Di Tengah Kelesuan, Perajin Gelar Festival Batik Pekalongan

Pengembangan usaha pembatikan di Jawa Tengah, khususnya di Pekalongan, tidak bisa dilepaskan dari industri kecil menengah (IKM) dan usaha kecil menengah (UKM) yang bertambah setiap tahun. Di tengah kelesuan bisnis perbatikan, diharapkan pengembangan IKM dan UKM terus berlangsung, apalagi terbukti usaha kecil paling ulet dan memiliki daya tahan tinggi menghadapi krisis.

Hal itu diungkapkan Wakil Gubernur Jateng Ali Mufiz, Jumat (5/9), pada pembukaan Festival Batik Pekalongan 2003, 5-7 September, di kantor eks Karesidenan Pekalongan di Pekalongan. Pembukaan festival batik ini dihadiri Wali Kota Pekalongan Syamsudiat, Ketua Yayasan Batik Indonesia Widodo AS, serta perajin, kolektor, dan pecinta kain batik dari sejumlah provinsi.

Ali Mufiz menjelaskan, program Pemerintah Provinsi Jateng lima tahun ke depan adalah mendorong pengembangan IKM dan UKM supaya menghasilkan produk ekspor, mendorong kreasi produk agar memiliki daya saing. Pemprov juga menyediakan fasilitas promosi sistematis di dalam negeri maupun di luar negeri, dan memberi jaminan mendapat modal dalam sistem perbankan.

“Gelar festival batik ini seyogianya menjadi kebangkitan bagi kejayaan produk batik dan perajin batik di Pekalongan dalam menembus pasar global,” kata Ali Mufiz.

Milan Subyakto dari Yayasan Batik Indonesia mengemukakan, festival batik ini patut disambut oleh para perajin batik maupun pengusaha perbatikan sebagai ajang pra-Gelar Batik Nusantara 2003 di Jakarta, 30 Oktober–2 November 2003.

Dikatakan, Yayasan Batik Indonesia meminta pemerintah daerah memberi lebih banyak kesempatan dan bantuan agar perajin batik-mulai dari pengusaha kecil-dapat bertahan hidup dan eksis dalam perekonomian rakyat.

Dorong transaksi

Menurut perajin batik, Sony Hikmalul, festival yang diikuti bazar sandang di pelataran gedung Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan (PPIP) Jalan Agus Salim itu diharapkan bisa mendongkrak pemasaran maupun transaksi tekstil dan batik Pekalongan.

Perajin optimistis pengunjung kegiatan ini tidak sekadar menikmati koleksi sekitar 250 kain batik klasik abad XVIII. Namun, pedagang, produsen, dan desainer dari berbagai kota yang membutuhkan corak, motif, dan ragam batik bisa mengembangkan atau memesan kepada perajin batik di sini.

Perajin yang juga kolektor batik, H Zaki Yasmin, memamerkan 10 ragam batik di festival itu. Salah satunya adalah kain batik Asian Games yang dibuat tahun 1962 dengan motif sejumlah cabang olahraga yang dipertandingkan. Zaki mempersilakan jika ada perajin atau pengusaha batik mau meniru atau mengembangkan motif batiknya untuk keperluan bisnis.

Para pengunjung festival dapat menikmati kain-kain batik yang dibuat tahun 1925 hingga batik sutra terbaru. Beberapa batik buatan Pekalongan yang tidak lagi diproduksi atau dibuat oleh perajin juga dipamerkan, seperti batik Jlamprang, batik Hokokai, dan koleksi batik langka lain. Festival ini juga menampilkan batik Solo, Yogyakarta, Lasem, hingga batik Palembang dan batik Bali.

Untuk menambah nuansa perbatikan, di festival itu tampil pula Ny Warpuah yang sudah tua, dan Nur asal Sukorejo, Pekalongan. Keduanya adalah perajin batik yang hingga kini masih setia menekuni profesi mereka. Keduanya memperagakan proses pembuatan batik di salah satu sudut ruang pamer batik.

Sejumlah perajin batik yang menggelar produk di stan yang disediakan panitia mengatakan, kelesuan bisnis batik, termasuk tekstil, terpengaruh kekeringan yang melanda sejumlah daerah. Untuk produk batik kelas massal sementara ini agak tersendat pemasarannya karena kegiatan petani, pedagang, maupun nelayan yang menjadi sasaran pemasaran produk batik kualitas murah ini sementara terhenti.

Sumber : (who) Kompas Cetak, Pekalongan

Leave a Reply