Batik Kanganga Sulit Dipasarkan

Perajin Batik BengkuluPerajin batik tradisional Kanganga di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, mengeluh kesulitan memasarkan batik khas daerah tersebut. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mematikan usaha yang baru berkembang selama setahun terakhir. Padahal, batik tersebut adalah hasil budaya tradisional masyarakat Suku Rejang yang sudah jarang dijumpai.

Menurut sejumlah perajin, baru-baru ini, kesulitan dalam pemasaran sebenarnya sudah lama terjadi. Soalnya, jika sebelumnya mampu menjual belasan batik dalam sehari, kini mereka hanya mampu menjual tak lebih dari 10 potong ukuran dua meter. Tak pelak, penjualan ini tak sebanding dengan tingginya biaya produksi, seperti pembelian bahan baku dan upah pekerja. Padahal, selama ini batik Kanganga ditetapkan sebagai bahan pakaian seragam pegawai negeri sipil di Kabupaten Rejang Lebong serta kerap dikenakan para pejabat daerah pada acara-acara resmi.

Terlepas dari kesulitan tersebut, motif batik Kanganga memiliki perbedaan yang mencolok dengan batik yang dijual di pasar pada umumnya. Huruf asli Rejang menjadi motif pada batik Kanganga. Begitu juga dengan proses pembuatan batik Kanganga yang dapat dilakukan dalam waktu satu hari, mulai pembuatan dan pelukisan motif pada kain, proses pelilinan hingga pemberian warna.

Dengan cepatnya waktu pembuatan, biasanya seorang perajin dalam sebulan dapat menghasilkan 70 hingga 120 potong kain batik. Biasanya, sepotong kain dijual seharga Rp 75 ribu. Sedangkan untuk yang berbahan sutra dijual Rp 95 ribu per potong. Tak heran, jika dalam waktu sebulan seorang perajin dapat meraih keuntungan sekitar Rp 1,5 juta.

Sumber : (ORS/Rishnaldi) Liputan6.com, Bengkulu

Leave a Reply