“Odissey” Iwan Tirta
SELASA siang lalu, di sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terlihat dua sampiran kayu (gawangan) dan di masing-masingnya ada kain sutra putih yang sebagian ditutup malam tersampir di sana. Pada salah satu gawangan itu tergantung kain panjang batik yang sedang dikerjakan salah seorang maestro batik Indonesia, Iwan Tirta.
PADA usianya yang memasuki 68 tahun pada tanggal 18 April 2003, artisan batik ini semakin menekuni batik, dunia yang digelutinya lebih dari 30 tahun, selepas dia memperoleh gelar master dalam hukum dari Yale University. Bila sedang tidak berada di apartemennya di New York, maka Iwan di rumah merangkap tokonya di Menteng selalu menyempatkan diri membatik. Sebuah proses meditasi sekaligus eksplorasi terhadap pengembangan batik yang tidak pernah berhenti dia lakukan.
Batik yang saat ini dikerjakan Iwan adalah dengan ragam hias wadasan (batu padas) asal Cirebon yang menurut penuturannya sudah tidak pernah dia lihat karena tidak ada lagi yang membuat. “Yang ini kalau sudah selesai akan menjadi koleksi saya. Kalau ada yang tertarik, nanti saya buatkan lagi,” kata Iwan.
Itulah kesibukan Iwan sekarang. Dia hanya mengkhususkan diri membuat batik tulis halus dari motif-motif langka, baik untuk kain panjang ataupun kemeja. Label produk yang dikerjakan Iwan pun bukan Iwan Tirta, tetapi IT Private Collection. IT merupakan singkatan dari Iwan Tirta. Papan nama yang biasanya terpampang di depan rumahnya yang menunjukkan bahwa tempat itu adalah salah satu tujuan wisata penting yang direkomendasi Pemda DKI Jakarta, pun sedang mengalami perubahan nama dari Iwan Tirta menjadi IT Private Collection.
Perubahan nama itu rencananya diumumkan pada Senin (21/4/) malam, ketika Iwan mengadakan kumpul-kumpul bersama teman-teman dekatnya untuk syukuran memperingati hari lahirnya.
Tentang label Iwan Tirta yang dimiliki oleh PT Ramacraft yang dibentuk Iwan 20-an tahun lalu, menurut Iwan sejak sekitar tiga tahun lalu sebetulnya telah dibeli oleh seorang pengusaha muda. Iwan sendiri menjadi komisaris di perusahaan PT Ramacraft dan mengawasi produksi yang dihasilkan perusahaan itu. Dalam perjalanannya, ternyata kerja sama ini mengalami kendala sehingga Iwan memutuskan untuk membuat label sendiri yaitu IT Private Collection.
“Pengalaman ini membawa hikmah besar untuk saya. Batik tetap menjadi basis saya, tetapi pengembangannya menjadi ke berbagai produk yang semula saya anggap sebagai sampingan saja,” tutur Iwan di galerinya yang sementara ini masih kosong dari berbagai kain maupun kemeja batik Iwan Tirta. Artisan batik ini memutuskan untuk membuat pemisahan antara galeri IT Private Collection dari Iwan Tirta.
>small 2small 0< kain panjang batik tulis halus dan kemeja batik halus, IT Private Collection juga memproduksi barang-barang dari perak untuk cenderamata maupun untuk perhiasan. Tetap dengan menggunakan ragam hias batik tradisi sebagai dasar, Iwan memproduksi barang-barang perak yang ditujukan untuk cenderamata perusahaan ini di Kota Gede, Yogyakarta.
Iwan juga bekerja sama dengan industri barang pecah belah dari keramik Royal Doulton dan Kedawung untuk membuatkan desain bagi produk high end kedua produsen tersebut. "Dasarnya tetap motif batik. Saya buatkan desain dengan skala yang sesuai," tambah Iwan.
Kegiatan lain yang kini semakin intensif dia tekuni adalah dokumentasi motif batik. Dengan mendapat bantuan dari perusahaan komputer Epson dan PT National Gobel, Iwan sudah sekitar lima tahun ini mendata motif batik mulai dari ragam hias, tempat sampai tahun pembuatannya.
Belakangan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan ikut mendokumentasikan motif-motif batik dari berbagai daerah dengan menggunakan fasilitas yang tersedia di bengkel kerja Iwan. "Mereka sebetulnya punya keuntungan karena memiliki dinas-dinas perindustrian di berbagai daerah sehingga lebih mudah mengumpulkan beragam motif batik," tutur Iwan. Rencananya, departemen tersebut akan menerbitkan buku mengenai motif-motif batik itu, memperbarui buku yang pernah dikeluarkan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik Departemen Perindustrian tahun 1983.
"Saya ingin menawarkan jasa pengarsipan batik kepada perusahaan-perusahaan batik besar. Sekarang sudah waktunya kita bersama-sama memikirkan pelestarian motif-motif yang pernah ada, karena dari motif-motif lama itu kita bisa mengembangkan sesuatu yang baru untuk memberi sesuatu yang unik dari kita pada era globalisasi ini," tutur Iwan yang mengaku kedatangan pembatik dari Pekalongan, Solo, dan Yogya yang bertanya tentang berbagai motif batik.
>small 2small 0< sudah membuktikan bahwa batik merupakan sumber inspirasi yang tidak ada habisnya pada berbagai medium. Iwan misalnya, menggunakan motif modang Paku Buwono X pada cupu berdiameter sekitar 15 cm, sementara untuk yang berukuran lebih kecil dia memakai motif lokcan. Untuk koleksi berikut, Iwan sudah mulai mempersiapkan desain baru tetapi belum mau menyebut lebih detail.
Inspirasi untuk barang-barang perak Iwan tidak terbatas pada motif batik saja. Dia misalnya mengubah gelang dari Batak menjadi asbak, sementara anting-anting gantungnya sebetulnya berasal dari bandul penghias tutup kepala perempuan Kabanjahe, Tanah Karo, atau dari anting-anting perempuan Aceh yang oleh Iwan dibuat multifungsi sebagai bandul kalung. Dia juga memanfaatkan ragam hias kalung temanggal dari Tangerang yang biasa dipakai oleh perempuan Peranakan, atau motif katesan (seperti pepaya) yang merupakan kalung perempuan Surabaya.
Sungguh sebuah perjalanan panjang, odissey, seorang Iwan Tirta, yang entah kapan akan berlabuh.
Sumber : (Ninuk MP) Kompas Cetak, Jakarta