Batik Ny Jogo Pertiwi Diselamatkan Keraton

Batik karya almarhumah Ny Jogo Pertiwi, perintis dan pengembang batik di wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, akan diselamatkan Keraton Yogyakarta.

Ny Jogo Pertiwi yang meninggal sekitar tiga bulan lalu dalam usia 93 tahun, sampai menjelang akhir hayatnya masih berkarya. Berbagai motif batik yang berasal dari keraton dan digarap dengan kreasinya sendiri.

Ny Duriah, anak menantu yang kini meneruskan usaha Jogo Pertiwi, kepada Kompas, Senin (14/7) menyatakan, dirinya beberapa waktu lalu dipanggil oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas ke Keraton Yogyakarta. GKR Hemas bermaksud mengabadikan karya-karya batik almarhum mertuanya. Artinya, batik hasil coretan asli Jogo Pertiwi akan didokumentasi dengan foto-foto.

“Ya kami senang sekali, karena batik leluhur kami mendapat perhatian dari keraton,” kata Ny Duriah. Ny Jogo Pertiwi juga menyimpan batik-batik kuno hasil karyanya.

Semasa hidupnya, Ny Jogo Pertiwi dikenal sebagai seorang pembuat batik yang sangat mahir. Dalam membatik Ny Jogo Pertiwi-yang sejak kecil memang sudah belajar membatik-tidak pernah menggunakan sketsa atau mal. Semuanya digarap langsung dengan menorehkan canting alat membatik ke kain.

Dia banyak menciptakan karya sendiri seperti motif Irian dan Kipas. Di samping itu, dia juga membatik motif-motif yang berasal dari keraton, yang dimodifikasi sendiri. Batik asal keraton itu seperti Sekar Jagad, Sidomukti, Sidomulyo, Kawung Picis, Semen rono, dan Babon Angrem.

Juragan batik
Ny Jogo Pertiwi yang bertempat tinggal di kaki makam raja-raja Imogiri, dipandang sebagai perintis kreasi batik di Imogiri. Semua kreasi batik yang diciptakannya dimasyarakatkan kepada para pembatik di lingkungannya. Bahkan, sudah bertahun-tahun Ny Jogo pertiwi menjadikan para pembatik sekitar Imogiri menjadi semacam anak angkat, dengan memberi modal kecil untuk membuat batik.

Para pembatik di Imogiri sering kali diberi kain oleh Ny Jogo Pertiwi, dan diminta membuat karya batik apa pun. Setelah selesai, Ny Jogo Pertiwi membeli dan menjualnya lagi ke toko batik di Yogyakarta, seperti Megaria dan Mirota. Karena usaha inilah Ny Jogo Pertiwi sering disebut sebagai juragan batik.

“Dulu ketika ibu masih hidup di memiliki sekitar 170 anak angkat. Tetapi, setelah ibu meninggal saya hanya memilih pembatik-pembatik yang bisa berkarya batik halus saja. Soalnya, kondisi sekarang sudah sepi. Tamu-tamu ibu yang sering datang dari Jepang dan Amerika Serikat, sampai sekarang juga belum datang,” ujar Ny Duriah, yang menjual batik tulis seharga Rp 250.000 sampai Rp 350.000 per potong.

Sumber : (TOP) Kompas Cetak, Imogiri

Leave a Reply