Archive for October, 2003

Di Yogyakarta, Pencuri Batik Dihajar Massa

Wednesday, October 22nd, 2003

Babak BelurSepandai-pandai tupai melompat, suatu kelak jatuh juga. Itulah yang dialami Assafi, warga Brebes, Jawa Tengah, Selasa (21/10). Ia dipukuli massa karena ketangkap basah mencuri baju batik seharga Rp 210 ribu di Toko Al Fath, Jalan Malioboro, Yogyakarta. Padahal dua hari silam, dia sukses bersama dua rekannya mencuri di toko yang sama.

Untung saja seorang anggota Brigade Mobil kebetulan lewat lokasi kejadian. Jika tidak, barang kali Saffi sudah tewas dihajar massa. Bahkan, meski telah berada di tangan polisi dan masuk ke mobil patroli, massa terus melayangkan pukulan.

Kasus pemukulan terhadap pelaku pencurian memang kerap terjadi. Pertengahan bulan silam, Darmawan, pencuri buku di Toko Buku Gunung Agung, Senen, Jakarta Pusat, babak belur dihajar massa [baca: Pencuri Buku Dikeroyok Massa]. Rencananya, buku itu akan dijual, bukan dibaca. “Buat jajan,” kata Darmawan, setelah diserahkan ke Markas Kepolisian Sektor Metro Senen.

Sumber : (AWD/Wiwiek Susilo) Liputan6.com, Yogyakarta

Danar Hadi Mengubah Citra

Sunday, October 19th, 2003

HAMPIR setahun sejak Diana Hariyadi diperkenalkan kepada publik menjadi Direktur Operasi Danar Hadi oleh sang ayah, Santosa Doellah, kini mulai terasa sentuhan tangan perempuan muda ini pada produk Danar Hadi.

Dalam pergelaran koleksi terbaru Danar Hadi di Rumah Kartanegara di Jakarta pada Rabu (15/10) sore, perubahan itu mulai terasa pada baju rancangan tim perancang Danar Hadi. Dengan tema utama motif bunga dan geometris, sentuhan batik di atas bahan sutra dan dalam warna-warna cerah itu muncul lebih mengikuti gerak dinamis mode.

Pada bagian batik hokokai yang menampilkan pengaruh Jepang saat tentara negeri itu menginvasi Indonesia, motif bunga krisan muncul pada blus tembus pandang dengan aksen pada bentuk lengan. Padanannya celana panjang berpipa lebar dan kesan keseluruhan lebih berjiwa muda.

Begitu juga pada bagian ketiga di mana ragam hias batik diambil hanya bagian geometrisnya berupa titik dan garis-garis kecil. Paduan warna hitam, putih, merah serta tata letak motif bunga dan motif geometris masih memberi kesan batik, tetapi lebih ringan. Adapun untuk tema oriental, kesan busana dari Timur tampil melalui blus pendek berbahan serat nanas berbentuk kotak atau blus panjang yang mengingatkan pada modifikasi baju kurung. Padanannya kain panjang batik dengan lelipit berjuntai (drapery).

Sedangkan pada bagian terakhir dimunculkan rancangan Stephanus Hamy untuk label Danar. Atasan-atasan pendek berpotongan kimono atau atasan panjang dipadukan dengan celana panjang dengan aksen tali serut pada bagian sisi. Sementara untuk kesempatan lebih formal, Hamy memadukan dengan rok lipit panjang yang merupakan ciri khasnya. Warna seperti hijau dengan biru, oranye, krem, ungu, menjadi warna dasar sementara sentuhan batik muncul dalam motif tunggal naga atau singa kilin yang menunjukkan pengaruh Cina, atau motif geometri pada bagian tepi-tepi baju.

“Kami ingin membuat regenerasi pelanggan yang datang ke Danar Hadi. Pelanggan setia kami ternyata sudah semakin berumur. Untuk itu kami mencoba menawarkan koleksi yang tidak terlalu klasik, lebih mengikuti mode, tetapi tetap berdasarkan ragam hias dan teknik batik,” kata Diana Hariyadi. Untuk koleksi ini, motif batik dibuat dengan teknik batik cap dan batik cap yang dikombinasi dengan tulis.

“Kami masih tetap menyediakan batik-batik dengan motif klasik. Jadi, kami tetap dengan inti produk Danar Hadi, hanya jenisnya kami perluas dengan batik-batik yang lebih mengikuti mode,” tambah Diana. Melihat sambutan sekitar 100-an undangan Rabu sore lalu, kelihatannya upaya itu tidak bertepuk sebelah tangan.

Sumber : (NMP) KCM, Jakarta

Keramik Berhias Batik Iwan Tirta

Sunday, October 12th, 2003

IWAN Tirta tak pernah berhenti mengeksplorasi batik. Pekan ini di bawah bendera IT Private Collection, ia meluncurkan benda-benda keramik berhias batik. Sepintas keramik produksi Kedawung ini tidak berbeda jauh dari keramik-keramik klasik produksi Cina. Bahkan, dengan menggunakan warna dasar putih dan ragam hias biru, keramik-keramik ini berkesan tua.

SEBELUM ini, Iwan Tirta juga “membatik” di atas sutra, kain regang lycra, perak, serta membawa masuk warna-warna prada ke dalam motif batik. Upaya-upaya ini kemudian secara beramai-ramai diikuti oleh para perajin batik di Tanah Air.

Hal ihwal rambahan hias batik ke dalam keramik, menurut Iwan Tirta, awal pekan ini di IT Private Collection Gallery yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta, karena ia merasa jengah melihat produk-produk keramik berkelas selalu berasal dari luar negeri. “Kalau tidak buatan Inggris, Cina, dan Jepang, pastilah Korea. Coba saja lihat dinner set yang digunakan dalam jamuan-jamuan yang diselenggarakan para pejabat kita, semua keramiknya produk luar,” kata Iwan Tirta.

Selain itu, kata dia, selama ini batik selalu diidentikkan dengan kain. Padahal, batik adalah motif dan teknologi yang bisa diterapkan pada beragam produk. “Mengapa sekarang tidak pada keramik?” tanya Iwan retorik.

PRODUK keramik berhias batik dengan motif burung hong dan bunga peoni sesungguhnya ibarat mengembalikan “kejayaan” keramik cina. Pada awalnya, motif burung hong atau phoenix dan bunga peoni merupakan motif-motif yang terdapat dalam keramik yang dibawa para perantau dari daratan Cina.

Keramik-keramik ini diperkirakan telah ada di Indonesia saat pemerintahan Sultan Agung di Mataram (1613-1645). Sejak masa itu pula, motif-motif keramik cina mengalami transformasi ke dalam batik (kain). Teknologi batik telah memberi sentuhan yang “membumi”, di mana permukaan burung hong dibentuk oleh ribuan titik. “Dalam batik, ini disebut isen-isen,” ujar Iwan Tirta.

Iwan Tirta sendiri mengaku mengambil ragam hias burung hong dan bunga peoni dari batik. “Bukan dari keramik cina karena burung hong dalam batik sudah mengalami proses pembumian,” kata dia.

Sementara secara sengaja Iwan memilih dasar putih pada berbagai produk keramik berupa piring, muk, cangkir, teko, poci, dan asbak, dengan ragam hias berwarna biru. Pilihan ini memang mengingatkan masa-masa awal keramik cina dan batik diciptakan. “Keramik cina dan batik pertama-tama berwarna dasar putih dan biru dan ini warna universal sekali,” ujar Iwan Tirta yang pekan ini memperoleh Anugerah Karya Cipta Putera Bangsa dari Bank Bumiputera 2003.

Pada sisi itu, Iwan tampaknya memang penuh perhitungan dalam upaya menghasilkan satu desain yang unik, tetapi sekaligus universal. Barangkali yang kemudian patut menjadi pertimbangan kualitas produk keramik yang menyertai motif- motif nan indah itu. Produk-produk seperti muk, teko, dan piring tampak tidak dikerjakan secara maksimal sehingga pada beberapa sisi terdapat kekurangan yang bisa menurunkan kualitas barang, misalnya dalam hal presisi.

Semassal apa pun produk yang dihasilkan, Iwan Tirta tentulah tak mau sekadar menghasilkan benda-benda yang hanya mempertimbangkan sisi fungsional. Sebagai produk sebuah desain yang menyasar kelompok ekonomi mapan, sudah pada tempatnya menuntut kualitas keramik di atas rata-rata. Apalagi, kata Iwan sendiri, produk terbarunya ini diharapkan bisa bersaing dengan desain keramik dari berbagai belahan dunia.

“Cuma yang ini memang sasarannya kelas menengahlah dengan harga yang tak terlalu mahal, sekitar Rp 2,5 juta untuk satu dinner set lengkap,” ujar Iwan Tirta. Jika nanti, tambahnya, ia memproduksi barang-barang dengan kualitas istimewa, pihaknya akan mencari motif-motif batik yang lebih eksklusif dan berkesan “ningrat”.

Motif burung hong sendiri, kata dia, sangat biasa dipergunakan sebagai motif batik pesisiran yang lebih dikenal dengan kain lokcan. Sesungguhnya lokcan sendiri pada awalnya berarti sutra biru, tetapi dalam perkembangannya di Indonesia dipakai untuk menyebut kain batik berbahan sutra dengan motif burung hong.

KERAMIK yang didesain Iwan secara keseluruhan tampak istimewa pada motif yang langka dan mencitrakan “bumi putra”. Kendati pada awalnya motif-motif seperti burung hong dan bunga peoni diserap batik melalui keramik cina, namun penyerapan itu telah melewati satu proses “pembumian” sehingga tak terkecap lagi citra asingnya.

Lingkaran proses penyerapan dan adaptasi ini, menurut Iwan, yang justru bisa membawa motif-motif rancangannya lebih mudah menembus pasar global. “Apalagi warnanya kita pilih yang paling universal, putih biru. Kalau orang asing beli batik, pasti tanya ada tidak yang putih dan biru, begitu,” kata Iwan Tirta.

Cara ini pula, ujar Iwan, sebagai upaya untuk lebih mengenalkan batik, termasuk kepada mereka yang selama ini lebih silau pada produk-produk asing. “Coba sekarang ini kita kan lebih bangga memakai piring keramik dari Jepang, misalnya,” ujar Iwan Tirta.

Dalam memberi hiasan pada keramik, secara sengaja Iwan menempuh jalan minimalis. Burung hong misalnya, ia hiaskan pada permukaan bagian tengah piring atau dua sisi pada bulatan teko. Sementara di beberapa tempat hanya dihias dengan bunga peoni. Kesan yang muncul, warna putih lebih mendominasi seluruh permukaan keramik, yang bisa menimbulkan kesan bersih dan higienis.

“Nanti setelah ini baru saya mengikuti perkembangan warna dalam batik, setelah putih-biru, nanti ada merah tua,” kata Iwan Tirta.

Oleh karena itu, dari sisi pemilihan bahan, jenis, warna, bentuk, hiasan, dan motif, Iwan tetap ingin memadukan antara sisi fungsional dan estetis. Kendati ia tetap mesti berhati-hati di dalam mengerjakan produknya, agar tidak berkesan asal jadi.

Sumber : (CAN) Kompas Cetak

Maimuna: Ingin Memajukan Pembatik Tanjungbumi

Sunday, October 12th, 2003

SEMULA bisnis Maimuna (30) adalah membuat tas tangan di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. Setiap hari toko tasnya dipenuhi pembeli, baik dari Surabaya dan sekitarnya maupun dari kota-kota lain. Namun, sampai pada suatu “titik”, perempuan yang sering disapa Mai ini, merasa dirinya harus meneruskan usaha batik milik orangtuanya.

USAHA batik orangtua saya tidak maju- maju. Padahal, batiknya bagus. Saya sedih karena selama ini tidak pernah tertarik mengurus usaha batik keluarga itu,” kata Mai yang kemudian menyerahkan usaha tas dan dompet itu kepada adiknya.

Selain itu, pada saat bersamaan Mai juga diangkat sebagai guru dan harus mengajar di sebuah SMP di Tanjungbumi, Bangkalan, Madura. Bagi Mai, kepindahannya dari Sidoarjo ke Bangkalan juga merupakan babak baru dalam hidupnya karena dia tidak punya pengetahuan soal batik sama sekali.

“Dulu, jika ibu saya menyuruh saya belajar membatik, saya selalu pergi. Saya pun memilih kuliah di IKIP Surabaya, biar tidak perlu belajar membatik,” kenang Mai yang pindah ke Tanjungbumi sekitar lima tahun yang lalu.

Begitu sampai di kota kecamatan yang letaknya sekitar 40 kilometer dari Bangkalan, Mai melihat banyak pembatik yang sebenarnya mempunyai potensi besar, tetapi tidak bisa berkembang karena tak tahu cara memasarkannya.

Para pembatik itu hanya tahu memasarkan produknya ke pasar sekitarnya atau ke Surabaya. Itu pun tidak dipasarkan sendiri, tetapi melalui pedagang yang mengambil dari para pembatik. Mereka menjual kepada pedagang dengan harga murah, tetapi pedagang menjual lagi kepada konsumen dengan harga yang sudah berlipat-lipat.

“Pembatik di sana umumnya perempuan-perempuan yang tidak banyak mengenal dunia luar. Melihat kondisi itu, saya bertekad untuk memajukan batik dari Tanjungbumi,” kata Mai.

TANJUNGBUMI terletak di pantai utara Madura, dekat perbatasan Bangkalan-Sampang. Tanjungbumi memang menjadi sentra batik dari Madura. Berkembangnya batik di Tanjungbumi, menurut Mai, karena perempuan ingin mengisi waktu luang sambil menunggu suami pulang melaut.

“Biasanya, para suami melaut hingga berbulan-bulan. Sementara istri-istri ditinggal di rumah tanpa mempunyai kegiatan. Akhirnya, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mereka membatik. Nenek buyut saya termasuk perempuan yang membatik karena menunggu suami pulang melaut,” Mai menjelaskan.

Awalnya, sebagian besar batik-batik buatan perempuan di Tanjungbumi itu mereka gunakan sendiri, hanya sedikit yang dijual. Ketika batik tersebut dijual ke pasar, dan tampak hasilnya, para pembatik itu baru menyadari manfaat ekonomi dari membatik.

“Mereka jadi bersemangat membuat batik dan menjualnya ke pasar. Permintaan bertambah banyak dan produksi batik berubah menjadi massal. Untuk mengejar jumlah produksi dan mendapatkan warna yang bervariasi, mereka lalu memakai pewarna buatan pabrik. Akibatnya, produksi yang sekarang berbeda dengan produksi zaman nenek buyut saya. Keuntungannya, batik-batik buatan nenek saya menjadi batik kuno yang antik. Harganya pun meningkat berlipat-lipat,” ujar Mai.

Dia lalu melihat potensi batik kuno tersebut. Apalagi ketika ke Jakarta, ia melihat banyak pecinta batik yang mau mengeluarkan uang banyak untuk membeli batik kuno. “Langsung saja saya kumpulkan batik-batik koleksi keluarga saya. Mereka tidak keberatan batiknya diambil karena bagi mereka, itu adalah barang lama,” kata Mai yang kemudian memproduksi ulang kain-kain kuno itu.

Apalagi, menurut Mai, pasar batik, terutama batik madura saat ini amat terbuka, sebab ada kecenderungan semakin banyak orang yang gemar memakai pakaian tradisional. Mai lalu menceritakan pengalamannya dengan seorang pembeli kain madura yang berasal dari Madura pada Pameran Kain Koleksi Ibu Negara “Permata Cita” di Museum Nasional, Jakarta, Minggu (5/10).

“Saya orang Madura, tetapi tidak punya kain madura. Kebetulan saya sering harus menghadiri acara resmi sehingga butuh banyak kain,” kata Mai menirukan ucapan pembeli tersebut.

TERJUN ke bisnis yang belum pernah ditekuni, walaupun bidang itu sudah menjadi bisnis keluarga, tidaklah mudah. Mai harus belajar dari awal, ikut membatik, ikut menangani pasar, dan mengerti masalah pegawai.

“Pegawai saya ada 40 orang, di luar keluarga saya. Semua mempunyai masalah pribadi yang kadang-kadang mengganggu proses produksi,” ujar Mai yang menganggap persoalan pekerja adalah hal yang paling menyulitkan.

Salah satu contohnya, pada saat datangnya musim tanam tembakau di Madura. “Kalau musim tanam tembakau tiba, tidak ada seorang pun dari mereka yang mau membatik. Mereka tidak peduli kalau pada saat itu saya sedang banyak pesanan.” Selain dikenal sebagai penghasil garam, Madura juga banyak menghasilkan tembakau.

Pernah suatu ketika, Mai nyaris tidak bisa memenuhi pesanan batik sebanyak 2.000 lembar dari Australia karena masalah tembakau ini. Akhirnya, Mai mengerahkan seluruh anggota keluarganya untuk membatik dan memundurkan jadwal penyerahan barang. Batik pesanan dari Australia itu merupakan batik kasar untuk keperluan pemakaian sehari-hari.

Para pekerja Mai juga menolak untuk membatik pada sore hari. Katanya, takut arang- arang. Arang-arang adalah makhluk halus yang dipercaya masyarakat setempat bisa membuat batik menjadi jelek. “Mereka masih percaya takhayul. Kalau secara logika, membatik pada sore hari memang tidak baik karena sudah tidak ada sinar matahari. Kalau nekat membatik, malah bisa salah. Ini kan bukan karena arang- arang,” Mai menegaskan.

Soal motif dan warna kain yang sesuai pesanan juga bisa menjadi masalah antara Mai dan pekerjanya. “Mungkin karena membatik sudah menjadi bagian dari hidup mereka, agak sulit mengubah kebiasaan itu. Misalnya, saya ingin warna birunya berbeda dengan yang biasa mereka gunakan, mereka tetap saja membuat biru yang sama. Pokoknya nyelento (melenceng) kanan kiri,” ujar Mai yang memilih tidak memproduksi batik dari sutra.

Menghadapi perilaku para pekerjanya yang sering tidak sejalan dengan kebutuhan produksi, Mai hanya bisa bersabar. Kalau dia bisa memperbaiki, Mai akan memperbaiki sendiri. Akan tetapi, kalau tidak bisa, Mai menerima saja sambil perlahan-lahan berusaha mengubah kebiasaan para pekerjanya.

“Saya katakan pada mereka, kalau mereka tidak mau berubah, kami tidak akan mendapat pasar. Akhirnya, mereka bisa menerima juga. Namun, kalau soal tembakau, itu benar- benar tidak bisa diganggu. Pernah saya menawarkan jumlah bayaran lebih agar mereka mau membatik, tetapi mereka tetap menolak. Saya harus benar-benar mengalah kalau dengan tembakau,” ujar Mai.

Sekarang Mai memproduksi dua macam batik, yakni batik kasar dan batik halus. Untuk batik kasar biasanya Mai menjual di Kuta, Bali. Adapun batik halus dijual ke Jakarta. Batik kasar yang dijual di Bali harganya sekitar Rp 50.000-Rp 150.000. Alasannya, karena orang Bali biasa memakai kain. Sementara konsumen batik halus dengan harga tiga juta rupiah atau lebih, dijual pada acara pameran-pameran di Jakarta.

“Orang Jakarta senang pada barang yang berkualitas. Mereka senang dengan batik gentong, yaitu batik yang pewarnaannya direndam di dalam gentong hingga berbulan-bulan. Hasilnya, warna muncul dan jauh lebih indah,” jelas Mai yang menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan untuk batik gentongnya.

Sumber : (ARN) Kompas Cetak

“Permata Cita” Batik Ibu Negara

Monday, October 6th, 2003

BAU pandan meruap menyergap hidung ketika kaki melangkah memasuki pintu utama galeri Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat pekan lalu. Suasana itu mengantar memasuki ruang pameran di mana dipamerkan sejumlah kain milik presiden, mantan ibu negara, istri wakil presiden, dan mantan istri wakil presiden.

Di dalam galeri utama di sisi kiri ujung kiri terlihat susunan kain songket dari Palembang dalam warna keemasannya yang khas. Di sana juga dipajang songket dari Bali, tas-tas tangan kecil dihias manik-manik. Itulah sebagian koleksi kain milik Presiden Megawati Soekarnoputri yang dipamerkan di Museum Nasional dari tanggal 3 hingga 12 Oktober 2003 dalam tema Pameran Kain Koleksi Ibu Negara “Permata Cita”.

Di antara koleksi kain milik Presiden Megawati juga terdapat kain-kain batik, termasuk sehelai kain motif kawung picis jlamprang milik Ibu Fatmawati Soekarno. Dan tas-tas kecil dengan hiasan manik- manik itu ternyata merupakan oleh-oleh Bung Karno untuk Megawati pada tahun 1950-an.

Itulah kepingan sejarah yang bisa dilihat dari pameran kain ibu negara dan kain-kain tua yang digelar perkumpulan Himpunan Kain Adati Indonesia Wastraprema.

Di sebelah koleksi kain milik Presiden Megawati terdapat koleksi kain milik almarhumah Ny Tien Soeharto yang diambil dari Museum Purna Bhakti Taman Mini Indonesia Indah. Semua kain itu dalam warna sogan dengan motif-motif klasik. Di sebelahnya lagi merupakan koleksi batik almarhumah Ny Rahmi Hatta yang lebih kaya warna dengan motif yang lebih beraneka. Di antaranya kain dari Garut, dari Indramayu, dari Cirebon, dan Iwan Tirta. Begitulah koleksi semua istri mantan presiden, istri mantan wakil presiden (wapres), dan istri wapres dipamerkan di sana. Kain-kain tersebut seperti bertutur tentang pemiliknya.

Sementara di sisi kanan terdapat batik-batik tua dari berbagai daerah di Indonesia milik para kolektor. Santosa Doellah meminjamkan kain- kain saudagaran, Ny Nian Djoemena memamerkan batik basurek dari Jambi dan Bengkulu yang bermotif hias huruf Arab. Ada juga kain koleksi Ny Hartini Soekarno, Ny Siti Bambang Oetojo, dan sejumlah kolektor lain.

Keindahan kain-kain tersebut yang di antaranya berasal dari angka tahun 1926 dan 1910 seperti mengingatkan bahwa keterampilan para artisan batik Indonesia memang tidak tertandingi yang membuat batik identik dengan Indonesia meskipun batik sebagai teknik merintang warna bukan khas Indonesia.

Kain-kain yang dipamerkan seperti menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, sementara relevansi batik dengan masa kini terus mengalami perubahan makna. Banyak dari motif itu tidak lagi dibuat saat ini karena membuat batik yang baik memerlukan bukan hanya keterampilan, tetapi juga curahan hati.

Karena perubahan kebutuhan hidup, kain batik sebagai pakaian sehari-hari menjadi tidak praktis lagi untuk sebagian besar masyarakat. Kain batik lalu dipakai hanya untuk acara khusus, terutama yang berhubungan dengan upacara adat dan budaya.

Namun, setelah mengalami pergantian abad ke abad ke-21, kain batik nyatanya tidak menghilang seperti yang dikhawatirkan. Dengan ragam hiasnya yang amat kaya, batik nyatanya tetap bertahan. Bahkan ketika sebagai teknik merintang warna batik tulis harus berhadapan dengan batik cap, dan kemudian batik printing ketika teknologi memungkinkan produksi makin massal.

“Saya telah berada di usaha batik selama 35 tahun dan telah mengalami berbagai zaman serta perkembangan teknologi. Nyatanya batik tetap bertahan. Memang terbentuk segmentasi antara mereka yang menginginkan batik tulis yang halus, batik cap, batik dengan motif yang lebih sederhana dan warna mengikuti mode, bahkan batik printing,” kata Santosa Doellah, pendiri batik Danar Hadi.

“KAMI berharap pameran ini bisa meningkatkan minat masyarakat pada batik. Jika minat ini meningkat, otomatis industri tekstil kain tradisional bisa lebih terayomi,” ujar Ketua Wastraprema Ny Adiati Arifin Siregar, seusai pembukaan pameran, Jumat (3/10), di Museum Nasional, Jakarta. Seniman batik, Iwan Tirta, dan ahli kain, Nian Djoemena, menjadi kurator pameran yang memajang 112 kain batik dan kain Indonesia lain milik Presiden Megawati Soekarnoputri dan istri mantan presiden, istri wapres, dan istri mantan wapres ini.

Mengajak masyarakat mencintai dan mau menggunakan batik tentu tidak bisa hanya dengan imbauan. Pameran ini mencoba menjadi jembatan untuk lebih memahami batik. Iwan Tirta yang seumur hidupnya menggeluti batik mengatakan saat ini tengah dicari macam-macam cara pemakaian batik. Idenya, batik tak melulu hadir sebagai sarung dan kain panjang, tetapi bisa juga dimodifikasi dan dipadukan dengan kain lainnya hingga lebih modern.

Pergelaran busana karya 10 perancang busana Indonesia yang menyertai pameran ini, yang berlangsung Sabtu pekan lalu, membuktikan batik dan juga kain-kain Nusantara lainnya bisa tampil sebagai busana masa kini.

Santosa Doellah menyebutkan, setiap tiga bulan sekali selalu ada desain batik baru di Danar Hadi. “Saya juga mengikuti selera anak-anak muda. Batik bukan milik orang tua saja tho,” ujar Doellah.

“Sekarang ini pengusaha batik membuat batik yang laku saja dan biasanya mereka berkiblat ke Jakarta. Kalau di Jakarta laku, semua orang buat desain dan motif yang sama. Gayanya maunya yang baru terus,” ujar Iwan.

Padahal, motif batik yang langka itu bisa direproduksi. Namun, kata Iwan, kendalanya terletak pada biayanya yang tinggi. Pasalnya, selain jenis obat celup yang digunakan berbeda, pembatiknya pun harus khusus karena pengerjaannya memakan waktu lama.

Sumber : (LUK/nmp) Kompas Cetak

Pebatik Cirebon Pecahkan Rekor

Monday, October 6th, 2003

Pengusaha batik tradisional asal Cirebon, Komarudin Kudiya, memecahkan rekor kain batik terpanjang di Indonesia dan dunia.

Hari Minggu (5/10), kain batik sepanjang 130 meter tersebut diikutsertakan dalam pawai karnaval dalam acara tradisi Memayu Buyut Trusmi di sentra industri rumahan batik tradisional Cirebonan di Desa Trusmi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Keunikan kain batik terpanjang karya Komarudin yang memiliki butik Rumah Batik Komar tersebut adalah kain batik yang dihiasi dengan 49 motif batik cap khas Cirebonan dan 19 warna itu hanya terdiri atas satu lembar kain tanpa sambungan. Dengan demikian, tingkat kesulitan pewarnaan masing-masing bidang warna menjadi sangat tinggi karena dikerjakan dalam sehelai kain.

Menurut Komarudin, pengerjaan kain batik tersebut memakan waktu enam bulan dan membutuhkan biaya total Rp 20 juta. Batik tersebut dikerjakan oleh sedikitnya 30 orang dan dikerjakan di dua tempat, yaitu Bandung dan Cirebon.

Komarudin mengatakan, kain batiknya akan didaftarkan pada Museum Rekor Indonesia (Muri). Rekor batik terpanjang sebelumnya dipegang oleh pengusaha batik asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang membuat kain batik tulis sepanjang 106 meter.

Sumber : (DHF) Kompas Cetak, Cirebon