Archive for July, 2003

Pembatik di Tasikmalaya Berkurang

Wednesday, July 30th, 2003

Perajin Batik Tulis TasikmalayaBatik tulis Tasikmalaya, Jawa Barat, belakangan ini semakin sulit ditemukan di pasaran. Padahal, batik dari Priangan Timur ini sudah dikenal di mancanegara. Penyebab langkanya batik tulis Tasik ini akibat semakin menurunnya jumlah perajin di Kota Resik. Pada masa keemasan sekitar tahun 60-an, perajin batik di Tasik mencapai 350 orang. Namun terakhir, jumlahnya menyusut tinggal 30 orang saja.

Ketika ditemui SCTV, baru-baru ini, seorang perajin batik bernama Udey Budiman menyatakan, jumlah karyawan di perusahaannya belakangan terus berkurang. Penurunan ini akibat generasi muda di Tasik tak lagi tertarik menekuni dunia batik. Kini yang tersisa, pembatik yang mayoritas berusia lanjut.

Udey yang sudah menekuni seni batik sejak 35 tahun silam berharap generasi muda melirik batik sebagai sebuah profesi. Sebab peran generasi muda sangat penting untuk melestarikan corak batik Tasik yang mempunyai keistimewaan. Di antaranya, warna yang cerah namun tetap klasik dengan dominasi warna biru. Sedangkan motifnya kental dengan nuansa Parahyangan seperti bunga anggrek dan burung. Untuk menghasilkan selembar kain batik dibutuhkan waktu sekitar satu bulan. Harga per lembar kain ditawarkan dari Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta.

Sumber : (YYT/Budi Rahmat) Liputan6.com, Tasikmalaya

Menyulap Karung Terigu Menjadi Sprei Batik

Tuesday, July 29th, 2003

Proses Pencetakan Sprei BatikBahan bekas tak mesti masuk keranjang sampah. Lihatlah kreasi yang dihasilkan sejumlah warga Kecamatan Cipedes, Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka memanfaatkan karung bekas terigu untuk dirangkai menjadi kain sprei dan sarung bantal bermotif batik. Bahkan, kerajinan tersebut telah dipasarkan ke berbagai kota di Tanah Air. Demikian pengamatan SCTV ketika mengunjungi kawasan tersebut, baru-baru ini.

Menurut perajin bernama Kohar, aktifitas merangkai karung bekas menjadi sprei dan sarung bantal batik telah berjalan sejak 1980-an. Sementara proses pembuatan sprei atau sarung bantal ini sangat sederhana. Diawali dengan membersihkan karung bekas. Setelah bersih, karung dijemur. Karung yang telah bersih dari sisa terigu kemudian direndam beberapa jam dengan menggunakan kaporit. Proses dilanjutkan dengan mencuci di dalam bak khusus untuk kemudian dijemur.

Setelah kering, masih menurut Kohar, lembaran karung bekas tersebut disetrika dan disablon. Buat menghasilkan motif gambar batik yang baik, lembaran-lembaran karung bekas dilicinkan dengan menggunakan setrika tradisional. Sebagian besar batik dari karung bekas ini hanya memiliki empat motif, yakni motif bunga penuh, bunga sedang, unyil, dan super. Seluruh motif didominasi warna biru dan merah.

Lebih jauh Kohar menjelaskan, sebuah kain sprei membutuhkan paling tidak enam lembar kain bekas terigu. Sedangkan untuk sarung bantal hanya dibutuhkan satu potong. Kohar mengaku mampu memproduksi rata-rata 100 kodi per hari. Kendati demikian, semua itu tergantung kondisi cuaca. Untuk satu kodi sprei, Kohar biasa menjual dengan harga Rp 180 ribu. Sayangnya, kini, para perajin mengeluh kesulitan memperoleh bahan baku. Soalnya, sebagian perusahaan tepung terigu mengubah kemasan karung dari kain menjadi plastik.

Sumber : (ANS/Budi Rahmat) Liputan6.com, Tasikmalaya

Pemerintah Dinilai Kurang Perhatikan Dunia Fashion

Monday, July 28th, 2003

Pemerintah, baik pusat maupun daerah dinilai masih kurang memperhatikan dunia fashion. Padahal, Indonesia merupakan negara produsen tekstil yang amat besar di dunia. Kepedulian pemerintah pada kegiatan fashion sebenarnya bisa meningkatkan citra tekstil, termasuk mengangkat pemasarannya secara internasional.

Kegiatan fashion sebenarnya tidak sekadar hura-hura, melainkan merupakan ajang promosi dan menaikkan “gengsi” tekstil.

Demikian dikemukakan desainer asal Yogyakarta, Afif Syakur, di sela-sela pergelaran busana rancangan desainer Anne Avantie di Semarang, Sabtu (26/7) malam. Dalam pergelaran itu, Anne menampilkan 43 karya rancangannya dengan tema Djiwakoe, untuk memperingati 14 tahun kiprahnya di dunia perancangan busana.

Selama pergelaran, Anne tidak hanya menampilkan rancangan khasnya berupa kebaya, melainkan juga busana malam dan pakaian funky.

Saat membuka pagelaran karya Anne Avantie, desainer Musa Widyaatmojo menyebutkan, untuk bisa menjadi desainer yang andal memang dibutuhkan komitmen, dedikasi, dan kerja keras. Anne Avantie menunjukkan hal itu. Tetapi, desainer pun membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Afif mencontohkan, kegiatan Bali Fashion Week yang sudah tiga tahun ini digelar kalangan desainer selama ini kurang mendapatkan dukungan dari pemerintah.

Padahal, melalui event seperti itu pemerintah bisa mempromosikan tekstil yang diproduksi perusahaan dalam negeri, termasuk untuk menaikkan gengsi tekstil produksi dalam negeri. Biasanya, kain yang digunakan dalam kegiatan fashion dinilai berkelas.

“Bukan berarti melalui fashion kita bisa menaikkan kualitas kain, dari yang sebenarnya tidak berkualitas menjadi mahal harganya. Tetapi, melalui fashion, kan, bisa diperkenalkan tekstil produksi negeri ini yang benar-benar berkualitas. Karena itu, dukungan dari pemerintah memang sangat diperlukan,” paparnya lagi.

Batik pejabat
Menurut Afif, Indonesia kaya dengan tekstil bercorak tradisional, khususnya batik. Tetapi, selama ini sejumlah pejabat pemerintah juga terkesan enggan memakai pakaian batik, terutama pada event internasional. Pemakaian batik oleh seorang pejabat pemerintahan bisa memacu pertumbuhan industri batik nasional, termasuk mengangkat citra dan pemasarannya secara internasional pula.

“Selama ini memang dikesankan batik itu hanya pakaian staf. Padahal, sudah banyak desainer pakaian batik yang berkelas. Kenapa tidak, misalnya dalam kegiatan nasional atau internasional pejabat kita menggunakan pakaian batik,” katanya lagi. Karena itu, peran pemerintah dalam dunia fashion bukan hanya diharapkan secara institusional, melainkan juga dari penampilan pejabat pemerintah secara perorangan.

Dari pengamatan Kompas, Singapura merupakan negara yang benar-benar mendukung kegiatan fashionnya. Agustus mendatang, misalnya, akan digelar Singapore Fashion Week.

Kegiatan itu bukan hanya melibatkan komunitas perancang busana di Singapura, melainkan didukung Departemen Perindustrian dan Perdagangan setempat maupun Singapore Tourism Board. Wisatawan yang berkunjung ke Singapura untuk menikmati fashion dan belanja akan mendapat potongan harga tiket penerbangan.

Sumber : (TRA) Kompas Cetak

Batik Ny Jogo Pertiwi Diselamatkan Keraton

Tuesday, July 15th, 2003

Batik karya almarhumah Ny Jogo Pertiwi, perintis dan pengembang batik di wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, akan diselamatkan Keraton Yogyakarta.

Ny Jogo Pertiwi yang meninggal sekitar tiga bulan lalu dalam usia 93 tahun, sampai menjelang akhir hayatnya masih berkarya. Berbagai motif batik yang berasal dari keraton dan digarap dengan kreasinya sendiri.

Ny Duriah, anak menantu yang kini meneruskan usaha Jogo Pertiwi, kepada Kompas, Senin (14/7) menyatakan, dirinya beberapa waktu lalu dipanggil oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas ke Keraton Yogyakarta. GKR Hemas bermaksud mengabadikan karya-karya batik almarhum mertuanya. Artinya, batik hasil coretan asli Jogo Pertiwi akan didokumentasi dengan foto-foto.

“Ya kami senang sekali, karena batik leluhur kami mendapat perhatian dari keraton,” kata Ny Duriah. Ny Jogo Pertiwi juga menyimpan batik-batik kuno hasil karyanya.

Semasa hidupnya, Ny Jogo Pertiwi dikenal sebagai seorang pembuat batik yang sangat mahir. Dalam membatik Ny Jogo Pertiwi-yang sejak kecil memang sudah belajar membatik-tidak pernah menggunakan sketsa atau mal. Semuanya digarap langsung dengan menorehkan canting alat membatik ke kain.

Dia banyak menciptakan karya sendiri seperti motif Irian dan Kipas. Di samping itu, dia juga membatik motif-motif yang berasal dari keraton, yang dimodifikasi sendiri. Batik asal keraton itu seperti Sekar Jagad, Sidomukti, Sidomulyo, Kawung Picis, Semen rono, dan Babon Angrem.

Juragan batik
Ny Jogo Pertiwi yang bertempat tinggal di kaki makam raja-raja Imogiri, dipandang sebagai perintis kreasi batik di Imogiri. Semua kreasi batik yang diciptakannya dimasyarakatkan kepada para pembatik di lingkungannya. Bahkan, sudah bertahun-tahun Ny Jogo pertiwi menjadikan para pembatik sekitar Imogiri menjadi semacam anak angkat, dengan memberi modal kecil untuk membuat batik.

Para pembatik di Imogiri sering kali diberi kain oleh Ny Jogo Pertiwi, dan diminta membuat karya batik apa pun. Setelah selesai, Ny Jogo Pertiwi membeli dan menjualnya lagi ke toko batik di Yogyakarta, seperti Megaria dan Mirota. Karena usaha inilah Ny Jogo Pertiwi sering disebut sebagai juragan batik.

“Dulu ketika ibu masih hidup di memiliki sekitar 170 anak angkat. Tetapi, setelah ibu meninggal saya hanya memilih pembatik-pembatik yang bisa berkarya batik halus saja. Soalnya, kondisi sekarang sudah sepi. Tamu-tamu ibu yang sering datang dari Jepang dan Amerika Serikat, sampai sekarang juga belum datang,” ujar Ny Duriah, yang menjual batik tulis seharga Rp 250.000 sampai Rp 350.000 per potong.

Sumber : (TOP) Kompas Cetak, Imogiri

Mushaf Alquran Bermotif Batik Dipamerkan di Jambi

Thursday, July 10th, 2003

Mushaf AlquranMushaf Alquran bermotif batik tulis sepanjang dua meter dipamerkan pertama kali pada jambore Badan Kontak Majelis Taklim se-Indonesia di Kabupaten Kerinci, Jambi, Rabu (9/7). Ketua MPR Amien Rais dan sejumlah pimpinan pemerintah daerah Jambi turut menyaksikan mushaf yang baru dikerjakan hingga 27 juz itu. Jika pengerjaannya selesai sampai 30 juz, maka panjang Mushaf mencapai 2,5 meter dan tercatat sebagai Mushaf Alquran terpanjang di dunia.

Pembuat Mushaf, Buya Syahril Zakaria mengatakan, proses pengerjaan karya seni berbasis religi itu dikerjakan seorang diri. Tapi untuk mengusung Mushaf itu dibutuhkan bantuan 200 orang. Mushaf yang dibuat sejak tiga tahun silam di Sanggar Bakti Kita Kerinci tersebut diperkirakan menelan biaya Rp 250 juta.

Belum lama berselang, Pemda Kalimantan Barat juga membuat mushaf berhiaskan ragam seni dan budaya setempat. Kerja besar pemda setempat melibatkan sejumlah alumnus seni rupa Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat. Mushaf Alquran ini akan berukuran 107 sentimeter kali 80 cm [baca: Mushaf Alquran Khatulistiwa Beretnis Kalimantan Barat].

Sumber : (COK/Suhatman Pisang) Liputan6.com, Kerinci