Batik Banyumasan Jadi Pakaian Kerja Pejabat
Tuesday, September 30th, 2003Untuk menghidupkan dan melestarikan produk daerah, khususnya batik Banyumasan yang terancam punah, Pemkab Banyumas, Jawa Tengah, mengimbau para pejabat struktural, kepala dinas, para camat serta kepala kelurahan dan kepala desa mengenakan pakaian kerja batik Banyumasan.
Pakaian kerja batik Banyumasan ditetapkan untuk dikenakan setiap hari Jumat. Dalam surat edaran tertanggal 20 September 2003, Bupati Banyumas Aris Setiono menegaskan, pakaian kerja batik Banyumasan harus dikenakan setelah kegiatan olahraga. Pengadaan pakaian batik ini diserahkan kepada masing-masing unit kerja atau secara swadaya (pribadi). “Pakaian kerja batik Banyumasan ini secara bertahap juga harus dikenakan oleh setiap pegawai negeri sipil (PNS) di Banyumas,” tandas Aris Setiono.
Menurut Kepala Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas Purwadi imbauan bupati kepada para pejabat struktural untuk memelopori pakaian kerja batik Banyumasan ini merupakan langkah menghidupkan batik khas Banyumasan yang nyaris tenggelam. Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, industri rumahan batik Banyumasan yang pernah mengalami zaman keemasan nyaris punah akibat kalah bersaing dengan batik sablon atau batik cap yang motif (corak) yang disukai masyarakat dan harganya pun relatif lebih murah dibandingkan dengan batik Banyumasan yang masih bertahan dengan motif-motif tradisional. Ditambahkan, pada tahap awal hanya para pejabat struktural saja yang diimbau mengenakan pakaian kerja batik Banyumasan lengan pendek. Berikutnya pakaian batik Banyumasan akan menjadi pakaian kerja seluruh PNS.
Pakaian kerja ini akan dikenakan setiap hari Jumat sehabis olahraga. Namun sejumlah pejabat struktural mengusulkan agar pakaian batik itu dikenakan pada hari Sabtu bukan hari Jumat. Pasalnya hari Jumat merupakan hari pendek, dan biasanya setelah kegiatan olahraga langsung pulang. “Usulan itu akan diperhatikan. Tapi memang baiknya dikenakan hari Sabtu,” ujar Purwadi.
Menurut pengusaha batik Banyumasan, H Imam Munchasir, sampai tahun 1985-an jumlah pengusaha dan perajin batik di Banyumas mencapai ratusan. Tapi bersamaan hadirnya kain motif batik sablonan dan batik cap yang harganya relatif lebih murah dan corak serta warna nya pun lebih bagus, satu-satu pengusaha dan perajin batik Banyumasan bangkrut dan gulung tikar. Faktor lain yang menyebabkan batik Banyumasan gulung tikar adalah karena generasi muda tak menyukai kain batik untuk keperluan seharian.
Sumber : (nts) Kompas Cetak, Purwokerto
Batik menjadi salah satu usaha kecil dan menengah yang berkembang cukup pesat di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Para pengusahanya tersebar di daerah Plered, Trusmi, dan Wotgali. Namun, keterbatasan modal menjadi kendala besar untuk mengembangkan usaha yang berbasis pada budaya tersebut. Demikian keterangan yang dihimpun SCTV dari sejumlah pengusaha batik, baru-baru ini.
Membunuh waktu memang menjemukan. Keadaan inilah yang dialami ribuan pengungsi asal Sampit, Kalimantan Tengah, yang menempati berbagai lokasi penampungan di Kabupaten Bangkalan dan Sampang, Madura, Jawa Timur. Kini, mereka menunggu dipulangkan ke daerah asal yang sempat dilanda konflik antaretnis dua tahun silam [baca: Pengungsi Sampit Berharap Bisa Kembali].
Indonesia memiliki sejumlah sentra penghasil batik. Di antaranya adalah Banyumas, Jawa Tengah, yang mampu memproduksi 7.000 meter batik per bulan. Sayang, dibandingkan daerah penghasil batik lainnya, batik Banyumasan seakan dianaktirikan pemerintah. Buktinya, baru tahun ini, perajin batik Banyumas diundang dalam pameran batik tahunan di Jakarta. Bahkan, batik Banyumasan baru setahun silam dicatat dalam Buku Besar Batik Indonesia. Demikian pemantauan SCTV di Banyumas, baru-baru ini.