Batik di Persimpangan Jalan
Batik memang tak pernah habis digali potensinya. Di setiap pergelaran batik, pengusaha kain tradisional ini semakin bertambah. Inovasi pun bermunculan, baik dari sisi motif, pewarnaan, maupun pengembangan batik itu sendiri. Seperti terlihat dalam pameran batik yang digelar akhir Agustus lalu, di lobi Hotel Sari Pan Pasifik, Jakarta.
Beberapa desainer yang ikut tergabung dalam acara itu antara lain Asmoro Damais dengan kebaya encim dan batik pesisirannya, Pesona Batik Madura, produk Borocco Art dengan busana cocktail-nya. Sementara itu Le Boudoir mempersembahkan busana dalam (lingerie) batik yang sungguh menawan. Batik menjadi sesuatu yang cantik dan genit dengan berbagai polesan yang membuatnya kian diminati (kembali).
Menurut pemerhati dan pelestari batik Indonesia Asmoro Damais, hingga 1970-an, batik masih dikenakan sebagai busana harian di daerah. Seiring dengan perubahan zaman, gaya hidup, dan berkembangnya industri baju jadi yang membuat harga baju jadi jauh lebih murah dibanding harga batik, industri batik semakin terpuruk. Ia dikenakan hanya pada saat menghadiri upacara perkawinan semata. Sungguh menyedihkan!
Pada saat inilah batik berada di simpang jalan. Antara melestarikan tradisi dan adanya pengaruh perubahan zaman yang demikian cepat. Bila tidak segera diberdayakan, batik akan ditinggalkan masyarakatnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Asmoro sejak awal 1970-an. Terobosan yang dilakukannya adalah memanfaatkan bahan batik pekalongan cap dalam berbagai kriya, seperti kotak tisu dan tatakan gelas.
Pada 1974, ia mulai mengembangkan gaun-gaun batik fashionable dari kain sarung pekalongan yang berwarna pastel. Iwan Tirta dan Prayudi juga mulai memopulerkan batik dalam bentuk yang lebih diterima pasar yang lebih luas.
Kini, batik semakin berkembang dengan luar biasa. Sisi idealisme untuk mengembangkan tradisi Indonesia, nasionalisme, serta komersialisme memang harus berjalan beriringan. Antara batik kuno dan batik baru harus sama-sama dikembangkan, saran Asmoro. Dan kita biarkan saja batik berkembang mengikuti zaman.
Sumber : (Tkh/M-4) Media Indonesia