Menyulap Karung Terigu Menjadi Sprei Batik
Bahan bekas tak mesti masuk keranjang sampah. Lihatlah kreasi yang dihasilkan sejumlah warga Kecamatan Cipedes, Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka memanfaatkan karung bekas terigu untuk dirangkai menjadi kain sprei dan sarung bantal bermotif batik. Bahkan, kerajinan tersebut telah dipasarkan ke berbagai kota di Tanah Air. Demikian pengamatan SCTV ketika mengunjungi kawasan tersebut, baru-baru ini.
Menurut perajin bernama Kohar, aktifitas merangkai karung bekas menjadi sprei dan sarung bantal batik telah berjalan sejak 1980-an. Sementara proses pembuatan sprei atau sarung bantal ini sangat sederhana. Diawali dengan membersihkan karung bekas. Setelah bersih, karung dijemur. Karung yang telah bersih dari sisa terigu kemudian direndam beberapa jam dengan menggunakan kaporit. Proses dilanjutkan dengan mencuci di dalam bak khusus untuk kemudian dijemur.
Setelah kering, masih menurut Kohar, lembaran karung bekas tersebut disetrika dan disablon. Buat menghasilkan motif gambar batik yang baik, lembaran-lembaran karung bekas dilicinkan dengan menggunakan setrika tradisional. Sebagian besar batik dari karung bekas ini hanya memiliki empat motif, yakni motif bunga penuh, bunga sedang, unyil, dan super. Seluruh motif didominasi warna biru dan merah.
Lebih jauh Kohar menjelaskan, sebuah kain sprei membutuhkan paling tidak enam lembar kain bekas terigu. Sedangkan untuk sarung bantal hanya dibutuhkan satu potong. Kohar mengaku mampu memproduksi rata-rata 100 kodi per hari. Kendati demikian, semua itu tergantung kondisi cuaca. Untuk satu kodi sprei, Kohar biasa menjual dengan harga Rp 180 ribu. Sayangnya, kini, para perajin mengeluh kesulitan memperoleh bahan baku. Soalnya, sebagian perusahaan tepung terigu mengubah kemasan karung dari kain menjadi plastik.
Sumber : (ANS/Budi Rahmat) Liputan6.com, Tasikmalaya