Akibat Bahan Baku NaikPengusaha Batik Menaikkan Harga
Akibat melonjaknya harga bahan baku, sejumlah pengusaha batik terpaksa menaikkan harga jual meski sekarang permintaan berkurang. Karena itu mereka harus melakukan terobosan dengan mencari pasar lain bagi kain batik.
Syaifuddin, pemilik Toko Batik Cendana yang ditemui di lokasi pameran batik dan kerajinan di Plasa Tunjungan, Surabaya, mengatakan kenaikan harga berlaku untuk semua bahan baku. “Mulai dari kain hingga pewarna, harganya naik semua. Rata-rata bisa mencapai 40 persen,” katanya, Senin (7/4).
Akibatnya, ia harus mengambil langkah untuk menaikkan harga jual produksi batik tulis khas Madura miliknya. Kenaikan harga jual sekitar 80 persen per meternya itu dianggap sebagai kumulatif dari kenaikan bahan baku. “Oleh karena itu, kenaikan harga ini berlaku untuk semua produk,” tuturnya.
Langkah menaikkan harga itu mau tak mau harus diambil karena pengusaha batik tidak akan mampu bertahan dalam kondisi yang semakin memburuk seperti saat ini. Pembeli di show room Syaifuddin di Pamekasan yang umumnya wisatawan berkurang. Bahkan, permintaan butik atau toko di Yogyakarta, Surabaya, dan Bali terhadap hasil produksi Batik Cendana juga berkurang. “Rata-rata penurunan permintaan mencapai 50 persen,” keluh Syaifuddin.
Menyikapi hal itu, Syaifuddin berupaya mencari celah baru dalam pemasaran hasil produksinya, dengan melakukan penjajakan terhadap beberapa butik atau toko yang selama ini belum pernah berhubungan dengannya.
“Kalau hal ini tidak dilakukan, lambat laun perusahaan batik seperti kami dapat terancam gulung tikar. Saat ini saja, kami susah mengurangi jumlah pekerja, dari 15 orang menjadi 10 orang,” katanya.
Dalam pameran yang sama, Een, staf marketing rumah produksi Batik Nakula Sadewa mengatakan, kenaikan bahan baku yang terjadi membuat perusahaannya terpaksa menaikkan harga jual. Namun, Een enggan mengakui berapa besar kenaikan harga jual yang diterapkan oleh industri batik di Yogyakarta itu.
“Untungnya, selama ini langganan kami kebanyakan pejabat dan masyarakat yang membeli batik sebagai kebutuhan pakaian resmi mereka. Jadi, memburuknya kondisi pariwisata tidak banyak berpengaruh,” kata Een.
Ia menambahkan, selama ini industri batik Nakula Sadewa menerapkan standar kesulitan motif batik dalam menentukan harga jual. Oleh karena itu, untuk menghadapi melonjaknya harga bahan baku juga disiasati dengan menyederhanakan motif sehingga harga dapat ditekan.
Sumber : (IDR) Kompas Cetak, Surabaya