Archive for August, 2003

Peragaan Busana Karya Desainer Indonesia di Bogota

Sunday, August 31st, 2003

Peragaan BusanaSebuah peragaan busana di Bogota, Kolombia, belum lama berselang, yang menampilkan karya tiga perancang Indonesia mendapat perhatian cukup meriah dari warga setempat. Selama dua malam pergelaran bertajuk “Feria Indonesia 2003″, bangku yang disediakan panitia terisi penuh.

Pada kesempatan itu, perancang Yuku Moko mengusung sejumlah karya bernuansa Jawa Barat dengan bahan dasar kain batik. Bagi publik Bogota, rancangan semacam itu tergolong unik dan mungkin tidak pernah mereka saksikan sebelumnya. Apalagi, karya Yuku dimulai dengan konsep sederhana, tanpa aksesori berlebihan sehingga kesan etnik benar-benar terasa dan kentara. Busana rancangan Yuku dibawakan 15 peragawan dan peragawati ternama asal Kolombia.

Berbeda dengan Yuku, Henni Adli menyuguhkan karya-karya terbarunya, berupa gaun panjang dengan bordiran bermotif etnik Padang, Sumatra Barat. Kebanyakan busana karya Henni berwarna cerah dipadu dengan selendang. Sementara perancang perhiasan Mieke Hutabarat mencoba menghadirkan perhiasan-perhiasan perak.

Ajang kali ini baru pertama kali digelar di Bogota. Selain menjaring pangsa pasar luar negeri, khususnya di Amerika Latin, peragaan busana ini menjadi bagian dari acara “Sepekan Indonesia di Kolombia” yang sekaligus menjadi ajang promosi pariwisata, investasi, dan produksi Indonesia di mancanegara [baca: Produk Indonesia Diminati Warga Bogota].

Sumber : (SID/Eko Wahyu dan Taufik Maru) Liputan6.com, Bogota

Sentuhan Bunga dan Kupu-Kupu dalam Batik

Sunday, August 31st, 2003

RAGAM bunga hias dipadu dengan motif kupu-kupu menjadi pilihan corak batik Danar Hadi. Ini tampak dalam pergelaran koleksi terbaru rumah batik Danar Hadi di Jakarta, Kamis (28/8). Meski batik kerap mengundang konotasi akan sesuatu yang kuno, rumah batik yang berpusat di Solo itu mampu menampilkan gaya batik yang modern, sesuai selera pasar serta waktu. Karena itu, rancangan batik tersebut tetap berkesan trendi. Meski demikian, sentuhan pola-pola tradisi batik asli tetap dipertahankan.

Ada dua pilihan kain dari koleksi batik Danar Hadi ini, katun dan sutra. Untuk motif, lebih banyak mengikuti bentuk geometris dan dirancang mengikuti garis busana yang sedang menjadi tren, seperti dalam bentuk blus santai, blus coktail, blus tunik, maupun kebaya.

Untuk santai, atasan batik cap dengan motif kupu-kupu dipadu garis-garis lurus tampak matching dipadu celana jins. Biarpun santai, ada pilihan bagi yang ingin tampil serasi dengan pasangannya. Atasan geometris dengan hiasan ragam bunga dan kupu-kupu warna hitam dengan warna dasar putih, pas dipadu dengan jins hitam.

Bagi mereka yang menyukai eksklusivitas, batik cap pasti kurang menarik. Karena itu, koleksi batik tulis dapat menjadi jalan keluarnya. Beragam motif dengan tema bunga dan kupu-kupu turut dihadirkan. Khusus untuk selendang dengan bahan sutra dalam koleksi terbaru ini sepenuhnya berupa batik tulis.

Paling menonjol dalam rancangan terbaru ini adalah pengaruh budaya dari mancanegara. Misalnya, pengaruh dari Belanda, China, maupun Batik Djawa Hokokai menjadi inspirasi dalam rancangan kali ini.

Sementara dalam pilihan warna-warni pun disesuaikan. Umumnya warna-warni yang sedang menjadi tren. Tapi warna-warna natural, seperti putih, hitam, dan cokelat tetap menjadi pilihan dalam rancangan koleksi Danar Hadi.

Sumber : (Faw/M-4) Media Indonesia

Dekranasda Tegal Gelar “Batik Tegalan”

Thursday, August 14th, 2003

Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Tegal, bekerja sama dengan desainer Nano Suwarno, Rabu (13/8) menyelenggarakan gelar busana produk unggulan Tegal. Dalam peragaan busana yang menampilkan peragawati/peragawan wakil dari instansi pemerintah dan organisasi wanita se-Kabupaten Tegal itu diperagakan batik tegalan, yakni batik yang bermotifkan khas daerah Tegal.

Motif batik khas Tegal, yang dikenal sebagai batik tegalan, yang ditampilkan dalam acara itu, antara lain motif ukel, kombinasi, batu pecah, kotakan, cecek awe, tambangan, grandilan, sawo rembet, buntoro, karung jenggot, dan kopi pecah.

Batik tegalan merupakan batik yang mempunyai ciri khas karena berwarna-warni. Hampir semua motif batik tegalan ditampilkan dalam acara tersebut.

Bupati Tegal Soediharto pun mengenakan busana batik tegalan dengan corak daun teh dan poci. Adapun Ketua Dekranasda Tegal, Ny Sri Adiyati Soediharto mengenakan busana batik dengan corak sekar jagad.

Sri Adiyati mengakui, industri batik tegalan yang merupakan industri rumahan dan industri skala kecil, selama ini kurang memperoleh kesempatan. Padahal, batik tegalan merupakan produk batik tradisional yang spesifik sehingga sudah semestinya dilestarikan.

Kebudayaan lokal

Pergelaran busana batik tegalan itu diikuti pula dengan gelar busana produksi Kabupaten Tegal, yang diikuti 43 peserta.

Sri Adiyati menuturkan, kegiatan itu juga untuk meningkatkan minat dan kemauan membeli masyarakat terhadap produk tradisional. Selain itu, untuk sosialisasi hasil perbaikan usaha sebagai hasil pembinaan yang dilaksanakan Dekranasda Tegal bersama dengan Pemerintah Kabupaten Tegal serta instansi lain.

“Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, setiap daerah kini memiliki otoritas yang kuat untuk menentukan kebijakan pembangunan di wilayahnya. Hal ini dapat menunjang pemberdayaan daerah dalam menggali potensi daerah bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Sri Adiyati.

Bupati Soediharto menambahkan, busana batik khas suatu daerah-termasuk batik tegalan-merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai penting, baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun untuk mengenal kebudayaan lokal.

Sumber : (tra) Kompas Cetak, Tegal

Danarsih Doellah

Sunday, August 10th, 2003

SOLO identik dengan batik, sampai-sampai kota ini memiliki corak batik sendiri yang berbeda dari batik daerah lain, bahkan dari Yogyakarta, yang hanya sepelemparan batu jauhnya dari Solo.

INDUSTRI batik tulis mengalami masa kejayaan sejak pertengahan abad ke-19 meskipun sempat surut saat invasi Jepang tahun 1942-1945. Setelah Orde Baru membuka kesempatan masuknya modal besar ke dalam industri tekstil, industri batik tradisional mendapat saingan berat. Akan tetapi, industrialisasi itu juga membuka peluang tumbuhnya pelaku baru.

Salah satu industri batik Solo yang berhasil bertahan adalah Danar Hadi, lahir tahun 1967 dari pasangan H Santosa Doellah dan Hj Danarsih Doellah. Danarsih, anak keempat dari lima bersaudara keluarga batik di Kauman, lahir tanggal 26 September 1946. Adapun Santosa berayahkan seorang dokter anak, lahir tanggal 7 Desember 1941, tetapi dibesarkan oleh neneknya yang pedagang batik. “Danar Hadi bukan merger usaha batik dua keluarga, kami memulai sendiri usaha ini,” jelas Danarsih dalam wawancara di kantor sekaligus toko Danar Hadi di Kawasan Melawai, Blok M, Jakarta Selatan, dua pekan lalu.

Bermodalkan 29 pak kain mori hadiah pernikahan dari eyang Santosa yang bisa dipakai membuat 174 lembar kain batik, pasangan ini memulai usaha batik mereka. Kini Danar Hadi telah menjadi industri yang terintegrasi dan terus berkembang. Di dalamnya ada industri pemintalan benang, pertenunan dan finishing, industri garmen, dan perusahaan distribusi, serta industri mebel untuk ekspor.

Pasangan Danar-Santosa dikaruniai empat anak: Diah Kusumasari (almarhumah), Diana Hariyadi, Dian Kusumahadi, dan Dewanto Kusumowibowo, serta tiga cucu. Selain masih mengurusi pengembangan desain batik kontemporer, Danarsih, yang biasa disapa Mbak Danar oleh teman-temannya dan penggemar sinetron serta telenovela, aktif dalam kegiatan sosial mulai dari pengajian, tadarusan, senam aerobik, dansa beramai-ramai (”Mas Santosa enggak suka dansa,” kata dia) sampai kegiatan pendidikan. Berikut petikan percakapan dengan Danarsih didampingi putrinya, Diana, yang menikah dengan Hariyadi B Sukamdani, Presiden Direktur PT Hotel Sahid Jaya Tbk.

BAGAIMANA nama Danar Hadi lahir, kok bukan Danar Santosa, misalnya?

Memang yang dipakai nama saya, tetapi praktiknya saya hanya mendampingi Bapak (Santosa). Mulanya kami bekerja bersama-sama karena tradisi di Solo suami-istri biasa bekerja bersama. Akan tetapi, kemudian ketika ada anak-anak, saya juga harus mengurus anak-anak. Jadi, saya cuma mendampingi Bapak.

Nama Danar Hadi itu dari nama saya dan nama ayah saya (H Hadipriyono- Red). Pada waktu kami memulai usaha batik kalau tidak pakai nama, perkembangannya kurang bagus karena banyak orang membuat batik dengan kualitas bermacam-macam. Kalau diberi nama yang akan meniru kan susah juga. Supaya ada mereklah. Kami bertekad, batik kami harus benar- benar batik bagus.

Tentang nama, kok, kayaknya Danar Hadi itu manis. Kalau namanya Danar Santosa kedengarannya kurang luwes. Nama itu ada daya jual. Itu brand name. Yang jelas karunia Allah.

Di Solo suami-istri biasa bekerja bersama, bagaimana pembagian kerjanya?

Pembatik itu biasanya perempuan. Kemudian prosesnya seperti pencelupan, pembikinan lilin, pegawainya laki-laki. Waktu itu kami bagi, saya mengurus pembatik, Bapak mengurus prosesnya karena proses itu sangat menentukan. Juga motif itu menentukan. Motif kami pikirkan berdua. Sampai orang mempertanyakan, kok, saya selalu pergi bersama Bapak, karena segalanya kami kerjakan bersama. Lalu kemudian berkembang, dari batik tulis kemudian jadi batik cap. Dari mori yang halus kemudian jadi mass product.

Begitu married, tahun 1967, kami mulai usaha dan benar- benar jalankan sendiri karena orangtua saya mendidik supaya bisa mandiri. Mereka memberi sekadarnya dan menyerahkan ke kami untuk dikelola sendiri.

Modal awalnya apa?

Modal awalnya dari eyangnya Mas Santosa adalah 29 pak mori, tetapi sebelumnya Mas Santoso sudah punya uang karena pada waktu sekolah dia sudah berdagang batik. Jadi, dia sudah ada modal. Dia itu ulet sekali, luar biasa.

Itu yang membuat Anda jatuh cinta?

Ya, kurang lebih. Karena zaman dulu itu agak lain tidak seperti sekarang.

Dijodohkan?

Dijodohin juga enggak, cuma ditunjukkan. Ayah saya itu adik eyangnya Pak Santoso. Jadi, dekat sekali. Dan ayah saya dulu itu ikut eyangnya Pak Santoso karena sudah tidak punya orangtua.

Kalau sekarang, bagaimana pembagian kerjanya?

Saya waktu itu punya anak yang jaraknya satu tahun-satu tahun sampai empat orang. Sebelumnya, saya setiap hari pergi ke pabrik, tetapi kemudian setelah mereka sudah besar-besar dan perlu pemikiran kami mulai berpikir sebaiknya saya kerja di rumah, melihat anak-anak, dan mereka bisa melihat saya kalau pulang sekolah dan makan siang.

Kemudian dengan kemajuan usaha, mulai banyak karyawan, manajemen mulai disusun supaya bisa profesional. Saya tinggal seperti tenaga ahli. Saya masih terlibat seperti penentuan harga jual. Sampai sekarang saya masih pegang sendiri karena itu yang saya masih bisa lakukan dan strategis.

Apa perlu minta izin dulu kepada Bapak untuk yang akan Anda kerjakan?

Tidak. Kalau dia sudah memberi wewenang kepada saya, ya, sudah. Seperti sekarang, pengelolaan produksi baju santai dia serahkan sepenuhnya kepada saya, dia tidak ikut campur. Tapi, kalau dia lihat ada yang kurang sesuai dia akan katakan. Tapi, kalau saya memberi alasan yang menurut dia bisa diterima, dia akan ikut saya. Tapi, kalau saya memang salah, saya harus ikut dia.

Tidak ada yang memberatkan saya, misalnya, saya merasa terkekang, sepertinya tidak ada. Karena saya juga membatasi diri mana yang boleh saya jalankan sendiri. Saya tidak mau masuk ke wilayah dia: batik yang halus. Saya memegang motif yang lebih kontemporer.

Bagaimana pembagian kerja di rumah tangga?

Di Solo, seperti di Pasar Klewer, masih sampai sekarang, yang kerja itu yang perempuan, justru yang laki-laki lebih banyak nglaras (santai)-nya. Pemasaran itu dulu lebih banyak dikerjakan perempuan, yang laki-laki kalau pagi hanya mengantar ke pasar.

Kalau saya tidak seperti itu. Rumah saya itu rumah tinggal, juga ada show room, workshop, kantor. Jadi, saya ke kantor itu itu cuma dari belakang ke depan. Yang sekarang betul-betul kerja itu Bapak karena dia memang senang. Saya lebih banyak kegiatan sosial, tidak dibebani apa-apa lagi. Dulu saya mengurus sendiri anak-anak.

Diana: Tapi, mengambil rapot diwakilkan.

Danarsih: Itu yang menjadi marahnya anak-anak. Saya waktu itu masih bekerja membantu Bapak zaman perjuangan, sampai tidak ada waktu untuk mengambil rapor. Staf saya yang mengambilkan. Anak- anak marah semua. Setelah itu baru saya merasa, oh, tidak boleh seperti itu. Anak-anak tidak mau. Jadi, saya mulai mendelegasikan (tugas) kepada staf. Saya memutuskan urusan rumah tangga dan anak-anak menjadi kewajiban saya. Kalau saya sudah tidak bisa, baru lapor ke Bapak. Jadi, yang kelihatan marah itu saya. Anak-anak berani menjawab saya, tetapi tidak berani menjawab ayahnya.

Bagaimana Anda memanggil suami?

Diana: Memanggil nama.

Danarsih: Salah itu, enggak boleh sebenarnya. Dulu “tua” saya dalam urutan keluarga. Dia memanggil saya mbak. Saya kan sangat beken dengan panggilan Mbak Danar. Setelah married, ya, harus memanggil mas, tapi suka lupa.

Berarti lebih demokratis sebetulnya?

Oh, ya, keluarga saya sangat demokratis.

Diana: Dalam keseharian kami bicara dengan orangtua tidak menggunakan bahasa Jawa halus sehingga kadang-kadang ada tamu yang bertanya. Soalnya kami sangat dekat.

Danarsih: Dulu kami putuskan seperti itu supaya hubungan kami dekat dengan anak-anak. Saya sangat senang dekat dengan mereka supaya tidak punya jarak. Namun, mereka tetap hormat pada kami.

KETIKA bulan Oktober 2002 meluncurkan bukunya berjudul Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan, Santosa Doellah juga mengumumkan secara resmi keterlibatan ketiga anaknya di dalam Danar Hadi. Diana menjadi direktur sales & marketing, Dian menangani bagian umum, dan Dewanto menangani keuangan. Produk Danar Hadi juga sudah diekspor ke Amerika dan mendapat sambutan baik terutama untuk produk interior, ke Jepang, sebagian kecil ke Jerman dan Perancis.

Danar Hadi melakukan suksesi kepada anak-anak?

Sebetulnya saya dan Mas Santosa memilih profesional, tetapi kenyataannya mereka (anak-anak) lebih profesional lagi. Jadi, alangkah baiknya bila mereka yang masuk. Dari dulu saya ingin supaya anak-anak saya nanti bisa meneruskan usaha saya, karena kalau tidak rasanya apa saya harus bekerja terus dan memberikan kepada orang lain. Itu belum terpikir karena zaman dulu bila ayahnya di batik, anaknya juga di batik.

Karena keinginan supaya mereka nanti bisa meneruskan usaha saya, dulu kalau mereka libur sekolah saya minta masuk ke toko, ikut menjual batik. Saya dulu juga begitu dengan orangtua saya. Anak laki- laki saya suruh pergi ke pabrik, di tekstil. Walaupun mereka waktu itu hanya main, tetapi paling tidak tahu batik. Kenyataannya anak-anak mencintai batik. Alhamdulillah yang saya idamkan terlaksana dan kebetulan mereka juga profesional dan mendudukkan pekerjaan sesuai proporsi.

Danar Hadi adalah sedikit dari banyak industri batik yang bisa bertahan?

Selama saya bekerja 35 tahun, saya tidak asing lagi dengan perubahan permintaan pasar karena memang selalu berubah. Tetapi, alhamdullillah, mungkin Allah memberi pengalaman dan feeling dalam berdagang. Jadi, misalnya, bila sudah harus mengubah sesuatu kami akan merasa. Zaman dulu batik yang saya produksi hanya untuk dipakai level atas, tetapi kan jumlahnya tidak banyak. Kami berpikir bagaimana kalau membuat batik yang bisa dipakai di level kedua. Zaman dulu, batik di level kedua itu tidak ada, sedangkan yang di bawah dari kain sangat kasar. Jadi, kami membuat batik untuk yang di tengah dengan cap. Ternyata laku sekali. Jadi, orang yang pakai kain batik tulis, kemudian mau memakai yang cap dengan kualitas bagus dan bahan dasar bagus. Perkembangannya lagi, orang tidak mau memakai batik, mereka memakai rok batik. Kami kemudian membuatnya.

Bagaimana masa depan batik?

Saya optimistis sekali karena setelah 35 tahun di batik saya tahu batik sangat gampang mengikuti perkembangan zaman. Motif batik kita kaya sekali dan bisa kita kembangkan ke mana saja, seperti baju yang saya kenakan sekarang. Ambil salah satu unsur motif batik supaya tidak ramai.

Siapa yang menentukan perubahan tersebut?

Kami berdua, kami diskusikan. Juga masukan dari langganan. Kami sangat responsif (terhadap pasar). Dulu kami pergi sendiri. Saya dulu sering jalan dari Solo, lewat Pekalongan, Cirebon, Bandung, saya kunjungi sendiri langganan. Saya masih bertahan karena kami selalu mengikuti perkembangan.

Ini yang saya sampaikan kepada anak saya, hal-hal seperti itu yang harus dia kembangkan. Dia harus mengikuti apa yang dimaui pasar. Dia sering ke mana-mana untuk mengetahui apa kelemahan kami. Apa harga kami terlalu mahal atau tidak. Mungkin yang paling susah adalah tahun-tahun ini, setelah krisis moneter. Kelihatan memang ada penurunan daya beli masyarakat. Itu harus kita sikapi.

Bagaimana itu?

Kami harus bisa membuat produk sesuai daya beli pasar. Jadi, ada level produk yang harus diisi semua. Dan belakangan ini banyak eksekutif muda. Dulu saya masih bisa mengikuti semuanya karena umur saya. Tetapi, dengan berkembangnya usia mungkin selera saya sudah tidak cocok lagi untuk yang di bawah saya. Setelah adanya Nana (Diana Hariyadi), dia merekrut tenaga baru seusia dia yang trendy, yang tahu fashion. Saya juga sekarang senang karena di Solo pun saya punya staf seusia Nana dan dia banyak memberi masukan, memberi inspirasi untuk membuat sesuatu bagi mereka.

Jadi, Anda masih aktif ikut memutuskan mana yang harus diproduksi?

Ya, kami diskusi bersama karena saya senang. Sekarang saya merasa muda setelah bekerja dengan mereka-mereka itu. Dulu waktu sama Nana, hanya mengurus baju muslim atau baju ibu-ibu saja. Ukuran juga begitu, saya bilang harus besar. Kemudian Nana bilang, “Enggak Bu, orang sekarang sudah mulai langsing, enggak seperti dulu.” Ukuran kita pun sudah beragam, kita berusaha masuk ke semua lapisan segmen pasar. Baik dari mode, harga, alhamdullillah walau bagaimanapun susahnya, masih jalan.

Bagaimana dengan ekspor?

Saya tidak langsung menangani, tetapi kemarin saya menerima laporan karena kami menggunakan batik tangan, bukan printing, langganan tidak lari dan produk kami masih bisa bersaing dengan Cina. Rasanya saya cuma bisa alhamdulillah terus. Amerika masih mau. Kalau untuk baju-baju muslim, kita berat bersaing dengan Afrika dan Indonesia. Apalagi batik itu tidak semudah mengekspor tekstil.

Beberapa tahun lalu saya sepertinya malas karena pasar lesu dan saya sendiri juga banyak masalah. Tapi, belakangan setelah Nana masuk dan bawa teman-temannya yang muda-muda, saya jadi bersemangat. Nana ini ujiannya (sebagai direktur di perusahaan) jalan terus. Memang tidak semudah kelihatannya. Kerikil kecil itu ada saja, mungkin seperti perbedaan visi.

Persaingan di dalam negeri?

Saya tidak begitu khawatir karena saya percaya rezeki itu sudah diatur yang di atas, asal kita berusaha. Itu yang saya tanamkan kepada anak-anak saya. Saingan bikin apa, kok laku, oh, trennya seperti itu. Tapi, saya tidak khawatir karena kami punya pangsa pasar sendiri.

Yang saya tekankan kepada anak-anak, suatu usaha harus betul-betul ditekuni. Tidak boleh merasa sudahlah karena sudah maju, sudah jalan, karena toh laku. Harus diteliti, misalnya, apa keunggulan, kekurangannya. Kalau misalnya satu batik laku, kita harus berpikir apa akan laku terus, apa tidak akan membuat sesuatu yang baru untuk dicoba. Itu harus terus dilakukan.

DIBESARKAN dalam keluarga pedagang batik, Danarsih sejak kecil sudah mengenal usaha batik meskipun mengaku tidak diajarkan membatik secara khusus oleh ibunya.

“Kami disekolahkan sama dan tidak dibedakan (antara anak laki- laki dan perempuan), seperti saya mendidik anak saya. Saya dulu kuliah di Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, tetapi tidak selesai, hanya satu tahun. Waktu tahun 1965 saya ikut demonstrasi bersama KAMI/KAPPI, sampai panser lewat di tengah. Ibu saya sampai kebingungan karena saya enggak pulang-pulang. Waktu itu ada yang meninggal di Yogya lalu semua kumpul di masjid dan pawai berkabung. Sebelah saya, asrama CGMI dibakar. Ibu khawatir. Saya pulang ke Solo. Saya mau kuliah di Saraswati Solo, tetapi adanya Fakultas Hukum. Saya merasa enggak cocok.

Diana: SMA Ibu sama dengan SMA saya. Guru saya membandingkan saya dengan Ibu, “Kamu kok kimianya tidak sepintar ibumu.”

Danarsih: Waktu di SMA B (Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam), murid perempuannya cuma tiga, jadi guru hafal. Nana sering jengkel dibandingkan dengan saya. Setelah kuliah berhenti, saya pulang dan ikut bantu Ibu. Ternyata senang dan keterusan. Orangtua juga tidak mengharuskan saya jadi sarjana. Kalau sekarang kan tidak, sekolah itu penting sekali.

Hidup Anda penuh dengan berkah?

Saya bersyukur kepada Yang Mahakuasa, syukur itu di dalam hati. Sebagai orangtua, yang dilihat anak-anaknya. Anak-anak saya itu menurut penglihatan saya baik. Kalau diberi cobaan, kita harus bisa menerima. Selama kita bisa menerima semuanya, yang ada hanya kebahagiaan. Kalau sedang dicoba, ini adalah kehendak Yang Mahakuasa dan saya harus lewati. Apa pun kita tetap berprasangka baik bahwa apa yang ditakdirkan semuanya untuk kebaikan kita juga.

Melalui masa-masa sulit itu, apa yang Anda lakukan?

Saya hanya berdoa. Waktu anak saya (Diah) meninggal, anak saya Dewanto sakit keras karena kecelakaan (tahun 1995, dalam waktu sangat berdekatan). Satu setengah tahun dia sakit. Saya di rumah sakit di Singapura delapan bulan menunggui. Komanya tiga bulan. Tujuan saya cuma satu, saya mendapat titipan dari Yang Mahakuasa yang dalam keadaan sakit, saya harus berusaha sebaiknya. Menelepon dokter di Tel Aviv juga saya jalani. Walau bahasa Inggris saya jelek sekali pun, kalau saya harus sendiri mencari. Saya dengar dari teman, di Aljazair kan ada perang, di sana ada rumah sakit yang bisa mengatasi cedera otak. Saya bisa telepon dokternya di sana dan dokternya mau bicara dengan dokter di Singapura. Akhirnya anak saya mengalami operasi yang pertama kali dilakukan di Singapura, rusuknya diambil empat diganti dengan otot. Lalu operasi di tenggorokan yang risikonya dia tidak bisa bicara.

Pada waktu anak pertama saya meninggal, saya tidak terus bersusah-susah karena saya punya tanggungan lain, yang sakit di Singapura. Saya langsung ke Solo hanya mengurus pemakaman dan kembali ke Singapura. Saya harus menunggui karena keadaannya tidak menentu. Krisis itu enggak berhenti. Dokternya tiga kali angkat tangan.

Kejadian yang saya alami itu membuat saya seperti ditempa. Ternyata jadi orangtua tidak pernah berhenti. Kalau orang bilang (tugas kepada) anak sudah selesai, sudah married semua, sebetulnya tidak. Persoalan anak otomatis jadi persoalan orangtua. Makanya, kalau orang melihat saya sepertinya saya tidak pernah sedih, semua tergantung kita sendiri. Kalau mau dibikin susah, ya, susah.

(Pewawancara: Elok Dyah Meswati, Johnny TG, Ninuk Mardiana Pambudy) Kompas cetak, Jakarta

Kain Dodot Sampiran Pengantin Terpanjang

Friday, August 8th, 2003

Kain Dodot TerpanjangKain panjang yang disampirkan pada gaun pengantin wanita di dunia Barat, ternyata juga lazim pada budaya Jawa Tengah. Tengok saja pakaian pengantin pasangan Hanny Suharni dan Yosef Teguh Handaru Prasetyo di Semarang, Jateng, baru-baru ini. Uniknya lagi, kain dodot basahan yang menyampir memiliki panjang 9,8 meter. Biasanya kain dodot hanya sepanjang setengah meter.

Yosef mengatakan, ide memakai kain dodot panjang ini untuk memberi nuansa baru dan melestarikan tradisi busana pengantin adat Jateng. Yosef menjelaskan, kain dodot pada mempelai wanita biasa disebut cindai. Sedangkan pada pengantin pria disebut kunco. Pembuatan cinde dan kunco bermotif batik gaya Solo terpanjang itu membutuhkan waktu selama dua pekan.

Sumber : (ZAQ/Yudi Sutomo) Liputan6.com, Semarang

Batik Kanganga Sulit Dipasarkan

Monday, August 4th, 2003

Perajin Batik BengkuluPerajin batik tradisional Kanganga di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, mengeluh kesulitan memasarkan batik khas daerah tersebut. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mematikan usaha yang baru berkembang selama setahun terakhir. Padahal, batik tersebut adalah hasil budaya tradisional masyarakat Suku Rejang yang sudah jarang dijumpai.

Menurut sejumlah perajin, baru-baru ini, kesulitan dalam pemasaran sebenarnya sudah lama terjadi. Soalnya, jika sebelumnya mampu menjual belasan batik dalam sehari, kini mereka hanya mampu menjual tak lebih dari 10 potong ukuran dua meter. Tak pelak, penjualan ini tak sebanding dengan tingginya biaya produksi, seperti pembelian bahan baku dan upah pekerja. Padahal, selama ini batik Kanganga ditetapkan sebagai bahan pakaian seragam pegawai negeri sipil di Kabupaten Rejang Lebong serta kerap dikenakan para pejabat daerah pada acara-acara resmi.

Terlepas dari kesulitan tersebut, motif batik Kanganga memiliki perbedaan yang mencolok dengan batik yang dijual di pasar pada umumnya. Huruf asli Rejang menjadi motif pada batik Kanganga. Begitu juga dengan proses pembuatan batik Kanganga yang dapat dilakukan dalam waktu satu hari, mulai pembuatan dan pelukisan motif pada kain, proses pelilinan hingga pemberian warna.

Dengan cepatnya waktu pembuatan, biasanya seorang perajin dalam sebulan dapat menghasilkan 70 hingga 120 potong kain batik. Biasanya, sepotong kain dijual seharga Rp 75 ribu. Sedangkan untuk yang berbahan sutra dijual Rp 95 ribu per potong. Tak heran, jika dalam waktu sebulan seorang perajin dapat meraih keuntungan sekitar Rp 1,5 juta.

Sumber : (ORS/Rishnaldi) Liputan6.com, Bengkulu