Mencari Busana yang Mewakili Indonesia untuk Pemimpin ASEAN

KETIKA pemimpin 18 negara Asia Pasifik yang tergabung dalam forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) berte- mu di Bogor pada tanggal 15 November 1994, nama Indone- sia menjadi pemberitaan positif di berbagai media massa dunia.

SALAH satu yang tersiar melalui media massa ke berba- gai penjuru dunia, selain citra positif tentang sebuah kekuatan ekonomi baru di Asia Pasifik, juga sebuah citra Indone- sia yang terwakili melalui busana yang dikenakan para pemimpin APEC saat berfoto bersama. Para pemimpin tersebut yang kebetulan semuanya laki- laki, mengenakan kemeja batik. Citra yang terbentuk menguatkan pengaku- an selama ini bahwa batik adalah In- donesia dan Indonesia adalah batik.

Batik, meskipun menurut banyak orang bukan sesuatu yang asli Indonesia, telah menjadi identik dengan Indonesia karena di Indonesia-lah teknik menahan warna memakai lilin malam dan corak ragam hias berkembang hingga ke tingkat menjadi benda seni.

Saat itu, Iwan Tirta membuatkan ragam hias khusus untuk tiap pemimpin negara, disesuaikan dengan bentuk tubuh dan kebudayaan atau ciri khas tiap-tiap negara. Misalnya, untuk pemimpin Cina dan Taiwan sama-sama dibuatkan ragam hias naga, tetapi dengan bentuk berbeda. Untuk pemimpin Jepang dibuatkan motif ceplok dengan bunga krisan di tengahnya. Krisan adalah bunga lambang kekaisaran Negeri Matahari Terbit itu.

Bila ketika itu pilihan jatuh pada batik untuk mewakili keberagaman Indonesia, tidak lain karena batik menjadi teknik membuat ragam hias dan sekaligus ragam hias yang telah siap untuk bersikap luwes dalam menyerap perubahan. Iwan Tirta membuktikan melalui variasi ragam hias yang bisa diciptakan melalui motif dasar batik tradisional.

Keluwesan itu terbentuk antara lain karena batik telah menjadi industri yang berkembang pesat sejak abad ke-19 sehingga batik sebagai teknik pembuatan ragam hias maupun sebagai motif hias telah bergaul lama dengan perubahan semangat zaman. Batik misalnya, telah diolah di atas serat katun, serat sutera, hingga serat wol.

Namun, Indonesia tidak hanya punya batik. Indonesia juga kaya dengan tenun ikat, tenun songket, dan beragam teknik sulam sebagai hasil pergaulan masyarakat Nusantara dengan berbagai bangsa yang menyinggahi Indonesia dalam perjalanan dari Cina ke Eropa dan Timur Tengah atau dari Asia ke pulau-pulau di Pasifik dan sebaliknya.

Kejeniusan para artisan lokal kemudian berhasil mengembangkan berbagai teknik membuat kain serta ragam hias ke tingkat yang sedemikian rupa sehingga Indonesia juga dikenal sebagai negeri tenun ikat, songket, dan batik.

KERAGAMAN dan kekayaan Indonesia itu pula yang ingin ditampilkan dalam pertemuan para pemimpin ASEAN dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Bali bulan Oktober mendatang. Untuk sekaligus mempromosikan keragaman itu terbersit pemikiran membuatkan busana khas Indonesia yang tidak terlalu etnis, tetapi tetap menggambarkan Indonesia.

Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) melalui Badan Pengembangan Ekspor Nasional kemudian menyelenggarakan lomba rancangan busana untuk para pemimpin APEC, termasuk pasangan mereka. Pada Jumat (2/5) lalu, ke-19 rancangan yang masuk semifinal dipertunjukkan di hadapan lima anggota juri dan juga Menperindag. Dari sana dipilih lima rancangan.

Rencananya, kelima rancangan tersebut akan dibawa kepada Presiden Megawati Soekarnoputri untuk kemudian dipilih satu dan diwujudkan menjadi busana yang akan dikenakan para pemimpin ASEAN dalam KTT di Bali.

Dengan pesan bahwa rancangan bisa menggambarkan budaya Indonesia tetapi tidak berkesan terlalu etnis, Menperindag Rini MS Soewandi membuka acara lomba. Akhirnya tujuh orang juri yang diketuai Prof Widagdo dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung memilih rancangan Epul Daeng Hasanung dari Nusa Tenggara Barat, Henni Purwati (Sumatera Barat), Taruna Kusmayadi (DKI Jakarta), Etty Bachetta (DKI Jakarta), dan Sri Khofifah (Jawa Timur).

Pada dasarnya, semua peserta menawarkan gaya “beskap” atau jas tutup sebagai busana laki-laki dan atasan bergaya jaket dengan padanan celana panjang atau rok untuk busana perempuan. Para peserta menawarkan beragam ragam hias dan jenis tenunan.

Epul misalnya, menggunakan ragam hias dari benang keemasan yang diambil dari songket di atas dasar warna merah darah. Henni menggunakan warna hitam dengan ragam hias pucuk rebung yang menurut dia berasal dari Sumatera Barat dan dipadukan dengan hiasan bergambar wayang pada atasan untuk busana laki-laki. Taruna Kusmayadi menggunakan garis-garis geometris tenun dari Sumba, tetapi dalam warna yang lebih memenuhi selera urban karena warna asli tenun Sumba yang gelap dan kental dengan unsur etnis. Begitu pula dengan Etty Bachetta yang mengambil tokoh wayang Arjuna dan Srikandi tetapi menurut versi Bali, yang ditempatkan di sisi kiri dan kanan, di atas warna kuning-sogan. Sementara, Sri mengambil motif batik pasedhan suropati dengan dominasi warna hijau.

Pemilihan melalui lomba ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Salah satu kelebihannya yang utama dan sepatutnya didorong adalah memberi kesempatan tumbuhnya kreativitas dan berbagai alternatif desain. Dengan diminta menampilkan ciri Indo- nesia misalnya, para peserta berani mengeksplorasi berbagai ragam hias dan jenis tenun yang ada di Indonesia, seperti yang tercermin dari lima karya finalis.

Kalaupun bisa disebutkan kelemahan adalah belum meratanya kemampuan peserta membuat busana yang sepatutnya mewakili Indonesia dan apa yang pantas dikenakan seorang pemimpin negara. Persiapan yang sangat matang tampak pada rancangan peserta yang memiliki profesi perancang busana. Bukan hanya mengenai keterangan teknis seputar materi yang disampaikan, tetapi yang lebih utama adalah gagasan yang mendasari pemilihan rancangan tersebut. Gagasan ini menjadi penuntun ketika perancang mewujudkan idenya ke dalam bentuk busana sehingga dalam proses kerja selalu bisa dilakukan verifikasi terhadap gagasan awal. Dengan demikian, terasa ada konsistensi di dalam wujud keseluruhan rancangan. (NMP) Kompas cetak, Bogor

One Response to “Mencari Busana yang Mewakili Indonesia untuk Pemimpin ASEAN”

  1. chabul Says:

    Batik??
    Kuno bgt..

Leave a Reply