“Permata Cita” Batik Ibu Negara
BAU pandan meruap menyergap hidung ketika kaki melangkah memasuki pintu utama galeri Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat pekan lalu. Suasana itu mengantar memasuki ruang pameran di mana dipamerkan sejumlah kain milik presiden, mantan ibu negara, istri wakil presiden, dan mantan istri wakil presiden.
Di dalam galeri utama di sisi kiri ujung kiri terlihat susunan kain songket dari Palembang dalam warna keemasannya yang khas. Di sana juga dipajang songket dari Bali, tas-tas tangan kecil dihias manik-manik. Itulah sebagian koleksi kain milik Presiden Megawati Soekarnoputri yang dipamerkan di Museum Nasional dari tanggal 3 hingga 12 Oktober 2003 dalam tema Pameran Kain Koleksi Ibu Negara “Permata Cita”.
Di antara koleksi kain milik Presiden Megawati juga terdapat kain-kain batik, termasuk sehelai kain motif kawung picis jlamprang milik Ibu Fatmawati Soekarno. Dan tas-tas kecil dengan hiasan manik- manik itu ternyata merupakan oleh-oleh Bung Karno untuk Megawati pada tahun 1950-an.
Itulah kepingan sejarah yang bisa dilihat dari pameran kain ibu negara dan kain-kain tua yang digelar perkumpulan Himpunan Kain Adati Indonesia Wastraprema.
Di sebelah koleksi kain milik Presiden Megawati terdapat koleksi kain milik almarhumah Ny Tien Soeharto yang diambil dari Museum Purna Bhakti Taman Mini Indonesia Indah. Semua kain itu dalam warna sogan dengan motif-motif klasik. Di sebelahnya lagi merupakan koleksi batik almarhumah Ny Rahmi Hatta yang lebih kaya warna dengan motif yang lebih beraneka. Di antaranya kain dari Garut, dari Indramayu, dari Cirebon, dan Iwan Tirta. Begitulah koleksi semua istri mantan presiden, istri mantan wakil presiden (wapres), dan istri wapres dipamerkan di sana. Kain-kain tersebut seperti bertutur tentang pemiliknya.
Sementara di sisi kanan terdapat batik-batik tua dari berbagai daerah di Indonesia milik para kolektor. Santosa Doellah meminjamkan kain- kain saudagaran, Ny Nian Djoemena memamerkan batik basurek dari Jambi dan Bengkulu yang bermotif hias huruf Arab. Ada juga kain koleksi Ny Hartini Soekarno, Ny Siti Bambang Oetojo, dan sejumlah kolektor lain.
Keindahan kain-kain tersebut yang di antaranya berasal dari angka tahun 1926 dan 1910 seperti mengingatkan bahwa keterampilan para artisan batik Indonesia memang tidak tertandingi yang membuat batik identik dengan Indonesia meskipun batik sebagai teknik merintang warna bukan khas Indonesia.
Kain-kain yang dipamerkan seperti menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, sementara relevansi batik dengan masa kini terus mengalami perubahan makna. Banyak dari motif itu tidak lagi dibuat saat ini karena membuat batik yang baik memerlukan bukan hanya keterampilan, tetapi juga curahan hati.
Karena perubahan kebutuhan hidup, kain batik sebagai pakaian sehari-hari menjadi tidak praktis lagi untuk sebagian besar masyarakat. Kain batik lalu dipakai hanya untuk acara khusus, terutama yang berhubungan dengan upacara adat dan budaya.
Namun, setelah mengalami pergantian abad ke abad ke-21, kain batik nyatanya tidak menghilang seperti yang dikhawatirkan. Dengan ragam hiasnya yang amat kaya, batik nyatanya tetap bertahan. Bahkan ketika sebagai teknik merintang warna batik tulis harus berhadapan dengan batik cap, dan kemudian batik printing ketika teknologi memungkinkan produksi makin massal.
“Saya telah berada di usaha batik selama 35 tahun dan telah mengalami berbagai zaman serta perkembangan teknologi. Nyatanya batik tetap bertahan. Memang terbentuk segmentasi antara mereka yang menginginkan batik tulis yang halus, batik cap, batik dengan motif yang lebih sederhana dan warna mengikuti mode, bahkan batik printing,” kata Santosa Doellah, pendiri batik Danar Hadi.
“KAMI berharap pameran ini bisa meningkatkan minat masyarakat pada batik. Jika minat ini meningkat, otomatis industri tekstil kain tradisional bisa lebih terayomi,” ujar Ketua Wastraprema Ny Adiati Arifin Siregar, seusai pembukaan pameran, Jumat (3/10), di Museum Nasional, Jakarta. Seniman batik, Iwan Tirta, dan ahli kain, Nian Djoemena, menjadi kurator pameran yang memajang 112 kain batik dan kain Indonesia lain milik Presiden Megawati Soekarnoputri dan istri mantan presiden, istri wapres, dan istri mantan wapres ini.
Mengajak masyarakat mencintai dan mau menggunakan batik tentu tidak bisa hanya dengan imbauan. Pameran ini mencoba menjadi jembatan untuk lebih memahami batik. Iwan Tirta yang seumur hidupnya menggeluti batik mengatakan saat ini tengah dicari macam-macam cara pemakaian batik. Idenya, batik tak melulu hadir sebagai sarung dan kain panjang, tetapi bisa juga dimodifikasi dan dipadukan dengan kain lainnya hingga lebih modern.
Pergelaran busana karya 10 perancang busana Indonesia yang menyertai pameran ini, yang berlangsung Sabtu pekan lalu, membuktikan batik dan juga kain-kain Nusantara lainnya bisa tampil sebagai busana masa kini.
Santosa Doellah menyebutkan, setiap tiga bulan sekali selalu ada desain batik baru di Danar Hadi. “Saya juga mengikuti selera anak-anak muda. Batik bukan milik orang tua saja tho,” ujar Doellah.
“Sekarang ini pengusaha batik membuat batik yang laku saja dan biasanya mereka berkiblat ke Jakarta. Kalau di Jakarta laku, semua orang buat desain dan motif yang sama. Gayanya maunya yang baru terus,” ujar Iwan.
Padahal, motif batik yang langka itu bisa direproduksi. Namun, kata Iwan, kendalanya terletak pada biayanya yang tinggi. Pasalnya, selain jenis obat celup yang digunakan berbeda, pembatiknya pun harus khusus karena pengerjaannya memakan waktu lama.
Sumber : (LUK/nmp) Kompas Cetak
January 31st, 2006 at 9:29 am
Ass…
sebelumnya saya mau meminta maaf terlebih dahulu karena disini saya bukan bermaksud memberikan komentar…
saya hendak bermaksud untuk bertanya…
kalau museum batik edi Bandung ada tidak ?
kalau ada alamatnya dimana ?
adapun kalau tidak ada, kira0kira saya dapat melihat batik di mana ? tetapi masih di kota Bandung….