Mendongkrak Citra, PT Telkom Salurkan Pinjaman
BAGI Kamadi (33), mendatangi bank syariah seperti BMT Safinah ini lebih mudah dan tenang daripada masuk ke bank-bank yang dijaga satpam, walau ruangannya dingin full AC. Padahal, urusannya sama, cari pinjaman untuk pengembangan bengkel warung sotonya, di satu sudut Kota Klaten, Jawa Tengah.
Semula ia cuma pinjam Rp 500.000, lunas, pinjam lagi Rp 1 juta, lunas, dan kini berharap bisa naik kelas dengan pinjaman lebih besar. Bisnisnya sederhana, bengkel sepeda dan tambal ban, sekaligus buka warung soto dan nasi sayur, dengan dua karyawan.
Kamadi merupakan contoh usahawan yang merambat dengan bantuan bank syariah yang misinya memang bukan untuk menumpuk aset dan kekayaan. Polanya bagi hasil, umumnya 60-40, tetapi dari kelebihan penghasilan setelah ia mendapat pinjaman. Misalnya, kalau sebelum dapat pinjaman ia punya untung Rp 100.000, lalu dapat pinjaman Rp 1 juta, untungnya jadi Rp 200.000, maka kelebihan yang Rp 100.000 yang dibagi.
Upaya ini sama dengan PT Telkom yang lewat program PUKK, pembinaan usaha kecil dan koperasi, memberi bantuan tetapi dengan bunga tetap sangat rendah, antara 6 sampai 12 persen setahun. Bantuan langsung diberikan kepada yang membutuhkan atau lewat lembaga lain, seperti BMT Safinah di Klaten itu.
Manajer BMT Safinah Hardjanto Wibowo SE mengatakan, tahun lalu mereka mendapat penyaluran dana dari PUKK Telkom Divisi Regional (Divre) IV Jateng sebesar Rp 100 juta, yang disalurkan kepada 25 nasabah. Ada yang dapat Rp 800.000, ada yang sampai Rp 25 juta, alhamdulillah semua lancar dalam pengembaliannya.
“Kalaupun macet, itu hanya penundaan pembayaran yang jumlahnya tak sampai satu persen. Dalam kasus demikian, kami melakukan silaturahmi ke nasabah untuk bertanya apa masalahnya,” katanya.
Di Jateng, selama tahun 2002, PT Telkom sudah menyalurkan dana PUKK sebesar Rp 4,828 miliar dari target Rp 5,1 miliar, menurut Kepala Divre IV Didi Wargaprawira. Target tidak tercapai karena sejumlah Rp 366,6 juta tidak tersalurkan karena calon nasabah mengundurkan diri, akibat tak mampu memenuhi persyaratan, atau menilai jumlah bantuannya kecil.
Bisa dimaklumi, sebab sasaran program PUKK adalah pengusaha kecil, misalnya tukang ojek, penjual makanan, perbengkelan, peternakan, yang dengan jalan biasa akan sulit mendapat bantuan bank. Menurut Kepala Proyek PUKK PT Telkom Pambudi, mereka yang mendapatkan bantuan kebanyakan tak ada hubungan kerja dengan PT Telkom. Tetapi diharapkan pada tahun 2006 nanti, separuh dari penerima bantuan punya hubungan kerja dengan PT Telkom.
Dana yang disiapkan untuk bantuan tahun ini sebesar Rp 95 miliar, naik pesat dibanding dana tahun 2002 sebesar Rp 52,44 miliar. Dana didapat sebesar 1 sampai 3 persen dari dividen pemerintah sebagai pemegang saham PT Telkom.
Sebelumnya dana itu dikelola oleh PT Pos Indonesia, sejak PT Telkom go public, namun mulai tahun 2001 PT Telkom mengambil alih kembali. PUKK ini dimaksudkan antara lain untuk lebih meningkatkan citra perusahaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Menurut Pambudi, dari sejumlah dana tadi, 85 persen dalam bentuk pinjaman yang harus dikembalikan secara angsuran sehingga bisa disalurkan lagi. Yang 15 persen sisanya digunakan sebagai dana bantuan pembinaan berupa biaya pelatihan, pameran, dan promosi.
Tidak semua untuk kepentingan usaha, tetapi bisa juga untuk pendidikan, misalnya dengan memberi modal untuk pengadaan komputer di sekolah atau pesantren. “Dengan memiliki komputer untuk sarana belajar, otomatis ’nilai’ sekolah itu akan naik,” kata Pambudi.
Perguruan tinggi juga bisa mendapat bantuan, misalnya untuk survei tentang pemanfaatan bantuan PUKK dari PT Telkom itu.
Dari semua nasabah, tingkat pengembalian secara nasional cukup bagus, sampai di atas 95 persen, bahkan di Jateng, kata Didi, sampai 98 persen. Apalagi dengan dibentuknya mitra binaan unggulan yang berupa kelompok (cluster), kontrol akan penggunaan dana jauh lebih mudah.
Binaan kelompok yang berhasil antara lain peternakan sapi di Pengalengan, Bandung, dengan produk mulai dari susu cair, karamel, keju, serta penggemukan sapi. BMT Safinah di Klaten juga termasuk yang berhasil karena Safinah sendiri berbentuk koperasi serba usaha dan simpan pinjam.
Program Sekolah-2000 di Sumatera dan e-learning di Bandung berupa pengadaan komputer bagi sekolah menengah umum (SMU) untuk mengantar siswa ke dunia komputer dan Internet. Binaan lain juga terdapat di Yogyakarta, berupa program penggemukan sapi yang bekerja sama dengan Pemda DIY Yogyakarta, berupa modal pembelian sapi betina dan Pemda DIY menjamin pengembalian kreditnya.
Menurut Didi, kerja sama dengan pemda sangat meringankan beban PT Telkom karena mereka yang menyalurkan dan menagih dan ini upaya bagus karena melibatkan gubernur. Tentu saja ada biaya, yaitu untuk asuransi, biaya untuk debt collector, juga untuk penyuluh lapangan, misalnya, untuk peternakan, tetapi biaya pelatihan dibayari PT Telkom. Hal sama juga terjadi untuk nasabah yang mendapat kucuran dana lewat bank syariah.
Dikatakannya, peminat PUKK di Jateng dan DIY sangat besar dan dari 500 pemohon tahun lalu, yang disetujui hanya 393 karena hasil tim survei menemukan angka itu. “Dari survei akan diketahui apakah pemohon benar-benar sudah menjalankan usahanya atau hanya sebagai pengusaha kagetan,” kata Didi.
NY Siti Sendari (56) merasa “diselamatkan” oleh proyek PUKK PT Telkom. Pada saat order sepi, perajin yang dikoordinirnya perlu pekerjaan dan ia harus pindah akibat kontrak tokonya habis, PUKK PT Telkom Divisi Regional IV Jateng/DIY mengulurkan tangan.
Padahal bisnis yang digelutinya sangat eksklusif, tidak semua orang membutuhkan. Kalaupun butuh, hanya kalangan tertentu yang mau datang dan membeli hasil pekerjaannya yang merupakan seni kuno dan sudah jarang dikerjakan orang.
Tak heran, ia kini adalah satu manusia langka karena masih menggeluti pembuatan batik tulis dan kombinasi dari kelas tradisional, khusus untuk upacara adat. “Mau tak mau konsumennya juga terbatas, kalangan sendiri, kecuali orang Jepang,” kata pengusaha yang sudah 25 tahun menggeluti perbatikan ini. Sementara jumlah perajin makin menyusut, bahkan kelima anaknya tak ada yang mau meneruskan usahanya ini.
Orang Jepang, katanya, suka batik buatannya karena wangi sebab dalam prosesnya, mori (kain) yang digunakan direbus dengan campuran kayu-kayuan untuk mendapat warna tertentu. Tokonya di Jalan Slamet Ryadi sering didatangi orang Jepang, selain golongan masyarakat tertentu yang akan melakukan perhelatan, misalnya pernikahan atau jumenengan, atau pejabat-pejabat naik tingkat dan mendapat gelar dari Keraton Solo.
Bayangkan saja, selembar batik tulis buatannya paling murah Rp 1,5 juta, “Karena memang dibuat tanpa lepas dari pakem, yang dikerjakan dengan sedikit modifikasi,” ujarnya. Tetapi pesaing sudah datang dengan batik murah karena melakukan proses pencelupan dengan pewarna buatan yang banyak didapat di toko-toko kimia.
Proses pembuatan batik itu sendiri yang membuatnya mahal, selembar batik baru bisa selesai dalam tiga bulan setelah melewati tangan sembilan perajin.
Dari penghalusan kain, lalu pembuatan gambar dasar, ngengreng di lembaran depan, lalu lembaran belakang, kemudian tembokan, baru dicelup warna hitam wedelan yang bahannya dari nila. Proses kemudian pengerokan lilin untuk yang akan dibuat warnanya putih (biron), untuk dilakukan pencelupan soga yang warnanya cokelat, sebanyak 40 kali celup.
Sendari mempekerjakan 10 karyawan yang masing-masing membawa 40 potong mori ke desa mereka di Sukoharjo atau Girilayu dan Giribangun untuk dibagikan kepada perajin. Tokonya sendiri akan pindah ke Jalan Supomo, menyatu dengan pabriknya yang ada di sana karena ia sudah tidak kuat menyewa.
Di tokonya itu ia justru banyak menerima order melipat kain batik (wiru) dan meratus (memberi wangi-wangian dengan mengasapi kain), yang bisa selesai paling cepat seminggu.
Bisnisnya ini berkembang pelan, tetapi meningkat ketika ada musim orang menikahkan anaknya. “Ada yang datang sekali beli senilai Rp 20 juta, ada yang cuma seratus-dua ratus ribu,” katanya.
Saat ia memutuskan pindah ke pabrik agar orang asing bisa melihat proses pembuatan batik itulah, ia mendapat bantuan PUKK sebesar Rp 20 juta, sejak awal tahun. Selama tiga bulan terakhir, ia mencicil pinjamannya hanya dengan sekitar Rp 900.000 sebulan.
Erich Ardiansa (26) memang pemuda ulet yang mengembangkan bisnis pembuatan kantung ponsel dari mulai sedikit, hingga kini punya mesin jahit kulit lima buah. Ia tidak memprosesnya sendiri, tetapi klip dari logam ia pesan dari perajin logam di Tulungagung dan tali nilon merek Boss, diimpornya dari Hongkong dan ia cuma membuat bungkus ponsel di rumah kontrakannya di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo, Jatim.
Hasil produksi yang dibuat dari kulit domba atau biri-biri itu dijualnya ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Denpasar, dan Makassar lewat pengumpul. Kulit domba yang berwarna hitam itu jauh lebih lembut dibanding kulit kambing. Tetapi supaya mudah dibentuk karena mudah melar, kulit itu dilapis dulu (laminating) dengan kain di pabrik lain.
Dimulai dengan beberapa buruh, yang kemudian kini sudah 12 orang karena pesanan makin banyak, mau tak mau Erich perlu modal dan ia datang ke PT Telkom tahun lalu. Prosesnya sederhana, dalam waktu singkat ia mendapat Rp 20 juta yang dibelikan lima buah mesin jahit kulit dan ia mengangsur cuma Rp 913.700 sebulan.
Omzetnya sendiri sebulan mencapai Rp 45 juta dan pendapatan buruhnya bisa Rp 400.000 per dua minggu. Seperti yang diterima Sugianto, tergantung banyaknya pekerjaan borongan yang bisa diselesaikan setiap dua minggu.
Erich berharap, jika pinjamannya lunas ia bisa meminjam lagi untuk kedua kalinya. Sementara menurut Maman dari PT Telkom, nasabah hanya bisa pinjam dua kali karena berikutnya diharapkan sudah bisa berkembang sendiri atau mendapat pinjaman dari bank.
Kepala Divisi Regional V PT Telkom di Jawa Timur Kiskenda Suriaharja mengungkapkan, tahun lalu pihaknya berhasil menyalurkan pinjaman sebesar Rp 4,955 miliar untuk 273 mitra. “Tahun 2003 ini akan disalurkan bantuan sebesar Rp 5 miliar yang di triwulan pertama sudah berhasil disalurkan sebesar Rp 504,7 juta,” katanya.
Sumber : (HW) Kompas Cetak