Sutra Ayu, Pemberdayaan Perempuan Pekalongan

SUDAH ada empat perempuan separuh baya menunggu di toko batik sekaligus Kantor Sekretariat Koperasi Sutra Ayu di Jalan Raya Pekajangan, Pekalongan, Jawa Tengah, ketika Kompas datang pukul 13.00 beberapa waktu lalu.

“Kami menunggu sejak pukul 10.00, lho, Mas,” ujar ibu-ibu tersebut. Mereka adalah Ny Hj Meutia Farida, Ny Lisa Hargianto, Ny Komariyah, dan Ny Awang Handrawati.

Selain mereka, ada tiga gadis pengelola toko batik sibuk lalu lalang saat ibu-ibu itu menceritakan perkembangan usaha koperasi. Layaknya toko yang dikelola mandiri, gadis belia itu tengah mendata stok barang dan menyiapkan pakaian batik, daster, maupun busana muslim yang akan dipajang.

“Kami baru meluncurkan program voucher belanja untuk perajin anggota koperasi. Bagi anggota yang mau belanja sembilan bahan pokok, bisa mengambil voucher senilai Rp 25.000 hingga Rp 50.000. Kami bekerja sama dengan swalayan Rehal yang ada di Pekajangan. Kalau sudah belanja pakai kupon, ibu-ibu bisa mengangsur belanjaannya ke koperasi,” ujar Ny Meutia Farida, Ketua Koperasi Sutra Ayu.

Menyediakan voucher belanja untuk perajin anggota merupakan diversifikasi usaha yang dirintis sejak tahun 2003 oleh Koperasi Sutra Ayu.

Perjalanan koperasi yang khusus mewadahi perajin batik, perajin konfeksi, dan perajin garmen kaum perempuan di Pekajangan ini dirintis sejak 1987. Pada awalnya, koperasi ini memulai usaha sebagai kelompok usaha bersama (KUB).

Anggota awalnya hanya 18 orang yang memiliki kesamaan usaha kerajinan batik dan tenun. Kaum perempuan yang bergabung dalam KUB kebanyakan perajin pakaian batik dan garmen.

Di rumah, mereka membuat daster batik, pakaian batik, serta membuat pakaian dan celana jadi. Hasil produksi mereka masih terbatas, ditawarkan ke pedagang pengumpul (trader) untuk dijual atau dititipkan ke toko di Pekalongan maupun kota lain.

Perajin lain, Ny Sumarsi, mengisahkan, usaha modal kecil ini hanya mampu menghasilkan satu kodi daster per minggu. Harga daster saat itu hanya Rp 8.500 per potong dan paling bagus sampai Rp 15.000 per potong.

Untuk memiliki mesin jahit Butterfly waktu itu seharga Rp 1,5 juta, setidaknya perajin harus menabung menyisakan keuntungan selama enam bulan.

KELOMPOK usaha bersama ini mulai cerah tahun 1992 saat memperoleh bantuan dari United Nations Development Program (UNDP). Ketika memperoleh bantuan, anggotanya sudah mendekati jumlah 50 perempuan.

Bantuan kredit lunak itu digulirkan ke anggota untuk pembelian mesin jahit dan mesin juki. Setiap anggota mendapat pinjaman kredit Rp 1,5 juta untuk membeli mesin jahit dan Rp 7,5 juta untuk mesin juki.

Dana pinjaman anggota yang kembali digulirkan lagi ke anggota lain. Sistem ini memungkinkan semua anggota melengkapi usaha dengan mesin jahit maupun peralatan lain yang dibutuhkan untuk memperlancar usahanya. Melalui sistem pembelian peralatan secara kredit ini, kini setiap anggota mempunyai minimal dua mesin jahit dan satu mesin juki. “Kini malahan seorang anggota memiliki 20 mesin jahit dan dua mesin juki,” ujar Ny Komariah, perajin setempat.

Perkembangan pesat itu membuat kaum perempuan meningkatkan KUB menjadi koperasi. Dipilihlah nama Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Rakyat (Kopinkra) Batik dan Tekstil Sutra Ayu. “Dinamai Sutra Ayu sebagai perumpamaan kaum perempuan itu seperti kain sutra, lembut, dan mempunyai nilai tinggi,” kata Ny Meutia.

Seiring kemajuan usaha yang dicapai anggota, hal itu menarik banyak perajin perempuan lain masuk ke dalam koperasi. Anggota baru tak hanya dari calon perajin yang baru memulai usaha, melainkan juga banyak calon anggota yang berasal dari pengusaha pakaian batik yang maju. Biasanya usaha maju dirintis bersama suaminya, kemudian ibunya bergabung dengan Kopinkra Sutra Ayu.

Ny Meutia menjelaskan, jumlah anggota kini mencapai 250 perajin perempuan yang tersebar tak hanya di Pekajangan, melainkan ada yang berdomisili di Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Omzet usaha produksi anggota juga melimpah mencapai 300 kodi setiap anggota per bulan atau rata-rata total produksi pakaian batik dan garmen mendekati 60.000 kodi per bulan.

Awal tahun ini, 50 perajin perempuan mendaftar menjadi anggota.

PEMBERDAYAAN usaha perajin perempuan yang dilakukan Sutra Ayu tak melulu pemberian modal membeli peralatan dan bahan semata. Anggota juga diberi kesempatan mengikuti penataran, pelatihan, atau latihan yang diadakan pemerintah lokal, provinsi atau pusat, maupun kalangan swasta.

Pelatihan semacam meningkatkan manajemen mutu, produksi, sampai merancang desain banyak pula diikuti anggota koperasi perempuan ini. Termasuk pula pameran tingkat regional, nasional, maupun internasional di Malaysia dan Brunei.

“Kegiatan promosi paling disukai anggota. Soalnya transaksi order barang dengan buyer bisa mencapai puluhan juta rupiah. Terakhir, pameran di Semarang akhir tahun 2002 saja bisa meraup transaksi Rp 36 juta yang langsung diterima anggota, tanpa melalui koperasi,” kata Ny Meutia lagi.

Di antara anggota koperasi sudah pula lama merintis kerja sama produksi bila ada anggota yang mendapatkan order besar. Upaya ini sebenarnya bagian dari tradisi perajin batik di Pekajangan yang suka memberikan order pengerjaan pakaian maupun konfeksi ke tetangga. Tak jarang pembuatan pakaian batik melibatkan banyak orang sebagai mata rantai produksi.

Koperasi kaum perempuan ini kini tak hanya bertumpu pada usaha simpan pinjam, toko pakaian batik, dan memajukan usaha anggota. Anggota juga didorong memiliki kios atau toko kecil di pasar grosir yang tersebar di Kota/Kabupaten Pekalongan. Ny Lisa, misalnya, mengakui membeli kios di MM Grosir Batik seharga Rp 30 juta. “Di Pasar Grosir Batik Setono, saya juga menyewa kios Rp 4 juta per dua tahun. Syukur alhamdulillah, dua kios itu semakin melancarkan pemasaran produk kami maupun teman-teman lain,” tuturnya.

Gedung milik koperasi yang dibangun tahun 2002 tidak hanya melulu untuk toko pakaian batik dan garmen. Pengurus koperasi ini segera membuka toko alat-alat elektronik. Koperasi pun juga bergerak di bidang sewa-menyewa peralatan hajatan, seperti penyewaan kursi. Ada sekitar 360 kursi lipat yang siap disewa Rp 750 per kursi bila ada warga yang menyelenggarakan kegiatan akbar.

“Kami mau terus optimistis menjalankan usaha produksi pakaian batik. Musibah kebakaran Tanah Abang, Jakarta, memang sempat membuat sejumlah anggota koperasi mengalami kerugian. Tetapi, pihak pemilik toko tetap bersedia melunasi barang yang hangus,” ujar Ny Lisa.

Usaha memang harus tetap bergulir. Tekad melupakan musibah di Tanah Abang, mencari terobosan usaha, adalah gambaran semangat kaum perempuan Pekajangan menggeluti batik. Mereka memajukan kemandirian bagi kaumnya, kaum perempuan Indonesia.

Sumber : (Winarto Herusansono) Kompas Cetak, Pekalongan

Leave a Reply