Bantul, Antara Batik Topeng dan Wayang Kulit

Batik TopengSelain sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta juga dapat dikatakan sebagai pusat seni di Tanah Air. Di kota ini kita dapat menjumpai berbagai anjungan dan stan dari berbagai seni tradisional, mulai dari batik, pahatan, sampai kerajinan logam. Pendek kata: Yogyakarta memang gudangnya seni. Demikian hasil pantauan SCTV, baru-baru ini.

Bergerak sekitar 15 kilometer ke selatan dari Kota Yogyakarta, tepatnya ke Kabupaten Bantul, kita akan menjumpai banyak perajin batik. Tapi, bukan batik pada kain. Di kabupaten ini, sebagian penduduknya sedang mengembangkan pembuatan batik kayu, tepatnya pada topeng. Kegiatan ini adalah bentuk pengembangan dari batik pada kain.

Selain media, tak ada yang lain pada proses pembuatan batik topeng. Motif dan guratan yang bisa kita lihat dan temukan pada batik kain, bisa pula kita jumpai pada batik topeng. Ada motif garis-garis, kembang, tetekan, dan salutan. Yang sedikit membedakan batik kain dan topeng adalah prosen pewarnaan. Pada batik kain tak diperlukan media lilin. Tapi, lilin sangat diperlukan dalam pembuatan batik topeng. Lilin digunakan untuk memblok media batik pada topeng.

Sedangkan kayu yang biasa digunakan untuk batik topeng adalah kayu sengon. Kayu ini dipilih karena memiliki banyak kelebihan. Selain kuat dan tahan lama, kayu ini juga lunak dipahat. “Sebelum dibatik, kayu dihaluskan dan diubah menjadi topeng,” kata seorang perajin batik topeng di kabupaten itu.

Selain batik topeng, kabupaten ini juga terkenal dengan kerajinan wayang kulit. Namun memang jumlah peranjin wayang kulit lebih sedikit dibanding batik topeng. Sebab, pembuatan wayang kulit tergolong rumit. “Sebelum dicetak, para perajin harus membuat pola dahulu pada kerta. Bila cocok, baru pola itu bisa digunakan,” kata Pak Sadyo, satu di antara perajin wayang kulit di Kabupaten Bantul.

Sadyo menjelaskan, selain rumit, pembuatan wayang kulit juga memerlukan waktu yang agak panjang. Pola yang sudah jadi juga tak bisa langsung dicetak pada kulit. Masih ada beberapa proses penyertanya. “Begitulah bila ingin mendapat hasil yang maksimal,” ungkap Sadyo. Meski begitu, para perajin tetap tekun melakoni kerajinan tradisional ini. Sedangkan kiat menarik konsumen, para perajin membebaskan calon pembeli menentukan model wayang yang dikehendaki.

Sumber : (ICH/Dian Wignyo) Liputan6.com, Bantul

Leave a Reply