Archive for June, 2003

Tenun dan Batik Mencatatkan Perjalanan

Sunday, June 29th, 2003

TENUN dan batik adalah sedikit saja dari begitu banyak kekayaan bangsa Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, mereka memasuki berbagai fase, yang membuatnya terus bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan yang ditemuinya. Bahkan, hingga kini tradisi ini masih tetap kukuh, meski harus berdiri dan berhadapan dengan globalisasi dan modernisasi.

Sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap kekayaan bangsa itu, Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan Puspa Private Banking Bank Bumi Putera menyelenggarakan pameran batik dan tenun tradisional. Pameran di Galeri YDBA, Jakarta, itu dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika. Pada kesempatan itu hadir pula pakar batik Indonesia Iwan Tirta.

Pameran tenun ini berlangsung cukup meriah. Peserta pameran memajang aneka kreasi tenun Jawa hingga tenun Nusa Tenggara dengan berbagai variasinya. Batik keraton hingga batik pesisiran semua terpajang dengan sangat indahnya. Tak ketinggalan pameran perhiasan dari batu-batu obsidian bergaya etnik yang tengah ramai digemari belakangan ini.

Sambil memanfaatkan jajan pasar, para pengunjung dipersilakan untuk menyaksikan peragaan busana nasional kreasi desainer Asmoro Damais. Ia menampilkan aneka koleksi kebaya yang dipadukan dengan kain dalam tampilan yang sederhana namun terlihat sangat memikat.

Dalam kesempatan ini, Asmoro tampak mencoba memadukan berbagai tradisi dalam satu tampilan. Lihat saja kebaya hijau dengan model kutubaru yang dipadukan dengan kain batik pekalongan yang beraneka warna. Di antaranya diberi kemben dari bahan jumputan yang unik. Baju kurung panjang yang dipadukan dengan kain Cirebon. Atau penampilan kain batik Jawa tanpa wiron, dengan perbatasan kain pada samping badan.

Kebaya dari bahan organdi sutera natural juga banyak dimunculkan Asmoro. Kebanyakan dimunculkan dengan bordir khas Tasikmalaya. Kali ini ia memadukannya dengan kain sarung Pekalongan. Kebaya China berbordir dipadukan dengan kain panjang Indramayu. Atau juga perpaduan kebaya Karangasem dengan kain Cirebon. Tampilannya terlihat meluruh dan sangat mengindonesia.

Koleksi terakhir, Asmoro mengetengahkan kebaya bermodel kimono dipadukan dengan bawahan senada. Bawahan ini terbentuk dari perpaduan rok panjang lurus dan model celana panjang melebar ke bawah (kulot). Sangat menarik.

Meskipun hasil dari budaya tradisional, tenun dan batik tidaklah selalu harus merepotkan pemakainya. Ia bisa dikreasi dengan sederhana, tidak terlihat mewah, tapi sophisticated. Seperti yang digambarkan Asmoro dalam pergelaran sore itu.

Sumber : (TK/M-4) Media Indonesia

Batik Tulis Solo Terancam Punah

Tuesday, June 24th, 2003

Kerajinan batik tulis memang tak terlepas dari daerah Surakarta, Jawa Tengah. Sayangnya, pengembangan batik tulis di sana kini terancam punah. Penyebabnya, adalah kondisi pasar yang tak mendukung. Sejauh ini, dari puluhan industri rumahan, kini tinggal 15 industri yang masih bertahan. Itupun dilakukan hanya sebagai usaha sampingan dari industri batik cetak. Demikian kondisi tersebut dikeluhkan Muhammad Muhidin, penghasil batik tulis yang masih bertahan, baru-baru ini.

Menurut Muhidin, sebelumnya bisnis batik di sana menjadi satu di antara sumber pemasukan daerah. Bahkan, di saat krisis ekonomi ataupun saat Kota Solo tercabik-cabik kerusuhan Mei 1998, industri batik menjadi pilar penyelamat ekonomi. Sejauh ini, uang yang didulang dari produk batik mencapai Rp 8 miliar per bulan yang didapat dari 160 industri batik di Surakarta dengan 70 persen pasar domestik dan 30 persen ekspor. Sebelum krisis ekonomi, sekitar 40 persen industri batik masih memfokuskan diri memproduksi batik tulis.

Usaha mengembangkan kembali batik tulis bukan tak pernah dilakukan Pemerintah Kota Surakarta. Sejauh ini, kesulitan utama pada sumber daya manusia. Pasalnya, regenerasi para pembatik berjalan lamban. Selain itu, batik cetak yang lebih ekonomis dengan pasar yang lebih luas lebih menarik bagi banyak pembatik.

Sumber : (ORS/Solikun) Liputan6.com, Surakarta

Batik Bunga Sakura Membidik Pasar Jepang

Monday, June 9th, 2003

MENGIKUTI selera pasar tanpa mengorbankan idealisme ternyata dapat semakin memajukan usaha. Hal ini dilakukan oleh Anita Kusumawati, pemilik Kusuma Art & Collection, yang memproduksi batik di atas beragam bahan.

Ditemui dalam kesempatan pameran di Hotel Majapahit, Surabaya, Anita menunjukkan satu per satu koleksi Kusuma yang berlokasi di Sepanjang, Sidoarjo. Selama ini batik identik dengan Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan. Bermacam motif tradisional, misalnya parang, menjadi sangat modern dan berdaya jual tinggi.

Seperti yang dikatakan Anita, selama ini batik memang terkesan klasik sehingga pasarnya sangat terbatas. Padahal, batik bukan semata-mata hiasan motif klasik di atas sehelai kain. “Batik adalah segala macam gambar yang dibuat di atas sehelai kain menggunakan canting, berbahan dasar lilin,” kata Anita.

Maka, tatkala seorang wisatawan Jepang memintanya memadukan motif bunga sakura dengan motif batik di permukaan mangkuk kecil buatan Kusuma, Anita menyanggupi. Toh, hasilnya terlihat cantik di mata wisatawan Jepang itu, bahkan bagi pembeli lainnya.

Lekuk bunga sakura terasa menyatu dengan motif lain di sekelilingnya. Bunga sakura yang gambarnya diambil dari buku-buku kiriman pelanggannya dari Jepang itu bagaikan inovasi motif yang memberi nuansa baru.

“Apalagi saya memang sengaja membidik Jepang sebagai pasar produk kerajinan saya. Alasannya sederhana, pembeli dari Jepang terkenal sangat teliti dalam hal kualitas, namun sangat loyal jika kita mampu memenuhi kualitas yang ia syaratkan,” ujar Anita.

Oleh karena itu, permintaan pembeli dari Jepang-yang jumlahnya semakin banyak dari tahun ke tahun-berusaha diikuti dengan baik oleh Anita. Kendati mengikuti selera pasar, Anita tidak akan membuat motif yang tidak menyatu atau saling tabrak dengan motif lainnya.

Hal yang sama ia lakukan terhadap pelanggan dari Thailand dan Korea. Motif khas kedua negara itu ia padukan dengan motif batik dari Indonesia seperti yang sudah dikenal selama ini. Namun, untuk memberikan hasil menyatu antara motif antara negara itu, Anita membatasi motif tambahan berupa bunga.

Untuk pembeli dari Thailand, misalnya, ia akan menambahkan sulur-sulur khas Thailand. Motif berbeda ia tambahkan untuk pembeli dari Korea meskipun sama-sama berupa sulur-sulur dengan tambahan bunga.

KUSUMA Art & Collection mulai memproduksi batik dalam berbagai bentuk sejak tahun 1998. Kini, hasil produksinya sudah beraneka ragam, yang dipengaruhi oleh permintaan pasar. Kain batik, umpamanya, yang menjadi unggulan Kusuma berbentuk taplak meja berukuran 2,5 meter x 1,5 meter. Dengan harga Rp 300.000 per helai, taplak meja itu laris manis di pasaran.

Kini, mulai dari mangkuk kecil dari kayu, nampan dari susunan bambu menyerupai kerai, atau sumpit berbatik dan sapu tangan batik, ditawarkan dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 4,5 juta. Setiap bulannya, Kusuma Art Shop dapat membukukan transaksi minimal Rp 10 juta dari penjualan di art shop itu saja.

“Jumlah ini belum termasuk dengan ekspor secara rutin ke Jepang, yang setiap bulannya dapat mencapai Rp 35 juta,” ujar Anita. Pesanan ekspor tersebut sebagai salah satu dampak positif dari kejeliannya mengikuti selera pasar tanpa mengorbankan ciri khasnya sendiri. Beberapa jenis kerajinan yang pernah diekspor ke Jepang adalah sendok kayu bermotif batik sebanyak 5.000 buah.

Kini, sekitar 90 persen pelanggan yang digaet oleh Anita adalah pembeli dari Jepang. Sisanya adalah pembeli dari Belanda, Korea, dan Australia. “Kalau pembeli lokal sangat jarang. Yang pernah saya layani paling-paling dari Sulawesi,” ujar Anita.

Hal itu merupakan salah satu bukti bahwa ternyata orang Indonesia belum mampu menghargai karya bangsa sendiri secara utuh. Atau, bisa jadi bentuk penghargaan yang akan diberikan masih terganjal oleh kebutuhan hidup yang masih menuntut untuk dipenuhi. Akibatnya, pemenuhan kebutuhan yang berbasis pada penghargaan atas rasa masih terabaikan.

KINI Anita terus berupaya mengembangkan jaringan dengan pembeli di luar negeri. “Terutama Belanda, yang menjadi target saya berikutnya,” kata Anita sambil tertawa kecil.

Untuk itu, ia berupaya konsisten menggunakan teknologi yang ramah lingkungan, yang saat ini mulai menjadi pertimbangan konsumen di luar negeri untuk menentukan pilihan terhadap suatu produk. Misalnya saja, dalam melakukan finishing sebuah mangkuk kecil bermotif batik, Anita memilih menggunakan bahan pelapis yang tidak beracun dan tidak berpengaruh buruk terhadap lingkungan.

“Kalau bahan itu berpengaruh buruk terhadap lingkungan, pembeli asing akan protes. Mereka care sekali dengan hal-hal seperti itu, yang selama ini sering dianggap remeh oleh perajin kita,” kata Anita.

Maka, Anita mengharuskan proses finishing dikerjakan di rumah merangkap ruang pajang dan tempat produksi. Dengan cara itu, ia dapat memantau kualitas-yang antara lain ditilik dari segi kerapian-serta sentuhan akhir hasil produksi.

Di samping itu, promosi juga terus dilakukan dengan membidik masyarakat asing dan lokal. Salah satunya melalui pameran di Hotel Majapahit selama dua minggu, yang menargetkan pembeli lama dan baru. “Bahkan, kalau bisa transaksi yang terjadi bisa mencapai Rp 40 juta selama dua minggu,” harap Anita. (DEWI INDRIASTUTI) Kompas Cetak, Jatim