Pemerintah Dinilai Kurang Perhatikan Dunia Fashion

Pemerintah, baik pusat maupun daerah dinilai masih kurang memperhatikan dunia fashion. Padahal, Indonesia merupakan negara produsen tekstil yang amat besar di dunia. Kepedulian pemerintah pada kegiatan fashion sebenarnya bisa meningkatkan citra tekstil, termasuk mengangkat pemasarannya secara internasional.

Kegiatan fashion sebenarnya tidak sekadar hura-hura, melainkan merupakan ajang promosi dan menaikkan “gengsi” tekstil.

Demikian dikemukakan desainer asal Yogyakarta, Afif Syakur, di sela-sela pergelaran busana rancangan desainer Anne Avantie di Semarang, Sabtu (26/7) malam. Dalam pergelaran itu, Anne menampilkan 43 karya rancangannya dengan tema Djiwakoe, untuk memperingati 14 tahun kiprahnya di dunia perancangan busana.

Selama pergelaran, Anne tidak hanya menampilkan rancangan khasnya berupa kebaya, melainkan juga busana malam dan pakaian funky.

Saat membuka pagelaran karya Anne Avantie, desainer Musa Widyaatmojo menyebutkan, untuk bisa menjadi desainer yang andal memang dibutuhkan komitmen, dedikasi, dan kerja keras. Anne Avantie menunjukkan hal itu. Tetapi, desainer pun membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Afif mencontohkan, kegiatan Bali Fashion Week yang sudah tiga tahun ini digelar kalangan desainer selama ini kurang mendapatkan dukungan dari pemerintah.

Padahal, melalui event seperti itu pemerintah bisa mempromosikan tekstil yang diproduksi perusahaan dalam negeri, termasuk untuk menaikkan gengsi tekstil produksi dalam negeri. Biasanya, kain yang digunakan dalam kegiatan fashion dinilai berkelas.

“Bukan berarti melalui fashion kita bisa menaikkan kualitas kain, dari yang sebenarnya tidak berkualitas menjadi mahal harganya. Tetapi, melalui fashion, kan, bisa diperkenalkan tekstil produksi negeri ini yang benar-benar berkualitas. Karena itu, dukungan dari pemerintah memang sangat diperlukan,” paparnya lagi.

Batik pejabat
Menurut Afif, Indonesia kaya dengan tekstil bercorak tradisional, khususnya batik. Tetapi, selama ini sejumlah pejabat pemerintah juga terkesan enggan memakai pakaian batik, terutama pada event internasional. Pemakaian batik oleh seorang pejabat pemerintahan bisa memacu pertumbuhan industri batik nasional, termasuk mengangkat citra dan pemasarannya secara internasional pula.

“Selama ini memang dikesankan batik itu hanya pakaian staf. Padahal, sudah banyak desainer pakaian batik yang berkelas. Kenapa tidak, misalnya dalam kegiatan nasional atau internasional pejabat kita menggunakan pakaian batik,” katanya lagi. Karena itu, peran pemerintah dalam dunia fashion bukan hanya diharapkan secara institusional, melainkan juga dari penampilan pejabat pemerintah secara perorangan.

Dari pengamatan Kompas, Singapura merupakan negara yang benar-benar mendukung kegiatan fashionnya. Agustus mendatang, misalnya, akan digelar Singapore Fashion Week.

Kegiatan itu bukan hanya melibatkan komunitas perancang busana di Singapura, melainkan didukung Departemen Perindustrian dan Perdagangan setempat maupun Singapore Tourism Board. Wisatawan yang berkunjung ke Singapura untuk menikmati fashion dan belanja akan mendapat potongan harga tiket penerbangan.

Sumber : (TRA) Kompas Cetak

One Response to “Pemerintah Dinilai Kurang Perhatikan Dunia Fashion”

  1. upi Says:

    Benar Sekali!
    Pemerintah Indonesia memang ”nol pothol” soal kegiatan fashionnya.Artis-artis hollywood saja sering ditemui bergaya dengan Kimono.Itu karena Harajuku dan Shibuya divonis sebagai ciri khas japan fashion.Singapura kan negara maju,pemerintah sana mendukung event itu sih wajar!Tapi kalau Indonesia,lha wong Batik saja dianggap (maaf) katrok,bagaimana Victoria Bechkam mau memakai Batik kalau pejabat-pejabat yang selalu disorot publik saja malas pakai Batik!!??

Leave a Reply