Perajin Batik Sokaraja Bentuk Paguyuban

Untuk menyelamatkan perbatikan khas banyumasan dari kepunahan, sejumlah perajin dan pengusaha Batik di Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, membentuk paguyuban. Sedikitnya 50 perajin bergabung dalam Paguyuban Pengusaha Batik Sokaraja, yang sekitar 15 tahun lalu merupakan sentra batik khas banyumasan. Selain Sokaraja, Kota Banyumas–ibu kota Kabupaten Banyumas yang lama-juga merupakan sentra batik khas banyumasan.

Imam Munchasir, pengusaha batik Sokaraja, menuturkan, usaha perbatikan khas Sokaraja tahun 1970 sampai tahun 1990 pernah mengalami masa keemasan. Saat itu jumlah pengusaha dan perajin batik di Sokaraja 200-an orang. Tetapi, sesudah tahun 1990 seiring hadirnya kain bermotif batik sablon, usaha batik banyumasan pelan-pelan mulai tersaingi, bahkan terus surut.

Sesuai perkembangan zaman, masyarakat pun mulai menyukai kain motif batik sablonan yang memiliki corak lebih beragam dengan warna yang lebih menarik serta harga yang lebih murah. Kain batik motif sablon lebih terjangkau oleh kantung rakyat kecil.

“Padahal, apabila dibanding dari kualitas kain bermotif, batik sablon kalah jauh. Bahkan, jika pembandingnya kain batik banyumasan yang kasar sekalipun,” jelas Ibnu Rofieq, perajin batik warga Desa Sokaraja Lor, Kecamatan Sokaraja, kepada Kompas, Rabu (30/4).

Sejumlah perajin batik di Sokaraja mengakui, surutnya usaha perbatikan khas di Sokaraja antara lain disebabkan kalah bersaing dengan produk kain atau tekstil bermotif batik printing dan sablon yang relatif lebih murah. Minat masyarakat membeli batik ikut surut. Tetapi, menurut perajin batik Sokaraja yang lain, hancurnya usaha perbatikan lebih disebabkan produk batik khas Sokaraja tidak mampu menembus pasar yang semakin ketat.

Kondisi ini menyebabkan satu per satu pengusaha dan perajin batik di Sokaraja menghentikan kegiatan. Hanya beberapa perajin yang masih mencoba bertahan, melanjutkan, dan melestarikan usaha.

“Dari sisi bisnis, usaha perbatikan sama sekali tidak menghasilkan untung. Apabila kami sekarang masih membuat batik tulis atau batik cap, lebih disebabkan alasan kemanusiaan. Banyak warga di sini hanya mempunyai keterampilan membatik. Jika tak ada perajin yang peduli, ratusan jiwa tidak dapat makan,”ujar Imam Munchasir.

Sumber : (nts) Kompas Cetak, Purwokerto

Leave a Reply