Batik Bunga Sakura Membidik Pasar Jepang
MENGIKUTI selera pasar tanpa mengorbankan idealisme ternyata dapat semakin memajukan usaha. Hal ini dilakukan oleh Anita Kusumawati, pemilik Kusuma Art & Collection, yang memproduksi batik di atas beragam bahan.
Ditemui dalam kesempatan pameran di Hotel Majapahit, Surabaya, Anita menunjukkan satu per satu koleksi Kusuma yang berlokasi di Sepanjang, Sidoarjo. Selama ini batik identik dengan Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan. Bermacam motif tradisional, misalnya parang, menjadi sangat modern dan berdaya jual tinggi.
Seperti yang dikatakan Anita, selama ini batik memang terkesan klasik sehingga pasarnya sangat terbatas. Padahal, batik bukan semata-mata hiasan motif klasik di atas sehelai kain. “Batik adalah segala macam gambar yang dibuat di atas sehelai kain menggunakan canting, berbahan dasar lilin,” kata Anita.
Maka, tatkala seorang wisatawan Jepang memintanya memadukan motif bunga sakura dengan motif batik di permukaan mangkuk kecil buatan Kusuma, Anita menyanggupi. Toh, hasilnya terlihat cantik di mata wisatawan Jepang itu, bahkan bagi pembeli lainnya.
Lekuk bunga sakura terasa menyatu dengan motif lain di sekelilingnya. Bunga sakura yang gambarnya diambil dari buku-buku kiriman pelanggannya dari Jepang itu bagaikan inovasi motif yang memberi nuansa baru.
“Apalagi saya memang sengaja membidik Jepang sebagai pasar produk kerajinan saya. Alasannya sederhana, pembeli dari Jepang terkenal sangat teliti dalam hal kualitas, namun sangat loyal jika kita mampu memenuhi kualitas yang ia syaratkan,” ujar Anita.
Oleh karena itu, permintaan pembeli dari Jepang-yang jumlahnya semakin banyak dari tahun ke tahun-berusaha diikuti dengan baik oleh Anita. Kendati mengikuti selera pasar, Anita tidak akan membuat motif yang tidak menyatu atau saling tabrak dengan motif lainnya.
Hal yang sama ia lakukan terhadap pelanggan dari Thailand dan Korea. Motif khas kedua negara itu ia padukan dengan motif batik dari Indonesia seperti yang sudah dikenal selama ini. Namun, untuk memberikan hasil menyatu antara motif antara negara itu, Anita membatasi motif tambahan berupa bunga.
Untuk pembeli dari Thailand, misalnya, ia akan menambahkan sulur-sulur khas Thailand. Motif berbeda ia tambahkan untuk pembeli dari Korea meskipun sama-sama berupa sulur-sulur dengan tambahan bunga.
KUSUMA Art & Collection mulai memproduksi batik dalam berbagai bentuk sejak tahun 1998. Kini, hasil produksinya sudah beraneka ragam, yang dipengaruhi oleh permintaan pasar. Kain batik, umpamanya, yang menjadi unggulan Kusuma berbentuk taplak meja berukuran 2,5 meter x 1,5 meter. Dengan harga Rp 300.000 per helai, taplak meja itu laris manis di pasaran.
Kini, mulai dari mangkuk kecil dari kayu, nampan dari susunan bambu menyerupai kerai, atau sumpit berbatik dan sapu tangan batik, ditawarkan dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 4,5 juta. Setiap bulannya, Kusuma Art Shop dapat membukukan transaksi minimal Rp 10 juta dari penjualan di art shop itu saja.
“Jumlah ini belum termasuk dengan ekspor secara rutin ke Jepang, yang setiap bulannya dapat mencapai Rp 35 juta,” ujar Anita. Pesanan ekspor tersebut sebagai salah satu dampak positif dari kejeliannya mengikuti selera pasar tanpa mengorbankan ciri khasnya sendiri. Beberapa jenis kerajinan yang pernah diekspor ke Jepang adalah sendok kayu bermotif batik sebanyak 5.000 buah.
Kini, sekitar 90 persen pelanggan yang digaet oleh Anita adalah pembeli dari Jepang. Sisanya adalah pembeli dari Belanda, Korea, dan Australia. “Kalau pembeli lokal sangat jarang. Yang pernah saya layani paling-paling dari Sulawesi,” ujar Anita.
Hal itu merupakan salah satu bukti bahwa ternyata orang Indonesia belum mampu menghargai karya bangsa sendiri secara utuh. Atau, bisa jadi bentuk penghargaan yang akan diberikan masih terganjal oleh kebutuhan hidup yang masih menuntut untuk dipenuhi. Akibatnya, pemenuhan kebutuhan yang berbasis pada penghargaan atas rasa masih terabaikan.
KINI Anita terus berupaya mengembangkan jaringan dengan pembeli di luar negeri. “Terutama Belanda, yang menjadi target saya berikutnya,” kata Anita sambil tertawa kecil.
Untuk itu, ia berupaya konsisten menggunakan teknologi yang ramah lingkungan, yang saat ini mulai menjadi pertimbangan konsumen di luar negeri untuk menentukan pilihan terhadap suatu produk. Misalnya saja, dalam melakukan finishing sebuah mangkuk kecil bermotif batik, Anita memilih menggunakan bahan pelapis yang tidak beracun dan tidak berpengaruh buruk terhadap lingkungan.
“Kalau bahan itu berpengaruh buruk terhadap lingkungan, pembeli asing akan protes. Mereka care sekali dengan hal-hal seperti itu, yang selama ini sering dianggap remeh oleh perajin kita,” kata Anita.
Maka, Anita mengharuskan proses finishing dikerjakan di rumah merangkap ruang pajang dan tempat produksi. Dengan cara itu, ia dapat memantau kualitas-yang antara lain ditilik dari segi kerapian-serta sentuhan akhir hasil produksi.
Di samping itu, promosi juga terus dilakukan dengan membidik masyarakat asing dan lokal. Salah satunya melalui pameran di Hotel Majapahit selama dua minggu, yang menargetkan pembeli lama dan baru. “Bahkan, kalau bisa transaksi yang terjadi bisa mencapai Rp 40 juta selama dua minggu,” harap Anita. (DEWI INDRIASTUTI) Kompas Cetak, Jatim