Akibat Bisnis Istri Pejabat…
TANGAN Sari Bulan (47), pemilik Sanggar Batik Sari Bulan, menggoreskan canting yang sudah terisi malam (lilin batik) ke kain sutra putih. Tangan kanannya seakan menari-nari, perlahan-lahan membentuk sebuah kelopak bunga. Tangannya kemudian bergerak lagi, kali ini membentuk huruf Arab.
Gambar kelopak itu adalah gambar bunga Raflesia Arnoldy, bunga khas Bengkulu. Akhirnya, terbentuk sebuah lukisan di atas kain dengan motif campuran, keindahan alam dengan nuansa religius. Keindahan inilah yang membuat pemakai kain besurek diyakini menjadi lebih berwibawa dan menjadikannya percaya diri.
Para pemakai kain ini mengakui, jika memakai kain besurek hasil batikan tangan, gengsi pemakai akan semakin naik. “Kalau ke resepsi pakai kain besurek yang asli, kami lebih pede (percaya diri),” kata Rachma, seorang calon pembeli di Sanggar Sari Bulan.
Menurut para perajin, motif-motif kaligrafi Arab itu memang tidak ada artinya. “Ini hanya aksen saja, dimirip-miripkan dengan huruf Arab, tetapi tidak bisa dibaca,” kata Sari.
Motif-motif baru yang dikembangkan oleh para perajin dilakukan untuk lebih memasyarakatkan kain besurek. Selain itu, dengan lebih berani keluar dari pakem yang ada diharapkan kain besurek semakin berkembang tidak hanya di Bengkulu, namun bisa berkembang ke daerah lain. Tetapi, kegiatan membatik kini sudah mulai jarang dilakukan oleh Sari gara-gara sepinya order.
Sudah sejak dua tahun terakhir ini, menurut Ely Sumiyati, Sekretaris Koperasi Perajin Kain Besurek (Kopinkra) Bengkulu, perajin kesulitan akibat maraknya batik printing motif besurek yang beredar di Bengkulu. Akibatnya, sebagian dari mereka gulung tikar. Ely dan Sari Bulan menyebutkan, pemilik modal yang mendatangkan batik printing motif besurek, tak lain adalah para istri pejabat.
Menurut Ely, kain-kain itu kemudian dititipkan ke sejumlah toko yang ada di Kota Bengkulu. Bahkan, sebagian perajin terpaksa ikut memajang batik printing motif besurek ini.
Murahnya harga batik printing motif besurek tersebut membuat kain besurek hasil kerajiinan tangan para pembatik tidak bisa bersaing. Akibatnya, perajin kain besurek jarang mendapat order dan pembeli.
SEBELUM tahun 2000, menurut Ely, kain besurek cukup berkembang di Bengkulu. Bahkan, dulu ada kerja sama dengan para pejabat di pemerintahan setempat. Setiap ada kunjungan pejabat ke Bengkulu mereka akan dibawa ke para perajin kain besurek. Selain untuk promosi Kota Bengkulu, juga untuk membantu pemasaran dan memperkenalkan salah satu ciri khas Kota Bengkulu tersebut.
Akan tetapi, mulai tahun 2000 keadaan itu sudah berubah. Melihat keuntungan besar yang bisa didapat dari penjualan kain besurek kepada para tamu, istri para pejabat ini rupanya tergiur. Menurut Ely, para istri pejabat akhirnya ikut berbisnis. Mereka tidak lagi membawa para tamu daerah ke para perajin, tetapi menyediakan sendiri kain besurek untuk oleh-oleh para tamu.
Akhirnya, para perajin yang mengaku penjualan mereka sangat tergantung dengan para turis ini kesulitan memasarkan hasil kerajinannya. Sebagian dari mereka memang masih mampu bertahan, tetapi lainnya terpaksa menutup tempat usaha mereka.
Usaha mengembangkan kain khas Bengkulu ini sebenarnya telah dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bengkulu. Seperti diakui oleh Sari Bulan, dia dulu pernah diberi pelatihan oleh Disperindag. Bahkan, Pemerintah Kota Bengkulu telah mewajibkan pegawainya untuk mengenakan seragam kain besurek pada hari-hari tertentu. Demikian juga dengan para murid sekolah.
Akan tetapi, pengadaan seragam ribuan murid sekolah dan pegawai, menurut para perajin tidak menguntungkan mereka. “Proyek itu hanya menguntungkan mereka yang punya modal besar,” kata Ely.
Akhirnya, usaha untuk melestarikan kain besurek asli Bengkulu sekaligus mengembangkan perekonomian rakyat oleh pemerintah daerah setempat dihancurkan oleh segelintir orang yang tidak peduli dengan nasib para perajin kain besurek. “Kalau usaha kami ini gulung tikar, kain besurek pasti juga akan hilang dari Bengkulu,” kata Sari Bulan.(B04) Kompas cetak, Bengkulu