Archive for May, 2003

Kain Besurek, Batik Khas Bengkulu yang Semakin Langka

Thursday, May 29th, 2003

JALAN-jalan ke Kota Bengkulu tidak lengkap tanpa mencari kerajinan khas Bengkulu. Salah satunya adalah kain batik Bengkulu, yakni kain besurek. Toko-toko di kawasan Anggut dan Penurunan di Kota Bengkulu banyak memajang kain besurek. Di kawasan ini juga banyak dijual berbagai cenderamata dan kain tradisional khas Bengkulu.

AKAN tetapi, tidak setiap toko menjual besurek asli atau yang dilukis dengan tangan. Sebagian menjual batik printing motif besurek. Pembuatan kain besurek dikerjakan di rumah-rumah penduduk. Namun, akibat sepinya permintaan, kegiatan membatik pun kini sudah semakin jarang dilakukan.

Kain besurek sekarang sudah berbeda dengan kain besurek asli seperti yang dibuat ratusan tahun lalu. Para perajin sudah memadukan besurek yang aslinya hanya bermotif huruf arab dicampur dengan motif bunga Raflesia Arnoldy, bunga khas Bengkulu.

Hal itu dilakukan untuk lebih memasyarakatkan kain besurek. Selain itu, dengan mendobrak tradisi lama diharapkan hasil kerajinan rakyat ini menjadi semakin populer dan dipakai tidak hanya untuk keperluan adat.

Huruf arab yang terbentuk sebenarnya juga tidak bisa dibaca. Menurut Sari Bulan, pemilik Sanggar Batik Sari Bulan, sebenarnya motif yang dia buat tidak ada maknanya dan tidak bisa dibaca. “Hanya bentuk coretan-coretan yang sengaja dimirip-miripkan dengan huruf Arab,” kata Sari.

MOTIF kain khas Bengkulu ini merupakan sebuah adopsi campuran dari motif kaligrafi Jambi dengan Cirebon. Adopsi ini akhirnya membentuk sebuah desain batik khas Bengkulu.

Besurek dalam bahasa Indonesia artinya bersurat. Menurut Herwansyah, perajin kain besurek dan pemilik Bunian Art Shop, disebut besurek atau bersurat karena kain ini bertuliskan huruf-huruf Arab.

Di beberapa kain, terutama untuk upacara adat, kain ini memang bertuliskan huruf Arab yang bisa dibaca. Tetapi, sebagian besar hanya berupa hiasan mirip huruf Arab.

Motif ini sangat sakral, terutama pada pemakaian kain upacara adat pengantin dan untuk menutupi mayat. Kain jenis ini biasanya berbentuk kerudung wanita calon pengantin yang digunakan untuk upacara ziarah ke makam para leluhur. Upacara ini sangat sakral sehingga penggunaan kain jenis ini tidak boleh sembarangan.

Juga masih ada kain untuk kamar pengantin dan syukuran kelahiran bayi. Selain itu, kain besurek ukuran kecil juga digunakan sebagai ikat kepala laki-laki dalam pakaian adat Bengkulu yang disebut detar.

SAAT ini, setiap perajin rata-rata mempunyai empat sampai 10 orang karyawan. Mereka dibayar berdasarkan kain yang mereka hasilkan. Selain itu, jika ada pesanan dalam jumlah besar, perajin memberi order kepada penduduk untuk dikerjakan di rumah masing-masing.

Herwansyah mengatakan, setiap perajin mendapat sekitar Rp 45.000 dari satu lembar kain besurek yang mereka hasilkan. Upah ini untuk batikan yang masih kasar, sedangkan untuk finishing dikerjakan oleh seorang pembatik yang sudah senior dan ahli.

Seorang perajin yang membuat kain besurek berukuran kecil, yang biasanya dipakai untuk detar, mereka mendapat Rp 15.000. Peralatan, bahan baku seperti kain dan bahan kimia, disediakan oleh para perajin.

Seperti juga batik lain di Jawa, para perajin juga mengerjakan batik dengan peralatan sederhana. Mereka biasanya menggunakan satu meja kecil, panci tempat malam (lilin batik), kompor kecil, dan canting.

Sebelum dibatik, pada kain katun atau kain sutra digambar pola besurek. Setelah itu pengerjaan membatik dimulai. Setiap potong kain besurek berukuran 2,25 meter kali satu meter dikerjakan tiga atau empat hari. Lama waktu yang dibutuhkan juga tergantung pada kerumitan pola yang digambar.

Untuk mempercepat proses pengerjaan kain besurek, saat ini para perajin sudah mulai mencampur teknik pengerjaan. Jika dulu murni sebagai batik tulis, kini beberapa perajin sudah mengombinasikannya dengan cap. “Tetapi, sebagian gambar tetap dilukis dengan tangan,” kata Sari.

Harga kain besurek beragam, tergantung kualitas pengerjaan, kerumitan pola, dan kualitas bahan. Kain besurek dari bahan kain sutra harganya antara Rp 180.000 hingga Rp 215.000 per lembar. Semakin rumit, semakin mahal harganya.

Sedangkan kain besurek dari bahan katun harganya cukup murah, antara Rp 50.000 hingga Rp 90.000 per lembar. Menurut Ely, keuntungan dari setiap lembar kain berkisar antara 20 persen dan 30 persen dari harga jual. Namun, kain besurek tua yang sudah sangat jarang ditemui, harganya cukup mahal.

Sepotong kain besurek berusia 75 tahun yang dimiliki oleh Bunian Art Shop, misalnya, dihargai Rp 3 juta.

USAHA untuk melestarikan kain besurek saat ini menghadapi tantangan yang cukup berat. Menurut sejumlah perajin tradisional kain besurek, mereka saat ini sudah mulai terdesak oleh batik cetak yang memakai motif kain besurek. Padahal, pemda setempat sudah mewajibkan murid–murid sekolah pada hari tertentu untuk berseragam kain besurek. Bahkan, kurikulum di sekolah untuk muatan lokal adalah kerajinan batik kain besurek.

Proyek seragam dinas pegawai pemerintah daerah dan seragam murid sekolah ini sedikit pun tidak menguntungkan para perajin. “Sudah ada yang menangani, kami tidak dapat apa-apa,” kata Sari.

Menurut Sekretaris Koperasi Perajin Kain Besurek (Kopinkra) Bengkulu Ely Sumiyati anggota Kopinkra yang tersebar di Kota Bengkulu saat ini hanya tinggal sekitar 10 perajin. Kondisi mereka juga sudah mulai kembang kempis akibat tidak mampu bersaing dengan batik printing. Sebelumnya, anggota Kopinkra Kota Bengkulu tercatat 22 perajin.

“Mereka kalah bersaing dengan batik printing motif besurek yang marak dua tahun terakhir ini. Sejak maraknya batik printing motif besurek, banyak anggota kami yang bangkrut,” kata Ely yang pemilik sanggar kerajinan kain besurek Gading Cempaka.

Ely yang juga pegawai di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bengkulu ini mengakui, kesulitan lainnya adalah masalah permodalan dan pemasaran. Perajin tidak bisa bertahan karena mereka sangat tergantung dengan pesanan.

Jika tidak ada pesanan, stok kain mereka tidak terjual dalam waktu yang cukup lama hingga mereka tidak mampu membeli bahan untuk membatik lagi. Akibatnya, kelestarian kerajinan ini terancam karena para perajin sudah mulai kehilangan semangat.

Berbagai kesulitan itulah yang membuat semangat para perajin goyah. “Saya ini sudah setengah hati menjadi perajin. Kalau ada usaha lain, pasti usaha ini sudah saya tinggalkan,” ujar Sari Bulan (47) yang sudah menjadi perajin kain besurek selama 12 tahun ini.

Sumber : (B04) Kompas Cetak

Akibat Bisnis Istri Pejabat…

Thursday, May 29th, 2003

TANGAN Sari Bulan (47), pemilik Sanggar Batik Sari Bulan, menggoreskan canting yang sudah terisi malam (lilin batik) ke kain sutra putih. Tangan kanannya seakan menari-nari, perlahan-lahan membentuk sebuah kelopak bunga. Tangannya kemudian bergerak lagi, kali ini membentuk huruf Arab.

Gambar kelopak itu adalah gambar bunga Raflesia Arnoldy, bunga khas Bengkulu. Akhirnya, terbentuk sebuah lukisan di atas kain dengan motif campuran, keindahan alam dengan nuansa religius. Keindahan inilah yang membuat pemakai kain besurek diyakini menjadi lebih berwibawa dan menjadikannya percaya diri.

Para pemakai kain ini mengakui, jika memakai kain besurek hasil batikan tangan, gengsi pemakai akan semakin naik. “Kalau ke resepsi pakai kain besurek yang asli, kami lebih pede (percaya diri),” kata Rachma, seorang calon pembeli di Sanggar Sari Bulan.

Menurut para perajin, motif-motif kaligrafi Arab itu memang tidak ada artinya. “Ini hanya aksen saja, dimirip-miripkan dengan huruf Arab, tetapi tidak bisa dibaca,” kata Sari.

Motif-motif baru yang dikembangkan oleh para perajin dilakukan untuk lebih memasyarakatkan kain besurek. Selain itu, dengan lebih berani keluar dari pakem yang ada diharapkan kain besurek semakin berkembang tidak hanya di Bengkulu, namun bisa berkembang ke daerah lain. Tetapi, kegiatan membatik kini sudah mulai jarang dilakukan oleh Sari gara-gara sepinya order.

Sudah sejak dua tahun terakhir ini, menurut Ely Sumiyati, Sekretaris Koperasi Perajin Kain Besurek (Kopinkra) Bengkulu, perajin kesulitan akibat maraknya batik printing motif besurek yang beredar di Bengkulu. Akibatnya, sebagian dari mereka gulung tikar. Ely dan Sari Bulan menyebutkan, pemilik modal yang mendatangkan batik printing motif besurek, tak lain adalah para istri pejabat.

Menurut Ely, kain-kain itu kemudian dititipkan ke sejumlah toko yang ada di Kota Bengkulu. Bahkan, sebagian perajin terpaksa ikut memajang batik printing motif besurek ini.

Murahnya harga batik printing motif besurek tersebut membuat kain besurek hasil kerajiinan tangan para pembatik tidak bisa bersaing. Akibatnya, perajin kain besurek jarang mendapat order dan pembeli.

SEBELUM tahun 2000, menurut Ely, kain besurek cukup berkembang di Bengkulu. Bahkan, dulu ada kerja sama dengan para pejabat di pemerintahan setempat. Setiap ada kunjungan pejabat ke Bengkulu mereka akan dibawa ke para perajin kain besurek. Selain untuk promosi Kota Bengkulu, juga untuk membantu pemasaran dan memperkenalkan salah satu ciri khas Kota Bengkulu tersebut.

Akan tetapi, mulai tahun 2000 keadaan itu sudah berubah. Melihat keuntungan besar yang bisa didapat dari penjualan kain besurek kepada para tamu, istri para pejabat ini rupanya tergiur. Menurut Ely, para istri pejabat akhirnya ikut berbisnis. Mereka tidak lagi membawa para tamu daerah ke para perajin, tetapi menyediakan sendiri kain besurek untuk oleh-oleh para tamu.

Akhirnya, para perajin yang mengaku penjualan mereka sangat tergantung dengan para turis ini kesulitan memasarkan hasil kerajinannya. Sebagian dari mereka memang masih mampu bertahan, tetapi lainnya terpaksa menutup tempat usaha mereka.

Usaha mengembangkan kain khas Bengkulu ini sebenarnya telah dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bengkulu. Seperti diakui oleh Sari Bulan, dia dulu pernah diberi pelatihan oleh Disperindag. Bahkan, Pemerintah Kota Bengkulu telah mewajibkan pegawainya untuk mengenakan seragam kain besurek pada hari-hari tertentu. Demikian juga dengan para murid sekolah.

Akan tetapi, pengadaan seragam ribuan murid sekolah dan pegawai, menurut para perajin tidak menguntungkan mereka. “Proyek itu hanya menguntungkan mereka yang punya modal besar,” kata Ely.

Akhirnya, usaha untuk melestarikan kain besurek asli Bengkulu sekaligus mengembangkan perekonomian rakyat oleh pemerintah daerah setempat dihancurkan oleh segelintir orang yang tidak peduli dengan nasib para perajin kain besurek. “Kalau usaha kami ini gulung tikar, kain besurek pasti juga akan hilang dari Bengkulu,” kata Sari Bulan.(B04) Kompas cetak, Bengkulu

Pengaruh Lasem dalam Industri Batik

Sunday, May 25th, 2003

INDUSTRI batik di Lasem memang tidak sebesar industri batik di Cirebon atau Pekalongan, wilayah-wilayah industri batik yang sama-sama berada di pantai utara Jawa. Tetapi, batik lasem pernah mencapai masa-masa jaya dan diakui keindahannya hingga jauh melampaui wilayah-wilayah sekitar Lasem.

Artisan batik Iwan Tirta misalnya, mencatat di dalam bukunya Batik, A Play of Light and Shades (1996), pada masa-masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 batik lasem terkenal bukan hanya di Jawa, tetapi hingga ke seluruh Kepulauan Nusantara dan lebih jauh lagi. Menurut tuturan Rens Heringa dan Harmen C Veldhuisen di dalam buku Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java (1997), Lasem merupakan pemasok batik yang cukup besar untuk Sumatera. Pada beberapa batik, terutama yang dipakai untuk keperluan khusus seperti mas kawin, sebagian hiasan batik berupa daun berwarna emas, dikerjakan di Sumatera dengan mengikuti motif batik yang sudah ada. Batik-batik tersebut biasanya menggunakan motif tumpal kepala dan terbagi dua bagian yang berbeda warna dasar dan motifnya, sehingga disebut kain sisihan (bersebelahan).

Batik lasem menjadi sangat terkenal selain karena motifnya merupakan hasil adaptasi motif-motif yang berasal dari Cina terhadap budaya lokal, juga karena pewarnaannya yang lembut dengan menggunakan pewarna dari mengkudu. Meskipun Lasem berada di Jawa Timur, tetapi motif-motif batik lasem menurut Iwan Tirta lebih mendekati moti-motif batik dari Cirebon dan Indramayu yang berada di bagian barat Lasem.

Namun, menurut Heringa dan Veldhuisen, motif dan warna batik lasem juga mempengaruhi batik-batik yang diproduksi di luar Lasem. Warna bang biru tiron Lasem (warna merah-biru gaya Lasem) misalnya, merupakan istilah yang umum dipakai untuk batik-batik yang diproduksi di luar Lasem. Warna merah-biru itu ditiru antara lain oleh pembuat batik di Cirebon, hal yang mungkin dilakukan setelah mulai diimpornya pewarna buatan ke Hindia Belanda dari Eropa pada awal abad ke-20.

Sebelum ada pewarna buatan, pewarnaan batik mengandalkan bahan-bahan pewarna alami. Warna yang mula-mula ada di Pesisir adalah beragam warna biru yang dikombinasi dengan warna merah terang yang bergradasi menjadi merah kecokelatan. Tiap kawasan industri batik masing-masing menyempurnakan resep pewarnaan mereka sendiri yang kemudian menjadi ciri khas dan dirahasiakan. Warna-warna khas suatu daerah (dalam kombinasi antara biru dan merah), menurut Veldhuisen dan Heringa, tidak bisa dilepaskan dari tanah tempat tumbuhan asal bahan warna tersebut, serta air dari mana proses pencelupan untuk pewarnaan berasal. Kadar garam dan besi yang tinggi di pesisir utara Jawa menghasilkan warna merah terang pada pewarna berbahan dasar mengkudu. Yang terkenal adalah warna merah dari daerah Lasem.

SELAIN dipengaruhi oleh motif batik dari daerah-daerah pesisir lainnya, batik lasem yang diproduksi oleh rumah-rumah batik milik orang-orang Peranakan juga mempengaruhi ragam hias batik daerah penghasil batik lainnya. Motif laseman yang ditiru antara lain oleh pembuat batik dari Semarang, menggunakan motif kembang sungsang, kupu-kupu berukuran besar, kelelawar buah, dan burung cenderawasih (atau mungkin juga burung hong), yang menjadi motif dan tampak dominan.

Untuk orang-orang Peranakan, burung hong yang mistis hanya muncul pada masa-masa kemakmuran, kelelawar melambangkan umur panjang dan kekayaan, sementara kupu-kupu adalah simbol kebahagiaan. Karena makna-makna tersebut, menurut Valedhuisen dan Heringa, batik seperti itu hanya dipakai saat pernikahan atau pesta-pesta penting.

Pengusaha Peranakan dan Arab mengikuti apa yang dilakukan Peranakan Eropa dalam industri batik, yaitu mengawasi sendiri pembuatan batik tulis mulai dari kecepatan pekerja dalam menyelesaikan selembar batik, konsumsi lilin malam, menerapkan denda untuk lilin yang terbuang atau garis yang dibuat asal-asalan, hingga membuat sendiri desain yang selalu diubah untuk memuaskan permintaan konsumen yang adalah orang-orang kaya.

Pengawasan ini juga dilakukan pengusaha batik di Lasem. Untuk memberi tanda pada selembar kain batik yang diproduksi di rumah batik tertentu, pengusaha batik di Lasem mulai memberi inisial dengan cap tinta pada batik-batik mereka sejak tahun 1850.

Namun, para juragan batik di Lasem dan Rembang pulalah yang pada pertengahan abad ke-19, yaitu saat dimulainya pembuatan batik secara komersial, yang mengubah relasi antara juragan dan para pembatik. Dengan memanfaatkan sistem pemberian uang di muka kepada para pembatik, para juragan di Lasem dan Rembang bukan hanya berhasil membuat para pembatik bekerja eksklusif untuk mereka, melainkan juga memaksa para pembatik itu tinggal di dalam kompleks industri batik dengan tujuan memperbesar produksi batik. Cara ini, demikian menurut Heringa, tidak jarang membuat para pekerja itu berada dalam keadaan berutang secara kronis kepada juragan mereka.

Dalam perkembangan zaman, munculnya batik cap serta turunnya permintaan untuk batik tulis halus dan berganti dengan batik cap yang lebih murah dan kemudian batik cetak (printing) yang lebih murah lagi, menyebabkan industri batik tulis di mana-mana mengalami kemerosotoan. Tak terkecuali Lasem.

Sumber : (NMP) Kompas Cetak, Pekalongan

Batik Lasem, Nasibnya Kini

Sunday, May 25th, 2003

BILA orang menyebut batik Jawa Tengah, orang segera menyebut Solo dan Pekalongan. Padahal, selain kedua daerah tersebut masih ada daerah lain yang juga menghasilkan batik tulis yang tidak kalah indahnya, yaitu Lasem. Kota kecamatan di Kabupaten Rembang sekitar 12 kilometer arah timur kota Rembang ini luasnya 45,04 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 44.879 orang (Litbang Kompas, 2003).

BATIK produksi Lasem bercorak khas, terutama warna merahnya yang menyerupai warna merah darah ayam, yang konon tidak dapat ditiru oleh pembatik dari daerah lain. Kekhasan lain terletak pada coraknya yang merupakan gabungan pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal masyarakat pesisir utara, dan budaya keraton (Surakarta dan Yogyakarta).

Konon para pedagang Tionghoa perantauan yang berdatangan ke Lasem memberi pengaruh besar terhadap corak batik di daerah ini. Banyak yang kemudian menjadi pengusaha batik di kota ini.

Pada masa kejayaan batik lasem, hampir setiap rumah tempat tinggal orang Tionghoa di daerah ini mengusahakan pembatikan dengan merekrut tenaga pembatik dari desa sekitar. Tenaga pembatik ini umumnya melakukan pekerjaan ini sebagai sambilan saat menunggu musim panen dan musim tanam pada sawah.

Ketika membuat desain untuk motif batik produksi mereka, para pengusaha pembatikan Lasem dipengaruhi budaya leluhur mereka seperti kepercayaan dan legendanya. Ragam hias burung hong dan binatang legendaris kilin (semacam singa) dan sebagainya mereka masukkan dalam motif batik produksi mereka. Bahkan, cerita percintaan klasik Tiongkok seperti Sam Pek Eng Tay pernah menjadi motif batik di daerah ini. Tidak mengherankan bila kemudian batik produksi Lasem sering disebut sebagai batik “Encim”. “Encim” adalah sebutan kaum Tionghoa peranakan untuk wanita yang usianya telah lanjut.

Selain itu pengaruh budaya keraton Surakarta dan Yogyakarta juga terlihat pada motif batik lasem, antara lain pada ornamen kawung, parang dan sebagainya. Sementara pengaruh budaya pesisir terlihat pada warnanya yang cerah seperti warna merah, biru, kuning dan hijau.

PEMBATIKAN di Lasem memang pernah berkembang gemilang. Sigit Wicaksono (74), pengusaha batik lasem yang merintis usaha pembatikan sejak sekitar tahun 1942, mengutarakan, batik lasem dalam masa kejayaannya pernah diekspor ke luar negeri, antara lain ke Suriname. Batik lasem bisa bersaing dengan batik dari daerah lain karena selain motifnya menarik dengan kain kualitas halus, juga warna merah darah ayamnya yang khas tidak bisa ditiru pembatik daerah lain.

Namun, kalau sekarang Anda datang ke Lasem dan mencari batik tulis produksi Lasem, apalagi batik dengan motif tradisional khas Lasem, Anda akan mengalami kesulitan bagaikan mencari barang antik saja.

Batik tulis lasem sekarang sulit ditemui karena pengusaha yang menghasilkan batik lasem banyak yang gulung tikar. Dari sekitar 140 pengusaha batik pada tahun 1950-an, kemudian merosot menjadi sekitar 70 pengusaha pada tahun 1970, dan kini tinggal sekitar 12 orang saja yang masih mengusahakan pembatikan. Yang masih bertahan ini pun banyak yang usahanya “Senin-Kamis”. Maka, tepat kalau dikatakan batik lasem terancam punah.

Sekitar setengah abad lalu masih kita jumpai banyak keluarga di Kota Lasem yang menjadi pengusaha pembatikan, atau sedikitnya menjadi pedagang batik yang mengambil batik dagangannya dari pembatik kecil di desa sekitar. Sekarang mereka tidak lagi aktif dalam usaha pembatikan, bahkan toko batik mereka beralih menjadi toko kelontong. Alat pembatikan dibiarkan teronggok berdebu di sudut ruang belakang rumah atau di gudang penyimpan barang bekas.

“Usaha pembatikan Lasem dulu memang pernah jaya, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Bahkan, keadaannya semakin lesu,” ungkap Ir Rudy Hartono (33), mantan pengusaha batik lasem yang sekarang membuka toko kelontong yang menjual barang elektronik keperluan rumah tangga sampai pada barang keperluan nelayan. Sekalipun dapur pencucian kain batik masih tampak di belakang rumahnya, alat pembatikannya sendiri tidak tampak lagi karena sudah lama disimpan di gudang.

BANYAK faktor menjadi penyebab merosotnya pembatikan di Lasem.

“Pembatikan Lasem sedang limbung. Generasi penerus usaha pembatikan semakin berkurang karena setelah mengenyam pendidikan tinggi dan bertitel mereka tidak mau terjun di usaha pembatikan. Mereka lebih suka bekerja atau berusaha di bidang lain sesuai pengetahuan yang mereka peroleh di perguruan tinggi,” tutur Poernomo Maskoen (52), pengusaha batik lasem.

Selain itu, tambah Poernomo, tenaga pembatik juga berkurang. Anak-anak dari tenaga pembatik setelah lulus sekolah lanjutan tingkat pertama/atas tidak mengikuti jejak orangtuanya menjadi pembatik melainkan bekerja di kantor di kota besar seperti Surabaya dan lainnya. Jadi, tenaga pembatik tidak ada yang melanjutkan.

Karena para buruh pembatikan umumnya turun-temurun, pekerjaan utamanya adalah petani atau buruh tani di kampung halaman, saat musim panen dan musim tanam mereka pulang ke kampungnya mengerjakan sawah. Akibatnya kerja pembatikan tidak berlangsung lancar. Anak-anak para perajin yang dengan bekal ijazah mereka mencari kerja di kantor, pabrik atau toko, dengan harapan mendapatkan upah lebih tinggi dari upah sebagai perajin batik. Upah sebagai buruh pembatikan sekitar Rp 7.500 per hari ditambah makan di tempat kerja.

Selain akibat menciutnya jumlah orang yang menekuni usaha pembatikan, baik sebagai pengusaha maupun sebagai perajin, merosotnya usaha pembatikan Lasem juga disebabkan membanjirnya batik sablon atau batik cetak (printing).

“Teknologi sablon turut mematikan batik tulis lasem. Batik sablon harganya sekitar Rp 25.000 per lembar, jauh lebih murah daripada batik tulis yang harganya mencapai ratusan rupiah per lembar,” kata Sigit Wicaksana, pengusaha batik lasem yang kini berusaha bertahan demi memberikan pekerjaan kepada karyawannya yang tinggal beberapa orang. “Kasihan mereka kalau saya sampai berhenti sama sekali,” ungkapnya.

Menurut Sigit, bajak-membajak motif batik turut pula membuat usaha batik tulis lasem semakin lesu. Kurangnya modal memperparah kehidupan usaha pembatikan di Lasem yang merupakan usaha keluarga turun-temurun.

Menurut Poernomo Maskoen, orang-orang sekarang jarang memakai kain kebaya melainkan lebih senang memakai rok karena praktis memakainya di samping bahan rok lebih murah daripada kain batik tulis. Keadaan ini turut pula membuat lesunya usaha pembatikan di Lasem.

Apakah batik lasem akan terus terpinggirkan untuk kemudian punah sehingga tinggal barang kenangan saja yang dapat dilihat di museum? Mungkin pemegang kewenangan penentu kebijakan, pemilik modal, dan pecinta batik lasem dapat menjawabnya.

Sumber : (SN Wargatjie) Kompas Cetak, Jakarta

Bantul, Antara Batik Topeng dan Wayang Kulit

Saturday, May 17th, 2003

Batik TopengSelain sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta juga dapat dikatakan sebagai pusat seni di Tanah Air. Di kota ini kita dapat menjumpai berbagai anjungan dan stan dari berbagai seni tradisional, mulai dari batik, pahatan, sampai kerajinan logam. Pendek kata: Yogyakarta memang gudangnya seni. Demikian hasil pantauan SCTV, baru-baru ini.

Bergerak sekitar 15 kilometer ke selatan dari Kota Yogyakarta, tepatnya ke Kabupaten Bantul, kita akan menjumpai banyak perajin batik. Tapi, bukan batik pada kain. Di kabupaten ini, sebagian penduduknya sedang mengembangkan pembuatan batik kayu, tepatnya pada topeng. Kegiatan ini adalah bentuk pengembangan dari batik pada kain.

Selain media, tak ada yang lain pada proses pembuatan batik topeng. Motif dan guratan yang bisa kita lihat dan temukan pada batik kain, bisa pula kita jumpai pada batik topeng. Ada motif garis-garis, kembang, tetekan, dan salutan. Yang sedikit membedakan batik kain dan topeng adalah prosen pewarnaan. Pada batik kain tak diperlukan media lilin. Tapi, lilin sangat diperlukan dalam pembuatan batik topeng. Lilin digunakan untuk memblok media batik pada topeng.

Sedangkan kayu yang biasa digunakan untuk batik topeng adalah kayu sengon. Kayu ini dipilih karena memiliki banyak kelebihan. Selain kuat dan tahan lama, kayu ini juga lunak dipahat. “Sebelum dibatik, kayu dihaluskan dan diubah menjadi topeng,” kata seorang perajin batik topeng di kabupaten itu.

Selain batik topeng, kabupaten ini juga terkenal dengan kerajinan wayang kulit. Namun memang jumlah peranjin wayang kulit lebih sedikit dibanding batik topeng. Sebab, pembuatan wayang kulit tergolong rumit. “Sebelum dicetak, para perajin harus membuat pola dahulu pada kerta. Bila cocok, baru pola itu bisa digunakan,” kata Pak Sadyo, satu di antara perajin wayang kulit di Kabupaten Bantul.

Sadyo menjelaskan, selain rumit, pembuatan wayang kulit juga memerlukan waktu yang agak panjang. Pola yang sudah jadi juga tak bisa langsung dicetak pada kulit. Masih ada beberapa proses penyertanya. “Begitulah bila ingin mendapat hasil yang maksimal,” ungkap Sadyo. Meski begitu, para perajin tetap tekun melakoni kerajinan tradisional ini. Sedangkan kiat menarik konsumen, para perajin membebaskan calon pembeli menentukan model wayang yang dikehendaki.

Sumber : (ICH/Dian Wignyo) Liputan6.com, Bantul

Sutra Ayu, Pemberdayaan Perempuan Pekalongan

Tuesday, May 13th, 2003

SUDAH ada empat perempuan separuh baya menunggu di toko batik sekaligus Kantor Sekretariat Koperasi Sutra Ayu di Jalan Raya Pekajangan, Pekalongan, Jawa Tengah, ketika Kompas datang pukul 13.00 beberapa waktu lalu.

“Kami menunggu sejak pukul 10.00, lho, Mas,” ujar ibu-ibu tersebut. Mereka adalah Ny Hj Meutia Farida, Ny Lisa Hargianto, Ny Komariyah, dan Ny Awang Handrawati.

Selain mereka, ada tiga gadis pengelola toko batik sibuk lalu lalang saat ibu-ibu itu menceritakan perkembangan usaha koperasi. Layaknya toko yang dikelola mandiri, gadis belia itu tengah mendata stok barang dan menyiapkan pakaian batik, daster, maupun busana muslim yang akan dipajang.

“Kami baru meluncurkan program voucher belanja untuk perajin anggota koperasi. Bagi anggota yang mau belanja sembilan bahan pokok, bisa mengambil voucher senilai Rp 25.000 hingga Rp 50.000. Kami bekerja sama dengan swalayan Rehal yang ada di Pekajangan. Kalau sudah belanja pakai kupon, ibu-ibu bisa mengangsur belanjaannya ke koperasi,” ujar Ny Meutia Farida, Ketua Koperasi Sutra Ayu.

Menyediakan voucher belanja untuk perajin anggota merupakan diversifikasi usaha yang dirintis sejak tahun 2003 oleh Koperasi Sutra Ayu.

Perjalanan koperasi yang khusus mewadahi perajin batik, perajin konfeksi, dan perajin garmen kaum perempuan di Pekajangan ini dirintis sejak 1987. Pada awalnya, koperasi ini memulai usaha sebagai kelompok usaha bersama (KUB).

Anggota awalnya hanya 18 orang yang memiliki kesamaan usaha kerajinan batik dan tenun. Kaum perempuan yang bergabung dalam KUB kebanyakan perajin pakaian batik dan garmen.

Di rumah, mereka membuat daster batik, pakaian batik, serta membuat pakaian dan celana jadi. Hasil produksi mereka masih terbatas, ditawarkan ke pedagang pengumpul (trader) untuk dijual atau dititipkan ke toko di Pekalongan maupun kota lain.

Perajin lain, Ny Sumarsi, mengisahkan, usaha modal kecil ini hanya mampu menghasilkan satu kodi daster per minggu. Harga daster saat itu hanya Rp 8.500 per potong dan paling bagus sampai Rp 15.000 per potong.

Untuk memiliki mesin jahit Butterfly waktu itu seharga Rp 1,5 juta, setidaknya perajin harus menabung menyisakan keuntungan selama enam bulan.

KELOMPOK usaha bersama ini mulai cerah tahun 1992 saat memperoleh bantuan dari United Nations Development Program (UNDP). Ketika memperoleh bantuan, anggotanya sudah mendekati jumlah 50 perempuan.

Bantuan kredit lunak itu digulirkan ke anggota untuk pembelian mesin jahit dan mesin juki. Setiap anggota mendapat pinjaman kredit Rp 1,5 juta untuk membeli mesin jahit dan Rp 7,5 juta untuk mesin juki.

Dana pinjaman anggota yang kembali digulirkan lagi ke anggota lain. Sistem ini memungkinkan semua anggota melengkapi usaha dengan mesin jahit maupun peralatan lain yang dibutuhkan untuk memperlancar usahanya. Melalui sistem pembelian peralatan secara kredit ini, kini setiap anggota mempunyai minimal dua mesin jahit dan satu mesin juki. “Kini malahan seorang anggota memiliki 20 mesin jahit dan dua mesin juki,” ujar Ny Komariah, perajin setempat.

Perkembangan pesat itu membuat kaum perempuan meningkatkan KUB menjadi koperasi. Dipilihlah nama Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Rakyat (Kopinkra) Batik dan Tekstil Sutra Ayu. “Dinamai Sutra Ayu sebagai perumpamaan kaum perempuan itu seperti kain sutra, lembut, dan mempunyai nilai tinggi,” kata Ny Meutia.

Seiring kemajuan usaha yang dicapai anggota, hal itu menarik banyak perajin perempuan lain masuk ke dalam koperasi. Anggota baru tak hanya dari calon perajin yang baru memulai usaha, melainkan juga banyak calon anggota yang berasal dari pengusaha pakaian batik yang maju. Biasanya usaha maju dirintis bersama suaminya, kemudian ibunya bergabung dengan Kopinkra Sutra Ayu.

Ny Meutia menjelaskan, jumlah anggota kini mencapai 250 perajin perempuan yang tersebar tak hanya di Pekajangan, melainkan ada yang berdomisili di Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Omzet usaha produksi anggota juga melimpah mencapai 300 kodi setiap anggota per bulan atau rata-rata total produksi pakaian batik dan garmen mendekati 60.000 kodi per bulan.

Awal tahun ini, 50 perajin perempuan mendaftar menjadi anggota.

PEMBERDAYAAN usaha perajin perempuan yang dilakukan Sutra Ayu tak melulu pemberian modal membeli peralatan dan bahan semata. Anggota juga diberi kesempatan mengikuti penataran, pelatihan, atau latihan yang diadakan pemerintah lokal, provinsi atau pusat, maupun kalangan swasta.

Pelatihan semacam meningkatkan manajemen mutu, produksi, sampai merancang desain banyak pula diikuti anggota koperasi perempuan ini. Termasuk pula pameran tingkat regional, nasional, maupun internasional di Malaysia dan Brunei.

“Kegiatan promosi paling disukai anggota. Soalnya transaksi order barang dengan buyer bisa mencapai puluhan juta rupiah. Terakhir, pameran di Semarang akhir tahun 2002 saja bisa meraup transaksi Rp 36 juta yang langsung diterima anggota, tanpa melalui koperasi,” kata Ny Meutia lagi.

Di antara anggota koperasi sudah pula lama merintis kerja sama produksi bila ada anggota yang mendapatkan order besar. Upaya ini sebenarnya bagian dari tradisi perajin batik di Pekajangan yang suka memberikan order pengerjaan pakaian maupun konfeksi ke tetangga. Tak jarang pembuatan pakaian batik melibatkan banyak orang sebagai mata rantai produksi.

Koperasi kaum perempuan ini kini tak hanya bertumpu pada usaha simpan pinjam, toko pakaian batik, dan memajukan usaha anggota. Anggota juga didorong memiliki kios atau toko kecil di pasar grosir yang tersebar di Kota/Kabupaten Pekalongan. Ny Lisa, misalnya, mengakui membeli kios di MM Grosir Batik seharga Rp 30 juta. “Di Pasar Grosir Batik Setono, saya juga menyewa kios Rp 4 juta per dua tahun. Syukur alhamdulillah, dua kios itu semakin melancarkan pemasaran produk kami maupun teman-teman lain,” tuturnya.

Gedung milik koperasi yang dibangun tahun 2002 tidak hanya melulu untuk toko pakaian batik dan garmen. Pengurus koperasi ini segera membuka toko alat-alat elektronik. Koperasi pun juga bergerak di bidang sewa-menyewa peralatan hajatan, seperti penyewaan kursi. Ada sekitar 360 kursi lipat yang siap disewa Rp 750 per kursi bila ada warga yang menyelenggarakan kegiatan akbar.

“Kami mau terus optimistis menjalankan usaha produksi pakaian batik. Musibah kebakaran Tanah Abang, Jakarta, memang sempat membuat sejumlah anggota koperasi mengalami kerugian. Tetapi, pihak pemilik toko tetap bersedia melunasi barang yang hangus,” ujar Ny Lisa.

Usaha memang harus tetap bergulir. Tekad melupakan musibah di Tanah Abang, mencari terobosan usaha, adalah gambaran semangat kaum perempuan Pekajangan menggeluti batik. Mereka memajukan kemandirian bagi kaumnya, kaum perempuan Indonesia.

Sumber : (Winarto Herusansono) Kompas Cetak, Pekalongan

Mencari Busana yang Mewakili Indonesia untuk Pemimpin ASEAN

Sunday, May 11th, 2003

KETIKA pemimpin 18 negara Asia Pasifik yang tergabung dalam forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) berte- mu di Bogor pada tanggal 15 November 1994, nama Indone- sia menjadi pemberitaan positif di berbagai media massa dunia.

SALAH satu yang tersiar melalui media massa ke berba- gai penjuru dunia, selain citra positif tentang sebuah kekuatan ekonomi baru di Asia Pasifik, juga sebuah citra Indone- sia yang terwakili melalui busana yang dikenakan para pemimpin APEC saat berfoto bersama. Para pemimpin tersebut yang kebetulan semuanya laki- laki, mengenakan kemeja batik. Citra yang terbentuk menguatkan pengaku- an selama ini bahwa batik adalah In- donesia dan Indonesia adalah batik.

Batik, meskipun menurut banyak orang bukan sesuatu yang asli Indonesia, telah menjadi identik dengan Indonesia karena di Indonesia-lah teknik menahan warna memakai lilin malam dan corak ragam hias berkembang hingga ke tingkat menjadi benda seni.

Saat itu, Iwan Tirta membuatkan ragam hias khusus untuk tiap pemimpin negara, disesuaikan dengan bentuk tubuh dan kebudayaan atau ciri khas tiap-tiap negara. Misalnya, untuk pemimpin Cina dan Taiwan sama-sama dibuatkan ragam hias naga, tetapi dengan bentuk berbeda. Untuk pemimpin Jepang dibuatkan motif ceplok dengan bunga krisan di tengahnya. Krisan adalah bunga lambang kekaisaran Negeri Matahari Terbit itu.

Bila ketika itu pilihan jatuh pada batik untuk mewakili keberagaman Indonesia, tidak lain karena batik menjadi teknik membuat ragam hias dan sekaligus ragam hias yang telah siap untuk bersikap luwes dalam menyerap perubahan. Iwan Tirta membuktikan melalui variasi ragam hias yang bisa diciptakan melalui motif dasar batik tradisional.

Keluwesan itu terbentuk antara lain karena batik telah menjadi industri yang berkembang pesat sejak abad ke-19 sehingga batik sebagai teknik pembuatan ragam hias maupun sebagai motif hias telah bergaul lama dengan perubahan semangat zaman. Batik misalnya, telah diolah di atas serat katun, serat sutera, hingga serat wol.

Namun, Indonesia tidak hanya punya batik. Indonesia juga kaya dengan tenun ikat, tenun songket, dan beragam teknik sulam sebagai hasil pergaulan masyarakat Nusantara dengan berbagai bangsa yang menyinggahi Indonesia dalam perjalanan dari Cina ke Eropa dan Timur Tengah atau dari Asia ke pulau-pulau di Pasifik dan sebaliknya.

Kejeniusan para artisan lokal kemudian berhasil mengembangkan berbagai teknik membuat kain serta ragam hias ke tingkat yang sedemikian rupa sehingga Indonesia juga dikenal sebagai negeri tenun ikat, songket, dan batik.

KERAGAMAN dan kekayaan Indonesia itu pula yang ingin ditampilkan dalam pertemuan para pemimpin ASEAN dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Bali bulan Oktober mendatang. Untuk sekaligus mempromosikan keragaman itu terbersit pemikiran membuatkan busana khas Indonesia yang tidak terlalu etnis, tetapi tetap menggambarkan Indonesia.

Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) melalui Badan Pengembangan Ekspor Nasional kemudian menyelenggarakan lomba rancangan busana untuk para pemimpin APEC, termasuk pasangan mereka. Pada Jumat (2/5) lalu, ke-19 rancangan yang masuk semifinal dipertunjukkan di hadapan lima anggota juri dan juga Menperindag. Dari sana dipilih lima rancangan.

Rencananya, kelima rancangan tersebut akan dibawa kepada Presiden Megawati Soekarnoputri untuk kemudian dipilih satu dan diwujudkan menjadi busana yang akan dikenakan para pemimpin ASEAN dalam KTT di Bali.

Dengan pesan bahwa rancangan bisa menggambarkan budaya Indonesia tetapi tidak berkesan terlalu etnis, Menperindag Rini MS Soewandi membuka acara lomba. Akhirnya tujuh orang juri yang diketuai Prof Widagdo dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung memilih rancangan Epul Daeng Hasanung dari Nusa Tenggara Barat, Henni Purwati (Sumatera Barat), Taruna Kusmayadi (DKI Jakarta), Etty Bachetta (DKI Jakarta), dan Sri Khofifah (Jawa Timur).

Pada dasarnya, semua peserta menawarkan gaya “beskap” atau jas tutup sebagai busana laki-laki dan atasan bergaya jaket dengan padanan celana panjang atau rok untuk busana perempuan. Para peserta menawarkan beragam ragam hias dan jenis tenunan.

Epul misalnya, menggunakan ragam hias dari benang keemasan yang diambil dari songket di atas dasar warna merah darah. Henni menggunakan warna hitam dengan ragam hias pucuk rebung yang menurut dia berasal dari Sumatera Barat dan dipadukan dengan hiasan bergambar wayang pada atasan untuk busana laki-laki. Taruna Kusmayadi menggunakan garis-garis geometris tenun dari Sumba, tetapi dalam warna yang lebih memenuhi selera urban karena warna asli tenun Sumba yang gelap dan kental dengan unsur etnis. Begitu pula dengan Etty Bachetta yang mengambil tokoh wayang Arjuna dan Srikandi tetapi menurut versi Bali, yang ditempatkan di sisi kiri dan kanan, di atas warna kuning-sogan. Sementara, Sri mengambil motif batik pasedhan suropati dengan dominasi warna hijau.

Pemilihan melalui lomba ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Salah satu kelebihannya yang utama dan sepatutnya didorong adalah memberi kesempatan tumbuhnya kreativitas dan berbagai alternatif desain. Dengan diminta menampilkan ciri Indo- nesia misalnya, para peserta berani mengeksplorasi berbagai ragam hias dan jenis tenun yang ada di Indonesia, seperti yang tercermin dari lima karya finalis.

Kalaupun bisa disebutkan kelemahan adalah belum meratanya kemampuan peserta membuat busana yang sepatutnya mewakili Indonesia dan apa yang pantas dikenakan seorang pemimpin negara. Persiapan yang sangat matang tampak pada rancangan peserta yang memiliki profesi perancang busana. Bukan hanya mengenai keterangan teknis seputar materi yang disampaikan, tetapi yang lebih utama adalah gagasan yang mendasari pemilihan rancangan tersebut. Gagasan ini menjadi penuntun ketika perancang mewujudkan idenya ke dalam bentuk busana sehingga dalam proses kerja selalu bisa dilakukan verifikasi terhadap gagasan awal. Dengan demikian, terasa ada konsistensi di dalam wujud keseluruhan rancangan. (NMP) Kompas cetak, Bogor

Perajin Batik Sokaraja Bentuk Paguyuban

Friday, May 2nd, 2003

Untuk menyelamatkan perbatikan khas banyumasan dari kepunahan, sejumlah perajin dan pengusaha Batik di Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, membentuk paguyuban. Sedikitnya 50 perajin bergabung dalam Paguyuban Pengusaha Batik Sokaraja, yang sekitar 15 tahun lalu merupakan sentra batik khas banyumasan. Selain Sokaraja, Kota Banyumas–ibu kota Kabupaten Banyumas yang lama-juga merupakan sentra batik khas banyumasan.

Imam Munchasir, pengusaha batik Sokaraja, menuturkan, usaha perbatikan khas Sokaraja tahun 1970 sampai tahun 1990 pernah mengalami masa keemasan. Saat itu jumlah pengusaha dan perajin batik di Sokaraja 200-an orang. Tetapi, sesudah tahun 1990 seiring hadirnya kain bermotif batik sablon, usaha batik banyumasan pelan-pelan mulai tersaingi, bahkan terus surut.

Sesuai perkembangan zaman, masyarakat pun mulai menyukai kain motif batik sablonan yang memiliki corak lebih beragam dengan warna yang lebih menarik serta harga yang lebih murah. Kain batik motif sablon lebih terjangkau oleh kantung rakyat kecil.

“Padahal, apabila dibanding dari kualitas kain bermotif, batik sablon kalah jauh. Bahkan, jika pembandingnya kain batik banyumasan yang kasar sekalipun,” jelas Ibnu Rofieq, perajin batik warga Desa Sokaraja Lor, Kecamatan Sokaraja, kepada Kompas, Rabu (30/4).

Sejumlah perajin batik di Sokaraja mengakui, surutnya usaha perbatikan khas di Sokaraja antara lain disebabkan kalah bersaing dengan produk kain atau tekstil bermotif batik printing dan sablon yang relatif lebih murah. Minat masyarakat membeli batik ikut surut. Tetapi, menurut perajin batik Sokaraja yang lain, hancurnya usaha perbatikan lebih disebabkan produk batik khas Sokaraja tidak mampu menembus pasar yang semakin ketat.

Kondisi ini menyebabkan satu per satu pengusaha dan perajin batik di Sokaraja menghentikan kegiatan. Hanya beberapa perajin yang masih mencoba bertahan, melanjutkan, dan melestarikan usaha.

“Dari sisi bisnis, usaha perbatikan sama sekali tidak menghasilkan untung. Apabila kami sekarang masih membuat batik tulis atau batik cap, lebih disebabkan alasan kemanusiaan. Banyak warga di sini hanya mempunyai keterampilan membatik. Jika tak ada perajin yang peduli, ratusan jiwa tidak dapat makan,”ujar Imam Munchasir.

Sumber : (nts) Kompas Cetak, Purwokerto