Keramik Berhias Batik Iwan Tirta
IWAN Tirta tak pernah berhenti mengeksplorasi batik. Pekan ini di bawah bendera IT Private Collection, ia meluncurkan benda-benda keramik berhias batik. Sepintas keramik produksi Kedawung ini tidak berbeda jauh dari keramik-keramik klasik produksi Cina. Bahkan, dengan menggunakan warna dasar putih dan ragam hias biru, keramik-keramik ini berkesan tua.
SEBELUM ini, Iwan Tirta juga “membatik” di atas sutra, kain regang lycra, perak, serta membawa masuk warna-warna prada ke dalam motif batik. Upaya-upaya ini kemudian secara beramai-ramai diikuti oleh para perajin batik di Tanah Air.
Hal ihwal rambahan hias batik ke dalam keramik, menurut Iwan Tirta, awal pekan ini di IT Private Collection Gallery yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta, karena ia merasa jengah melihat produk-produk keramik berkelas selalu berasal dari luar negeri. “Kalau tidak buatan Inggris, Cina, dan Jepang, pastilah Korea. Coba saja lihat dinner set yang digunakan dalam jamuan-jamuan yang diselenggarakan para pejabat kita, semua keramiknya produk luar,” kata Iwan Tirta.
Selain itu, kata dia, selama ini batik selalu diidentikkan dengan kain. Padahal, batik adalah motif dan teknologi yang bisa diterapkan pada beragam produk. “Mengapa sekarang tidak pada keramik?” tanya Iwan retorik.
PRODUK keramik berhias batik dengan motif burung hong dan bunga peoni sesungguhnya ibarat mengembalikan “kejayaan” keramik cina. Pada awalnya, motif burung hong atau phoenix dan bunga peoni merupakan motif-motif yang terdapat dalam keramik yang dibawa para perantau dari daratan Cina.
Keramik-keramik ini diperkirakan telah ada di Indonesia saat pemerintahan Sultan Agung di Mataram (1613-1645). Sejak masa itu pula, motif-motif keramik cina mengalami transformasi ke dalam batik (kain). Teknologi batik telah memberi sentuhan yang “membumi”, di mana permukaan burung hong dibentuk oleh ribuan titik. “Dalam batik, ini disebut isen-isen,” ujar Iwan Tirta.
Iwan Tirta sendiri mengaku mengambil ragam hias burung hong dan bunga peoni dari batik. “Bukan dari keramik cina karena burung hong dalam batik sudah mengalami proses pembumian,” kata dia.
Sementara secara sengaja Iwan memilih dasar putih pada berbagai produk keramik berupa piring, muk, cangkir, teko, poci, dan asbak, dengan ragam hias berwarna biru. Pilihan ini memang mengingatkan masa-masa awal keramik cina dan batik diciptakan. “Keramik cina dan batik pertama-tama berwarna dasar putih dan biru dan ini warna universal sekali,” ujar Iwan Tirta yang pekan ini memperoleh Anugerah Karya Cipta Putera Bangsa dari Bank Bumiputera 2003.
Pada sisi itu, Iwan tampaknya memang penuh perhitungan dalam upaya menghasilkan satu desain yang unik, tetapi sekaligus universal. Barangkali yang kemudian patut menjadi pertimbangan kualitas produk keramik yang menyertai motif- motif nan indah itu. Produk-produk seperti muk, teko, dan piring tampak tidak dikerjakan secara maksimal sehingga pada beberapa sisi terdapat kekurangan yang bisa menurunkan kualitas barang, misalnya dalam hal presisi.
Semassal apa pun produk yang dihasilkan, Iwan Tirta tentulah tak mau sekadar menghasilkan benda-benda yang hanya mempertimbangkan sisi fungsional. Sebagai produk sebuah desain yang menyasar kelompok ekonomi mapan, sudah pada tempatnya menuntut kualitas keramik di atas rata-rata. Apalagi, kata Iwan sendiri, produk terbarunya ini diharapkan bisa bersaing dengan desain keramik dari berbagai belahan dunia.
“Cuma yang ini memang sasarannya kelas menengahlah dengan harga yang tak terlalu mahal, sekitar Rp 2,5 juta untuk satu dinner set lengkap,” ujar Iwan Tirta. Jika nanti, tambahnya, ia memproduksi barang-barang dengan kualitas istimewa, pihaknya akan mencari motif-motif batik yang lebih eksklusif dan berkesan “ningrat”.
Motif burung hong sendiri, kata dia, sangat biasa dipergunakan sebagai motif batik pesisiran yang lebih dikenal dengan kain lokcan. Sesungguhnya lokcan sendiri pada awalnya berarti sutra biru, tetapi dalam perkembangannya di Indonesia dipakai untuk menyebut kain batik berbahan sutra dengan motif burung hong.
KERAMIK yang didesain Iwan secara keseluruhan tampak istimewa pada motif yang langka dan mencitrakan “bumi putra”. Kendati pada awalnya motif-motif seperti burung hong dan bunga peoni diserap batik melalui keramik cina, namun penyerapan itu telah melewati satu proses “pembumian” sehingga tak terkecap lagi citra asingnya.
Lingkaran proses penyerapan dan adaptasi ini, menurut Iwan, yang justru bisa membawa motif-motif rancangannya lebih mudah menembus pasar global. “Apalagi warnanya kita pilih yang paling universal, putih biru. Kalau orang asing beli batik, pasti tanya ada tidak yang putih dan biru, begitu,” kata Iwan Tirta.
Cara ini pula, ujar Iwan, sebagai upaya untuk lebih mengenalkan batik, termasuk kepada mereka yang selama ini lebih silau pada produk-produk asing. “Coba sekarang ini kita kan lebih bangga memakai piring keramik dari Jepang, misalnya,” ujar Iwan Tirta.
Dalam memberi hiasan pada keramik, secara sengaja Iwan menempuh jalan minimalis. Burung hong misalnya, ia hiaskan pada permukaan bagian tengah piring atau dua sisi pada bulatan teko. Sementara di beberapa tempat hanya dihias dengan bunga peoni. Kesan yang muncul, warna putih lebih mendominasi seluruh permukaan keramik, yang bisa menimbulkan kesan bersih dan higienis.
“Nanti setelah ini baru saya mengikuti perkembangan warna dalam batik, setelah putih-biru, nanti ada merah tua,” kata Iwan Tirta.
Oleh karena itu, dari sisi pemilihan bahan, jenis, warna, bentuk, hiasan, dan motif, Iwan tetap ingin memadukan antara sisi fungsional dan estetis. Kendati ia tetap mesti berhati-hati di dalam mengerjakan produknya, agar tidak berkesan asal jadi.
Sumber : (CAN) Kompas Cetak
November 29th, 2007 at 3:45 am
batik bapak saya akui bagus.tapi sayang bapak gak bisa membuat pelangan bapak bisa nyaman