Kain Tradisional: Yang Beragam dan Terancam Punah
Sejak lama Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya tradisi bertenun kain tradisional. Dalam buku Over 1.000 Patterns of Traditional Stripes & Lattices Design Collection disebutkan bahwa kain tenun bermotif garis-garis asal Indonesia sudah diimpor secara teratur ke sejumlah negara mulai 1573. Semakin hari, jenis dan pola kain tersebut terus saja berkembang dan paling tidak, selain memperkaya khazanah dunia kain di Tanah Air, itu juga membuktikan bahwa bangsa Indonesia terbuka dengan budaya lain. Sayangnya, banyak di antara kain-kain tradisional itu dalam keadaan terancam punah. Selain banyak yang tak diproduksi lagi, hal itu juga disebabkan masyarakat kurang berminat melestarikan budaya menenun serta menyulam kain tradisional.
Dalam sebuah pameran kain tradisional, baru-baru ini, terungkap bahwa satu di antara jenis kain yang terancam punah adalah kain bidak asal Lampung. Kain bersulam sangat halus yang biasa digunakan pengantin pria itu kini mungkin cuma bisa disaksikan di pameran-pameran ataupun berharap kemurahan hati pengoleksi kain untuk memperlihatkannya kepada khalayak. Kain tapal juga bernasib sama. Padahal, dalam pola dan jenis sulaman di kain asal Lampung itu tergambar jelas proses akulturasi budaya, dalam hal ini pengaruh India yang terlihat dari sulaman emas yang timbul di permukaan kain.
Sewaktu bangsa Indonesia masih menganut animisme, motif-motif kain saat itu menggambarkan simbol-simbol roh atau kekuatan gaib, seperti perahu yang dipercaya sebagai kendaraan roh manusia untuk pergi ke dunia lain dan juga sebagai payung untuk melindungi. Sedangkan sosok nenek moyang digambarkan sebagai topeng atau figur yang bentuknya sangat khas. Binatang juga kerap ditorehkan di kain. Biasanya berupa kura-kura, kerbau dan cecak.
Belakangan, ketika pengaruh Hindu masuk, motif kain mulai berkembang dengan adanya gambar-gambar tokoh-tokoh dalam cerita wayang. Pola hias geometris yang berasal dari India, yaitu patola menjadi cikal bakal motif gringsing, umumnya ditemui pada kain tenun Jawa, Bali, dan Lombok. Motif kala makara, perwujudan antara gajah dan buaya yang melambangkan tanah dan air, yang kerap menghiasi pintu masuk candi juga pola bunga lotus sebagai perlambang kemakmuran sering dipakai.
Adanya pengaruh Buddha bisa dilihat dari motif kain yang diambil dari relief di Candi Borobudur. Sedangkan ketika Islam datang, pola hias geometris cenderung menampilkan kaligrafi Arab. Dari Cina, pengaruh ke seni kain tradisional Indonesia terlihat dengan motif naga, burung phoenix, awan, dan motif yang ada di guci-guci kuno. Pengaruh serupa juga dibawa dari bangsa Barat, seperti Portugis, Belanda, dan Inggris dengan motif singa, wanita memakai gaun, serta kupu-kupu. Khusus dari Belanda, hingga kini pengaruhnya sangat membekas pada seni hias dari Nusatenggara Timur, terutama pada tenun ikat dari Belu, Savu dan Rote.
Sayangnya, seperti sudah diceritakan di atas, kurangnya minat masyarakat buat melestarikan warisan budaya lokal tersebut membuat sejumlah kain tradisional terancam punah. Dari pengamatan SCTV, selain sebagian kecil orang berduit di Indonesia, yang berminat dengan kain tradisional Nusantara justru warga asing. Tak heran banyak motif asli Indonesia yang dibawa ke luar negeri kemudian dipatenkan di sana dan seolah-olah motif tersebut adalah asli milik negara tersebut. Yang paling mengejutkan, ada sejumlah kalangan di Malaysia yang memboyong sejumlah penenun batik tradisional ke Negeri Jiran. Di sana, mereka diminta memproduksi batik dan dijual seolah-olah batik tersebut adalah khas Malaysia. Ironis.
Dari sekian kain tradisional, yang masih memiliki harapan nampaknya ada di kain songket asal Palembang, Sumatra Selatan. Pada kain ini ada sulaman dari benang emas dengan corak khas yang hingga kini masih diminati banyak orang. Harganya pun mahal. Ada cerita tentang kain: yang dilestarikan saja lambat laun akan rusak dimakan usia, apalagi tak dilestarikan.
Sumber : (SID/Esther Mulyanie) Liputan6.com, Jakarta