Hari Ini, 250 Batik Klasik Pekalongan Dipamerkan

Sebanyak 250 lembar kain batik dengan motif klasik (kuno), yang tertua dibuat pada abad XVIII, mulai Jumat (5/9) ini dipamerkan di gedung eks Karesidenan Pekalongan dalam rangkaian Festival Batik 2003. Pameran yang berlangsung sampai hari Minggu itu dimaksudkan untuk membangkitkan kembali kecintaan dan kebanggaan masyarakat, khususnya pencinta batik pada motif batik klasik dari Pekalongan dan daerah sekitarnya. Selama ini, industri batik di Pekalongan cenderung mengikuti pasar dan menyisihkan nilai seninya.

Ketua Panitia Festival Batik 2003 Afif Syakur kepada Kompas, Kamis, mengungkapkan, selama ini masyarakat hanya mengenal Pekalongan sebagai produsen batik. Tetapi, corak batik yang dibuat sangat mengikuti kemauan pasar. “Batik yang dibuat di Pekalongan sekarang ini cenderung mengikuti selera pasarnya di Bali, Jakarta, atau daerah lain. Akibatnya, orang tak mengenal sebenarnya batik Pekalongan itu yang seperti apa,” kata Afif.

Padahal, lanjut dia, pada masa lalu batik Pekalongan pun mempunyai corak dan seni tersendiri yang diakui masyarakat. Salah satu motif batik Pekalongan yang diakui publik adalah jlamprang yang saat ini sudah amat jarang diproduksi lagi. “Dengan pameran ini, kami ingin mengingatkan kembali masyarakat untuk ’membuka’ maupun menengok kembali sejarah batik, khususnya dari Pekalongan,” ujar desainer batik asal Pekalongan yang kini bermukim di Yogyakarta itu.

Selain memamerkan batik dengan motif klasik dari Pekalongan, Festival Batik 2003 juga akan diisi dengan diskusi dan workshop batik, termasuk pergelaran batik khas Pekalongan dalam acara gala dinner, Minggu malam. Dari festival itu diharapkan akan lahir Paguyuban Masyarakat Peduli Batik. Karena itu, Festival Batik 2003 dihadiri perwakilan dari berbagai organisasi pencinta batik dari seluruh Indonesia.

Berbeda dengan pameran yang biasanya hanya menampilkan kain batik yang ditempatkan dalam lemari kaca, dalam Festival Batik 2003 sejumlah corak kain batik ditampilkan dengan dililitkan pada pohon yang merindangi gedung eks Karesidenan Pekalongan.

“Gedung ini memang milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tetapi, kami sedang mengupayakan agar gedung ini bisa diserahkan kepada masyarakat Pekalongan sehingga bisa digunakan sebagai museum untuk menampilkan beragam corak batik Pekalongan dan sekitarnya,” ungkap Afif.

Walaupun penyelenggaraan Festival Batik 2003 itu diprakarsai publik yang memang peduli batik, tetapi Afif menyayangkan kurangnya kepedulian dari Pemprov Jateng. Padahal, kegiatan itu berskala nasional, bahkan tidak tertutup kemungkinan festival itu bisa dikembangkan jadi berskala internasional mengingat kepedulian masyarakat internasional terhadap batik amat tinggi.

Sumber : (TRA) Kompas Cetak, Pekalongan

Leave a Reply