yang berkualitas. Mereka senang dengan batik gentong, yaitu batik yang pewarnaannya direndam di dalam gentong hingga berbulan-bulan. Hasilnya, warna muncul dan jauh lebih indah,” jelas Mai yang menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan untuk batik gentongnya.
Sumber : (ARN) Kompas Cetak